
Terlihat sosok pria dan wanita yang kini tengah saling berpelukan erat dengan deru napas memburu saat baru saja mencapai puncak kenikmatan.
Entah sudah berapa lama dua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut melakukan kegiatan panas dan liar dalam momen penyatuan diri tersebut.
Bahkan tadi Arya sempat tidak memperdulikan rintihan dari Putri yang berkali-kali meminta serta menyuruh segera mengakhiri kegiatan yang liar.
Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama saling ber-sitatap saat mendengar suara dering ponsel milik Arya yang berbunyi.
Ia hanya melirik sekilas ke arah ponsel miliknya yang berada di atas meja dan begitu melihat nama dalam layar, masih tidak berniat untuk mengangkat panggilan.
Itu karena menganggap bahwa orang yang menghubungi adalah orang tidak penting yang hanya menganggu kesenangan Arya ketika bermesraan dengan sang istri. Apalagi mengetahui jika sebenarnya ada udang di balik batu.
"Astaga, mengganggu saja!" umpat Arya yang kali ini berniat untuk mematikan ponselnya, agar tidak ada yang mengganggu.
Namun, pergerakannya kalah cepat dengan tangan Putri yang saat ini tengah meraih ponsel miliknya dan menggeser tombol hijau ke atas. Bahkan sengaja menekan tombol loudspeaker dan mengarahkan ke hadapannya.
Putri yang merasa sangat penasaran dengan apa yang diinginkan wanita di seberang telepon karena berpikir ada hal penting yang akan disampaikan.
Tentu saja langsung membuat Arya mau tidak mau mengeluarkan suara saat ia dengan gerakan cepat langsung mengambil benda pipih tersebut.
Begitu menggeser tombol hijau ke atas dan memberikan kode pada Arya untuk mengeluarkan suara. Kini ia mendengarkan pembicaraan dari sosok pria yang menurut pada perintahnya.
Arya kali ini dengan sangat malas mengeluarkan suara karena perintah Putri. Tentu saja dengan tatapan tajam yang seolah akan memangsa apapun yang ada di hadapannya.
"Ada apa? Apa kau tidak bosan menghubungiku? Bukankah aku menyuruhmu untuk tidak menggangguku?"
Suara teriakan Arya kali ini memekakkan telinga hingga sempat membuat Putri berjenggit kaget. Tidak hanya itu saja, ia bahkan refleks mengarahkan pukulan cukup keras pada lengan itu.
"Sayang, berisik! Astaga, bisa tidak berbicara tanpa berteriak dan dengan suara yang biasa?"
__ADS_1
"Tidak," seru Arya dengan wajah yang masih diliputi oleh amarah karena merasa sangat kesal saat kesenangannya diganggu. Hingga ia mendengar suara dari seberang telpon.
"Maaf, Arya. Aku ingin berbicara denganmu tentang hal penting, tapi kamu selalu tidak mengangkat panggilanku."
Arya yang dari tadi masih berbaring di atas ranjang, merasakan pergerakan cepat dari sang istri saat merebut ponsel miliknya.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Jangan pernah menghubungi suamiku lagi!"
Awalnya Putri berpikir jika itu adalah telpon penting dari rekan kerja Arya, tetapi begitu mengetahui bahwa ternyata yang menelpon adalah seorang wanita yang berhubungan dengan masa lalu suami, refleks langsung mematikan sambungan telepon.
"Jika aku tahu yang menelpon wanita itu adalah seorang pengganggu rumah tangga kita, aku mana mungkin menyuruhmu berbicara tadi," ucap Putri dengan wajah penuh kekesalan saat meluapkan amarahnya.
Sementara yang hanya menaruh ponsel miliknya di atas nakas, kini terkekeh geli melihat wajah dari sosok sang istri yang sedang meluapkan rasa cemburu.
"Lain kali, jangan suka mengangkat telpon yang tidak penting, Sayang. Selama beberapa hari terakhir ini ada banyak teman yang menghubungiku, tapi tidak kuangkat kecuali Rendi."
