Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
Sampah tak ternilai


__ADS_3

Sebenarnya beberapa saat lalu, Arya mendengarkan perkataan pria yang saat ini berada di depannya menjelaskan bahwa melafalkan Ijab kabul dalam akad nikah akan menjadi momen yang sangat sakral sekaligus momen yang sangat mendebarkan terutama untuk calon pengantin pria.


Karena kalau sampai terjadi kesalahan penyebutan nama, mahar, kata-katanya belepotan, berhenti dan terdiam di tengah yang tidak dalam satu napas, maka pengucapannya akan tidak sah dan diulang kembali.


Tidak jarang pengantin laki-laki yang sering lupa dan salah ketika mengucapkan Ijab Kabul dan harus di ulang berkali-kali.


Arya menganggukkan kepalanya tanda mengerti semua ucapan pria tersebut. Kemudian telah menjabat erat pria tersebut yang mulai mengucapkan kalimat.


Setelah itu, dengan lantang mengucapkan kalimat sakral yang akan menegaskan dirinya sah menjadi suami wanita yang saat ini sedang berada di sebelahnya.


"Saya terima nikahnya Putri Wardhani binti binti Edi Indrayana dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai!"


Dengan satu kali tarikan napas, Arya mengucapkan kalimat Ijab Kabul dengan suaranya yang tegas dan lancar.


"Bagaimana para saksi, sah?" Pria tersebut bertanya pada beberapa orang saksi yang berada di dekatnya.


Para saksi seketika menjawab pertanyaan dari wali hakim tersebut dengan serempak.


"Sah!"


"Sekarang Anda sudah sah secara agama menjadi suami dari nyonya Putri. Hanya saja, pernikahan ini tidak mempunyai kekuatan hukum."


Pria yang berumur lebih dari 45 tahun itu menatap pasangan pengantin di depannya yang kini terlihat serius ingin mendengarkan ia melanjutkan perkataannya.


Ia harus menjelaskan semuanya agar pasangan pengantin baru tersebut mengerti tentang pernikahan yang baru saja dilakukan.


"Jadi, nikah siri bisa diartikan sebagai pernikahan yang tidak diakui secara hukum karena tidak tercatat dalam catatan negara. Konsekuensinya, pasangan nikah siri yang menikah di bawah tangan tidak akan mendapatkan buku nikah atau kutipan akta pernikahan."


"Solusi dari masalah ini adalah pasangan suami istri harus membuat surat keterangan menikah siri. Surat keterangan ini bertujuan agar legalitas pernikahan siri yang telah dilakukan diakui negara."


"Hal yang dilakukan untuk itu, dibutuhkan surat keterangan di tempat pernikahan setempat bahwa pernikahan belum dicatatkan, surat keterangan dari aparat setempat yang menerangkan pemohon telah menikah, fotokopi KTP pemohon isbat nikah, membayar biaya perkara dan berkas lainnya sesuai ketentuan hakim."


"Semuanya ini saya yang akan mengurus karena tadi nona Amira Tan sudah membayar semuanya. Apakah ada yang ingin ditanyakan?"

__ADS_1


Tentu saja Putri yang kini belum sepenuhnya mengerti tentang pernikahan siri, memilih bertanya karena tidak ingin dihiasi dengan berbagai macam pertanyaan di otaknya.


"Ada. Apakah jika sudah menikah siri, harus ijab kabul lagi untuk mendaftarkan pernikahan agar secara sah tercatat dalam hukum negara?"


Refleks pria tersebut menggelengkan kepalanya untuk menegaskan bahwa itu salah.


"Tidak, Nyonya. Apabila telah dilaksanakannya nikah siri, untuk mendaftarkan pernikahan tersebut secara sah tercatat dalam hukum negara, maka hal yang dapat dilakukan adalah mengajukan Isbat Nikah ke Pengadilan Agama, sehingga tidak perlu dilakukannya ijab Kabul ulang."


Kini, Putri mulai memahami semua hal mengenai pernikahan yang dilakukan. Ia yang tadi merasa sangat terkejut dengan mahar pernikahan yang dikeluarkan oleh mertuanya, hanya bisa mengungkapkan kekesalannya di dalam hati.


'Dasar wanita pelit! Meskipun dia sangat membenciku, paling tidak, jangan mempermalukan harga diri putranya dengan memberikan mahar yang bahkan hanya cukup untuk makan sehari. Astaga, bisa-bisanya wanita itu menganggapku sangat murah.'


