
Putri semakin gelisah saat ia tidak juga mendapat kabar dari suaminya sampai malam hari. Seharian ini, wanita itu tidak bersemangat sama sekali. Pikirannya terus saja berputar tentang keadaan Arya dan perubahan sikap pria tersebut.
Namun, lagi-lagi ia meyakinkan hatinya jika semua akan baik-baik saja.
Seakan tahu kegelisahan yang sedang ibunya rasakan. Sejak semalam Xander juga lebih rewel, membuat Putri harus benar-benar mengabaikan semua pekerjaan rumah dan fokus pada putranya.
Hari sudah gelap saat Putri kembali membuka ponselnya untuk melihat apakah pesan yang ia kirim untuk Arya sudah terbaca.
Apakah nomor sang suami sudah aktif kembali?
Ia tersenyum senang saat melihat jika pesan yang dikirim sudah bertanda dua ceklis biru. Ia juga melihat jika Arya sedang dalam posisi online. Tidak ingin membuang kesempatan, Putri pun segera menelpon suaminya.
Namun, dua kali ia mencoba, Arya tak kunjung mengangkat panggilan telpon darinya. Tidak putus asa, ia kembali mencoba menelpon dan berhasil, Arya mengangkat panggilan darinya.
“Halo, Sayang? Kamu baik-baik saja, kan?”
Putri diam sejenak untuk mendengar jawaban suaminya di seberang sana. “Kenapa kamu tidak memberikan kabar apapun? Kami menunggumu."
"Kau sudah membuat aku gelisah, Sayang. Kalau memang aku punya salah, tolong katakan. Kamu sudah makan?” Putri langsung memberikan rentetan pertanyaan pada suaminya.
Keningnya berkerut saat Arya hanya memberi jawaban singkat atas semua kalimatnya. Ia benar-benar tidak mengerti apakah mempunyai salah pada suaminya atau bagaimana.
“Malam ini kamu akan pulang, kan? Kami menunggumu, Sayang. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kami adalah rumah tempat kamu untuk kembali.” Dengan suara yang bergetar Putri mengingatkan Arya.
Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya tumpah juga setelah panggilan telpon bersama sang suami berakhir.
Putri menggigit bibir bawahnya untuk meredam suaranya agar tidak sampai terisak. Air mata terus saja mengalir tanpa permisi dan tanpa bisa ia cegah sedikit pun.
Ia sangat membenci keadaan ini. Keadaan di mana seolah-olah dirinya begitu lemah dan kalah oleh air mata.
“Kenapa aku tidak bisa menghentikan air mata ini?” Putri terus mengusap pipinya yang tidak bisa mengering karena cairan bening yang yang keluar akibat produksi kelenjar lakrimal oleh matanya.
Selama hidup bersama dengan Arya, jika ada masalah di antara mereka, pasti akan bicara dan tidak akan mendiamkannya.
__ADS_1
“Mungkin Arya sedang ada masalah di kantornya. Ditambah lagi keadaan mamanya yang tak kunjung membaik.
"Aku harus bersabar untuk menghadapi sikapnya kali ini.” Kembali Putri bergumam dan menghibur diri sendiri dengan kata-kata positif yang terlontar dari mulutnya.
Terkadang hati memang tidak selalu sinkron dengan apa yang ada dalam pikiran.
Perempuan adalah mahluk perasa yang lebih sensitif dibandingkan dengan pria.
Putri adalah seorang wanita. Ia juga mengalami hal yang sama, memiliki perasaan yang sensitive dan merasa takut jika hal buruk akan menimpa keluarga kecilnya.
“Baiklah. Aku akan menunggunya pulang dan mendengar alasannya,” ucap Putri yang terus meracau, bicara dengan diri sendiri.
Xander sudah terlelap, Putri kemudian merebahkan tubuhnya dan menutup dengan selimut. Ia ingin malam cepat berlalu dan cepat bertemu dengan suaminya esok hari.
Putri mencoba untuk memejamkan mata, menyelami alam mimpi yang ia harapkan akan menjadi pelipur lara atas kesedihannya saat ini.
***
Pukul delapan malam, Ari Mahesa sudah kembali dari rumah sakit. Pria paruh baya tersebut segera bertanya pada pelayan, apakah putranya sudah makan malam? Ternyata putranya itu masih belum keluar dari kamarnya juga.
