Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
230. Kabar buruk


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Rani melangkah menjauh dari ruang rawat di klinik yang ia datangi. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sana dan segera mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu kotor.


Ia tidak mau ada kuman atau bakteri yang menempel di tubunya karena kontak fisik yang ia lakukan dengan wanita yang sangat ia benci.


Seseorang pernah mengatakan, jika anak laki-laki akan cenderung dekat dengan ibunya. Maka saat putranya dekat atau menjalin hubungan dengan wanita lain, tidak bisa dipungkiri akan ada kecemburuan di hati sang ibu.


Meskipun wanita itu adalah seseorang yang bisa membuat putranya bahagia karena bagi orang tua, sedewasa apapun anak itu, di mata seorang ibu, tetaplah anak kecil yang masih perlu dilindungi.


Hal itu yang sedang Rani rasakan saat ini. Ia sangat tidak ikhlas jika putranya lebih memilih wanita lain dari pada ibu sendiri. Kecewa tentu ada, tetapi Rani tidak mungkin membenci putranya.


Karena itu, ia melampiaskan kekecewaan pada Putri yang semakin lama menumbuhkan rasa benci yang tidak berkesudahan. Bagi Rani, kehadiran wanita itu telah menjadi bencana besar dalam keluarganya.


Ia tidak habis pikir, mantra apa yang Putri berikan. Hingga putranya cinta mati pada wanita itu dan tidak memandang Calista sedikit pun.


Dari segi apapun, baginya, Calista jauh lebih cantik dari Putri. Bahkan keluarga wanita itu sudah sangat jelas asal usulnya.


Beruntung Calista mencintai Arya. Jadi, dia rela menunggu dan tidak mempermasalahkan status putranya tersebut.


Tidak peduli jika Arya hanya menganggap teman, yang terpenting bagi Calista, ia bisa dekat dulu.


Calista akan mencari celah yang ada dan memanfaatkan situasi sebaik mungkin untuk mengambil hati Arya.


Rani mengembuskan napas kesal saat sudah masuk ke dalam mobil. Wanita paruh baya yang masih terlihat bugar itu segera bergegas pergi dari ruangan yang membuat dadanya sesak dan amarah kian memuncak.


Ia sangat kesal dengan Putri haru ini. Wanita itu sangat licik, otaknya selalu saja bisa berpikir untuk membalikkan keadaan. Membayangkan tinggal satu atap dengan wanita itu saja sudah memantik api kemarahan di hati Rani.


Apalgi jika mereka benar-benar tinggal satu atap. Mungkin api itu akan semakin membesar dan membakar seluruh penghuni rumah.


Tangan Rani mengepal dengan deru napas yang tidak beraturan karena menahan gejolak amarah yang tidak bisa terluapkan.


"Dasar perempuan sialan! Jangan pernah berharap kamu bisa menginjakkan kakimu yang kotor itu di istanaku. Aku akan pastikan itu tidak akan pernah terjadi."


Rani berteriak, mengumpat dan meluapkan kekesalannya saat masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak!" titahnya pada supir pribadi yang selalu setia mengantarnya ke manapun.


"Baik, Nyonya." Sang sopir segera melajukan kendaraan.


Meninggalkan pelataran parkir klinik dan melaju memecah jalanan kota yang selalu padat.


Rani berusaha mengatur napasnya agar jauh lebih tenang. Ia tidak ingin sampai ikut masuk rumah sakit karena darah tinggi menghadapi wanita ular seperti Putri.


Jika benar, wanita itu pasti akan sangat bahagia dan semakin berada di atas awan.


Sekeras apapun ia mencoba, bayangan wajah Putri justru semakin jelas terlihat. Bagaimana wanita itu menyeringai penuh kemenangan.


"Lebih cepat lagi, Pak!" titah Rani. Ia ingin cepat menemui suaminya dan menceritakan perihal rencana wanita sialan itu. Ia butuh


saran dari suaminya untuk mencari cara menggagalkan rencana Putri yang ingin tinggal di istana keluarga Mahesa.


Besok mereka sudah bisa meninggalkan klinik dan ia tidak mau jika Putri dan bayi itu tinggal di istana mewahnya, walaupun hanya beberapa jam. Sebenci itu Rani pada wanita yang sudah menjadi menantunya tersebut.


'Aku harus segera sampai dan menemukan solusinya.' Rani bergumam dalam hati.


Saat ini otaknya sedang tidak bisa memikirkan cara apapun karena emosi yang masih menyelimuti hati dan pikiran.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, yaitu di klinik. Senyum Putri dan Arya terus mengembang. Meskipun pikiran dan hati mereka merasakan kebahagiaan yang berbeda.


