
Sosok wanita yang saat ini sedang mengendarai mobil dengan pandangan fokus ke depan dan menajamkan mata untuk melihat jalanan yang dilalui di gelapnya malam.
"Kenapa sikap Bagus hari ini seperti itu? Aku pikir tadi ia akan ikut bersamaku untuk datang ke tempat Putri. Ternyata tidak, ia malah sama sekali tidak tertarik untuk pergi melihat bayi yang dilahirkan Putri."
"Apa ia tidak merasa penasaran seperti apa bayi yang merupakan hasil perselingkuhan itu? Apakah mirip Arya atau Putri. Amira Tan tadi sepulang kerja telah mampir ke swalayan untuk membelikan beberapa peralatan bayi lengkap yang merupakan satu paket.
Mulai dari shampoo, sabun, bedak, baby oil, parfum, minyak telon, hand and body Lotion dan beberapa pakaian bayi. Ia berpikir tidak mungkin akan datang dengan tangan kosong untuk melihat keponakan baru.
Padahal bukan itu tujuan utama Amira Tan datang ke tempat kontrakan Putri. Ia ingin bertanya, apa benar jika Arya sudah meninggalkan adik tirinya itu. Bahkan ia juga berniat untuk mengatakan pada Putri agar membuang pikiran mengenai akan kembali pada Bagus setelah menjadi istri terbuang.
Setelah setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai sudah berhenti tepat di depan rumah kontrakan adik tirinya. Ia memang sudah mengetahui tempat tinggal Putri setelah ia diberitahu Bagus.
Setelah mematikan mesin mobil, tanpa membuang waktu, Amira sudah turun dan membawa kantong plastik besar berisi perlengkapan bayi tersebut.
Amira tadi memang lembur di kantor dan belum sempat pulang ke rumah. Ia lebih mendahulukan pergi ke tempat Putri untuk menyelesaikan hal yang ada di pikirannya.
Hingga ia pun seketika menjatuhkan kantong plastik di tangan kanan begitu melihat pintu rumah yang terbuka dan sosok pria tampak berekspresi sama sepertinya, yaitu terkejut.
"Kamu juga di sini?" tanya Amira yang merasa sangat marah karena melihat Bagus juga sedang mengunjungi Putri.
Padahal jelas sekali saat tadi siang mengatakan jika pria itu tidak mau diajak untuk menemui Putri karena harus membahas mengenai perceraian dan ada beberapa poin yang harus dibicarakan dengan pikiran yang tenang.
__ADS_1
Saat Bagus hendak membuka mulut menanggapi Amira yang diketahuinya sangat terkejut karena ia telah menipunya. Namun, suara kasar dari Amira Tan membuatnya hanya memilih bungkam.
"Dasar pria munafik? Apa kamu pikir dengan membohongiku, bisa melakukan apapun tanpa meminta bantuanku? Apa sekarang kamu sudah tidak membutuhkanku? Jadi memilih untuk datang sendiri secara diam-diam? Atau khawatir aku akan berbicara buruk pada Putri?"
Puas melampiaskan kekesalan, kini ia berniat untuk berbalik badan menuju ke arah mobilnya. Ia seketika tidak mood untuk menemui Putri—saudara tiri yang ingin dilihatnya hancur saat ditinggalkan suami.
Namun, malah ia sendiri yang hancur ketika berpikir jika Bagus sudah muak padanya. Jadi, ia memilih untuk pergi, daripada tersakiti melihat pria yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Sedangkan di sisi lain, Bagus yang awalnya merasa sangat terkejut dengan kedatangan Amira Tan dan seketika membuatnya merasa bersalah saat wanita itu memilih untuk pergi dengan mengurungkan niat masuk ke dalam rumah kontrakan Putri.
Tidak ingin ada kesalahpahaman antara ia dan kakak ipar, akhirnya Bagus berjalan cepat untuk mengejar Amira Tan yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kakak ipar!" Bagus berharap teriakannya mampu membuat pergerakan wanita itu berhenti.
Jadi, sekarang Bagus sedikit membungkuk untuk bisa melihat Amira Tan yang duduk di balik kemudi. "Kenapa kamu pulang dan tidak memilih masuk? Bukankah kamu ingin melihat saudara dan keponakanmu?"
Masih memerah wajahnya karena marah, kini Amira Tan menatap tajam wajah pria yang terlihat seperti tidak berdosa tersebut. Seolah sama sekali tidak merasakan apapun dan membuatnya sangat kesal.
"Aku akan ke sini lain kali karena tidak akan menjadi pengganggu kalian. Kamu bersenang-senanglah dengan Putri. Pergilah dari hadapanku karena aku sudah sangat muak melihat para pria munafik!"
Kalimat bernada tegas penuh penghinaan darinya itu seolah sangat mewakili perasaannya saat ini. Amira Tan bahkan seperti merasa menjadi wanita yang tidak berguna dan membuatnya merasa seperti tidak diharapkan.
__ADS_1
Baru kali ini berpikir bahwa ia sama sekali tidak berharga. Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara bariton dari pria yang ternyata bisa juga marah.
"Jaga bicaramu, Amira. Apakah kamu berpikir aku adalah seorang pria bejat? Hingga kamu berpikir jika aku akan berbuat gila di rumah ini saat Arya belum pulang dari kantor karena lembur?" Bagus tidak bisa menahan diri karena dianggap jika ia adalah seorang pria bajingan yang tidak bisa mengendalikan nafsu.
Meskipun ia masih berstatus sebagai suami sah Putri, tetap saja tidak akan berbuat macam-macam pada wanita yang sudah tidak menyukainya.
Apalagi ia tahu jika Putri adalah ibu dari dua anaknya dan tidak akan membiarkan kebencian memisahkan kedekatan antara anak dan ibu.
Amira Tan saat ini hanya diam dan masih enggan membuka mulut, tetapi ia merasa sangat lega karena ternyata Bagus belum mengetahui bahwa hubungan antara Putri dan Arya kini telah renggang hanya karena hasil tes DNA yang ia yakini palsu.
Tidak ada hal yang sulit untuk orang kaya seperti Ari Mahesa. 'Sepertinya dia baru datang dan Putri belum sempat menceritakan tentang rumah tangganya yang terancam kandas.'
Saat Amira Tan masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati, ia merasa sangat terkejut ketika Bagus tiba-tiba mengambil kunci mobil dan mengeluarkan titah seperti seorang pria penguasa.
"Masuklah! Aku yang akan mengunci mobilmu!" Bagus tidak ingin hubungan antara Putri dan Amira Tan semakin buruk. Jadi, ia sudah menarik pergelangan tangan wanita yang diketahuinya enggan beranjak dari tempat duduk.
"Jangan lupa ambil sesuatu yang kamu jatuhkan tadi di tanah!"
Amira yang kini sudah berada di luar mobil karena dipaksa oleh Bagus, akhirnya tidak ada pilihan lain untuk patuh. Apalagi saat ini perasaannya benar-benar sedang tidak karuan karena masih belum bisa menghilangkan rasa sakit hatinya.
"Aku bukan budakmu! Jadi, jangan memerintahku!" umpat Amira Tan yang akhirnya memilih untuk melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan Bagus.
__ADS_1
Hingga ketika ia sudah mengambil oleh-oleh yang dibawanya, kini melihat Bagus menghampirinya dan menjelaskan sesuatu.
To be continued...