'Dia seolah sudah membeliku dengan harga seratus ribu. Dasar wanita sinting! Bahkan dulu saat Bagus menikahiku, memberikan mahar pernikahan yang lumayan besar.'


'Padahal hanya orang biasa saja. Seandainya aku bisa mengungkapkannya, mungkin wanita itu akan malu, tapi lebih baik aku diam dan menerima semuanya.'


Kini, Putri mengulas senyuman, serta menganggukkan kepala. "Baik, sekarang saya sudah paham."


"Terima kasih, Arya." Putri seketika menepuk jidatnya berkali-kali karena merutuki kebodohannya.


"Aah ... seharusnya aku tidak memanggilmu itu lagi karena status sudah berubah. Sekarang kamu adalah suamiku dan sudah sepantasnya aku memanggilmu suamiku."


Sementara itu, Arya yang kini juga merasakan hal sama seperti sosok wanita di sebelahnya, memberikan tangannya.


"Kamu benar, Sayang. Aku juga harus memanggilmu istriku. Bukankah kamu harus melakukan seperti yang selama ini dilakukan pasangan suami istri baru?"


Tanpa membuang waktu, Putri kini sudah mencium punggung tangan sang suami dan memperlihatkan pada semua orang bahwa saat ini ia adalah istri dari Arya dan tidak berstatus berselingkuh lagi.


Namun, saat ia mencium punggung tangan Arya, mengingat momen saat ia dulu melakukan hal yang sama pada Bagus Setiawan.


Pertama kali menikah dengan Bagus, ia merasakan sensasi berdebar dan terharu. Bahkan sampai ia menitikkan air mata ketika Bagus mengucapkan kalimat akad nikah.


Namun, hari ini ia seolah seperti sangat biasa. Merasa pernikahan ke-duanya ini merupakan hal yang biasa. Menyadari bahwa apapun akan selalu berkesan saat pertama kalinya.

__ADS_1


Sementara ini adalah pernikahan kedua yang sama sekali tidak membuatnya merasa terharu. Namun, ia bahagia karena bisa menikah dengan pria pujaan hati yang dianggapnya adalah pria idaman.


Hingga suara dari pria di hadapannya membuat Putri menoleh karena akan dibacakan doa setelah menikah.


Pria paruh tersebut mulai membacakan doa untuk mendoakan mempelai. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menengadahkan kedua tangannya sambil mengamininya.


Meskipun tidak ada yang tahu bagaimana perasaan masing-masing atas pernikahan paling aneh tersebut.


Beberapa saat kemudian, acara pun telah selesai setelah sebelumnya Putri menyuruh Arya untuk mengabadikan momen pernikahan mereka dengan foto.


"Suruh supirmu untuk memotret kita karena aku ingin momen ini diabadikan. Aku tidak mungkin meminta ibumu karena ia pasti tidak mau melakukannya.


Sebenarnya Arya sama sekali tidak tertarik dengan foto karena menurutnya, pernikahan itu tidak ada artinya.


Apalagi menikah secara sederhana dan sama sekali tidak ada kemewahan. Namun, tidak ingin mengecewakan sang istri, akhirnya ia menyuruh sang supir mengabadikan foto mereka.


Sementara Rani yang malas untuk melihat, memilih bangkit berdiri dari posisinya.


"Tugas Mama sudah selesai, bukan? Jadi, Mama pergi." Beralih menatap ke arah sang supir. "Cepat! Jangan lama-lama mengurusi orang lain."


"Baik, Nyonya," sahut sang supir yang kini sudah membungkuk hormat begitu majikannya berlalu pergi.


Meskipun sebenarnya Arya sangat kecewa, tapi tidak melarang sang ibu pergi karena tadi memang janjinya hanya setelah pernikahan selesai.


"Terima kasih, Ma!" teriak Arya yang saat ini masih melihat ke arah sang ibu berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.


Kemudian sang supir mulai mengambil gambar dengan ponsel miliknya setelah ia melihat satu-persatu mulai pergi meninggalkan rumah berukuran sangat sempit yang tadi sangat sesak karena menampung beberapa orang di sana.


Setelah semua orang pergi, Arya dan Putri mulai sibuk berpose dengan berbagai gaya di depan kamera. Setelah beberapa menit berlalu, sang supir telah selesai memotret dan langsung mengirimkan pada majikannya.


Kemudian mulai berpamitan dan meninggalkan rumah kontrakan sempit itu karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari sang nyonya besar.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2