
Amira Tan beberapa bulan terakhir ini jarang menemui Bagus karena merasa kesal pada pria itu saat menolak pernyataan cintanya.
Sebenarnya, bukan masalah itu yang membuatnya merasa sangat kesal, tetapi perasaan pria itu pada Putri tidak kunjung hilang setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh adik tirinya tersebut pada pria berhati malaikat seperti Bagus Setiawan.
Begitu mendapatkan kabar yang sangat mengejutkannya, Amira saat ini tengah membulatkan mata karena pernyataan dari pria yang menyukainya tersebut sulit untuk dipercayai.
"Apa tuan Ari Mahesa yang mengatakan ini padamu? Apa dia sengaja menyuruhmu untuk mengatakan padaku? Mana mungkin itu bukan anak dari Arya. Padahal pria itu berselingkuh dengan Putri sudah sangat lama. Saat Putri mengenal Arya, ia sudah tidak pernah mau disentuh oleh suaminya."
"Wah ... ternyata kamu sudah tahu hingga mengenai masalah berhubungan ****." Jack tersenyuman smirk saat mengatakan kalimat terakhir karena otaknya saat ini langsung ternodai dengan itu.
Refleks Amira Tan langsung mengangkat tangannya untuk meninju lengan kekar di balik jas tersebut. "Aku sangat serius. Jadi, jangan bercanda denganku. Tentu saja aku tahu karena adikku sendiri yang mengatakan itu padaku."
Ya, Amira Tan memang sempat dulu menginterogasi Putri di hari sebelum pernikahan. Bahwa yang dihadapi oleh adik tirinya tersebut bukanlah orang sembarangan.
Jika sampai ketahuan mempermainkan orang hebat, yang terjadi adalah sebuah kehancuran. Namun, saat itu, Putri bahkan sangat percaya diri dengan mengatakan bahwa tidak pernah bercinta dengan pria yang lemah setelah menemukan pria muda dan hebat seperti Arya.
Saat pertama kali mendengar hal itu, rasanya Amira Tan ingin sekali menarik rambut Putri karena tidak merasa malu ketika menceritakan perselingkuhan hingga berakhir hamil.
Bahkan ia saat itu seperti orang bodoh karena merasa kasihan dan meminjamkan uang saat Bagus memelas ketika ingin menikahkan sang istri dengan pria lain dan membiayai pernikahan.
"Aku sangat yakin jika Putri tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ia tidak pernah bercinta lagi dengan Bagus setelah mengenal Arya. Jadi, sudah bisa diprediksi bahwa anak yang dilahirkan oleh Putri merupakan darah daging Arya."
__ADS_1
"Ini pasti ada sebuah konspirasi besar yang dilakukan oleh seorang ayah pada putra dan menantunya. Apa tidak ada kabar lain yang ingin kamu katakan padaku?" Amira Tan masih menatap intens wajah datar Jack saat terlihat sangat serius dan tidak seperti biasanya.
Jack memang selama ini suka menggoda para wanita dengan mengandalkan ketampanannya. Bahkan ia sering berkencan dengan banyak lawan jenis, tetapi tidak bisa membangkitkan perasaan cinta di dalam hati karena dari dulu hanya mencintai Amira Tan.
Ia sebenarnya merasa sangat frustasi karena tidak bisa mendapatkan Amira, tetapi melampiaskannya pada para wanita dengan berkencan. Berharap Amira merasa cemburu melihatnya bersama wanita lain, tetapi yang terjadi bukan seperti itu.
Amira Tan malah semakin jijik padanya dan membuatnya merasa sangat marah, tetapi tidak bisa mengatakan apapun untuk sekedar melampiaskan kekesalan kepada wanita itu.
Sosok wanita yang sama sekali tidak bisa digapai dan membuatnya seperti seorang pecundang karena melampiaskan dengan cara berkencan. Jack saat ini masih tidak mengalihkan pandangannya pada Amira, seolah ia ingin memanfaatkan waktu yang sangat berharga karena bisa bersama dengan wanita yang dicintai.
