Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
286. Satu pertanyaan


__ADS_3

Putri sudah selesai dan saat ia keluar dari ruangan tersebut, ternyata Bagus tidak ada di sana. Sepertinya masih belum selesai. Ia pun memilih untuk menyusul ke apotek yang ada di klinik tersebut.


Benar saja, ternyata Bagus sedang duduk di kursi di dekat apotik bersama dengan dua orang pasien lain.


“Apa Xander tidur?” tanya Bagus saat Putri duduk di kursi yang ada di sebelahnya dan mendapat anggukan kecil dari wanita itu.


“Masih lama?” tanya Putri pada pria yang selalu membuatnya merasa sangat bersalah.


“Tinggal menunggu satu orang lagi. Setelah ini, giliran kita,” jawab Bagus singkat.


Ia sudah menyerahkan kertas yang diberikan oleh Putri tadi pada petugas apoteker di sana.


Mungkin saja mereka sedang menyiapkan obat untuk Xander.


Benar saja, setelah seorang pasien pergi dari sana, petugas apoteker memanggil nama Xander.


Refleks Bagus berdiri. “Kamu tunggu di sini saja kasihan Xander,” ucap Bagus yang bangkit berdiri.


Putri tadinya hendak berdiri, tapi segera duduk kembali dan menenangkan Xander yang mulai terganggu dengan pergerakannya.


Ia hanya menatap punggung lebar Bagus yang sedang mendengar penjelasan dari salah satu petugas apoteker untuk aturan obat yang akan diberikan pada Xander.


Bahkan juga melihat saat Bagus merogoh kantong celana, mengeluarkan dompet dan memberikan sebuah kartu pada petugas di sana.


‘Astaga, bagaimana mungkin aku lupa memberikan uang padanya untuk menebus obat untuk Xander? Bodoh.’ Putri merutuki dirinya sendiri.


“Sudah selesai. Ayo kita pulang.” Bagus sudah berdiri di depan Putri.


"Aku sudah memesan taksi untukmu dan Xander. Aku akan mengikuti kalian dari belakang saja,” ucap Bagus lagi. Ia memberikan kantong yang berisi obat di tangan Putri.


Ia tidak ingin ada fitnah yang akan memberatkan mantan istrinya tersebut, jadi melakukan itu dengan tidak mengantar.


“Terima kasih. Berapa total harga obat itu?” tanya Putri kemudian.


Tentu saja ia harus mengganti uang Bagus. Ia tidak ingin mempunyai utang pada pria itu.


“Nanti saja kita bicarakan. Taksinya sudah menunggu di luar.”


Bagus berjalan lebih dulu. Sesekali pria itu melihat ponselnya untuk mencocokkan nomor kendaraan taksi yang ia pesan.


Setelah memastikan dengan benar, Bagus membukakan pintu penumpang dan menutupnya kembali setelah Putri masuk ke dalam mobil.


“Pelan-pelan saja, Pak. Saya akan mengikuti dari belakang,” ucap Bagus berpesan pada supir taksi tersebut.


“Baik.”


Mobil yang membawa Putri pun melaju dengan pelan.

__ADS_1


Supir taksi juga memastikan jika pria yang tadi mengatakan akan mengikuti dari belakang. Meskipun merasa sangat aneh.


Langit yang tadinya berwarna jingga sudah berubah gelap saat mereka ke luar dari klinik. Malam mulai menyapa. Namun, hal itu tidak membuat jalanan sepi.


Sepanjang perjalanan, Putri hanya menatap ke luar melalui jendela mobil yang ada di sampingnya.


Ia menatap jalanan yang seolah tidak pernah ada matinya. Gemerlap lampu-lampu menerangi jalan dan bangunan yang ada di sekitar.


Papan-papan reklame yang di pasang di pinggir jalan pun tampak terlihat indah dengan lampu yang menerangi banner besar di dalamnya.


Putri lupa, entah kapan terakhir kali ia dan Arya keluar malam dan jalan-jalan.


Meskipun hanya sekedar berburu makanan yang hanya dijual pada waktu sore, hingga dini hari oleh para penjual yang menjajakan dagangan mereka di pinggir jalan.


Tidak perlu makan di restoran mewah atau makan malam romantis yang penuh dengan lilin dan bunga-bunga. Makan ditempat biasa penjual kaki lima bersama dengan Arya saja sudah membuatnya bahagia.


Putri mengulas senyum getir di sudut bibirnya, membayangkan untuk pergi bersama dengan Arya lagi saja rasanya sudah menjadi satu hal yang mustahil.


Sembari mendekap putranya, pikiran Putri menerawang entah ke mana.


Sampai sopir taksi yang mengantarnya harus memanggil beberapa kali untuk memberitahu penumpangnya jika mereka sudah sampai di tujuan.


Ketukan pada jendela mobil menyadarkan Putri dari lamunannya. Ia mengerjap beberapa kali. Kemudian tersadar jika mereka sudah sampai di depan rumah wanita itu.


“Sudah sampai? Maaf, saya melamun,” ucap Putri singkat.


