
Keesokan harinya, Putri yang kala itu di kontrakan sendirian karena Bagus pergi bekerja sambil membawa putranya, melihat kedatangan Arya.
Seketika wajahnya berbinar dan merasa sangat senang begitu mendengar ajakan Arya bahwa hari ini sang kekasih pujaan hati akan memperkenalkannya pada orang tua yang akan menjadi mertuanya.
Ia langsung memakai pakaian terbaik dan berdandan secantik mungkin agar calon mertua menyukainya dan merestui hubungannya dengan Arya.
Berharap sebentar lagi bisa menikah dengan pria yang sangat dicintai setelah bercerai dengan Bagus.
Setengah jam kemudian, Putri dan Arya tiba di tempat yang sangat besar, juga luas_ tak lain adalah rumah keluarga besar Ardhana.
Bagai menara kastil yang ada di negeri dongeng, kediaman Arya pun tak jauh berbeda. Mata Putri dimanjakan oleh gerbang besar yang terbuka dan akan menuntunnya kepada masa depan yang sangat ia idamkan.
Seperti wanita lain pada umumnya, siapa yang tidak tergiur oleh pemandangan indah yang memanjakan mata ini? Halaman rumah yang di keliling oleh tanaman hijau juga bunga yang tingginya sekitar tiga meter.
Putri kini benar-benar ternganga dibuatnya. Bagaimana tidak, jalan menuju kediaman Arya_ kekasihnya, bagai jalan dalam labirin yang mungkin akan membuat siapapun orang yang menyelinap, tersesat.
"Rumahmu sangat indah," puji Putri di sela-sela perjalanan mereka.
Arya tersenyum tipis sambil sedikit menoleh. "Ini tidak seberapa, Sayang. Akan kubuat yang lebih besar dan lebih indah dari ini untukmu," balas Arya dengan menggenggam tangan Putri.
Putri kini tertunduk, merasakan pipinya yang mulai memanas, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tak pernah terpikir olehnya jika nasib hidupnya akan seindah ini. Walau dengan perjalanan yang kurang indah, tapi itu tak apa.
Semua itu sebanding dengan hasil yang akan ia dapat, menjadi 'Ratu' yang akan selalu di manjakan lahir juga batin.
Mereka tiba di depan rumah dengan dua air mancur di kiri dan kanannya. Tentu saja itu menambah keindahan kediaman yang bagai istana megah tersebut.
Arya yang keluar duluan dari mobil, ia kemudian berlari kecil menghampiri pintu mobil yang lain dan membukanya. Ia mengulurkan tangannya, lalu diterima oleh Putri yang keluar dari mobil.
Lagi-lagi, matanya melihat ke sekeliling, apa yang ia mimpikan malam tadi hingga bisa melihat semua ini.
Arya menarik lembut tangan Putri dan menggenggamnya erat.
"Ayo," ajak Arya seraya tersenyum lembut ke arah wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Putri mengangguk perlahan, ia dan Arya melangkahkan kakinya di atas lantai yang bersih mengkilap seperti kaca.
Putri berharap dalam hatinya jika ibu dari kekasihnya akan sama pasrah seperti kasus-kasus hubungan terlarang lainnya. Seorang ibu yang pasrah demi kebahagiaan putranya.
Arya melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu utama yang kemudian ia buka dan terlihat sudah ada seorang wanita dengan cangkir teh di sana yang tak lain adalah ibu dari Arya.
"Ma," ucap Arya sambil memeluk seorang wanita yang ia panggil mama_ tak lain adalah Reni Paramitha.
"Sayang, jangan bilang kalau dia ...."
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tidak melanjutkan perkataannya karena merasa sangat khawatir jika apa yang dipikirkannya benar. Reni mengamati dengan tatapan yang cukup mengintimidasi ke arah wanita di belakang putranya.
"Iya, Ma. Dia kekasihku."
Pria dengan wajah rupawan dan muda tersebut kini terlihat merangkul Putri sambil tersenyum dengan bangga.
Putri juga ikut tersenyum, tangannya terulur untuk menjabat tangan calon mertuanya. Tangan Putri yang hampir menyentuh lengan Reni sepertinya hanya menyentuh sedikit dikarenakan calon mertuanya yang buru-buru membawa tangannya ke belakang.
