Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
256. Memastikan sesuatu


__ADS_3

Embusan napas kasar terdengar jelas dan menunjukkan bahwa saat ini ada banyak beban pikiran yang tengah mengganggu otaknya. Ia memilih untuk mendinginkan kepala dengan cara mandi air dingin mulai dari ujung kepala hingga kaki.


Berharap setelah membersihkan diri dan merasa segar, tubuhnya akan lebih rileks dan beban pikiran yang dirasakan sedikit berkurang.


Bagus memilih untuk mengunci pintu sebelum pergi mandi. Kemudian langsung menuju ke tempat membersihkan diri setelah mengatakan pada putranya agar diam di depan televisi dan tidak pergi ke mana-mana.


Setelah mendapat jawaban sebuah anggukan dari putranya yang terlihat sangat fokus pada film kartun kesukaan, kini Bagus mulai masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual membersihkan diri.


Setengah jam telah berlalu dan ayah, serta anak tersebut terlihat rapi dan bersiap untuk pergi. Bagus tadi sudah mengganti pakaian putranya dengan yang lebih baik saat akan pergi menemui sang ibu.


Melihat wajah berbinar putranya yang seperti sangat senang karena akan melepas rindu dengan wanita yang melahirkannya, ada rasa bersalah yang menyiksa batinnya.


Ia merasa berdosa karena menjadi penyebab kehancuran rumah tangga dan membuat putranya kehilangan sosok seorang ibu. Jika ia tidak menjadi lemah, mana mungkin istrinya akan memilih untuk mencari kepuasan dari pria lain.


Hal itulah yang selalu menjadi beban di pikirannya ketika merasa bersalah jika memikirkan nasib rumah tangganya yang tidak bisa dipertahankan. Apalagi sebentar lagi ia benar-benar akan bercerai dengan sang istri.


Bahkan tanpa diminta, tadi Amira Tan mengatakan sudah mulai mengurus berkas-berkas untuk bercerai dengan Putri.


'Aku harap kamu bahagia selamanya bersama dengan suami dan anakmu, Putri.'


Setelah bergumam sendiri di dalam hati ketika menyisir rambut putranya agar terlihat lebih rapi, ia merasakan sentuhan lembut dari tangan mungil yang mendarat di pipinya.


"Ayah, ayo kita berangkat menemui ibu sekarang."


Dengan mengulas senyuman palsu karena sejujurnya merasa jika hatinya mungkin akan terasa sakit saat bertemu dengan sang istri yang telah bahagia bersama dengan keluarga barunya.


Bagus saat ini meletakkan sisir di atas meja dan menganggukkan kepala. "Ayo, kita berangkat sekarang, tapi Putra janji jangan nakal, ya?"


Bagus sengaja tidak mengatakan bahwa saat ini Dedi memiliki seorang adik dari ayah lain. Itu akan membuat putranya merasa cemburu dan bisa saja menyakiti bayi yang baru saja dilahirkan oleh sang ibu.


Jadi, ia berharap jika putranya tidak akan berbuat nakal ketika merasa seperti anak yang tidak diinginkan.


Jawaban putranya yang berupa anggukan kepala telah membuat Bagus tersenyum dan kembali mencium gemas malaikat kecil kesayangannya tersebut.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat sekarang!"


Bagus memilih untuk menggendong putranya karena jika membiarkan berjalan sendiri, akan lambat dan semakin larut. Ia tadi sudah memesan ojek online dan tanpa menunggu waktu lama, ada seorang pria naik motor yang baru saja berhenti di depan rumah kontrakan.


Ia kemudian langsung duduk di kursi belakang dan motor tersebut melaju meninggalkan kompleks perumahan tersebut menuju ke tempat tinggal Putri yang letaknya cukup jauh.


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah jam, kini motor yang mengantarkan Bagus dan putranya sudah tiba di depan rumah yang terlihat sangat luas area halaman depan.


Tadi Bagus menyuruh untuk tukang ojek berhenti di depan toko karena ia ingin membeli beberapa snack makanan. Itu untuk putranya serta Putri.


