Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
195. Tatapan penuh kecurigaan


__ADS_3

"Jika kamu masih ingin bekerja dengan aman di sini, lebih baik segera pulang. Jangan sampai gosip murahan menyebar di kantor dan nantinya akan berdampak buruk pada diri sendiri. Bukankah lebih baik untuk diam saja dan fokus bekerja? Lalu gajian."


"Itu adalah hal paling utama untuk bisa awet bekerja di sini," ujar Rani yang seketika melepaskan tangan untuk mengusir pria di hadapan karena menyulut kekesalan.


Hingga tanpa berpikir panjang untuk mencari jawaban dari kalimat Adi, kini tiga wanita itu sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan rekan mereka dan beralih menatap pada sang tersangka.


"Jadi, ia kekasihmu? Kalau bisa, aku juga mau dan tidak keberatan untuk dijadikan yang ke-dua," sahut Fara dengan terkekeh karena ingin pertama kali berkomentar.


Sementara yang lainnya kini langsung mengarahkan jari telunjuk pada bibir sebagai kunci agar mengunci rapat-rapat mulut mereka.


"Jika kalian pun berpikir seperti itu, berarti sama sama tidak waras karena berpikir bahwa wanita rendahan sepertiku akan berhubungan dengan seorang pria hebat. Bahkan setelah aku mengetahui siapa sebenarnya ia, langsung menjauh dan tidak ingin bekerja bersamanya."


Sementara Adi kini hanya terkekeh geli mendengar perkataan dari Rani yang seolah tidak percaya diri seperti biasa.


"Aku tadi hanya merasa aneh melihat sikap pria itu. Ini adalah pertama kali ia membelikan obat pada seorang karyawan rendahan sepertiku."


"Sudahlah! Tidak perlu dibahas karena ini sama sekali tidak penting bagiku. Lebih baik kamu bantu aku untuk pulang!" Rani tadinya merasa bingung harus bagaimana saat pulang.


Hingga begitu pria di hadapan muncul, langsung berpikir jika Adi bisa mengantarnya pulang.


Tidak mungkin ia menyuruh teman temannya untuk menemani pulang. Padahal rumah mereka tidak ada yang se-arah dan harus putar balik jika mengantarkan pulang.


Kemudian menatap ke arah pria kepercayaannya yang tak lain adalah Adi. "Jaga bicaramu karena dinding pun mempunyai telinga. Mungkin juga ada banyak mata-mata di suatu tempat, termasuk di sini."


"Iya, maaf. Aku sebenarnya tadi hanya bercanda saat menyerahkan kantong plastik itu. Maaf. Sekarang kuantar pulang kamu sebelum terlalu larut malam."


Menatap ke arah para wanita yang ada di sana. "Jika ada yang menyebarkan hal ini, aku akan membuat perhitungan pada kalian."


Setelah selesai mengungkapkan ancaman, kini Adi memilih untuk segera membantu Rani berdiri dan berjalan menuju ke lobi perusahaan.


Kemudian memesan ojek online, agar bisa cepat pulang dan lebih murah ongkos pastinya.

__ADS_1


Rani berbicara pada Adi agar tidak menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.


"Jangan pernah tanya karena diam itu emas dan bisa menyelamatkan diri sendiri," ucap Adi yang masih teringat akan perkataan Rani ketika mengancamnya.


Ia juga mengerti bahwa Rani kini mulai beraksi untuk mengomel dan hanya bisa diam tanpa membantah.


"Kira-kira, apa yang saat ini tengah dilakukan oleh anak bos?"


Sementara itu, Rani hanya diam dan mengendikkan bahu. Ia tidak mungkin mengetahui pria hebat dan tampan itu sedang apa.


Hingga beberapa saat kemudian, ojek online tiba dan Rani langsung naik dengan ke atas motor.


Hingga motor yang membawa Rani pun semakin menjauh dan lama-kelamaan menghilang dari gedung menjulang tinggi itu.


