Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
235. Pertanyaan Putri


__ADS_3

Arya kembali ke rumah sakit setelah selesai makan siang bersama sang ayah, sedangkan Calista pamit untuk menjemput ibunya. Calista mengatakan akan datang bersama orang tuanya sore nanti.


Sementara itu, Arya tidak peduli jika Calista akan kembali lagi ke rumah sakit. Setidaknya, Arya tahu jika wanita itu kembali lagi sore nanti, ia sudah tidak ada rumah sakit.


Arya masih kesal dengan sikap sang ayah yang seolah sengaja menjodoh-jodohkan ia dan Calista. Meskipun Arya tahu jika orang tuanya tidak merestui pernikahannya dengan Putri, bukan berarti akan menikah dengan wanita yang pria itu sukai.


Arya sengaja berada di sana sampai menjelang sore. Barulah pukul tiga ia kembali pamit pada sang ayah untuk pulang.


"Kamu tidak menunggu sampai Calista datang?" tanya Ari pada putranya yang terlihat buru-buru.


"Aku rasa tidak perlu, Pa. Anak dan istriku sudah menunggu di rumah. Jam jenguk mama juga masih dibatasi," ujar Arya yang mencoba untuk menghindar.


Ia enggan bertemu dengan Calista yang akan membuatnya semakin lama berada di sana.


Ari Mahesa mendengkus malas mendengar jawaban Arya. "Memangnya istri dan anakmu akan pergi kalau kamu tidak cepat pulang?"


"Pa, Putri baru saja pulang dari klinik setelah melahirkan putra kami dan dia hanya sendiri di rumah. Kalau aku tidak bisa membayar asisten rumah tangga untuk membantu di rumah, setidaknya harus menjadi suami yang siaga untuknya," sanggah Arya.


"Sama seperti Papa yang sangat mencintai mama, perasaan aku pada Putri juga sama."


"Mama kamu jelas tidak sama dengan wanita itu," tukas Ari Mahesa dengan geram, tidak terima jika putranya membandingkan kedua wanita yang jelas sangat berbeda di matanya.


"Jangan samakan mama kamu dengan wanita murahan itu! Mamamu pantas dicintai karena adalah seorang istri yang setia, bukan tukang selingkuh."


"Aku tidak sedang membandingkan mereka, Pa. Aku sedang membicarakan sebuah perasaan. Kita sama-sama mencintai pasangan. Aku rasa, semua wanita berhak untuk mendapatkan cinta dari pasangannya. Itu adalah kisah masa lalu Putri yang jatuh cinta padaku."


Arya mencoba meluruskan pikiran sang ayah yang salah mengerti dengan ucapannya. "Aku pamit dulu, Pa."


"Baiklah. Lakukan sesuka hatimu sebelum kamu menyesali semuanya!" ucap Ari Mahesa cukup tegas.


Arya hanya bisa menghela napas pasrah. Tidak ada gunanya terus berdebat dengan sang ayah. Setelah berpamitan pada Ari sang ayah, ia pun meninggalkan rumah sakit.


"Katakan pada pihak laboratorium yang menangani tes DNA Arya dan putranya agar mengeluarkan surat pernyataan hasil tes tersebut lima hari lagi. Aku tidak butuh hasil yang asli. Aku hanya butuh hasil yang aku dan istriku inginkan. Kamu mengerti, bukan?" tegas Ari Mahesa pada sang asisten.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Anda akan mendapatkan hasil yang diinginkan secepatnya." Putra mengangguk hormat.


"Gunakan uang untuk membungkam mulut mereka. Berikan nominal yang besar dan pastikan akan membungkam mulut mereka. Arya pasti tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari tahu kebenaran hasil tes DNA tersebut. Aku ingin kamu melakukan semuanya dengan bersih tanpa jejak yang akan menimbulkan kecurigaan Arya. Sekali lagi Ari memberikan perintah.


"Baik, Tuan."


"Aku sudah sangat muak dengan wanita itu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menghancurkannya. Entah apa yang akan dia rencanakan jika kita tidak bertindak cepat."


Ari Mahesa sangat menggebu-gebu. Darah pria itu seolah memanas setiap kali mengingat wanita yang membuat putranya melawan. "Aku akan pastikan dia lebih menderita dari apa yang dirasakan oleh istriku."


Ari Mahesa menatap istrinya dari luar ruangan. Ia tidak tega melihat beberapa alat yang menempel di tubuh sang istri. Kebencian pada istri putranya semakin bertambah besar saja.


Sementara itu di sisi lain, setelah satu jam berlalu, kini Arya tiba di rumah kontrakannya pukul empat sore karena jarak rumah sakit memang cukup jauh dari tempat tinggalnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Putri menyambut kedatangan suaminya.


Putri baru saja selesai memandikan Xander dan sedang memberikan ASI untuk bayinya.


