Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
31. Pria nakal dan mesum


__ADS_3

Perkataan dari Arya yang memintanya untuk tinggal, membuat Putri akhirnya menurutinya. Ia menghubungi wanita yang menjaga putranya bahwa akan membayar dua kali lipat dan mengatakan sedang ada urusan mendadak.


Sementara itu, ia mengirimkan pesan pada sang suami bahwa hari ini menginap di tempat salah satu teman dan langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin dihubungi.


Ia kini berjalan keluar dari ruangan kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Memang tadi ia membawa ponsel ke kamar mandi karena tidak ingin Arya melihatnya saat menghubungi orang yang telah merawat putranya.


'Lebih baik aku pikirkan besok saja mengenai pria tua tidak berguna itu yang pastinya akan marah dan menginterogasiku macam-macam. Hari ini, aku akan menikmati waktuku bersama Arya dan melupakan hal lainnya.'


Sementara itu, Arya yang kini menunggu di sofa karena Putri tadi mengatakan ingin mandi agar terlihat lebih segar. Kemudian ia menyuruh salah satu staf hotel untuk membeli pakaian ganti dan memberikan uang tip.


Iris matanya kini tengah menatap ke arah kamar mandi dengan pintu tertutup tersebut dan menunggu hingga wanita yang ingin dimarahinya keluar karena sudah tidak mendengar suara gemericik air dari dalam.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat sosok wanita dengan jubah berwarna putih berjalan keluar. Terlihat handuk kecil yang melilit di kepala dan wajah segar tampak dari sosok wanita dengan kaki jenjang telanjang berjalan ke arahnya.


Arya kini menyunggingkan senyumnya saat melihat Putri terlihat semakin cantik setelah mandi.


Wajah natural tanpa memakai make up dan terlihat sangat segar, semakin membuatnya merasa sangat gemas. Ia refleks berjalan mendekati sosok wanita yang mengambil paper bag berisi pakaian ganti di atas meja.


Refleks ia memeluknya dari belakang dan mencium leher putih Putri dan bisa menghirup wangi khas beraroma strawberry tersebut.


"Buat apa kamu mandi jika nanti kita melakukannya lagi," seru Arya yang masih melingkarkan tangannya pada perut datar Putri dan sibuk menyusuri leher dan daun telinga wanitanya.


Sementara itu, Putri yang tadi melihat Arya saat keluar dari kamar mandi, ingin segera berpakaian yang benar agar tidak membuat pria dengan paras rupawan tersebut berpikir macam-macam padanya.


Ia tidak ingin Arya berpikir seperti sengaja terus menggunakan jubah karena ingin menggoda, sedangkan ia merasa bahwa tubuhnya kali ini remuk redam.


Arya yang tadi benar-benar menghajarnya tanpa ampun dengan durasi panjang, seperti membuat tulang-tulangnya terlepas.


Putri bahkan sangat takut jika sampai Arya bergairah lagi saat melihatnya tanpa memakai pakaian dalam, sehingga ingin memakai baju lengkap dan meminimalisir pria itu kembali bangkit gairahnya.


Namun, saat ia masih membungkuk untuk mengambil pakaian, merasakan tangan dengan buku-buku kuat itu seolah mengungkungnya dan membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.


Refleks ia berdiri tegak dan mencoba melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, Putri mencoba menghindar saat bibir tebal pria yang ada di belakangnya tersebut berhasil membuat urat syarafnya menegang dan menggelenyar.


"Astaga! Arya, lepaskan! Kamu sudah menghukumku sampai lemas seperti ini. Apa kamu belum puas? Menyingkirlah karena aku ingin berpakaian."


Arya yang kali ini seperti ingin membalas kenakalan wanita itu saat cuek padanya. Sebenarnya, beberapa saat yang lalu, ia ingin menyuruh Putri berpakaian yang benar agar tidak sampai bergairah lagi.


Namun, ia berubah pikiran setelah memeluk erat tubuh ramping wanita yang ingin lari dari kuasanya.


"Buat apa berpakaian jika hanya diam di kamar, Sayang. Lagipula kamu jauh terlihat sangat seksi dan cantik tanpa apapun di tubuhmu. Sudah, begini saja! Bukankah sekarang kamu lapar? Ayo, aku suapi." Menggandeng pergelangan tangan kiri Putri dan mengajaknya menuju ke arah kursi


Di mana di sebelah kiri meja ada troli makanan yang tadi sudah dipesannya setelah Putri mengeluh kelaparan.


"Duduklah, Sayang. Hari ini, aku akan benar-benar memperlakukanmu seperti ratu."


Mengarahkan kedua tangannya pada bahu Putri, agar segera mendaratkan tubuh di sana dan ia pun melakukan hal yang sama karena sudah duduk di sebelah wanita dengan wajah masam tersebut.