"Dulu saat aku menghubungi mereka satu-persatu, tidak ada yang mau membantu dan aku benar-benar putus asa. Kini, saat mengetahui aku bekerja di perusahaan dan kemungkinan besar akan segera menjadi penerus papa, para penjilat itu mulai berlomba-lomba untuk datang."
Arya yang kini teringat dengan sahabatnya itu, kini terdiam sejenak karena tengah memikirkan sesuatu.
Sementara Putri saat ini tengah menatap Arya terlihat sangat penasaran dengan yang saat ini tengah dipikirkan oleh Arya, sehingga memilih untuk bertanya.
"Ada apa? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa ada yang mengganggu."
Sementara itu, Arya saat ini menceritakan tentang perihal sahabat baiknya yang dulu sering ia susahkan.
"Aku punya utang Rendi sebesar 20 juta. Meskipun ia tidak menagihnya, tetap saja punya kewajiban untuk mengembalikan nanti. Ingatkan aku agar tidak lupa nanti."
"Kalau aku juga lupa? Bagaimana?" tanya Putri yang kini merasa sangat penasaran dengan uang sebanyak itu dulu digunakan untuk apa.
__ADS_1
"Memangnya kapan kamu pinjam uang sebanyak itu dari Rendi? Lalu, uang itu untuk apa? Kenapa aku tidak tahu? Bukannya begitu keluar dari rumah, kamu tinggal bersamaku di kontrakan?"
Putri yang merasa bahwa uang itu sangat besar dan tidak mungkin bisa dibayar olehnya dengan mengandalkan gajinya saat bekerja di rumah beberapa tetangga. Tentu saja merasa bingung jika harus mengembalikan dalam waktu dekat.
Sementara Arya kini merasa bersalah karena dulu tidak jujur dalam masalah keuangan karena khawatir jika Putri menghabiskan uang dari Rendi yang digunakan sebagai biaya hidup, sedangkan saat itu ia takut tidak bisa hidup jika tanpa uang jajan.
Takut kelaparan dan tidak bisa membeli makanan yang disukai, menjadi penyebab utamanya.
"Kita bisa tinggal di rumah ini juga karena bantuan Rendi. Jadi, kamu harus baik-baik dengan Rendi, Sayang."
Arya kini mengakhiri ceritanya dan berharap sang istri tidak marah padanya karena menceritakan masala utang.
Jika dulu uang segitu bisa habis dalam beberapa hari saja, berbeda dengan yang saat ini tengah dilakukan oleh Arya karena jauh lebih banyak pertimbangan dalam membelanjakan uang.
Aku benar-benar jadi sangat menghargai uang dan pastinya karena mengetahui susahnya mencari pekerjaan di era gempuran teknologi seperti ini."
"'Kini, terjawab sudah pertanyaan di hatiku dulu ketika sang suami membawa mobil dan juga uang untuk sewa rumah, berarti atas bantuan Rendi?"
Arya yang saat ini ditanya, kini memilih untuk memejamkan mata karena bola matanya seperti diberikan lem.
"Lebih baik kita lanjutkan besok saja karena aku sangat mengantuk."
Akhirnya Arya tidak ada pilihan lain dan mengikuti keinginan dari Arya dengan memejamkan mata.
Hari semakin larut dan pasangan suami istri yang di atas ranjang saling berpelukan itu kini memutuskan untuk menyudahi hari ini dengan terlelap bersama di ranjang yang nyaman mereka.
Hingga bunyi napas teratur terdengar memenuhi ruangan kamar berukuran sedang tersebut. Menandakan bahwa saat ini, pasangan suami istri tersebut benar-benar telah dipenuhi oleh keletihan luar biasa setelah momen panas dan liar beberapa saat yang lalu.
Berharap esok hari bisa menjalani hari dengan semangat setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
To be continued...