Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
211. Perusahaan Tania


__ADS_3

Tania adalah putri sulung di keluarga Syaputra, memiliki seorang adik perempuan yang akan menikah dalam waktu dekat. Keduanya menjalankan perusahaan secara bersamaan.


Mereka bahkan bekerja sama untuk membuat perusahaan bisa meraih kesuksesan seperti yang diimpikan orang tuanya.


Seorang wanita sedang duduk di kursi direktur, ia membaca profil yang diberikan oleh Ari Mahesa secara online. Diam-diam ia merasa kagum akan sosok pria dengan data diri di profil yang ada di mejanya.


Selama ini Tania sibuk mengurus perusahaan, hingga mengacuhkan perasaan yang merupakan ketertarikan pada lawan jenis. Hal itulah yang membuatnya belum menikah sampai sekarang.


Bahkan membuatnya didahului oleh sang adik, tapi tidak membuatnya merasa kecewa atau pun marah.


Di tengah kekagumannya pada Arya, tiba-tiba saja dering ponsel, membuatnya mengalihkan pandangan.


Pesan itu datang dari Arya, pria yang akan membantunya hingga satu minggu ke depan di perusahaan dan juga tentang kerja samanya dengan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu pria itu.


Setelah membalas pesan itu, Tania menyiapkan semuanya. Mulai dari ruangan yang akan ditempati, hingga semua pekerjaan yang berhubungan dengan pria itu.


Ya, Tania sengaja menyuruh asisten pribadinya untuk mengatur jadwal dan membuat mereka terus bersama selama melakukan pekerjaan di perusahaan maupun di luar.


Beberapa menit berlalu, hati Tania mulai tidak tenang. Kenapa Arya tidak kunjung sampai? Padahal ia sudah memberikan titik koordinat lokasi gedung perusahaan itu dengan tepat.


Baru saja wanita itu akan menghubungi, tiba-tiba pintunya diketuk dari luar dan seorang pria muncul dengan pesona yang khas.


Hal itu bahkan membuat Tania tidak berkedip menatap wajah rupawan dengan tubuh proporsional di hadapannya.


“Apa benar dengan Nona Tania?” tanya Arya ramah.


“Ya, masuklah! Kau, Arya dari perusahaan Mahesa, bukan?”


“Benar sekali.”


“Bisakah aku melihat berkas yang dititipkan tuan Ari Mahesa?”


“Ini.” Arya memberikan berkas itu pada Tania dan dengan teliti melihat satu persatu huruf yang ada di sana.


Setelah itu, Tania menandatangani berkas dan menyimpannya di laci.


“Baiklah, kita akan membicarakan mengenai pekerjaan apa yang akan kau lakukan selama di sini.”


Tania menekan tombol yang ada di bawah mejanya, hingga seorang wanita dan pria masuk ke sana.


“Perkenalkan, ini Tuan Arya dari Perusahaan Mahesa yang akan menggantikan adikku. Ia akan membantu kita dalam menjalankan setiap pekerjaan yang ada di perusahaan ini mulai hari ini."


"Tuan Arya, ini adalah Pak Kim. Beliau akan menjadi asisten pribadimu selama berada di perusahaan ini. Lalu ini Merry, asisten pribadiku. Jika tidak bisa menghubungiku, bisa langsung bertanya pada Merry di mana aku berada.”


“Oke.” Arya hanya menjawab singkat karena sebenarnya mood hari ini buruk saat mengingat perkataan dari sang ayah yang menyuruh untuk membuat wanita di hadapannya menyukainya.


Tania melanjutkan penjelasan mengenai perusahaan saat ini. Ia juga memberikan beberapa berkas yang perlu tanda tangan untuk melakukan kerja.sama dengan perusahaan lain di kota sebelah.


Bukan Arya sangat teliti ketika membaca satu persatu kalimat yang tertera di sana. Hingga mendapatkan beberapa hal yang mengganjal.

