
Satu bulan sudah Calista bekerja bersama dengan Arya. Ia masih berakting seperti seorang rekan kerja yang baik karena masih berusaha untuk membuat pria itu nyaman dekat dengannya.
Meskipun ia sempat kesal dan marah karena tidak berhasil meninggalkan kesan saat perjalanan bisnis dulu di luar kota selama tiga hari.
Malah hari terakhir, Arya sakit dan tanpa sadar menyebut istri dan membuatnya bertanya.
Namun, Arya tetap berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya dengan mengatakan bahwa pada saat sakit, teringin memiliki seorang istri yang bisa merawat dengan baik.
Akhirnya Calista berpura-pura bodoh dan tidak lagi ingin membuat Arya merasa bahwa ia curiga. Mengikuti permainan Arya demi bisa membuat pria itu nyaman dan ia tetap bisa menjalin hubungan baik adalah tujuan utama Calista demi bisa mencuri hati pria incarannya.
Usahanya pun berhasil karena ia kini semakin bertambah dekat dengan Arya. Meskipun tidak mengetahui bagaimana perasaan pria itu padanya, tapi ingin hubungan mereka seperti air yang mengalir.
Beberapa hari bekerja bersama, Calista juga lebih sering pulang malam karena selalu lembur. Itu semua salah satu rencana yang sudah dibuat Calista sekaligus orang tua pria itu.
Pagi ini, Calista yang belum melihat keberadaan Arya sedikit cemas. ia pun mengirim pesan pada pria itu dan tetap menunggu di kursi kerja.
Sampai akhirnya, sosok yang ia tunggu muncul di pintu masuk. Wajah pria itu tampak lesu dan terlihat sekali rasa lelah yang tengah dirasakannya.
Calista memanfaatkan keadaan itu dengan memberikan perhatian.
“Kenapa hari ini kamu sama sekali tidak bersemangat?” tanya Calista dengan tersenyum dan menarik kursi. Berharap pria dengan paras rupawan tersebut segera duduk.
“Terima kasih. Entahlah, hari ini aku merasa sangat lelah. Tubuhku terasa sakit semua dan aku lupa belum memakan sesuatu pagi ini.” Arya tadi buru-buru berangkat dan tidak sarapan karena sang istri bangun terlambat.
Itu pun karena salahnya sendiri saat semalam sibuk membuat sang istri tidak tidur semalaman. Ya, semenjak Putri hamil tua, ia malah semakin bergairah dan tidak pernah bisa menahan diri.
“Aku sudah menduganya. Pantas saja sekarang terlihat seperti singa kelaparan. Ini, aku bawa makanan lebih, kita makan sama-sama, kebetulan aku juga belum sarapan," ujar Calista yang kini merasa sangat senang karena mendapatkan sebuah kesempatan.
“Kamu berbakat menjadi cenayang rupanya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku belum makan hari ini?”
“Ya, aku memang berbakat dalam hal itu. Apa kamu mau tahu sesuatu di masa depan? Aku bisa membantu."
Arya hanya menggelengkan kepala tanda tidak setuju karena jika membicarakan masa depan, ia takut jika ada yang mengungkit tentang Putri. Tidak, ia tidak ingin hal itu membuat sang istri terkena masalah.
"Sekarang kita bekerja atau mau makan dulu?”
__ADS_1
“Makan saja, aku tidak tega ada yang terlihat lemah.”
“Aku bahkan bisa bekerja seharian tanpa makan. Hanya saja, saat semua selesai harus ada yang menemaniku makan malam dan mentraktir tentunya.”
“Wah, apa ini? Apa kamu mau memerasku?”
Percakapan akrab itu membuat iri beberapa staf yang ada di sekitar mereka. Memiliki kemampuan yang baik dalam bekerja, membuat keduanya tidak pernah mendapatkan teguran meski sedang mengobrol dan membuat suasana bising di sana.
Selesai dengan kegiatan makan mereka, kini keduanya mulai serius pada pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Beberapa laporan yang sudah masuk harus segera di selesaikan pada hari ini. Semua sudah Calista rencanakan.
