
Entah sudah berapa lama Putri menunggu wanita di sofa itu terbangun karena ingin berbicara dengan meminta tolong menghubungi seseorang untuk mengetahui bagaimana kabar putranya.
Bahkan selama menunggu, perasaan benar-benar tidak tenang karena dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya dan siapa yang menolong saat mengalami kecelakaan.
Hingga beberapa saat kemudian melihat pintu terbuka dan ada salah satu perawat datang dan membuatnya merasa sangat lega.
Bahkan suara pintu yang terbuka, membuat wanita di atas sofa tersebut juga terbangun dan seketika berjalan untuk menghampiri dan begitu melihat pasien sudah membuka mata, merasa sangat terkejut sekaligus bersalah karena tidak tahu.
"Kamu ternyata sudah sadar. Maafkan aku karena ketiduran," ucap wanita dengan raut wajah penyesalan penuh penyesalan tersebut dan sangat khawatir jika mengatakan pada majikan tidak bekerja dengan baik karena hanya asyik tidur.
Sementara itu, perawat wanita yang saat ini tengah mengecek kondisi pasien yang sudah sadar, menanyakan sesuatu untuk memastikan.
"Apa yang sekarang ada rasakan, Nyonya?"
Putri yang saat ini ingin langsung menanyakan mengenai alasan kenapa kakinya tidak bisa bergerak, sehingga membuka mulut untuk berbicara, meski sangat lirih.
"Dari tadi, kakiku tidak bisa digerakkan, tapi tangan ini bisa. Apakah itu adalah pengaruh obat bius yang belum sepenuhnya hilang?" Putri tidak mengalihkan perhatian dari merawat wanita berseragam putih tersebut.
Berharap mendapatkan jawaban yang diinginkan karena benar-benar sangat takut akan kenyataan buruk. Namun, sikap wanita berseragam tersebut yang masih sangat tenang dan tidak langsung menjawab pertanyaan darinya, menambah rasa frustasi Putri saat ini.
"Apakah ada yang lain, Nyonya?" Perawat tersebut tidak langsung menjelaskan karena berpikir bahwa itu adalah tanggung jawab dari dokter agar tidak membuat pasien merasa terpukul begitu mengetahui kenyataan yang menimpa akibat kecelakaan.
"Hanya rasa nyeri di seluruh tubuh dan juga kepala, kecuali pada bagian kaki," sahut Putri yang kembali menekankan bagian bawah tubuh pada kalimat terakhir dan berharap rapat tersebut mau menjelaskan padanya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, Anda Lebih baik istirahat lagi karena tidak boleh banyak bergerak ataupun berbicara. Dokter yang akan menjelaskan besok mengenai semua diagnosisnya." Kemudian tersenyum simpul dan berlalu pergi setelah mencatat semua perkembangan dari pasien yang baru saja menjalani operasi besar tersebut.
Putri sebenarnya ingin berteriak untuk membuat perawat tersebut langsung berbicara jujur padanya mengenai apa yang terjadi pada bagian kaki.
Namun, kondisi tubuhnya yang lemah, juga tidak bisa berteriak untuk mengungkapkan kemarahan saat ini. Apalagi kekhawatiran semakin dirasakan oleh Putri karena tidak langsung mendapatkan jawaban dari perawat.
Kini, hanya bisa melihat melihat siluet belakang dari sosok wanita yang menghilang dibalik pintu tersebut dan membuat Putri benar-benar sangat frustasi.
Hingga suara dari seorang wanita berbadan gemuk tersebut, menyadarkan jika beberapa saat lalu ingin meminta tolong untuk menghubungi salah satu pekerjanya.
"Aku harus melaporkan jika kamu sudah sadar," ucap wanita yang memakai setelan panjang berwarna biru tua tersebut dengan motif bunga-bunga, langsung mengambil ponsel dari saku dan menghubungi majikan.
Putri mengurungkan niat karena membiarkan wanita yang bahkan sama sekali tidak dikenal itu berbicara di telpon terlebih dahulu.
"Tuan Bambang, pasien wanita hari ini sudah sadar dan masih terlihat lemah. Bahkan perawat baru saja mengecek kondisi dan tidak mengatakan apapun."
Sementara itu, wanita itu memasukkan ponsel setelah selesai berbicara dengan majikan dan menatap ke arah pasien. "Apakah kamu membutuhkan sesuatu? Mau minum atau yang lain?"
Tanpa membuang waktu langsung mengungkapkan hal yang paling ingin dilakukan. "Tolong hubungi seseorang karena aku ingin berbicara untuk menanyakan putraku."
"Baiklah, sebutkan nomornya dan aku akan langsung menghubungi." Kembali mengeluarkan ponsel dan mengerutkan kening begitu mendengar jawaban dari wanita dihadapan dengan wajah pucat tersebut.
Seketika ia menyadari kebodohan karena tidak mengingat mengenai nomor pekerja.
__ADS_1
"Aku lupa kalau tidak mengingat nomor pekerja karena selama ini menyimpan nomor mereka di ponselku." Putri menghentikan perkataan dan mencoba untuk mengingat Di mana keberadaan benda pipih yang disimpan di dalam tas selempang miliknya saat kecelakaan.
"Apakah kamu mengetahui di mana ponselku? Ada di dalam tas. Apakah tadi majikanmu yang membawakan tasku?"
Namun, begitu melihat gelengan kepala yang mewakili jawaban atas pertanyaan yang baru saja diajukan, seketika Putri merasa harapan pupus untuk menghubungi putranya.
"Aku sangat mengkhawatirkan putraku. Ini sudah jam berapa? Aku mungkin sudah terlalu lama meninggalkan Xander. Pasti saat ini menangis dan mencariku."
Suara menyayat hati dari sosok wanita dengan wajah pucat tersebut, membuat pelayan merasa iba dan mencari sebuah ide untuk membantu.
"Katakan saja alamat rumahmu. Aku akan menyuruh orang untuk datang ke sana dan memberikan kabar bahwa kecelakaan. Jika perlu, membawa putramu ke sini agar kamu tidak merasa khawatir lagi dengan keadaannya."
Begitu mengetahui bahwa wanita malang tersebut merupakan korban kecelakaan dan sang majikan merupakan orang baik karena mau menolong, sehingga membuatnya semakin mengagumi bosnya.
Sementara itu, Putri langsung menyebutkan alamat dan berharap putranya akan segera dibawa ke rumah sakit agar ia bisa melihat.
"Terima kasih karena sudah mau menolongku."
Kini, wanita yang bernama Yeni tersebut langsung menghubungi seseorang untuk datang ke alamat yang baru disebutkan dan berharap bisa membawa anak kecil yang merupakan putra dari pasien.
"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku karena yang seharusnya menerima adalah majikanku. Bosku adalah seorang pria yang baik dan suka menolong siapapun yang membutuhkan," ucap Yeni yang saat ini baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku baju.
Sementara itu, Putri yang merasa penasaran dengan siapa yang menolong ke rumah sakit ketika kecelakaan, kini mengungkapkan pertanyaan.
__ADS_1
"Siapa nama majikanmu yang baik itu karena telah menyelamatkan nyawaku? Aku harus berterima kasih padanya jika datang ke sini," ucap Putri yang saat ini merasa berhutang budi pada pria yang telah menolongnya ke rumah sakit dan membuatnya masih bisa bernapas hingga hari ini.
To be continued...