
Suara ******* dan lenguhan di dalam kamar mandi, menjadi musik yang mengiringi adegan panas yang terjadi. Hanya benda mati di ruangan tersebut yang menjadi saksi bisu dari percintaan panas pasangan yang seperti pengantin baru terlihat di bathtub tersebut.
Arya tidak berhenti menggerakkan tubuhnya di atas tubuh polos wanitanya. Sedangkan Putri yang awalnya tadi menolak permintaan dari Arya kini sudah terhanyut oleh perbuatan dari pria yang sangat memuja tubuhnya.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Arya berhasil menyelesaikan percintaan panasnya dengan disertai deru napas yang masih memburu di antara keduanya.
Cukup lama keduanya saling menyatu dengan posisi berpelukan sangat erat, seolah tidak akan terpisahkan. Setelah berhasil menormalkan napasnya, Arya bangkit dari atas tubuh wanita yang terlihat masih memejamkan kedua mata tersebut.
Dengan senyuman menyeringai, ia memercikkan air ke wajah Putri.
"Kamu sangat menikmati perbuatanku, bukan? Tadi saja berpura-pura dengan mengeluh sangat capek dan beralasan macam-macam. Nyatanya, saat aku menyentuhmu sedikit saja, kamu sudah mengerang dan melenguh seperti seekor cacing kepanasan."
Putri yang terkejut karena aksi usil dari pria tampan itu, langsung membalas dengan memercikkan air ke wajah Arya yang menggodanya tersebut.
"Astaga! Dasar nakal. Bagaimana aku tidak bersuara jika kamu menyerang titik-titik sensitifku. Kamu seperti laki-laki yang sudah sangat berpengalaman saja."
"Inilah yang dinamakan naluri seorang lelaki saat bercinta dan membuatnya mengalir begitu saja saat dikuasai oleh hasrat."
Putri hanya menatap intens Arya begitu mendengar perkataan dari pria yang terlihat sudah berdiri di bawah kucuran air shower.
"Mungkin juga karena pengaruh film yang kamu tonton."
"Salah satunya," sahut Arya yang menoleh menatap ke arah wanita yang masih berendam di bathtub. "Sepertinya aku akan selalu mengingat wajah cantikmu dan tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkanmu nanti."
"Benarkah? Jadi kamu terbayang wajah cantikku saat malam hari? Aaah... aku jadi terharu," sahut Putri dengan wajah penuh binar kebahagiaan.
Arya melambaikan tangan pada Putri. "Kalau tidak begitu, mana mungkin aku mengancammu untuk bertemu. Cepat turun dari situ dan kemarilah karena aku ingin memandikanmu!"
Putri yang kini membulatkan mata saat terkejut dengan keinginan yang disampaikan oleh Arya, refleks langsung mengibaskan tangan sebagai penolakan.
"Aah... tidak... tidak. Kamu keluar sana! Aku mau mandi sendiri. Bukankah kamu sudah selesai mandi?"
Arya yang memang baru selesai mandi, kini mematikan keran air dan meraih jubah handuk.
"Sayang sekali, padahal aku ingin melihatmu mendesah dan mengerang saat aku menyentuh setiap jengkal tubuhmu karena wajahmu terlihat sangat seksi saat menikmati sentuhan dariku."
Tentu saja wajah Putri seketika merona karena benar-benar merasa sangat malu saat selalu digoda oleh pria dengan tatapan menyeringai yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Cepat keluar!"
Putri yang sudah merona permukaan wajahnya, memercikkan air ke arah pria yang terlihat mengedipkan mata dan tersenyum nakal padanya.
"Astaga... ternyata aku sudah seperti pepatah habis manis sepah dibuang. Setelah aku berhasil memuaskanmu, sekarang kamu malah mengusirku!"
"Kamu selalu membuatku geram!" Putri memijat dahinya karena merasa gemas sekaligus pusing dengan tingkah nakal pria yang jauh lebih muda darinya.
Sementara itu, Arya yang hanya terkekeh dan mulai berjalan keluar kamar mandi meninggalkan wanita yang terlihat bersungut-sungut tersebut setelah melilitkan handuk di tubuhnya.
"Baiklah ... baiklah. Aku pergi. Cepat mandinya karena aku sangat lapar setelah memforsir tubuhku untuk memuaskanmu." Mengedipkan mata dan berjalan keluar begitu melihat Putri memercikkan air ke arahnya lagi.
Sementara itu, Putri yang kali ini masih bersungut-sungut dengan bibir mengerucut, kini langsung turun dari bathtub begitu melihat Arya keluar.