“Baiklah. Kalau begitu, ini untuk Bapak saja.” Putri menyodorkan uang pada supir tersebut.


“Terima kasih.” Sang sopir tampak bahagia mendapat uang tip dari penumpang.


Kemudian Putri segera keluar dari dalam mobil dan memastikan jika tidak ada barang miliknya yang tertinggal di sana. Putri mengucapkan terima kasih pada sopir tersebut.


“Ada apa? Apa Xander baik-baik saja?” tanya Bagus saat Putri sudah turun dari taksi.


Bahkan ia membantu Putri untuk membawakan tas. Ia sengaja mengetuk jendela mobil saat menunggu Putri yang tak kunjung turun dari taksi. Sementara taksi itu sudah berhenti cukup lama di sana. Bagus khawatir terjadi sesuatu dengan Putri


dan putranya.


Bagus mengikuti Putri yang melangkah menuju rumahnya dan membuka pintu. Kemudian meletakkan tas yang ia bawa di atas meja yang ada di teras rumah.


“Aku akan membaringkan Xander lebih dulu ke kamar. Kamu duduk saja dulu,” ucap Putri setelah berhasil membuka pintu rumah.


Ia kemudian masuk dan memindahkan putranya perlahan ke atas tempat tidur agar jangan sampai anak itu terbangun.


Semenjak Arya mengatakan jika ia akan tinggal kembali di rumah orang tuanya, Putri selalu menidurkan Xander di atas ranjangnya.


Baik siang ataupun malam. Putri merasa dengan tidur bersama sang putra, ia tidak begitu kesepian berada di rumah itu. Beruntung Arya tidak meninggalkan dirinya saat sedang hamil dulu.

__ADS_1


Putri tidak bisa membayangkan bagaimana kesepiannya ia yang tinggal sendiri di sana.


Walupun ia selalu kelelahan karena harus mengurus semua sendiri setelah melahirkan, tetapi saat melihat wajah putranya, seperti mendapat suntikan semangat baru.


Putri kembali ke teras rumah untuk menemui Bagus dan berterima kasih pada pria itu karena sudah menemani dan membantunya saat di klinik tadi. Sebenarnya ia tidak punya alasan yang kuat untuk membenci mantan suaminya.


Sebaliknya, seharusnya Bagus-lah yang marah dan membencinya atas apa yang sudah ia lakukan pada pria itu. Namun, tidak pernah melakukannya.


“Maaf sudah membuatmu menunggu lagi. Terima kasih, atas bantuan hari ini,” ucap Putri dan mendapat anggukan dari pria yang sedang duduk di kursi yang ada di sana.


Bagus kemudian mengeluarkan obat yang diberikan oleh petugas apoteker di klinik tadi dan menjelaskan aturan minum obat tersebut pada Putri, seperti yang dijelaskan oleh petugas apoteker tadi padanya.


“Jadi, berapa total semua ini?” tanyanya kembali.


“Tidak perlu. Kamu tidak perlu mengganti uang yang sudah aku keluarkan.” Bagus berucap dengan tegas.


“Tapi ini bukan untuk aku, ini untuk Xander dan dia bukan darah dagingmu.”


“Ya, memang Xander bukan darah dagingku, tapi juga adalah bagian dari hidupmu."


"Selagi aku iklhas dan tidak mempermasalahkan itu, bukankah tidak ada masalah?” tukas Bagus. Ia menatap wanita yang masih sangat ia cintai tersebut.


“Terimalah. Aku tidak ingin mempunyai utang budi padamu.”


“Simpan saja uangmu untuk kebutuhan Xander yang lain. Jika kamu memang ingin membalasnya, bisa melakukannya dengan cara lain.”


“Cara lain?” Putri mengerutkan keningnya.


“Ya. Jagalah dirimu baik-baik."


"Sayangi dirimu sendiri dan pastikan kamu selalu bahagia, agar aku tidak menyesal karena sudah melepaskan sesuai dengan keinginanmu,” imbuh Bagus.


Tatapannya bahkan sangat intens. “Istirahatlah. Kamu juga pasti sangat lelah setelah melalui hari yang cukup berat."


"Kamu harus tetap sehat, agar bisa merawat Xander dengan baik. Aku pulang dulu.” Bagus mengusap pucuk kepala Putri sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu.


Sebenarnya ia ingin memeluk Putri, tetapi wanita itu pasti akan menolak dan ia tidak ingin membuat mantan istrinya merasa tidak nyaman.


Sementara itu, Putri masih termangu di tempatnya setelah mendengar kalimat yang Bagus ucapkan. Putri mengatupkan bibir dan mengigit bibir bawahnya untuk menahan agar air matanya tidak sampai menetes.


Ia masih menatap punggung Bagus yang sudah berlalu meninggalkan rumahnya dengan kuda besi yang pria itu kendarai.


Barulah setelah pria itu benar-benar pergi, ia terduduk lemas di kursi dan menumpahkan tangis yang sedari tadi ditahan.


Hanya ada satu pertanyaan dalam benak Putri saat ini.


“Kenapa kau tidak membenciku setelah semua yang kulakukan padamu?" lirih Airin dengan berurai air mata.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2