Ia bisa menatap sepuasnya wajah cantik yang dari dulu membuatnya tergila-gila. "Aku sudah mengatakan apa yang kamu ketahui. Selebihnya, mungkin disembunyikan oleh para orang kaya berkuasa itu."
"Kita tidak mungkin bisa melawan mereka, apalagi adikmu yang hanya seorang wanita biasa. Putri kan namanya? Tadi saat aku mendengar nama itu disebut oleh tuan Ari Mahesa, terdengar kebencian yang tidak bisa disembunyikan."
Jack bisa melihat raut wajah penuh kekhawatiran yang saat ini ditampilkan oleh Amira Tan. Sebenarnya, ingin sekali ia menyalurkan aura positif pada wanita yang terlihat sangat muram tersebut.
"Apakah kamu sangat menyayangi adik tirimu itu? Hingga wajahmu terlihat sangat bersedih. Seandainya aku tahu jika kamu akan berekspresi muram seperti ini, tadi tidak mengatakan padamu dan memilih untuk merahasiakannya saja."
Jack saat ini tengah menatap ke arah Amira Tan yang masih betah mengunci rapat mulut karena tidak menjawab perkataannya. Ia berniat untuk meraih tangan yang ada di atas meja dan mengusap lembut di sana.
Namun, belum sempat ia melakukannya, saat ini merasa kecewa ketika wanita yang saat ini duduk di kursi tersebut segera beranjak dari posisi.
__ADS_1
"Kamu benar! Aku harus pergi sekarang untuk menemui Putri."
Amira Tan buru-buru berjalan keluar dari restoran setelah membayar makanannya. Tanpa memperdulikan panggilan dari Jack saat mengkhawatirkannya.
Ia dari tadi hanya diam karena yang dipikirkan bukanlah Putri, tetapi Bagus yang pastinya akan merasa iba dan meminta rujuk. Amira saat ini sudah berada di dalam mobil dan terdiam sambil memikirkan apa yang harus dilakukan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagus tidak boleh kembali pada Putri karena hanya akan penderitaan yang didapatkan. Jika selama ini aku memilih untuk menghindari Bagus, tapi setelah ada kejadian ini, sepertinya dia tidak boleh tahu."
"Ini adalah karma yang dulu kukatakan, tetapi sama sekali tidak ditanggapi oleh Putri. Ia telah berbuat jahat dan harus mempertanggungjawabkan semuanya dengan mendapatkan balasan.
Sementara Bagus adalah seorang pria baik yang tidak seharusnya kembali menderita jika kembali bersama istrinya. Apalagi saat ini Putri sudah melahirkan.
Bagus dulu pernah mengatakan, bahwa akan segera menceraikan Putri setelah melahirkan. Namun, Amira Tan sama sekali tidak pernah menyangka jika semuanya akan terjadi secepat ini.
"Sudah saatnya kamu hidup bahagia, sedangkan Putri, masa kontrakmu untuk berbahagia telah usai. Setelah ini, kamu harus menikmati balasan atas semua yang dilakukan. Aku harus membuat Bagus segera menceraikan Putri."
"Nikmati karmamu yang baru dimulai dengan senyuman, Putri. Ini adalah pilihanmu dan harus mempertanggungjawabkan apa yang kamu lakukan."
"Kenapa aku malah mengasihani Bagus? Padahal ia bukan adikku," ucap Amira Tan yang terlihat tengah mengemudikan mobil meninggalkan area rumah sakit.
"Bagus atau Putri?" lirih Amira Tan saat ini karena merasa bingung harus pergi ke tempat siapa terlebih dahulu.
__ADS_1
Hingga ia memutuskan untuk berbelok kiri setelah mendapatkan sebuah jawaban.
To be continued...