
Beberapa saat yang lalu, dua pria yang terlihat seperti penguntit sudah mengamati pergerakan dari sahabat yang dari tadi diikuti. Rendi dan Leo yang merasa sangat penasaran ke mana sahabatnya pergi berkencan untuk pertama kali.
Mereka benar-benar membuntuti Arya karena merasa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut. Bahkan mereka meninggalkan kekasih di apartemen yang sedang sibuk membuat berantakan dapur karena memasak.
Meskipun sebenarnya tidak yakin apakah kekasih mereka bisa memasak, tetapi membiarkan berbuat sesuka hati karena pergi sebentar untuk mengikuti sang sahabat.
Hingga mereka sangat terkejut begitu melihat mobil mewah milik Arya berbelok di area hotel dan sangat penasaran, masih mengikuti sampai ke kamar.
Meskipun mereka bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan berpikir bahwa sahabatnya tidak akan melepaskan wanita yang sudah diajak ke hotel.
Rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran bercampur menjadi satu dan membuat mereka berakhir di hotel. Setelah Rendi bertanya pada resepsionis tentang kamar Arya dengan beralasan ponselnya mati dan tidak bisa menghubungi sahabatnya tersebut.
Setelah keduanya sama-sama masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai tiga, di mana kamar terbaik di hotel yang dipesan oleh sahabatnya ada di sana.
Namun, begitu berada di depan presidential suite room dan mendengar suara-suara dari dalam yang membuat bulu kuduk mereka meremang hingga saling ber-sitatap.
Tentu saja mereka bisa menebak apa yang dilakukan sahabatnya pada wanita yang baru ditemui dan kini telah menjadi sepasang kekasih.
Meskipun mereka tahu bahwa Arya bukanlah seorang pria yang suka melakukan **** bebas, tetapi kali ini benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa sahabatnya berakhir di hotel bersama wanita yang diketahui baru dijumpai.
Rendi kini meninju cukup kuat lengan Leo dan menatap tajam sahabatnya tersebut karena memaksanya untuk membuntuti Arya dan membuat otaknya seketika traveling ke mana-mana.
"Kamu benar-benar gila, Leo! Ayo, kita pergi dari sini! Lebih baik kita pergi sebelum Arya mengetahui kita diam-diam membuntutinya. Kamu benar-benar kurang kerjaan karena ingin melihat Arya bercinta dengan wanita bernama Putri itu."
Sementara itu, Leo yang sama sekali tidak sependapat dengan Rendi, kini terlihat membuat gerakan jari telunjuk pada bibirnya.
"Diam dan jangan berisik! Bukankah kita sebagai teman Arya harus setia kawan? Apa kamu sama sekali tidak khawatir jika ternyata wanita bernama Putri itu menjebak sahabat kita? Bagaimana jika tiba-tiba ada para wartawan datang ke sini?"
"Bukankah nama baik keluarga Arya akan tercemar karena ulah penerus tunggal yang melakukan hubungan **** sebelum menikah di hotel?"
__ADS_1
Selama beberapa saat, Rendi terdiam karena membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut.
"Itu benar, tapi apa perlu kita di sini untuk mendengarkan suara lenguhan mereka saat bercinta? Astaga, bulu kudukku bahkan sampai merinding seperti ini."
Rendi menunjukkan lengan kekarnya yang saat ini merinding karena dari tadi mendengar suara ah uh pasangan yang jelas-jelas sedang bercinta di dalam kamar di depannya.
Berbeda dengan Leo yang saat ini malah terbahak dan seketika menutup mulutnya sendiri karena takut jika Arya mendengar dari dalam.
"Kau pasti saat ini sudah membayangkan Arya dengan wanita itu, bukan? Makanya otakmu langsung traveling."
"Astaga! Kamu benar-benar gila!" umpat Rendi dengan wajah masam dan kembali mengarahkan tinju pada perut berotot Leo.
"Sampai kapan kita berjaga di sini? Kalau sampai malam, lebih baik kamu saja yang melakukannya!"
Wajah Leo seketika terkejut begitu mendengar pertanyaan yang menurutnya sangat konyol tersebut.
Bahkan beberapa kali ia mengerjapkan mata dan beralih menatap ke arah Rendi. Merasa bahwa perbuatannya itu memang sangat konyol.