"Tidak perlu menyentuh tanganku!" seru Reni dingin.
"Ma, jangan kasar seperti itu. Toh dia akan menjadi bagian keluarga kita," tutur Arya memecah kecanggungan diantara Putri dan sang ibu.
Reni menatap sebentar ke arah Arya, lalu kembali duduk dan menyeruput teh yang ia tunda tadi.
"Namamu siapa?" tanya Reni yang terlihat sangat tenang, tapi masih dengan nada yang sinis.
"Putri Wardhani, Ma." Nada gugup itu Putri rasakan saat ini. Pertanyaan dan raut wajah Reni berhasil membuat suasana mencekam.
"Jangan panggil aku Mama. Lagipula aku bukan mamamu!" jawab Reni ketus sambil memalingkan wajahnya.
Reni kembali menatap sinis wanita yang putranya sebut sebagai 'kekasih'. Tentu ia tidak akan terima jika calon menantu yang merupakan calon istri putranya adalah keturunan dari masyarakat biasa dan jauh dari kata 'mewah'.
"Apa pekerjaanmu? Apa tujuanmu mendekati putraku?"
__ADS_1
Putri merasa seperti tertampar dengan pertanyaan yang dianggap sangat konyol tersebut. Ia menatap singkat ke arah Arya untuk memastikan apa jawaban yang akan diucapkan benar-benar tidak masalah.
Arya mengangguk perlahan dan mempererat genggaman tangannya. Merinding dan gugup adalah hal yang Putri rasakan. Ditambah ketika maniknya yang menatap lurus ke netra cokelat lekat milik Reni yang begitu mengintimidasi.
"Saya hanya seorang ibu rumah tangga dari keluarga biasa yang beruntung bertemu dengan Arya. Saya mampu memenuhi tugas sebagai ibu rumah tangga di rumah dan tentu saja sangat mencintai Arya dan bayi dalam ...."
Perkataan Putri terputus oleh tangan Reni yang terangkat dan mengisyaratkannya untuk diam.
Tatapan amarah kini tertuju padanya, suasana sekitar menjadi lebih mencekam daripada sebelumnya. Reni bangkit dari duduknya dan memusatkan kekesalan dengan jari telunjuk yang menunjuk lurus ke arah Putri.
"Bayi? Istri? Apa maksud dari semua ini?" bentak Reni mengisi seluruh ruangan.
"Ma, tolong jangan marah dulu dan dengarkan penjelasanku. Kami saling mencintai dan itu murni kesalahan kami," jelas Arya yang juga berdiri menenangkan ibunya.
"Bagaimana Mama bisa tidak marah? Istri busuk mana yang berselingkuh dan tersenyum bangga seperti wanita ini?"
"Maaf, saya tidak ...."
Putri tidak bisa melanjutkan perkataannya karena begitu mendengar suara teriakan dari wanita yang menatapnya sangat tajam dengan bola mata seperti hampir keluar dari tempatnya.
"Diam kamu! Kamu hanya wanita murahan tak tahu malu yang bisa-bisanya menggoda putraku yang tidak tahu apa-apa soal rumah tangga!" bentak Reni lagi penuh murka.
"Kami saling mencintai, Ma. Bukankah Mama dan papa juga seperti itu? Apakah aku salah jika mencintai seorang wanita?"
Arya langsung mengarahkan tangan untuk memeluk Putri lembut karena ia khawatir jika wanitanya merasa terluka atas penghinaan dari sang ibu.
Masih dalam kemurkaannya, Putri kembali ditunjuk dan kali ini, jari telunjuknya bahkan bagaikan anak panah yang berkali-kali menembus dada wanita berusia 30 tahun itu.
Begitu sesak dan sakit Putri rasakan. Bahkan rasa gemuruh juga sesal berkecamuk dalam dada.
Bahkan Putri tak berani menatap wanita paruh baya tersebut. Ia sungguh tertampar oleh penuturan Reni yang menyebutnya sebagai 'Istri busuk' dan 'Wanita murah'. Putri tentu saja tahu ini memang salah, tapi apakah harus seperti ini?
"Cepat kamu tinggalkan wanita murahan ini! Mama tidak mau ada gosip memalukan tentang keluarga Ardhana! Mama tidak mau wanita ini membawa sial bagi keluarga kita!"
__ADS_1
To be continued