Setelah memberikan uang dan turun dari motor, ia menurunkan putranya agar berjalan sendiri. Ia tidak bisa menggendong karena dua tangannya penuh dengan kantong plastik berisi aneka jajanan.


Bagus saat ini melihat ke arah pintu utama kontrakan yang tertutup rapat. "Apa suaminya belum pulang ke rumah? Rumah ini terlihat sangat sepi seperti tidak berpenghuni saja."


Saat melihat putranya sudah berjalan menuju ke arah pintu utama, ia mengikuti dari belakang dan langsung mengucapkan salam.


Selama beberapa menit berlalu, pintu di hadapannya masih tertutup rapat. Akhirnya Bagus memilih untuk menurunkan dua kantong plastik yang berada di tangan kanan dan kiri. Kemudian ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu.


"Putri!"


Bagus bahkan mendekati jendela dan ia melihat ke area dalam rumah. Terlihat sangat sepi dan sudah bisa ia tebak jika saat ini Arya belum pulang dan pastinya sedang lembur.


Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara kunci yang diputar dan beberapa saat kemudian pintu pun terbuka. Ia kini bisa melihat sosok wanita dengan pakaian ala rumahan yang biasa digunakan ibu melahirkan.


"Putri!" Bagus tidak berkedip menatap wajah wanita yang terlihat sangat berantakan dan rambut seperti tidak disisir.


Bahkan ia melihat mata merah Putri dan senyuman tipis yang seolah dipaksakan oleh wanita itu.


"Apa yang baru kamu lakukan? Kamu baru bangun?"


Saat Putri hendak membuka mulut untuk menjelaskan, ia sedikit terhuyung ke belakang satu langkah ketika putra keduanya menghambur untuk memeluknya.


"Ibuuu! Aku rindu, Ibu."

__ADS_1


Logat yang masih lucu dan menggemaskan dari Putra, tentu saja membuat Putri kini seketika merasa sangat terharu dan ia memilih untuk menyamakan posisi dengan bocah laki-laki tersebut yang juga sangat ia rindukan.


Kemudian Putri memeluknya dengan sangat erat dan mengarahkan tangannya untuk mengusap punggung tangan pria itu.


"Ibu juga rindu."


Putri sebenarnya tadi sudah mengetahui kedatangan Bagus karena memang sengaja menunggu di ruang tamu. Ya, ia tidak pernah menyerah untuk menunggu kedatangan Arya.


Meskipun suaminya tersebut mengatakan diminta tinggal di rumah besar keluarga, tetapi berharap jika Arya setiap hari akan datang berkunjung menemui ia dan putranya.


Namun, sudah tiga hari ini Arya tidak menunjukkan wajah yang sangat ia rindukan itu.


Hingga tadi ia langsung berlari ke arah jendela begitu mendengar ada motor yang berhenti di depan rumah. Berpikir jika itu adalah Arya. Meskipun merasa aneh karena bukan mobil yang berhenti, tetap saja ia cek.


Hingga ketika melihat Bagus dan putranya, seketika membuatnya merasa sangat khawatir jika pria itu melihat keadaannya yang sangat kacau.


Putri memang seharian ini menangis karena sangat merindukan Arya. Jadi, matanya memerah dan ia tidak mungkin bisa menghilangkannya.


Akhirnya Putri masuk ke dalam kamar dan membuat penampilannya berantakan dengan cara mengacak beberapa kali rambut memakai sedikit sprai wajah, agar tidak terlihat sangat kacau.


Usahanya pun berhasil saat Bagus bertanya, apakah ia baru bangun tidur. Putri pun kini menyuruh Bagus dan menggandeng putranya tersebut untuk agar segera masuk ke dalam rumah karena di luar dingin.


Hingga pertanyaan pertama didapatkan ketika ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


"Apakah Arya belum pulang kerja?" tanya Bagus yang saat ini merasa sangat penasaran.


Di saat bersamaan, mereka sama-sama menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara mobil yang berhenti.


"Sepertinya itu Arya." Bagus beranjak berdiri dan berniat untuk memastikan tebakannya. Namun, ia seketika membulatkan mata begitu membuka pintu.


To be continued...


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2