Bahkan, Ari Mahesa sudah menyuruh bagian kepala pemasaran untuk memberikan banyak berkas pada keduanya.
“Laporan ini bukannya milik tim yang ada di ujung? Kenapa kita yang mengerjakan? Ada yang tidak benar di sini,” gumam Arya yang berniat untuk mengajukan protes.
Akan tetapi, Calista dengan cepat mencegahnya.
“Sudahlah, kita kerjakan saja. Jangan lupa untuk menambahkan namamu di sana, agar pekerjaan ini upahnya tidak salah tempat.”
“Baiklah, tapi beberapa hari ini aku merasa ada yang sengaja mengerjai kita. Kenapa pekerjaan orang lain ada di meja kita?”
“Oh, jadi kamu yang mau tambahan bonus? Ya sudah, nanti yang punyaku juga buat kamu saja.”
“Eh, jangan! Itu pekerjaanmu, kenapa jadi milikku? Tidak, tidak!”
"Aku hanya bercanda," ujar Arya yang kini hanya terkekeh geli.
Satu persatu laporan selesai, tetapi masih ada setumpuk berkas lagi di meja Calista.
Arya berdiri, lalu meraih tumpukan berkas itu dan memindahkan ke meja kerjanya.
“Hei, kenapa kamu ambil bagianku?” tanya Calista dengan wajah terkejut.
“Sudah, kerjakan saja yang ada di hadapanmu. Jika masih sanggup, kamu bisa ambil satu di sini.”
“Aku merasa tidak enak. Kembalikan bagianku!”
__ADS_1
“Tidak masalah dan jangan membantahku!”
Calista tidak berkutik dibuatnya. Menurut, hanya itu kata yang bisa ia lakukan saat ini.
Sampai akhirnya jam istrirahat tiba. Arya masih fokus pada komputer di depannya, lalu Calista pun bertanya mengenai makan siang.
“Sudah waktunya makan siang. Apa kamu tidak lapar? Kita istirahat dulu. Aku tidak ingin kamu lelah dan sakit hanya karena mengambil bagianku.”
“Ya, baiklah. Kita makan siang.”
Keduanya bersiap-siap dengan merapikan meja kerja mereka.
Akhirnya Calista mengajak Arya untuk duduk di kantin dan memesan makanan di sana.
“Arya, sepertinya hari ini kita lembur lagi. Apa tidak masalah?”
“Ya, tentu saja."
“Sebenarnya, aku hanya tidak suka pulang terlalu awal. Aku tidak suka kesendirian di tempatku saat ini,” ujar Calista membuka percakapan mereka untuk lebih dalam lagi.
Tentu pembuka percakapan itu menarik Arya untuk balik bertanya, seperti tertarik untuk masuk dan mengenal Calista lebih dalam.
“Apa kamu tinggal sendirian?”
Calista mengangguk, lalu mulai menceritakan apa yang dilakukan selama berada di tempat tinggalnya.
“Aku tinggal di sebuah apartemen, seorang diri. Bahkan aku tidak memiliki teman selama ini. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada yang menemaniku. Lalu, diterima bekerja di perusahaan ini pun, aku berharap memiliki seorang teman dan ternyata aku menjadi timmu."
"Awalnya aku sangat canggung, tapi sekarang, merasa kamu itu berbeda. Aku sangat suka lembur, agar waktuku di apartemen berkurang.”
“Aku mengerti, terkadang kita memang membutuhkan seorang teman yang bisa membuat nyaman dan mengerti tentang kondisi. Hanya saja, manusia terlalu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Jarang bisa menemukan sosok yang bisa tahu tentang diri kita, benar bukan?”
“Ya, kamu benar, Arya. Senang mengobrol denganmu. Aku sedikit merasa lega.” Calista benar-benar berakting seperti seorang introvert yang tidak punya teman dan suka menyendiri.
“Kapan saja. Kamu bisa hubungi aku jika membutuhkan teman. Aku akan selalu siap untuk mendengarkan," ucap Arya dengan mengulas senyuman.
__ADS_1
To be continued...