Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
93. Pertanyaan dari dua ipar


__ADS_3

Bagus berpikir bahwa saat pikirannya tidak bisa berkonsentrasi untuk mengemudi akan berakibat buruk dan tidak ingin sampai terjadi malapetaka seperti kecelakaan, sehingga lebih memilih untuk menenangkan diri di rest area.


Saat Bagus merasa sangat bingung tentang apa yang harus dilakukan, memilih untuk mengingat masa-masa ia dulu pertama kali mengenal Putri saat ia masih menjadi tukang ojek.


Ia yang sering mangkal di tempat ojek yang berada di depan sekolah Putri, pertama kali mengenal saat wanita itu masih memakai seragam berwarna putih dan abu-abu.


Putri yang saat itu sudah hampir lulus sekolah, pulang dengan naik ojek yang ia tawarkan.


Bahkan ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Putri yang merupakan gadis cantik dan polos karena terlihat malu-malu saat digodanya.


Namun, sekarang semua kenangan manis dan indah seolah hanya tinggal kenangan karena Putri telah berubah dari gadis polos yang manis, kini menjadi liar karena menjalin hubungan terlarang dengan pria lain saat masih berstatus sebagai istrinya.


"Di mana wajah polos istriku? Ke mana perginya sikap patuh dan hormatnya padaku? Kenapa semuanya itu hilang dan seperti lenyap tak tersisa begitu Putri bertemu dengan pria itu."


Bagus memang belum pernah bertemu dengan pria selingkuhan sang istri, hanya saja ia mengetahui fotonya dari kakak tiri Putri yang ditunjukkan ketika dulu ia berniat untuk meminta pendapat mengenai nasib pernikahannya.


"Pria itu memang terlihat sangat sempurna, sehingga membuat Putri tergila-gila dan melupakan semuanya hingga salah jalan seperti ini. Aku bahkan tidak ada seujung jari pun dengan pria itu."


"Dia memang muda, tampan, tubuh proporsional dan berasal dari keluarga konglomerat."


Baru saja Bagus menutup mulut setelah mengucapkan kalimat konglomerat, tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian saat ia menjemput pelanggan.


Ia mengingat bahwa pria yang dulu disapanya menyebut nama Putri ketika menerima telpon.


"Pria itu? Benar ... pria yang dulu berbicara di telpon dengan menyebut nama Putri yang aku pikir mungkin itu adalah istriku hingga ditertawakan oleh pelayan itu. Ya, sekarang aku baru ingat bahwa itu adalah pria yang sama dengan di foto."

__ADS_1


"Astaga! Bahkan rumah pria itu saja sudah seperti istana. Tidak mungkin Putri diterima menjadi menantu dari keluarga kaya raya seperti itu. Mereka pasti akan mempertimbangkan berbagai banyak hal untuk mencari seorang menantu."


Bagus yang kini malah semakin merasa khawatir pada nasib Putri karena yang saat ini dipikirkannya adalah suatu saat istrinya akan diusir dari rumah dan tidak mempunyai tempat tinggal.


Hal itulah yang biasanya terjadi dari orang-orang kaya yang lebih mengutamakan harta dari apapun. Menilai apapun dengan harta tanpa mempedulikan hal lainnya.


"Putri, bagaimana nasibmu nanti jika orang-orang kaya itu menghina dan menjadikanmu alas kaki? Tidak mungkin orang tua Arya menerimamu dengan senang hati karena kamu hanyalah seorang wanita bersuami yang berselingkuh hingga hamil. Bagaimana jika mereka mempunyai rencana jahat padamu?"


Berbagai macam kekhawatiran yang saat ini tengah dirasakan oleh Bagus ketika mengingat bahwa pria yang merupakan ayah dari janin yang dikandung Putri merupakan keturunan konglomerat.


"Aku tidak bisa membiarkan Putri hidup menderita. Ia tidak akan pernah hidup bahagia bersama dengan pria itu karena banyak perbedaan di antara mereka yang tidak bisa disatukan."