Ia tahu jika Arya tidak akan mau menyantap makan malam yang sudah dihidangkan oleh pelayan rumah mereka jika hanya seorang diri karena hal itu akan membuatnya semakin merasa sepi dan sendiri. Membuat ia semakin mengingat keluarga kecilnya.
Sementara itu, di dalam kamar, Arya segera beranjak dari duduknya saat mendengar suara ketukan di pintu dan suara pelayan yang memangil namanya.
“Iya. Ada apa?” tanya Arya saat pintu kamar sudah terbuka.
“Tuan besar meminta agar Anda turun dan makan malam bersama dengannya.” Mery memberitahu seraya menunduk hormat pada majikannya.
“Baiklah.” Tidak ada bantahan lagi dari Arya. Terlebih lagi ia juga memang merasakan perutnya sudah mulai lapar.
Arya baru ingat jika ia belum makan sejak siang tadi. Sesuai dengan perintah sang ayah, ia makan bersama dengan pria tersebut.
Tidak ada perbincangan apapun di atas meja makan. Semua menu makan malam sudah terhidang di atas meja dan tidak ada alasan untuk menunggu atau pun menunda waktu menyantap makanan yang sudah tersaji.
__ADS_1
Setelah selsai menyantap makan malam bersama sang ayah, Arya mengkuti pria paruh baya itu menuju ruang kerjanya, sesuai dengan permintaan sang ayah tadi.
“Bagaimana pertemuanmu dengan dokter siang tadi?” tanya Ari Mahesa dengan mengarahkan tatapan intens.
Tentu saja itu adalah sebuah pertanyaan basa-basi untuk menutupi apa yang sedang ia sembunyikan. Ari Mahesa sudah tahu semuanya tanpa ia bertanya pada putranya.
“Maaf karena aku sudah mencurigai Papa,” ucap Arya dengan penuh sesal.
Beberapa saat kemudian, dua pria berbeda usia itu kini sudah duduk saling berhadapan pada sofa yang ada di ruang kerja.
Dari jawaban yang Arya berikan, ia sudah bisa menebak jika putranya itu pasti sekarang sedang merasa kecewa sekali pada istrinya.
“Apa yang akan kamu lakukan ke depannya?” tanya Ari sembari menatap putranya yang terlihat begitu rapuh.
“Aku belum tahu, Pa.” Arya menggeleng pelan.
“Tadi Putri menelpon dan aku mengatakan jika akan pulang besok dan menjelaskan semua padanya. Namun, aku tidak tahu harus menjelaskan apa,” ucapnya.
Ari diam dan masih menatap putranya. “Kamu jadi bodoh jika menyangkut tentang wanita itu.” Ari menggeleng pelan dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
"Kamu memang harus kembali ke kontrakanmu dulu, tetapi bukan untuk kembali tinggal di sana bersama dengan wanita itu dan anaknya. Kamu ke sana hanya untuk menjelaskan alasan tidak bisa lagi tinggal bersama mereka.”
“Maksud Papa? Aku harus keluar dari rumah itu?”
“Lalu? Apa kamu masih mau tinggal bersama dengan wanita itu setelah apa yang sudah dia lakukan padamu?” tukas Ari Mahesa dengan tatapan tajam mengintimidasi.
“Apa alasan yang akan aku berikan jika pergi dari sana, Pa?” tanya Arya dengan menatap sang ayah sembari mengerutkan keningnya.
'Tapi aku masih mencintai Putri sampai sekarang,' lirih Arya yang hanya bisa mengungkapkan perasaannya di dalam hati, agar sang ayah tidak mendengarnya.
“Katakan jika kamu harus menggantikan Papa di perusahaan untuk sementara. Itu semua karena Papa harus lebih sering menemani mamamu di rumah sakit. Jadi, kamu harus tinggal di rumah ini untuk menutup agar tidak terjadi rumor yang buruk di keluarga Mahesa. Ingat, Arya. Rekan bisnis Papa tidak ada yang tahu jika kamu sudah menikah."
"Reputasi dan saham perusahaan akan anjlok jika sampai kabar pernikahanmu terkuak dan menjadi santapan para pembawa berita dan menjadi konsumsi publik. Para rival kita akan benar-benar memanfaatkan keadaan tersebut untuk menjatuhkan perusahaan. Kamu mengerti, bukan?”
__ADS_1
“Ya, Pa. Aku mengerti.” Arya tahu resiko apa yang akan ia terima sebagai putra dari seorang pengusaha ternama.
To be continued...