"Iya, Sayang. Aku mandi dulu, ya." Arya mengambil pakaian ganti di lemari dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, Arya langsung masuk ke kamar, tetapi Putri sudah tidak ada di kamar mereka. Hanya ada Xander yang sedang tertidur pulas dalam box bayi.


"Sayang ...." Putri tersentak saat tiba-tiba saja Arya melingkarkan tangan kekar itu di perutnya.


Arya mendaratkan kecupan lembut di ceruk leher istrinya.


"Kamu lagi masak apa?" tanya Arya tanpa melepaskan pelukannya.


"Masak sup ayam, Sayang. Kebetulan masih ada persediaan bahan masakan di kulkas. Kita makan seadanya saja dulu, ya. Besok kalau sempat, aku akan belanja sayuran dan bahan lainnya ke tukang sayur."


Putri memasukan wortel dan kentang yang sudah ia potong ke dalam kuah kaldu yang sudah mendidih.


"Biar aku saja nanti yang membeli stok bahan masakan, sekalian beli buah dan camilan untuk kamu. Kamu kan sedang memberikan ASI untuk putra kita. Jadi, aku harus memastikan kamu mendapat makanan yang sehat dan bergizi," imbuh Arya dengan menatap masakan Putri.

__ADS_1


Kemudian membantu Putri menyiapkan masakan untuk mereka makan malam. Pria itu benar-benar memanfaatkan waktu yang ada bersama istri dan anaknya.


Putri juga tidak lupa menanyakan keadaan mertuanya pada Arya dan terus memberikan semangat pada suaminya agar tidak pernah putus asa untuk terus berdoa untuk kesembuhan sang ibu


Sebenci apapun Putri pada mertuanya, ia tidak akan mempengaruhi suaminya untuk membenci wanita yang telah melahirkan pria itu setelah mendapatkan kecelakaan.


Ia justru ingin wanita itu bisa menerimanya dengan tulus dan menghentikan pertikaian diantara mereka. Setidaknya, hanya berharap Rani cukup merestui pernikahan ia dan Arya tanpa mengusik kehidupan rumah tangga mereka.


"Sayang, aku harap kamu tidak akan terpengaruh dengan berita apapun di luaran sana yang akan merusak kehidupan rumah tanggal kita. Aku sudah sangat bahagia memiliki kalian dalam hidupku," imbuh Arya sambil menatap sang istri.


Pria itu tengah membaringkan kepalanya di atas pangkuan istri tercinta.


"Iya, Sayang," jawab Putri. "Lalu, apa kamu akan percaya jika ada seseorang yang menyebarkan berita buruk tentang aku?" tanya Putri. Ia mengusap lembut kepala Arya dan memainkan rambut hitam pria tersebut.


"Tentu saja tidak, Sayang. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melindungi kamu dan putra kita. Kalian adalah harta yang paling berharga untukku di dunia ini." Arya memberikan jawaban dengan begitu yakin. Ia menatap lembut manik indah milik istrinya.


"Jika ada wanita yang jauh lebih cantik, cerdas dan kaya yang mencoba menarik perhatianmu, apakah kamu tetap tidak akan berpaling?"


"Tentu saja tidak!" tegas Arya. "Ruang di hatiku sudah penuh terisi oleh kamu, Sayang. Lalu dibagian mana aku harus menaruh wanita lain itu?"


Putri terkekeh mendengar jawaban suaminya. Mungkin itu terdengar seperti sebuah rayuan, tetapi entah kenapa, jika Arya yang mengatakan, ia akan percaya.


Di luar langit sedang berhiaskan kerlip bintang yang memberikan keindahan bagi siapa saja yang memandang.


Akan tetapi, di dalam rumah kontrakan sederhana itu juga, sepasang suami istri tengah menciptakan keindahan dan kebahagiaan dalam versi mereka.


Putri berharap kebahagiaan keluarga kecilnya tidak akan pernah berakhir. Ia ingin egois, meminta pada Tuhan agar keluarga kecilnya selalu dilimpahkan kebahagiaan yang akan terus mengalir.


Sejatinya, bahagia dan sedih itu adalah satu paket yang tidak bisa untuk dipisahkan. Sedih dan bahagia, mereka selalu berdampingan.


Putri terlalu sibuk meminta agar Tuhan mempertahankan kebahagiaan dalam keluarga kecilnya. Wanita itu lupa meminta pada Tuhan agar kelak ia diberikan kekuatan untuk terus berdiri dan melangkah saat sebuah ujian kehidupan menghampiri.


Putri lupa jika kehidupan di dunia ini tidak akan berjalan mulus tanpa hambatan. Ada banyak proses yang harus dilalui. Bahkan saat kita sudah berada di atas puncak sekali pun, akan ada angin kuat dan badai yang siap menghantam kapan pun.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2