
Sekarang adalah hari pertama Arya di perusahaan milik orang tuanya. Langkahnya terlihat sangat percaya diri mengenai pekerjaan baru yang akan dilakukan. Pakaian rapi dengan dandanan layaknya pria kantoran, membuat pesona tersendiri untuknya.
Beberapa pasang mata melihat kedatangannya di lobi gedung yang menjulang tinggi itu. Ia yang kini mengamati area lobi perusahaan milik keluarganya, kini tersenyum simpul karena merasa senang bisa menginjakkan kaki di sana.
Arya yang pada awalnya berpikir, akan lebih baik bekerja di perusahaan keluarga sendiri dan tidak ingin bersusah payah untuk mencari pekerjaan di tempat lain, kini merasa sangat puas karena akhirnya bisa berada di sana.
Tentu saja ia langsung disambut oleh security yang berjaga dan langsung bertanya mengenai apa tujuannya datang ke sini. Tentu saja pria berseragam itu tidak mengetahui bahwa ia adalah merupakan putra dari pemilik perusahaan karena memang tidak pernah datang ke perusahaan.
Hanya sesekali saja ketika ada acara ulang tahun perusahaan, ia datang bersama orang tuanya. Itu pun hanya setahun sekali dan membuatnya hanya dikenal oleh staf perusahaan yang datang.
“Selamat siang, Tuan. Mau bertemu dengan siapa?” tanya seorang pria berseragam keamanan.
“Mulai hari ini, aku akan bekerja di sini. Aku akan bertemu dengan papaku di atas,” jelas Arya dengan gaya khasnya dan menatap ke arah sosok pria dengan tubuh gempal tersebut.
Kemudian melanjutkan perkataannya untuk menjelaskan siapa papa yang ia maksud. "Papaku adalah pemimpin perusahaan ini. Apa sekarang kamu mengerti siapa aku?" tanya Arya yang saat ini tengah menatap tajam sang security dan beralih dengan tersenyum smirk begitu melihat sikap dari pria itu
Refleks pria berseragam coklat yang baru saja membulatkan kedua mata begitu mengetahui tengah melakukan kesalahan karena sama sekali tidak mengenal sosok pria muda dengan paras rupawan di hadapannya, ia buru-buru membungkuk hormat.
Kali ini wajahnya benar-benar sangat ketakutan dan membuatnya merasa seperti kedua kakinya lemas karena berpikir kemungkinan akan dipecat dari perusahaan.
'Astaga, aku terancam kehilangan pekerjaan karena tidak mengenali putra dari pemilik perusahaan ini. Mimpi apa aku semalam, hingga bisa mengalami masalah seperti ini,' umpat sang security yang kini mulai membuka suara yang terdengar gemetar.
"Maafkan saya, Tuan karena tidak mengenali Anda. Anda bisa langsung ke atas karena sepertinya presdir sudah menunggu."
Arya yang hanya bersikap datar, tidak berniat untuk menanggapi perkataan dari pria dengan wajah pucat itu. Kini, ia kembali melangkahkan kaki panjangnya untuk masuk ke dalam lift dan sudah pasti menuju ke ruangan kerja ayahnya di lantai atas.
Tak lupa ada resepsionis yang tentu saja mengenalinya, membungkuk hormat padanya sambil menyapa dan sama sekali tidak ia pedulikan.
Setelah menekan tombol pada angka sepuluh, Arya yang kini melihat angka digital di hadapannya sambil memasukkan tangan kiri ke saku celana. Tidak hanya itu saja, kini tangan kanannya tengah melakukan gerakan menyapu rambutnya dengan sela-sela jemari.
Setelah beberapa menit menunggu, kini suara denting pintu kotak besi tersebut pun terbuka dan ia sudah bergerak keluar menuju ruangan sang ayah untuk menanyakan apa posisinya di perusahaan itu.
Tentu saja ia sudah tidak sabar untuk mengetahuinya dan bisa bekerja di depan komputer seperti yang dibayangkannya.
__ADS_1
Sampai di dekat ruangan kerja sang ayah, ia tersenyum pada sekretaris yang sedang duduk di kursinya karena langsung terlihat berdiri dan membungkuk hormat padanya.
"Selamat datang, Tuan. Presdir sudah menunggu di dalam."
Wanita dengan kulit putih dan tubuh langsing itu bernama Jesy memang beberapa saat lalu sudah mendapatkan pesan dari atasannya bahwa nanti sang putra mahkota datang ke perusahaan, harus mengantarkan masuk ke ruangan kerja bosnya.
Jadi, begitu ia melihat pria muda dengan paras rupawan itu sudah datang, langsung melaksanakan perintah dengan mengantarkan ke ruangan presiden direktur si sebelah kiri meja kerjanya.
Tentu saja Arya yang sudah menyangka itu, hanya diam saja saat wanita cantik berpakaian layaknya sekretaris itu segera berdiri dan mengantarkan untuk bertemu dengan sang ayah di ruangan kerja.
"Jesy mengetuk pintu dan masuk terlebih dahulu setelah menunggu beberapa detik.
Kemudian membungkuk hormat pada sang pemimpin perusahaan yang duduk di kursi kebesarannya tengah menunduk menatap ke arah beberapa dokumen di atas meja.
"Presdir, Tuan sudah datang." Mempersilakan pria itu untuk berjalan mendekati sang ayah. "Saya permisi."
