Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
154. Bebas bermesraan


__ADS_3

Setelah menerima pesan dari Arya, Putri segera menyelesaikan kegiatan memasaknya agar bisa mengemas barang-barang yang akan diangkut ke rumah baru.


Rasa bahagia itu tiada tara, ia sangat menantikan hari ini karena sudah tidak nyaman berada satu rumah dengan Bagus.


“Ibu sedang apa?” tanya Putra ingin tahu.


“Ibu sedang mengemas barang-barang.”


“Ibu mau pergi?” tanya balita itu dengan wajah yang kini berubah muram seketika dan bibir mengerucut, seolah ingin meledakkan tangisan sebentar lagi.


Putri menatap wajah tak berdosa di hadapannya. Terlintas dalam pikirannya mengenai Putra yang akan sendirian di rumah jika dirinya tidak ada.


Bahkan mungkin, Putra akan ikut Bagus bekerja dengan duduk di bangku depan bersama sang ayah.


Putri meraih ponsel dan mengirim pesan kepada Arya. Ia ingin membawa Putri ikut serta di rumah barunya, atau setidaknya saat Bagus bekerja, putranya akan bersamanya hingga sang ayah datang menjemput. Berpikir itu adalah sebagai balas budi atas semua yang dilakukan oleh Bagus.


Sayang, permintaannya tidak ditanggapi dengan baik oleh Arya. Pria itu menolak untuk membawa anak bungsu Putri dan Bagus.


Akhirnya Putri pun menghubungi Bagus dan mengatakan keinginan Arya untuk pindah ke rumah yang sudah disewa. Pesan itu masih belum terbalas, mungkin pria yang sangat bertanggung jawab itu sedang mengemudi.


Wanita hamil itu kembali merapikan barang-barangnya dan memasukkan semua ke koper yang sudah terisi beberapa barang milik Arya


“Ibu, kenapa tidak dijawab?”


Putri masih terdiam, belum sempat ia berucap, ponselnya berdering dan dengan cepat menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.


“Halo.”


“Di mana kalian akan tinggal? Aku tidak setuju jika pria itu membawamu!” protes Bagus dengan nada tegasnya.


“Tapi Arya hanya ingin bertanggung jawab sebagai suami. Apalagi kita satu rumah. Ia pasti merasa segan dengan keberadaanmu di rumah yang sama.”


“Cukup bekerja dan memberimu nafkah, itu adalah hal yang mudah. Kenapa dia ingin membawamu serta untuk pergi, lalu bagaimana dengan Putra?”


“Itulah yang ingin aku bicarakan. Apa Putra bisa tinggal denganmu? Lagi pula, aku sedang hamil. Pasti akan lebih sulit jika mengurusnya juga.”


“Kamu ini! Aku akan pulang dan berbicara dengan pria itu! Apa dia ada di rumah?”


“Tidak ada, Arya sedang bekerja.”


“Pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang jutaan dalam semalam? Apalagi sampai bisa menyewa sebuah rumah untukmu. Aku curiga ia bermain judi atau semacamnya.”

__ADS_1


“Cukup! Aku akan ikuti kemauan Arya. Sekarang aku sedang mengemas barang-barangku dan milik Arya. Cepat pulang karena Putra akan sendirian di rumah setelah aku pergi bersama Arya."


“Setega itu kamu pada anakmu sendiri? Kamu yang mengandungnya, melahirkannya, hanya karena seorang pria baru yang menghancurkan keluarga ini, kamu selalu lebih membelanya?”


Putri memilih untuk mengakhiri sambungan telepon itu, tidak ingin kesal akibat omelan suami pertamanya.


Kepalanya terasa sakit memikirkan apa yang akan terjadi jika Bagus bertemu dengan Arya dengan emosinya saat ini. Mereka pasti akan bertengkar hebat di depan anaknya,


Tentu saja Putri tidak menginginkan hal itu terjadi.


“Ibu, kenapa marah sama ayah?” tanya Putra yang mendengar percakapan sang ibu di telpon beberapa saat lalu.


“Tidak, Ibu tidak marah, Sayang. Sebentar lagi ayah pulang. Nanti Putra sama ayah saja, ya?”


“Iya," sahut bocah laki-laki yang kini memilih untuk duduk di pangkuan sang ibu. Seolah tidak ingin ditinggalkan, sehingga terus bergelayut manja pada sang ibu yang sangat disayangi.


Satu jam kemudian, Arya datang dengan mobil yang dipinjam dari temannya. Dengan mobil itu, ia akan membawa barang-barang beserta Putri bersamanya.


Sementara itu, Bagus tak kunjung datang dan semakin membuat Putri khawatir. Wanita hamil itu tidak bisa meninggalkan putranya sendirian di rumah yang tidak berpenghuni.


“Ibu ...Ibu mau ke mana? Jangan tinggalkan aku.”


