Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
58. Doa tulus


__ADS_3

Arya yang mengerutkan kening karena merasa aneh ada taksi yang berhenti di depan rumahnya, akhirnya menghampiri untuk bertanya. Namun, belum sempat bertanya, sang supir sudah menjelaskan dan membuatnya mengerti.


"Oh ... tunggu saja sebentar karena tadi aku melihat dia sedang bersiap-siap."


Baru saja Arya menutup mulut, mendengar suara dari pelayannya yang menyapa dan menghampiri.


"Selamat pagi, Tuan Arya."


"Pagi. Kenapa naik taksi? Memangnya Jarwo ke mana?" tanya Arya yang ingin memastikan sesuatu.


"Jarwo tiba-tiba demam, Tuan. Jadi, saya memesan taksi untuk mengantarkan ke pasar pagi ini. Saya berangkat dulu, Tuan. Nanti kesiangan." Minah membungkuk hormat dan mulai berjalan menuju ke arah taksi begitu majikannya menganggukkan kepala.


Sementara itu, Arya yang tadinya berniat untuk menanggapi, mendengar dering ponsel miliknya dan langsung mengambilnya dari saku celana. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas.


Dengan senyuman mengembang terukir di bibirnya saat melihat sang kekasih menghubungi.


"Hai, Putri. Sepertinya kamu sangat merindukanku, hingga pagi-pagi sudah menelponku."


Di sisi lain, Bagus yang baru saja melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, merasa sangat terkejut begitu pria muda itu menyebut nama istrinya.


Bahkan degup jantungnya kini berdetak kencang saat mendengar nama Putri disebut. Nama sang istri yang menurutnya sangat cantik dan menjadi favoritnya selama sembilan tahun terakhir ini.


Jadi, saat nama yang sangat spesial di hatinya disebut oleh pria lain, membuat hatinya bergetar dan merasa aneh. Meskipun ia tahu bahwa nama Putri ada banyak dan tidak mungkin wanita yang berbicara di telpon dengan pria muda nan tampan itu adalah istrinya.


'Konyol sekali. Hanya karena pria muda itu menyebut nama yang sama dengan istriku, sampai membuatku merasa aneh. Tidak mungkin pria muda yang memiliki paras tampan dan berasal dari keluarga konglomerat itu berhubungan dengan seorang wanita bersuami, yaitu istriku.'


Lamunan dari Putri kini seketika buyar begitu mendengar suara dari wanita berbadan gemuk yang duduk di belakang.


"Ada apa? Kenapa tidak cepat pergi? Aku harus cepat berbelanja di pasar dan pulang tepat waktu," ucap Minah yang dari tadi menatap heran pada supir taksi yang malah melamun dan melihat majikannya.

__ADS_1


Merutuki kebodohannya, kini Bagus menggaruk tengkuknya dan melihat ke arah spion mobil.


"Maaf. Aku tadi malah asyik memandang majikanmu yang baru saja menjawab telpon. Aku sempat terkejut dengan nama kekasih majikanmu sama dengan nama istriku."


Bagus kini menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju ke arah pasar yang cukup jauh dari area perumahan mewah itu.


Bahkan saat ia melewati pria yang diketahuinya masih sangat muda tersebut, melihat binar kebahagiaan terlihat jelas.


Di saat bersamaan, ia mendengar suara tawa dari wanita yang duduk di belakang, seolah ingin mengejeknya.


"Kamu tidak berpikir istrimu adalah kekasih majikanku, kan? Atau istrimu memang sangat cantik dan berselingkuh dengan tuan mudaku?" Minah menatap menelisik sosok pria di balik kemudi tersebut.


Ingin sekali Bagus mengatakan dengan lantang bahwa ia memang memiliki istri yang sangat cantik, tetapi tidak mungkin mengungkapkan pada wanita tersebut karena menurutnya hanya membuang-buang waktu.


Ia tahu bahwa yang berbicara di telepon dengan pria muda itu bukan Putri—istrinya.