Baru saja ia menutup mulut, mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan saat membaca pesan yang tak lain adalah dari kakak tiri Putri yang merupakan sang pengacara, hanya membuatnya kembali merasakan sesak di dada.


Tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut, Bagus memilih memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya. Mengingat bahwa beberapa saat setelah menerima surat gugatan cerai Putri, ia memaksa Amira Tan untuk membantunya agar tidak akan pernah bercerai.


Dulu ia berpikir bahwa Amira hanya sedang kesal padanya dan sama sekali tidak pernah berpikir bahwa istrinya tersebut diam-diam menjalin hubungan terlarang dengan pria lain hingga hamil.


Namun, setelah mengetahui bahwa Putri hamil dari pria yang merupakan keturunan konglomerat, membuatnya pun tetap berpikir untuk tidak meninggalkan wanita yang masih sangat dicintainya tersebut.


"Bahkan saat Putri sudah mengkhianatiku, aku tetap bisa menerimanya. Bahkan aku akan menerima bayi yang dikandungnya seperti anakku sendiri."


Merasa bahwa ia tidak punya harga diri lagi di depan wanita, Bagus Setiawan kembali mengacak frustasi rambutnya. Tanpa memperdulikan beberapa orang-orang yang melintas sekilas melihatnya dengan tatapan aneh.


Belum sempat menormalkan perasaannya yang tidak karuan, kini dering ponselnya berbunyi dan ia mengetahui siapa yang menghubungi.

__ADS_1


Kemudian langsung mengangkat panggilan tanpa melihat nama yang ada di layar ponselnya.


"Jangan menggangguku karena hari ini aku ingin menenangkan diri. Nanti aku akan menghubungimu setelah tenang."


Saat Bagus berniat untuk menutup panggilan, ia mengerjapkan kedua mata begitu mendengar suara seorang wanita yang sangat dihafalnya.


"Sebenarnya kamu sedang berpikir aku siapa, Bagus?" tanya Aini dari seberang telpon.


Belum sempat ia membuka mulut untuk berkomentar, sosok wanita yang dipikirnya menelponnya—Amira Tan malah berjalan ke arahnya dan melambaikan tangan sambil tersenyum hingga membuatnya memijat pelipis.


'Astaga! Aku pikir tadi Amira Tan yang menelpon, tapi ternyata Aini_ kakak Putri di kampung. Situasi macam apa ini? Aku bertemu dengan dua kakak tiri istriku. Apa yang mereka inginkan dariku?' gumam Bagus yang kini melihat Amira Tan tersenyum dan duduk di sebelahnya sambil menunggu ia menjawab telpon.


Karena wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut sama sekali tidak membuka suara setelah duduk di sebelahnya, sehingga Bagus kini memilih untuk menanggapi pertanyaan dari seberang telpon.


"Maaf, tadi aku salah orang. Ada apa, Kak? Tumben sekali menelpon. Apa ada masalah dengan putriku?"


Bagus yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara teriakan dari seberang telpon dan berhasil membuat gendang telinganya sakit, sehingga ia refleks menjauhkan ponsel itu dari telinga.


"Bagus!! Kenapa kamu tidak memberitahuku? Bahwa Putri saat ini telah berselingkuh hingga membuatnya hamil? Apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya? Kenapa menanggung masalah sebesar ini sendiri? Sekarang katakan padaku apa rencanamu! Aku akan selalu mendukungmu dibandingkan rencana Putri yang sudah gila!"


Sebenarnya saat ini Bagus merasa sangat terharu atas semua kebaikan, serta kepercayaan dari saudara perempuan Putri. Namun, ia tidak bisa menjelaskan semua hal yang menimpa rumah tangganya karena tujuannya tadi ke rest area adalah menenangkan diri.


Namun, rencananya seketika gagal ketika mendapat telpon dari Aini yang malah membuatnya semakin merasa bersalah karena lebih mendukungnya dari pada Putri. Padahal mereka memiliki hubungan darah yang tidak bisa dipungkiri mengalir dari tubuh mereka berdua.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2