Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
208. Rasa bersalah


__ADS_3

Arya baru saja selesai dengan pekerjaannya


Hari ini ia pulang pada jam tujuh malam karena ikut membantu pekerjaan staf yang tadi meminta tolong.


Dengan keahliannya, ia pun bisa menyelesaikan lebih cepat dari jam yang ditentukan tersebut. Meski seharusnya hal itu tidak boleh dilakukan, tetapi semua demi uang tambahan yang didapatkannya untuk sang istri.


Arya kini berdiri di halte, ia mengedarkan pandangan mata ke seluruh jalanan kota itu. Hingga beberapa saat kemudian masuk ke dalam bus yang baru saja tiba.


Duduk di bagian paling belakang, Arya sibuk memikirkan sang istri. Ia ingin Putri hanya fokus padanya dan anak dalam kandungan dah melupakan anak kecil yang merupakan putra kedua yang masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu


Egois, mungkin itu yang mewakilinya, tapi ia tidak peduli akan hal itu.


Perbedaan paling signifikan antara ia dan Bagus adalah seorang pria tersebut bijak dan selalu mengalah, sedangkan ia merupakan kebalikannya.


Setengah jam kemudian, Arya tiba di rumah dan ia membawa dua bungkus makanan dari luar dan memberikannya pada Putri yang kini duduk di ruang santai.


Tentu saja Putri yang dari tadi memang sudah menunggu kedatangan sang suami, terlihat sangat berbinar begitu melihat nasi goreng yang masih hangat itu. "Kamu tahu saja kalau aku ingin makan nasi goreng. Terima kasih, Sayang.”


“Tentu saja aku tahu, bukankah hati dan pikiran kita sudah menjadi satu?” goda Arya dengan bermain mata.


“Kamu ini bisa saja.”


Mereka berjalan ke ruang makan dan duduk bersama. Arya mengambil piring dan sendok untuk istrinya. Diberikannya pada Putri dan mereka menikmati makanan itu bersama.


“Apa hari ini sangat padat dan banyak pekerjaan?”


“Tidak juga, aku hanya lama mengantre untuk makanan ini. Semua untuk istriku tercinta.”


“Dasar lebay."


Putri semakin bahagia dengan sikap Arya yang kian hari semakin manis padanya. Tidak hanya sekadar gurauan, Arya menunjukkan kesungguhan dalam berumah tangga bersamanya.


Berharap tidak akan ada perubahan yang mempengaruhi rumah tangganya. Putri berusaha merubah diri, demi untuk bisa menjadi istri yang disayang suami.


Kegiatan makan malam selesai, Arya yang sudah lelah, memutuskan untuk beristirahat lebih dulu. Terlelap hanya dalam hitungan detik, sedangkan Putri masih merapikan beberapa benda di kamar.


Setelah selesai, ia bergabung dengan suaminya di ranjang dan tidur dengan berhadapan. Wajah lelah itu terlihat jelas dan membuat Putri merasa bangga. Suaminya bekerja keras dengan baik, hingga memperlihatkan wajah lelah tersebut.


“Semoga apa yang menjadi lelahmu, akan membawa hasil yang baik untuk keluarga ini.”

__ADS_1


Akhirnya ia ikut memejamkan mata dan terlelap di samping sang suami.


Keesokan harinya, saat makan pagi. Arya membuka suara mengenai Putra—anak laki-laki Putri.


“Sayang, apa akhir-akhir ini kamu jarang menghubungi putramu?"


“Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?”


“Tidak, aku hanya ingin bertanya. Kamu tidak rindu dengan anakmu itu?”


“Tentu saja aku rindu, tapi aku memilih untuk tidak menghubunginya agar tidak membuat putraku semakin menginginkanku.”


“Baiklah. Hari ini, sempatkan diri untuk menghubunginya. Biarkan ia mendengar suara ibunya.” Arya dari semalam terganggu dengan pemikiran mengenai keserakahannya, sehingga memilih untuk bertanya mengenai tanggapan dari sang istri.