***


Beberapa saat lalu, Arya pulang sore hari karena tidak ada libur lagi. Sebenarnya ia selalu memikirkan tentang keadaan Rani. Namun, tidak mungkin mengatakan pada sang istri karena hanya akan mendapatkan kesalahpahaman dari wanita yang dianggap selalu mengkhawatirkan ia berselingkuh.


Sambutan yang biasa didapatkan Arya membuat pria itu sangat senang saat sampai di rumah dan seolah rasa lelah dan letih seketika hilang hanya dengan melihat istri tersenyum.


“Hari ini aku memasak sesuatu yang spesial untukmu. Ayo kita makan bersama!” ajak Putri sembari meraih tas milik Arya dan mengajak suaminya ke ruang makan.


“Sebaiknya aku membersihkan diri dulu. Tidak nyaman rasanya dengan tubuh lengket seperti ini menikmati hidangan spesial yang dimasak oleh istriku.” Arya kini berakting seperti tengah menghirup bau dari tubuhnya.


Sementara Putri hanya mengangguk perlahan tanda memberi izin. “Baiklah, kamu bisa mandi dulu. Aku akan menunggumu di sini.”


Tanpa membuang waktu, kini Arya berjalan ke kamar, lalu meletakkan pakaian kotornya di keranjang cucian dan langsung melakukan ritual membersihkan diri.


Putri yang tadi hampir lupa untuk menyampaikan sesuatu, kini bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Melihat pakaian kantor sang suami, tidak masuk ke dalam keranjang kotor, ia tidak sengaja mencium aroma parfum lain di pakaian Arya. Ia pun merasa jika itu bukanlah aroma parfum yang biasa digunakan suaminya.

__ADS_1


“Aroma ini terasa asing di hidungku. Apa parfum suamiku habis dan ia membeli lagi?' gumam Putri yang kini terdiam sejenak di sana dan memilih untuk menunggu kegiatan sang suami selesai.


Putri yang tengah duduk di atas ranjang, kini hanya bisa menunggu hingga sang pemilik pakaian selesai dengan kegiatan di dalam sana. Namun, karena merasa Arya sangat lama, ia memilih untuk kembali ke ruang makan.


Tepat lima belas menit kemudian. Arya sudah terlihat jauh lebih segar dan siap untuk menikmati makan malam bersama istrinya.


Saat langkah sampai di ruang makan, ia melihat Putri sudah tersenyum menyambutnya.


“Aroma makanan yang kamu buat selalu menggugah rasa lapar.” Arya terlihat mendaratkan tubuh di atas kursi sebelah sang istri dan melihat meja makan.


“Aku yakin, kamu pasti menyukai ini.


Makanlah.” Putri berbicara sambil tangan sibuk karena mengambil makanan untuk Arya dan meletakkan di atas meja. "Makan dulu, Sayang. Meskipun cuma seadanya, aku harap kamu suka."


"Tentu saja aku akan menyukainya," sahut Arya yang kini sudah menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya dan mendapatkan senyuman manis dari bibir Putri.


Akhirnya, mereka makan bersama dengan tenang. Sampai di pertengahan kegiatan itu, Putri mulai membuka suara mengenai aroma parfum yang berbeda di pakaian Arya


“Sayang, apa kamu mengganti parfummu? Sepertinya aromanya berbeda.”


“Tidak. Aroma apa yang kamu maksud?” Arya memicingkan mata ketika mendapatkan pertanyaan aneh.


“Pakaianmu tercium aroma lain, bukan parfum yang selama ini aku hafal. Apa kamu berselingkuh?" tanya Putri dengan tatapan menyelidik pada sang suami.


Hal yang selama ini sangat mengganggu pikirannya hanyalah takut jika Arya berselingkuh di belakangnya dan kutukan dari Bagus benar-benar terjadi.


Bahwa ia tidak akan pernah hidup bahagia setelah mengkhianati sang suami dengan berselingkuh hingga hamil.


'Arya sangat mencintaiku, kan? Ia tidak akan pernah berselingkuh dengan wanita lain, kan? Aku selalu merasa takut jika Arya berselingkuh dariku,' gumam Putri yang kini mengarahkan tatapan penuh kecurigaan pada Arya.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2