Anak itu terus merengek, hingga beberapa saat kemudian, Bagus datang dan menggendong Putra


“Jadi, kalian akan pergi?” tanya Bagus dengan tenang.


“Ya, aku akan membawa istriku ke rumah yang sudah kusewa sendiri.”


“Itu bagus. Kamu sudah bertanggung jawab sebagai suaminya, tapi apa kamu yakin bisa menjadi kepala keluarga yang baik setelah hidup sendiri? Bagaimana dengan biaya sehari-hari? Apa kamu sudah siap memberikan nafkah yang sesuai?”


Bagus benar-benar memberondong Arya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat suasana semakin panas.


“Putri sekarang adalah tanggung jawabku, sepertinya kamu tidak perlu ikut campur mengenai biaya hidup. Tentu saja aku akan memberikan apapun yang diinginkannya.”


“Bagus. Lalu, kenapa kamu tidak membawa serta Putra bersama kalian? Anak ini masih kecil dan membutuhkan perhatian ibunya.”


“Tidak, alasanku adalah demi kesehatan Putri. Istriku sedang hamil. Aku tidak ingin ia terlalu lelah dengan mengurus anak kalian. Jadi, sebaiknya kamu jaga anak itu hingga bisa mandiri dan tidak merepotkan kami.” Arya menjawab dengan nada datar dan wajah kesal.


Sementara itu, Bagus mengepalkan tangannya, seakan tidak bisa menerima apa yang dikatakan Arya.


Putri yang sedari tadi menatap perdebatan antara dua pria itu, kini ikut duduk di antara kedua pria yang memiliki peranan dalam hidupnya.

__ADS_1


“Jadi, aku dan Arya akan pergi sekarang. Kami akan hidup bersama, tapi jika Putra ingin bertemu denganku, aku akan datang untuk menemuinya.”


Berat, itulah yang dirasakan Bagus saat ini. Bagaimana bisa ia melepaskan wanita yang selama ini dicintainya untuk bisa hidup bersama pria yang lebih banyak bergantung pada kekayaan orang tuanya?


Dengan berat hati, akhirnya ia melepaskan Putri dengan keinginannya. Akan tetapi, Bagus juga berpesan pada Putri untuk tetap berhati-hati dan selalu memberikan kabar jika terjadi sesuatu padanya.


Kemudian Putri pergi bersama Arya meninggalkan rumah yang selama ini memiliki kenangan bersama suami dan putranya.


Kepergian kedua pasangan itu disaksikan oleh beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu. Tidak sedikit dari mereka yang mencibir dan menyalahkan keduanya.


Tidak ingin memikirkan hal tersebut lebih dalam, Bagus kembali masuk dan menemui putranya yang kini menangis tersedu-sedu di dalam kamar.


“Sayang, kemarilah." Bagus dengan lembut mengusap punggung putranya sembari duduk di tepi ranjang yang selama ini menjadi tempat mereka berdua tidur.


“Ibu pergi, Ayah tidak tahan ibu?”


“Ibu hanya pergi sementara. Nanti ibu kembali kemari.”


“Benarkah, Ayah? Ibu akan kembali?”


“Iya, Ibumu akan kembali kemari. Itu janji Ayah padamu, Sayang.”


Bagus terlihat sibuk mengusap lembut punggung, kening, rambut putranya. Berharap perbuatannya itu bisa menghibur, menenangkan bocah laki-laki yang merupakan buah cintanya bersama Putri.


Sementara itu, Putri sudah tidak sabar menempati rumah barunya bersama Arya, meski itu adalah rumah sewa.


Mobil pun mulai masuk ke halaman rumah dan Arya memarkirkannya tepat di depan rumah yang terlihat tidak terlalu mewah, tetapi sangat cukup untuk mereka huni.


“Sewa berapa tahun di sini?” tanya Putri memastikan.


“Dua tahun. Setelah itu, aku yakin orang tuaku akan memberikan perusahaan padaku karena aku merupakan satu-satunya penerus .”


“Semoga saja semua segera kembali normal, Sayang. Terima kasih sudah memberikan tempat tinggal yang layak untukku dan calon anak kita.”


“Sama-sama, Sayang. Dengan begini, kita bisa dengan puas bermesraan tanpa gangguan dari pria sinis itu.” Arya berbicara dengan mengedipkan mata.


“Ya, tentu saja. Kita bisa bercinta setiap hari tanpa memikirkan perasaan orang lain," sahut Putri dengan terkekeh.


Keduanya mulai memasukkan barang-barang ke dalam rumah. Arya juga menunjukkan pada Putri mengenai kamar utama yang akan mereka tempati bersama.


Rumah sewa itu memiliki semua perabotan yang mereka butuhkan. Mereka hanya perlu membawa pakaian dan beberapa barang yang kurang. 

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2