"Demi Arya, kita harus setia kawan, oke!" ujar Leo saat menatap Rendi yang tengah bersandar di dinding sebelah kiri pintu dengan asyik memijat pelipis.
"Orang-orang yang melintas nanti pasti akan berpikir kita gila." Rendi sebenarnya ingin sekali segera pergi dari tempat yang dianggapnya sebuah neraka karena hanya menyebabkan penderitaan saat menelan saliva mendengar suara ******* dari dalam ruangan kamar hotel.
"Sabar. Tidak lama lagi, mereka pasti akan selesai. Tidak mungkin Arya melakukan hal itu sampai satu jam. Patah nanti."
Leo yang kembali tertawa sambil membekap mulutnya, kini berjalan mendekati Rendi dan melakukan hal yang sama, yaitu bersandar pada dinding.
Rendi kini hanya geleng-geleng kepala mendengar Leo tengah mengatakan kalimat konyol bernada vulgar. "Memangnya kayu, apa! Sampai bisa patah segala." Melihat ke sekeliling area hotel yang terlihat sangat sepi.
"Nasib baik lantai ini khusus ruangan kelas super mewah di hotel yang tidak sembarangan orang datang ke sini. Jadi, tidak akan banyak orang yang berlalu lalang."
__ADS_1
Leo yang masih tidak berhenti tertawa karena ingin mencairkan suasana tegang di sekitarnya. Ia yang merasa badannya panas dingin karena mendengarkan suara dari dalam, ingin mengalihkan pikirannya agar tidak berpikiran semakin liar.
Ia kini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya. "Kita tunggu lima belas menit lagi. Pasti Arya sudah selesai. Aku akan menleponnya dan langsung menyuruhnya pergi dari hotel. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan."
Sementara itu, Rendi sama sekali tidak menjawab karena merasa hanya boneka yang mengikuti ke manapun sahabatnya pergi.
Detik demi menit berlalu dan sempat ada yang datang melewati mereka. Kemudian mereka berpura-pura untuk menelpon dan menanyakan tentang kamar hotel. Seolah sudah ada janji bertemu di salah satu presidential suite room tersebut.
Meskipun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman berada di luar kamar hotel cukup lama seperti penguntit, tetapi terpaksa melakukannya karena tidak ada pilihan lain demi sesuatu yang disebut setia kawan.
Namun, sudah setengah jam lebih mereka menunggu, tapi merasa kegilaan sahabat baik mereka tidak kunjung selesai juga dan Rendi yang sudah tidak sabar lagi, kini beranjak dari tempatnya dan langsung mengetuk pintu.
Sementara itu, Leo yang membulatkan kedua mata karena sangat terkejut pada kegilaan Rendi yang berani mengganggu kegiatan liar dan panas dari Arya, seketika menepuk pundak itu.
"Apa yang kamu lakukan? Astaga!"
"Apa lagi? Mengetuk pintu," ujar Rendi dengan santainya. "Lama-lama berdiri di sini malah membuatku gila!"
Saat Leo menggaruk tengkuknya karena sebenarnya ia juga sudah bosan menunggu Arya, tetapi tidak kunjung selesai.
"Sepertinya wanita bernama Putri itu benar-benar membuat Arya gila dan liar," lirih Leo yang berbisik di dekat daun telinga sahabatnya. "Sudah setengah jam berlalu, masa masih belum selesai juga. Jika sampai pinggangnya patah, kita tertawakan saja besok."
"Memangnya itu semua kamu yang buat? Sampai bisa patah semudah itu? Arya masih muda. Ia bukanlah kakek-kakek yang akan patah pinggangnya saat terlalu lama melakukan itu," ujar Rendi yang langsung menghentikan perkataannya begitu melihat pintu kamar hotel terbuka dan melihat penampilan Arya yang berantakan dan mengarahkan tatapan tajam, ia tersenyum simpul.
"Peace, Brother," ucap Leo yang tidak ingin mendapatkan pukulan dari sahabatnya yang terlihat memerah wajahnya karena marah.
"Berengsek!" umpat Arya yang langsung menghambur ke arah dua sahabatnya untuk mengarahkan kepalan tangan yang kuat untuk melampiaskan amarah karena sangat kesal kegiatannya terganggu.
To be continued...
__ADS_1