Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
248. Menghibur diri sendiri


__ADS_3

Putri memanggil Arya setelah masakan yang ia buat sudah siap. Wanita itu mengajak suaminya untuk makan bersama.


Tentu saja ia terlihat sangat bahagia karena bisa makan bersama lagi dengan suami tercinta. Kini, Putri menyendokkan nasi beserta lauknya untuk Arya dengan penuh semangat.


"Kamu harus makan yang banyak, Sayang."


Sementara itu, Arya hanya mengangguk tanpa ada penolakan. Ia kemudian menyantap makanan yang telah disediakan oleh Putri.


Tidak ada perbincangan di meja makan tersebut. Arya lebih banyak diam saat menyantap makanan di atas piringnya.


Tidak ada tatapan lembut seperti biasanya yang pria itu berikan pada Putri.


Tentu saja sikap suami yang berbeda seperti itu disadari oleh Putri. Namun, tidak ingin merusak suasana di meja makan dengan bertanya tentang hal yang mungkin saja bisa merusak selera makan suaminya.


Biasanya Arya akan terlihat antusias saat mereka makan bersama.


Dulu, suaminya itu tidak hentinya memuji masakan sang istri dan mengucapkan terima kasih atas masakan yang dihidangkan untuknya.


Usai makan, Putri membersihkan meja makan, piring kotor dan merapikan makanan yang masih tersisa cukup banyak.


Hari ini, bahkan Arya hanya makan sedikit dan tidak menghabiskan makanan di piringnya.


'Apa Arya sedang sakit?' tanya Putri dalam hati dengan perasaan sangat gelisah dan membuatnya merasa sangat bingung karena menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Arya.


Usai merapikan semuanya, ia mencari Arya ke dalam kamar karena tidak menemukan pria itu di ruang tamu.


Namun, ternyata Arya pun juga tidak ada di kamar mereka. Dari dalam rumah, ia melihat ada bayangan seseorang yang sedang duduk di kursi teras rumah mereka. Perlahan ia membuka pintu yang tertutup rapat di depannya.


Putri cukup terkejut saat melihat Arya yang sedang duduk sembari menghisap tembakau yang pria itu apit dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Arya melihat sekilas ke arah Putri saat menyadari keberadaan wanita itu, tetapi kemudian kembali menghisap nikotin di tangan dan mengembuskan asap yang keluar dari hidung dan mulut ke udara.


Arya terlihat sangat menikmati isapan sebatang rokok tersebut.


Aroma asap dari rokok yang sedang diisap oleh suaminya seketika menusuk indra penciuman Putri.

__ADS_1


Ia ikut menghirup udara yang tercemar asap tersebut. Saat ingin melontarkan sebuah kalimat, tiba-tiba ia mendengar suara tangis Xander.


Putri mengurungkan niatnya untuk bicara pada Arya. Ia menutup kembali pintu rumah dengan rapat. Kemudian segera masuk ke dalam kamar dan melihat putranya yang sudah bangun. Rupanya Xander terbangun karena haus dan lapar.


Sembari menyusui bayinya, pikiran Putri masih tertuju pada suaminya.


Baru saja tidak pulang satu malam, sikap Arya langsung membuat Putri keheranan.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan suaminya itu? Tidak biasanya Arya bersikap seperti itu. Jika memang memiliki masalah di kantor, pasti akan bercerita padanya.


Kemudian mereka akan mencari solusi bersama. Namun, kali ini berbeda, Putri seperti tidak mengenali suaminya. Arya seperti orang lain.


Setelah menghabiskan satu batang rokok, Arya masuk ke dalam rumah dan menemui sang istri di kamar mereka.


Merasa harus segera bicara dengan Putri. Semakin lama ia berada di rumah itu, dadanya semakin sesak dan nyeri.


Tidak bisa dipungkiri, Arya masih merindukan wanita itu dan ingin memeluknya, tetapi ia tidak bisa melakukan itu. Arya memilih menunggu di ruang tamu.


“Sudah selesai?” tanya Arya pada istrinya saat wanita itu keluar dari kamar dan duduk di sampingnya.


"Kenapa sikapmu sangat aneh hari ini?"


“Biasa saja," jawab Arya datar.


“Kenapa kamu tidak berani menatapku? Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?” tanya Putri lagi. “Lihat Aku!”


Arya memalingkan wajah menatap Putri. Ia menangkap sebuah kesedihan di mata wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.


“Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Aku merasa kamu bukan Arya yang kukenal,” imbuh Putri dengan suara yang bergetar, tetapi sebisa mungkin ia menahan agar air mata tidak sampai menetes.


Arya menghela napas dan kembali memalingkan tatapan ke arah lain. Ia tidak sanggup jika harus berlama-lama menatap manik indah milik wanita yang duduk di sampingnya.


Ia tidak ingin luluh lagi dengan wajah sendu yang Putri tampilkan. “Aku harus kembali tinggal di rumah orang tuaku."


Jantung Putri seperti dipaksa berhenti secara tiba-tiba saat mendengar ucapan suaminya. Pikiran buruk yang sedari kemarin menghantui, kembali menguar ke permukaan dan membuat wanita itu menggeleng beberapa kali.

__ADS_1


“Apa kamu akan meninggalkan kami?” tanya Putri dengan lirih.


“Kondisi mama masih belum ada perkembangan. Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk bisa membuatnya cepat siuman. Papa memintaku menggantikan posisinya di perusahaan untuk sementara sampai mama siuman dan pulih kembali."


"Jadi, aku harus tinggal di kediaman mereka lagi,” tutur Arya. Ia tidak mengatakan apakah akan benar-benar meninggalkan anak dan istrinya atau tidak.


“Berapa lama?” tanya Putri dengan suara serak saat napasnya seketika tercekat di tenggorokan.


“Aku tidak tahu.” Arya mengendikkan bahu.


“Dokter saja tidak bisa memastikan kapan mama kan sadarkan diri dari koma.”


“Apa kamu tidak bisa tetap tinggal di sini bersama kami?” Putri masih mencoba untuk mengubah keputusan sang suami yang membuatnya merasa sangat sedih.


“Tidak bisa. Saat aku menggantikan posisi papa di perusahaan, otomatis akan banyak media yang mencari tahu tentang kehidupanku. Tanpa menjelaskan pun, aku rasa kamu sudah tahu apa dampaknya kalau aku tetap tiggal di sini?”


Arya memberanikan diri menatap Putri. Ia bisa melihat wanita itu mengulas senyum tipis yang terlihat dipaksakan dari sudut bibirnya.


“Ya, aku mengerti. Lakukanlah sesuai dengan keinginan papamu. Aku harap kamu tidak akan lupa di mana rumahmu yang sebenarnya,” imbuh Putri dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Kini, ia yang memalingkan tatapannya dari Arya. Putri kemudian beranjak dari duduknya.


"Baiklah. Aku akan membantu mengemas barang-barang yang sekiranya masih kamu butuhkan di sana.”


Arya menatap punggung tangan istrinya saat berjalan menuju kamar lain yang bersebelahan dengan kamar tidur mereka.


Ia juga bisa melihat sang istri yang menyeka air matanya sambil berjalan menuju ruangan tersebut.


Sekuat apapun Putri menahan gejolak di hatinya, tetapi pada akhirnya, air mata itu tidak bisa ia bendung.


Putri sadar, ia tidak akan bisa menahan suami untuk tetap berada di sini, bersamanya dan buah hati mereka.


‘Tenang Putri. Semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu bersabar sebentar lagi,’ ucap Putri di dalam hati yang sedang menghibur diri sendiri.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2