Arya benar-benar bahagia karena sang ibu sudah bisa menerima anak dan istrinya.


Ia tidak pernah mengira jika kelahiran putra tercintanya justru menjadi anugerah dan memberikan keberkahan dalam keluarga mereka.


Awalnya, Arya sempat kecewa karena wanita paruh baya yang sangat ia hormati tersebut menaruh curiga atas kebenaran darah dagingnya sendiri.


Arya sangat yakin jika putra mereka yang ia beri nama Xander Caesar Mahesa tersebut benar-benar darah dagingnya sendiri. Bagaimana sang ibu bisa mencurigai bayi tersebut. Apakah tidak melihat kemiripan yang begitu kentara di antara mereka?


Arya juga yakin jika Putri tidak mungkin mengkhianati cintanya. Putri adalah wanita yang sangat ia cintai dan percaya, melebihi dirinya sendiri. Ia tidak perlu meragukan lagi ketulusan wanita itu.


Sementara Putri, wanita itu tengah bahagia karena ia selangkah lebih maju dari mertuanya. Ia senang karena wanita paruh baya itu terjebak dalam permainan sendiri.


Putri sangat yakin, pasti saat ini mertuanya yang sangat membencinya itu sedang menyusun rencana untuk menggagalkan perkataan yang barusan ia ucapkan.


Tidak ada yang bisa wanita paruh baya itu lakukan selain pasrah, menerima ucapan Putri tadi. Tidak mungkin ia menarik kata-katanya sendiri dan mengecewakan putra semata wayang yang sangat disayangi tersebut.


Lagipula, besok pagi Putri dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Apa yang bisa mertuanya itu lakukan di waktu yang begitu singkat tersebut.


"Kamu sepertinya sangat bahagia, Sayang?" Arya yang sudah menidurkan bayi mereka ke dalam box bayi, menghampiri istrinya dan duduk di sebelah wanita tersebut.


"Tentu saja aku senang. Setelah sekian lama, akhirnya mama kamu mau menerima aku dan putra kita." Putri mengulas senyum di wajahnya.


Jauh di dalam lubuk hati, sebenarnya menyimpan luka atas setiap ucapan yang terlontar dari bibir mertuanya. Entah kenapa, setiap kalimat yang diucapkan terdengar begitu tajam dan langsung menghunus hatinya. Walaupun lembut, tetapi sangat menusuk.


Putri sebenarnya sudah cukup lelah jika harus bersandiwara dan terus bersembunyi di balik topeng wajahnya yang selalu terlihat baik-baik saja.


Ia juga ingin diterima dan dianggap manusia oleh wanita yang telah melahirkan suaminya tersebut.


Toh, selama ini mereka saling mencintai dan Putri bisa menerima Arya tanpa memandang harta.


Bahkan rela bekerja untuk menghidupi suaminya. Saat ini, yang Putri butuhkan hanyalah perhatian, kasih sayang dan kepuasan nafkah batin yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Bagus— pria yang sampai detik ini masih menyandang status sebagai suaminya.


Semua memang terdengar sangat gila, tetapi Putri tidak peduli sama sekali. Baginya, tidak ada yang salah dengan cinta.


'Bukankah dalam sebuah hubungan suami istri itu harus bisa saling memuaskan?' pikir Putri sebagai pembenaran diri.


Bukan salah dirinya jika sampai saat ini ia masih menyandang status sebagai istri Bagus karena pria itu tidak bisa menceraikannya saat dalam keadaan hamil. Meskipun ia tahu jika Bagus sampai saat ini masih sangat mencintainya.


Putri sendiri tidak mau ambil pusing. Cukup mertuanya saja yang selalu memantik emosinya. Putri tidak ingin memikirkan hal berat lain yang akan membuat hatinya semakin lelah.


Baginya, yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan keluarga kecil yang ia miliki dan Arya yang begitu mencintainya.


"Aku juga sangat bahagia, Sayang. Aku benar-benar tidak menyangka, mama mau menerima kamu di rumah dan mengakui anak kita. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kebahagiaan keluarga kita."


"Aku sangat bersyukur dengan kehadiran Xander di tengah kemelut keluarga yang aku sendiri tidak tahu entah sampai kapan akan berakhir. Putra kita benar-benar membawa berkah."


Arya menggenggam tangan istrinya dan mengecup lembut di sana.


Kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Iya. Semoga ini memang awal dari kebahagiaan kita," sahut Putri dengan binar kebahagiaan.


Ia menyandarkan kepala di dada bidang suami tercinta dan sebuah senyum getir pun terulas di bibirnya.

__ADS_1


Putri sendiri tidak yakin apakah ini adalah sebuah awal yang akan menjadi kebahagiaan atau justru kehancuran karena tidak ada ketulusan yang benar-benar terselip di dalamnya.


Semua hanya sebuah sandiwara yang sedang ia dan mertuanya perankan, yang suatu saat nanti pasti akan berakhir. Entah itu akan menjadi happy ending atau sebaliknya. Satu hal yang pasti, Putri tidak akan menyerah begitu saja.


Putri tahu, mertuanya tidak akan tinggal diam setelah ia benar-benar tinggal di rumah keluarga besar Mahesa. Wanita itu pasti akan melakukan apapun untuk memisahkan ia dan Arya.


Namun, sama halnya dengan Rani, Putri pun tidak akan tinggal diam dan menyerah begitu saja. Ia akan mempertahankan dan terus memperjuangkan kebahagiaan keluarga kecilnya.


Terkadang kita harus menjadi orang gila untuk melawan orang gila. Kita harus menjadi jahat untuk melawan orang jahat. Itulah pikiran Putri saat ini.


Bagi Putri, dunia ini terlalu kejam jika ia hanya pasrah saat orang lain merendahkan harga dirinya. Hal itu sama saja memberikan peluang bagi mereka untuk semakin menginjak harga dirinya.


Putri tidak mau dipandang sebagai wanita lemah. Ia akan melawan jika memang orang itu sudah sangat keterlaluan. Ia ingin membuktikan pada mertuanya, jika wanita dari kasta rendahan seperti dirinya pun punya hak yang sama untuk dicintai dan bahagia.


"Setelah ini, aku ingin kamu segera urus perceraian dengan Bagus. Aku ingin segera meresmikan pernikahan kita agar diakui oleh negara, bukan hanya sah di dalam selembar surat pernikahan siri saja," ucap Arya masih menggenggam tangan sang istri.


"Kita sudah mendapat restu dari mama. Aku yakin sebentar lagi papa juga akan memberikan restunya. Aku ingin semua orang tahu kalau kamu adalah istriku satu-satunya."


Putri sangat bahagia mendengar keinginan suaminya yang terdengar begitu tulus. Ia merasa menjadi wanita yang begitu beruntung karena mendapatkan cinta yang berlimpah dari pria itu.


Kekhawatiran Putri tentang hubungan mereka menguar begitu tidak ada yang perlu ia takutkan karena ia yakin cinta Arya akan mengalahkan segalanya.


Perbincangan mereka berlanjut. Banyak rencana yang sudah Arya susun ke depannya untuk keluarga kecil mereka.


Ia terus bercerita dan menyampaikan semuanya pada sang istri sembari menggenggam tangan wanita yang teramat dicintai tersebut.


Tidak ada sanggahan yang Putri berikan atas semua keinginan suaminya. Ia membiarkan pria itu terus berceloteh dengan bahagia.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mau mengandung dan berjuang mengorbankan nyawa untuk melahirkan putra kita. Aku berjanji akan menjaga dan membahagiakan kalian." Kembali Arya mengecup tangan istrinya dengan penuh cinta.


Perbincangan hangat yang penuh kebahagiaan itu harus terhenti karena sebuah dering ponsel milik Arya di dalam sakunya.


Kini Arya tampak mengerutkan kening saat melihat nomor tidak dikenal yang tertera di layar ponselnya. Ia mengeleng saat Putri menanyakan siapa yang menelpon.


"Angkat saja! Siapa tahu penting." Setelah Putri mengatakan itu, barulah Arya mengangkat panggilan tersebut.


"Halo. Iya, benar. Saya sendiri."


Arya terdiam beberapa saat karena tampaknya sedang mendengarkan apa yang dibicarakan oleh seseorang di seberang sana. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar suara dari seberang telpon.


"Apa?" Arya melepaskan ponselnya begitu saja hingga lolos dari genggaman dan jatuh ke atas ranjang.


"Ada apa, Sayang?"


Pertanyaan Putri tidak langsung mendapat jawaban dari suaminya.


Arya saat ini terlihat diam mematung dengan mata yang terlihat sudah memupuk cairan bening.


"Sayang ...." Putri mengguncang bahu suaminya.


"Mama ...."


Hanya kata itu terucap dari bibir Arya yang terdengar begitu lirih.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2