“Apa Bagus menghubungimu? Apa dia yang mengatakannya?”


“Aku sebenarnya sama sekali tidak peduli dianggap sebagai ayah tiri yang jahat atau suami baru yang tidak tahu diri dengan memisahkan kalian. Hanya saja, aku beberapa saat memposisikan diri menjadi Putra. Jadi, kamu bisa datang menemui putramu dan juga menghubunginya.


“Baiklah, aku akan menghubungi nanti.” Meskipun ragu, tetapi jujur saja saat ini Putri merasa senang karena bisa menemui putranya.


“Baiklah, aku harus segera pergi. Ada jam pagi yang perlu dilakukan di kantor. Jika tidak ada yang meminta lembur, aku akan pulang sore hari ini.”


“Ya, aku akan selalu menunggumu.”


“Aku akan melakukan semua yang kamu katakan, Sayang."


Setelah berpamitan, Arya berjalan ke luar dari rumah itu dan menuju halte–tempat biasa ia menghentikan bus menuju kantor.


Sementara Putri tengah duduk dan berkutat pada ponselnya. Ia mengirim pesan pada Bagus mengenai telpon yang akan dilakukan untuk berbicara dengan Putra.


Bukan membalas, Bagus justru menelpon Putri saat itu juga.


“Putri.”


“Kenapa menelpon? Apa kamu tidak bekerja?”


“Belum, aku masih di rumah. Akhirnya kamu menghubungiku. Kamu baik-baik saja, kan?"


“Baik, di mana Putra?”

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, suara anak kecil yang dirindukan terdengar memanggil.


“Ibu,”


“Hai, Sayang. Bagaimana kabar putraku yang paling tampan?”


“Baik.”


“Sudah makan?”


“Sudah. Ayah memasak nasi dan telur.”


“Putra ikut Ayah bekerja?”


“Tidak, Putra sama nyonya Lily.”


Putri mengerutkan keningnya, bukankah nama itu tidak asing di telinganya.


“Iya, baik dan aku bisa bermain. Bibi juga datang.”


"Bibi?”


Seketika Bagus menggantikan suara putranya dan menjelaskan pada Putri mengenai kedatangan Amira Tan yang sering berkunjung.


“Saudaramu sering datang untuk melihat kondisi kita, tetapi menemui Putra di rumah nyonya Lily yang menawarkan diri untuk menjaga Putra selama aku bekerja.” Bagus menjelaskan semua pada Putri.


“Baiklah, aku berusaha untuk tidak ikut campur masalah ini. Setidaknya, jangan sampai anak kita tidak mendapatkan kebutuhannya dengan baik.”


“Aku tahu, kamu bisa tenang mengenai hal itu.”


“Baiklah. Besok aku akan menelpon lagi. Atau kamu bisa membawa Putra ke sini karena aku tidak akan bisa merawatnya setelah melahirkan nanti."


“Sepertinya Putra akan sangat senang hari ini. Aku akan membawanya ke situ sekarang!"


Panggilan berakhir dan Putri meneteskan air mata kebahagiaan karena terbawa suasana ketika membayangkan akan bersama dengan putranya seharian nanti. Itu pun jika Bagus benar-benar mengantarkan ke rumah kontrakannya.


“Maafkan, Ibu, Sayang. Semoga saat besar nanti, kamu tidak membenci ibu yang memilih bercerai dengan ayahmu."


Sebenarnya jauh di dasar hati, Putri merasa sangat bersalah pada putranya, tetapi tidak bisa meninggalkan Arya yang sangat dicintai. Apalagi telah mempunyai calon penerus pria yang sangat dicintai.

__ADS_1


Akhirnya hanya ingin menebus kesalahan dengan kembali memberikan perhatian pada putranya sebelum nanti disibukkan oleh rutinitas setelah melahirkan.


To be continued...


__ADS_2