"Tentu saja tidak. Hanya saja, aku semakin heran karena nama Putri semakin banyak. Lagipula, tidak mungkin seorang tuan muda dari keluarga konglomerat menyukai istri orang dan berasal dari keluarga miskin."


Membuang kebosanan dan mendapatkan topik menarik, membuat wanita berbadan gemuk tersebut ingin mencari tahu tentang istri sang supir yang namanya sama dengan kekasih majikannya.


'Jadi, Tuan Arya sudah memiliki kekasih? Namun, kenapa tidak pernah diajak ke rumah dan diperkenalkan pada orang tuanya?'


Saat ia baru selesai berbicara sendiri di dalam hati, kembali mendengar suara sang supir yang beberapa saat lalu membuka dasbor dan menunjukkan bingkai foto keluarga kecilnya yang memang selalu dibawanya saat bekerja.


Bingkai foto berukuran kecil itu selalu ada di dalam tas karena menganggap bahwa itu adalah harta paling berharga miliknya dan selalu menjadi semangatnya dalam mencari nafkah.


"Ini foto keluargaku. Mungkin kamu bisa menilai sendiri. Apakah istriku cantik atau tidak."


Wanita yang duduk di kursi belakang tersebut langsung mengambil bingkai foto yang diarahkan padanya dan menatap satu persatu keluarga sang supir.

__ADS_1


"Ternyata kamu sudah mempunyai dua anak. Ini ... ternyata istrimu memang cantik. Mungkin jika berasal dari keluarga konglomerat seperti majikanku, akan terlihat semakin cantik dan akan ada banyak pria yang menggodanya."


Sementara itu, Bagus kini hanya terkekeh menanggapi candaan yang dianggapnya memang akan terjadi. Bahkan ia berpikir jika Putri adalah anak orang kaya, tidak akan pernah meliriknya sama sekali.


"Sepertinya itu benar. Namun, aku senang karena dia bukan orang kaya. Terkadang orang-orang kaya banyak yang sombong dan lupa diri."


Kalimat yang menurutnya separuh benar dan separuh salah tersebut, ingin membuat Minah meluruskan hal itu. "Jangan menyamakan orang kaya satu dengan yang lainnya karena setiap orang itu beda."


"Tidak semua orang kaya sombong karena ada banyak orang kaya yang baik dan suka berbagi rezeki dengan orang-orang miskin. Begitu juga dengan istrimu, jika dia baik, maka mau bagaimana pun akan tetap baik."


"Namun, terkadang manusia itu tidak selamanya selalu berjalan lurus untuk kebaikan. Namun, sesekali mereka ingin mencoba jalan terjal dan berliku seperti menganggap itu adalah sebuah tantangan dan mengatasnamakan khilaf dari kesalahan yang dibuat."


"Semoga rumah tangga kalian akan langgeng selamanya dan bisa menghadapi cobaan."


Tentu saja doa tulus dari penumpangnya membuat Bagus tidak berhenti mengucapkan terima kasih karena saat ini ia sangat membutuhkan doa dari orang-orang baik untuk rumah tangganya.


Apalagi saat melihat sikap Putri yang berubah kasar seolah tidak menghargainya sebagai seorang suami, membuatnya merasa seperti seorang pria yang tidak mempunyai harga diri.


"Terima kasih atas doanya. Semoga istriku akan selamanya menjadi bidadari di keluargaku karena aku sangat mencintai istri dan dua anak kami."


Minah sudah mengembalikan bingkai foto berukuran kecil tersebut pada samping kursi pria yang masih mengemudi dan fokus pada jalanan ibu kota yang sudah padat.


Begitu juga dengan Bagus yang saat ini mulai fokus untuk melihat ke arah jalanan ibu kota yang mulai macet.


Meskipun di dalam hati masih memikirkan sang istri yang sikapnya berubah semenjak tidak pulang sehari dan membuat pertengkaran hebat di antara mereka.


To be continued...


To be continued...

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2