Ia pun mulai melakukan ritual mandi di bawah guyuran air shower. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah walk in closet untuk mengganti wardrobe yang melindungi tubuhnya dengan gaun selutut yang kemarin dibeli oleh Arya dengan menyuruh salah satu staf hotel.
Gaun dengan warna merah yang membuatnya merasa seperti seorang wanita cantik dan muda.
Setelah melepaskan wardrobe berwarna putih yang melindungi tubuhnya, Putri mulai memakai dress berwarna merah tersebut.
"Aku sudah selesai. Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?"
Putri menghampiri Arya yang menatapnya dengan tidak berkedip sama sekali. Kemudian ia memilih mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan Arya dan mengalungkan tangan di belakang leher pria yang terlihat sangat tampan tersebut.
"Kamu mau pergi shopping dengan penampilan secantik itu? Apa kamu mau menggoda para pria? Mereka akan menggoda wanita secantik kamu "
Putri yang saat ini berbunga-bunga hatinya, memberikan sebuah hadiah dengan mencium pipi pria itu. Hingga bekas bibir merahnya menempel di pipi putih Arya. Refleks ia pun terkekeh melihat stempel bibirnya di sana.
"Kamu memang sangat pintar merayu jika sudah ada maunya. Sekarang kita turun untuk sarapan di restoran."
Arya berbicara dengan masih melingkarkan tangannya pada pinggang ramping wanita yang menurutnya sama sekali tidak terlihat seperti seorang wanita yang telah menikah dan memiliki anak karena masih memiliki tubuh seksi.
"Baiklah. Ayo, kita pergi sekarang."
Putri turun dari paha Arya dan bergelayut manja pada lengan kekar pria yang sudah membawanya keluar dari kamar hotel menuju lift khusus untuk menuju ke restoran.
Arya dengan gemas mengacak rambut tergerai itu sehingga rambut Putri hingga terlihat sedikit berantakan.
__ADS_1
"Astaga, rambut aku jadi berantakan, kan!"
Putri melepaskan tangannya yang daritadi bergelayut pada tangan kekar Arya, lalu mulai merapikan rambutnya.
Di sisi lain, Arya hanya terkekeh melihat wanita di depannya yang terlihat merajuk, lalu ia mendorong kursi untuk Putri setelah tiba di restoran hotel.
"Duduklah. Hari ini bisa makan apa saja yang kamu inginkan. Pesan saja makanan yang belum pernah kamu makan."
Tentu saja saat ini Putri mengembangkan senyumannya begitu mendengar perkataan dari pria tampan yang berada di depannya tersebut.
Ia yang berasal dari keluarga sederhana dan selalu menghemat uangnya saat membeli kebutuhan, mendadak menjadi ratu dan pasangan dari seorang pria tampan keturunan keluarga konglomerat yang mengubah hidupnya dalam waktu semalam.
Tentu saja jiwa miskinnya yang selama ini meronta-ronta, mulai terbebas dari rantai kemiskinan yang selama ini membelenggunya. Hatinya bersorak kegirangan karena merasakan kebahagiaan yang saat ini menjemputnya.
"Aku ingin makan makanan terbaik dan termahal di restoran ini. Saatnya menikmati hari menjadi seorang kekasih dari seorang pria tampan nan kaya sepertimu."
Kini Putri tersenyum nakal pada pria tampan yang saat ini terkekeh melihat tingkahnya.
"Dasar wanita nakal yang materialistis!" Arya mencubit pipi tirus Putri yang menurutnya benar-benar sangat menggemaskan.
Sementara itu, Putri sedikit meringis merasakan cubitan dari pria yang digilainya tersebut.
"Jangan suka mencubit pipiku, Sayang. Sakit ini!"
"Iya ... iya, maafkan aku." Arya yang tidak ingin Putri terluka, kini mengusap bekas cubitannya di pipi putih itu.
Sedangkan Putri menatap perbuatan pria di depannya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
'Arya sangat perhatian. Sangat berbeda dengan pria tua tidak berguna itu. Aku semakin yakin untuk bercerai dengannya. Dari semalam aku mematikan ponsel. Apa ia sudah menghubungiku?'
'Lebih baik aku nyalakan ponsel setelah sampai di kontrakan nanti '
Puas bergumam sendiri di dalam hati, Putri sudah memesan makanan di buku menu yang terlihat sangat asing saat dibaca dan ia bertanya pada Arya mana yang enak.
Kemudian menikmati sarapan yang bisa dibilang sudah menginjak jam makan siang selesai dengan sesekali diiringi canda tawa.
To be continued...
__ADS_1