__ADS_1


“Nona, apa Anda tidak melihat bagian ini? Keuntungan untuk perusahaan ini sangat kecil. Bahkan di Mahesa Grup, Anda bisa mendapatkan dua kali lipat dari ini.”


"Ternyata kamu sangat teliti. Terima kasih untuk sarannya. Baiklah, aku akan memperbaiki lagi masalah ini.”


Setelah percakapan seputar bisnis dan juga pekerjaan. Kini mereka berada di ruangan masing-masing. Tania yang duduk seorang diri di sana sedang mengagumi kinerja hari pertama Arya.


Tidak heran jika perusahaan itu mengalami kemajuan yang pesat. Anak pemilik perusahaan itu ternyata adalah seorang pria yang cerdas dan sudah bisa dipastikan akan sangat handal dalam hal mengurus perusahaan.


Ia pun tidak salah sudah menerima tawaran dari Rani yang tak lain adalah ibu dari pria yang duduk tak jauh dari tempatnya.


Jam makan siang pun datang, Tania berjalan ke ruangan Arya dan melihat pria itu sedang memeriksa berkas-berkas di sana.


“Ini sudah jam makan siang. Apa kamu bersedia makan siang bersamaku?” ajak Tania dengan tersenyum di ambang pintu.


“Seharusnya aku yang mengatakan itu. Baiklah, sekarang kita makan karena aku pun sudah sangat lapar."


Arya merapikan meja kerjanya, lalu berjalan mendekati Tania. Mereka makan bersama di salah satu restoran yang ada di dekat perusahaan itu. Keduanya tampak lebih santai daripada saat di ruang kerja.


“Bagaimana jika kita saling memanggil nama saja? usia kita juga tidak terlalu jauh, sepertinya.”


“Ya, jika kamu tidak keberatan tentunya,” jawab Arya yang mencoba untuk mengikuti alur yang tengah diciptakan oleh wanita itu.


Sejak detik itu, keduanya tampak sangat akrab. Hanya saja, ada yang mengganjal di hati Arya.


Bisakah ia bertahan dan menjaga hatinya agar tidak tergoda? Putri di rumah sedang menunggu kedatangannya saat ini, tetapi ia justru tengah makan bersama seorang wanita asing.


Arya hanya bisa menghela napas dan melanjutkan pekerjaan itu. Ya, ia menganggap semua ini hanya satu pekerjaan penting yang diberikan orang tuanya. Arya masih bisa membuat semua berubah.


“Arya, apa selama ini tidak ada yang mendekatimu? Aku melihat dari keseharian, tentunya saat kita bertemu di tengah rapat. Belum adakah wanita yang menarik perhatianmu? Ah, maaf jika aku lancang bertanya seperti ini.”


“Tidak masalah. Aku memang masih sendiri. Hanya saja, ada seseorang yang menarik perhatianku hingga membuatku mau melakukan apapun saat ini.”


Sengaja Arya mengatakan kalimat ambigu pada wanita di hadapannya karena tidak mungkin ia jujur telah memiliki seorang istri dan juga calon anak yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Bisa jadi sang ayah akan mengulitinya hidup-hidup karena sangat marah ketika ia gagal melaksanakan perintah.


“Benarkah? Siapa?” Tania kini mengerutkan kening dan sangat tertarik dengan kalimat ambigu tersebut.


Bolehkah ia berpikir jika seseorang yang dimaksud itu adalah dirinya? Karena jujur saja ia saat ini sangat deg-degan berhadapan dengan pria yang memiliki pahatan sempurna tersebut.


“Kamu akan tahu nanti. Tidak sekarang.”


Meskipun sebenarnya merasa sangat kecewa, tapi kali ini tidak ingin menunjukkan dengan jelas karena berpikir jika Arya bisa membaca bahwa ia sangat senang.


“Baiklah.”


Setelah makan siang berakhir, Tania mengungkapkan keinginannya dengan kembali mengajak makan malam pria itu setelah pulang kantor.