Berbeda dengan Putri yang saat ini terlihat sangat kesal, meskipun sudah mendapatkan perlakuan sangat manis dari Arya. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan adalah berpakaian lengkap karena masih takut jika pria itu menghajarnya lagi.


Penolakan sekaligus perintah dari Putri seolah membuat Arya seperti anak kecil yang sangat patuh karena tanpa banyak bicara, ia seketika bangkit dari posisinya.


"Baiklah. Aku akan mengambil pakaian untukmu, Sayang. Kali ini, aku adalah budakmu," seru Arya yang tengah mengambil paper bag sambil menguap beberapa kali.


"Sepertinya kita mengantuk karena efek kelelahan, Sayang."


Memilih pakaian untuk wanita yang sangat dicintainya dan masih terlihat menguap beberapa kali. Bahkan kedua matanya terlihat memerah saat dikuasai rasa kantuk yang berlebihan.


Arya yang baru saja mengambil dress pendek berwarna merah, tersenyum menyeringai saat membayangkan jika wanita itu mengenakan gaun yang mudah disingkapnya.


Kini, ia kembali melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah Putri. Arya hanya terkekeh geli melihat wajah cantik itu terlihat sangat masam, seolah sangat kesal padanya. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah bermalas-malasan di kamar dan bermesraan.


"Sekarang pakai gaun yang kupilihkan ini, Sayang!" Arya menyerahkan gaun pilihannya pada Putri.


"Sekarang katakan! Kamu ingin aku berbuat apa lagi? Akan kupenuhi semua keinginanmu," ucap Arya yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan melihat Putri menerima pakaian yang masih ada di tangannya.

__ADS_1


"Berikan padaku!" ujar Putri yang kini segera bangkit berdiri dan berniat untuk melarikan diri ke dalam kamar mandi untuk memakainya.


Meskipun ia telah melalukan semua hal intim dengan Arya, tetap saja tidak percaya diri jika berganti pakaian di depan pria yang ternyata menahan pergelangan tangan kirinya. Seolah menegaskan tidak mengizinkannya untuk pergi.


"Mau kabur dariku? Cepat duduk! Biar aku yang membantumu berpakaian." Menarik tangan wanita yang berdiri di hadapannya dan seketika tubuh seksi Putri terduduk di pangkuannya dan kembali membuatnya tersenyum smirk.


"Aku tahu kalau kamu mau berpakaian di kamar mandi, kan? Tidak perlu malu lagi berada di hadapanku karena kita sudah melewati batas normal, Sayang. Aku lebih suka kamu bersikap nakal dan liar seperti tadi saat memakai gaya pertama."


Baru saja menutup mulut, tidak membuang waktu karena Arya saat ini benar-benar melakukan apa yang baru saja diucapkan, yaitu membantu Putri berpakaian dengan terlebih dahulu membuka ikatan jubah berwarna putih tersebut melewati kedua tangan putih mulus tersebut.


Sementara itu, Putri yang tadinya berniat untuk menolak, sudah tidak bisa lagi melakukannya karena tangan kekar Arya benar-benar tengah mengunci posisinya.


'Di dekat Arya, aku malah merasa seperti seorang bayi tidak bisa apa-apa,' lirih Putri yang kini hanya diam dan patuh saat Arya sudah menurunkannya dari paha kokoh tersebut ke arah sofa.


Meskipun sebenarnya merasa sangat malu, Putri yang akhirnya tidak bisa menolak, kini benar-benar terlihat sangat patuh. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang penurut saat disuruh apapun oleh orang tuanya.


Beberapa saat kemudian, kini Putri sudah berpakaian lengkap dan disuapi oleh Arya Terlihat keduanya sesekali menguap dan merasa sangat mengantuk.


"Kamu tidak makan?" tanya Putri yang merasa tidak enak saat Arya dari tadi sibuk menyuapinya.


Arya yang masih merasa kenyang karena tadi sebelum berangkat menemui Putri, makan cukup banyak, sehingga ia sanggup menghajar wanita di hadapannya tanpa ampun di atas ranjang. Saat ini, ia hanya menggeleng perlahan.


"Kamu saja karena aku sama sekali tidak mood untuk makan karena melihat wajahmu, membuatku kenyang. Lagipula, aku tadi sudah kenyang memakanmu," ucap Arya dengan mengedipkan mata dan refleks meraih air minum saat wanita itu tersedak.


Ia melihat Putri tersedak gara-gara kata-kata vulgar yang baru saja diungkapkan.


"Minumlah dulu, Sayang."


Putri yang merasakan panas pada tenggorokannya, kini langsung merebut botol gelas berisi air putih dari tangan Arya.


'Aryabenar-benar sangat mesum dan nakal, tapi aku malah menyukainya,' gumam Putri yang saat ini tengah menatap intens wajah tampan pria yang saat ini ada di hadapannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2