Jesy langsung berbalik badan begitu bosnya mengibaskan tangan tanpa menatapnya karena masih fokus menatap ke arah banyaknya dokumen di atas meja. Seolah ia sama sekali tidak berharga dibandingkan pekerjaan dari bosnya tersebut.
Namun, ia yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah kursi kerjanya, menyadari bahwa sifat dari pemimpin perusahaan memang selalu seperti itu, sehingga tidak mempermasalahkan hal itu.
'Mungkin aku bisa mencari perhatian putra pemimpin perusahaan. Siapa tahu jatuh cinta padaku dan bisa mengubah kehidupanku yang sederhana menjadi dipenuhi banyak uang dan harta melimpah,' gumam Jesy yang sudah mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan masih menatap ke arah pintu ruangan kerja pemimpin perusahaan.
Sementara itu, Arya yang sudah masuk dan menyapa ayahnya di ruangan itu, lalu duduk di kursi yang ada di seberang. Ia yang dari tadi terlihat berbinar dan tidak berhenti mengulas senyuman. Bahkan kini tersenyum pada sang ayah yang terlihat sangat sibuk itu.
"Jadi, apa yang harus kukerjakan, Pa? Posisi apa yang akan Papa berikan padaku?"
Sementara pria dengan jas hitam yang kini mengangkat pandangannya dari dokumen yang akan ia tandatangani setelah diperiksa, ini memberikan beberapa lembar kertas pada putranya.
Arya yang berharap itu adalah pekerjaan yang akan dilakukannya di sana. Akan tetapi, kenyataan tidak seindah yang diharapkan.
“Antarkan itu pada staf perusahaan marketing yang ada di lantai tiga. Lalu, kamu ke bagian HRD untuk berbicara mengenai posisimu di perusahaan ini!" Ari Mahesa kini masih menatap intens wajah putranya yang mulai membaca sesuatu yang ia berikan.
Ia sebenarnya ingin mengabadikan momen penting yang merupakan tanggapan dari putranya begitu mengetahui posisi di perusahaan yang diberikan.
__ADS_1
Tentu saja ia tidak semudah itu memaafkan Arya yang berani melawannya, sehingga menghukum dengan caranya hari ini.
Arya yang terlihat menganggukkan kepalanya, kini tersenyum pada sang ayah yang baru saja memberikan sebuah map.
“Oke, Pa.”
Arya tersenyum senang, lalu membaca berkas yang ada di tangannya. Itu adalah data pribadi miliknya dan ada lampiran tentang pekerjaannya di sana. Refleks ia membulatkan kedua mata begitu mengetahui posisi apa yang diberikan oleh sang ayah.
“Pa, apa ini tidak salah? Aku jadi cleaning service di sini? Apa Papa gila?" umpat Arya dengan wajah memerah dan mengarahkan tatapan tajam pada pria paruh baya yang selalu menguji kesabarannya.
“Tidak ada yang salah, semua yang ada di berkas itu benar.” Ari Mahesa masih bersikap sangat tenang dan kembali menatap ke arah beberapa dokumen penting di atas meja.
Tanpa memperdulikan putranya yang sudah terlihat murka dan malah membuatnya ingin tertawa. Namun, ia menahan diri agar tidak tertawa karena sedang mendalami perannya.
'Dasar anak nakal! Ini adalah hukumanmu karena berani membantah dan melawan daddy. Tidak ada yang mudah di dunia ini, putraku. Jadi, nikmati ini dan mendapatkan posisimu kembali atau kau memilih pergi dan kehilangan semuanya!'
Ari hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hati dan mendengar suara bariton putranya saat merasa murka atas keputusannya.
Arya yang sama sekali tidak pernah berpikir akan bekerja pada bagian paling rendah di perusahaan, kali ini tidak terima dengan posisi itu dan mengalihkan perhatian dari berkas di tangannya pada sang ayah.
"Tapi … bukankah aku akan bekerja sebagai staf perusahaan biasa di sini? Lalu ini apa, Pa? Astaga!" Arya mengacak frustasi rambutnya yang tadi sangat rapi, kini berubah sangat berantakan akibat perbuatannya.
Sebenarnya ia ingin tertawa terbahak-bahak menanggapi semua hal yang terjadi hari ini, tapi tidak bisa melakukannya begitu mendengar sikap santai sang ayah yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Ari yang baru saja menandatangani dokumen, kini masih menggantung pulpen di tangan dan melihat ekspresi wajah memerah putranya. Bahkan kali ini ia ingin bersikap tegas agar putranya itu lebih menghargai pekerjaan yang diberikan.
“Ya, seorang cleaning service adalah staf perusahaan biasa di sini. Apa ada yang ingin kamu ketahui lagi? Atau … kamu mau mengundurkan diri di hari pertama ini?”
Arya tampak kesal, tetapi ia tidak bisa lagi berbalik badan. Rasa-rasanya tubuhnya ingin berlari jauh atau melompat dari gedung karena malu dengan pekerjaannya di perusahaan yang tak lain adalah milik keluarga sendiri.
'Astaga! Papa sangat keterlaluan! Tega sekali memberikan pekerjaan paling rendah pada putranya sendiri. Ataukah sedang mengujiku? Apakah aku menerimanya atau langsung pergi dari perusahaan ini?'
'Sepertinya begitu. Baiklah, aku akan menerima pekerjaan ini karena sangat yakin jika papa hanya ingin mengetesku saja,' lirih Arya yang kini tidak menanggapi perkataan sang ayah dan mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar.
__ADS_1
To be continued...