Sayang, kali ini Arya menolaknya. Ini semua demi Putri. Arya ingin menghabiskan waktu bersama sang istri hingga besok.

__ADS_1


Kembali ke kantor, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di ruang kerja, pria itu melihat banyak sekali keganjalan yang terjadi dalam perusahaan.


Kemungkinan ada yang mempermainkan keuangan perusahaan itu tanpa Tania ketahui.


Benar saja, ada pengeluaran yang tidak diketahui dan semua laporan ada di dalam berkas yang saat ini di tangannya.


Ia menemukan berkas tersebut di laci belakang. Tepat di buffet besar yang berdiri kokoh di belakangnya.


“Tania sungguh berani memberikan kepercayaan ini padaku. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya?”


Beberapa kali Arya berpikir tentang kebodohan wanita itu. Namun, kali ini Arya hanya mengatakan bahwa Tania beruntung menyuruh Perusahaan Mahesa yang bergabung.


Jika tidak, oknum lain akan membuat perusahaan itu semakin kacau dan tidak bisa dikendalikan lagi oleh Tania.


Arya perlu berbicara dengan wanita itu, mengenai berkas yang mencurigakan dan juga beberapa keuangan yang tidak bisa ditemukan datanya.


Hanya saja, waktu kerja hampir selesai, ia menyudahi semua dan memilih untuk melanjutkan keesokan harinya.


“Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlangsung. Papa juga harus tahu, agar aku bisa mengambil keputusan mengenai hal ini.”


Arya mengetuk pintu ruang kerja Tania. Saat pintu terbuka dan menampilkan Tania yang sedang berdiri tepat di hadapannya, wajah wanita itu merona seperti buah Cherry.


“Maaf.”


“Kamu mau pulang?” tanya Arya.


“Ya. Kamu tidak mau makan malam. Jadi, aku akan makan malam di rumah saja.”


“Lain kali, tidak hari ini. Aku sudah berjanji pada Mama untuk makan malam di rumah.”


“Baiklah. Orang tua memang harus yang utama. Sampai jumpa besok, Arya.”


Mereka berjalan bersama memasuki lift, lalu ke luar tepat di basement tempat Arya dan Tania memarkirkan mobil mereka.


Keduanya mengemudi ke arah yang berbeda dan Arya masih ingin memastikan bahwa mobilnya tidak diikuti siapapun saat ini.


Setelah merasa aman, ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah. Tentu saja Arya melihat saraf mata penuh ketertarikan dari Tania dan merasa khawatir jika wanita itu tiba-tiba membuntuti mobilnya.


Jika sampai wanita itu mengetahui bahwa ia sudah memiliki seorang istri dan tidak tinggal bersama orang tua, kemungkinan besar akan membuat masalah. Apalagi sang ayah sudah mengatakan agar ia bisa mencari perhatian Tania.


Jadi, saat ini harus waspada atas apa yang akan dilakukan karena tidak ingin ada kesalahpahaman dari sang istri suatu saat nanti.


Arya berencana untuk mengatakan semuanya pada Putri agar mengerti bahwa melakukan semua ini demi bisa mendapatkan kembali semua kemewahan yang akhirnya juga akan dirasakan oleh wanita dengan perut membuncit yang mungkin sebentar lagi akan melahirkan keturunannya.


"Semoga Putri akan mengerti dan tidak marah saat aku nanti mengatakan semuanya dengan jujur. Apalagi saat hamil tua, perasaannya jauh lebih sensitif dan aku harus berhati-hati agar tidak mendapatkan kemurkaan ketika Putri marah."


Arya masih fokus mengendarai mobil menuju ke kontrakan dan tidak sabar untuk melihat respon dari sang istri begitu melihat ia membawa kendaraan mewah miliknya dan bukan lagi naik bus.


"Aku sudah tidak sabar melihat respon dari wajahnya yang pasti sangat terkejut. Putri juga pasti akan sangat senang karena aku membawa pulang mobil dan bisa mengajaknya jalan-jalan saat libur nanti."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2