
Satu bulan sudah Putri menikah dengan pria muda yang berasal dari keluarga konglomerat terbuang karena tidak mendengar orang tua untuk meninggalkannya.
Hari-hari pasca menikah siri, Putri dan Arya memang tidak seindah pasangan pada umumnya. Sejak diusir dari rumah dan tidak mendapatkan apapun dari orang tuanya, Arya menjadi seorang pengangguran.
Rasa cinta Bagus terhadap istri, membuatnya mengizinkan pasangan itu tinggal di rumahnya.
Meski tahu bahwa Arya tidak akan mau bekerja kasar selain di perusahaan milik keluarga. Alih-alih menunggu orang tuanya memaafkan kesalahan yang sudah diperbuat, Arya hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama Putri.
Kegiatan pagi Putri kini bertambah. Jika biasanya ia hanya menyiapkan semua untuk Bagus dan anaknya. Kehadiran Arya menambah hari-harinya seperti cucian pakaian, piring, hingga segala hal yang diinginkan suami barunya.
Jika biasanya Arya menjadi seorang pria yang selalu terpenuhi semua kebutuhannya, kali ini ia hanya bisa diam di kontrakan sempit itu.
Sifatnya yang biasa menjadi seorang majikan menjadi kebiasaan buruk di rumah itu. Bagaimana tidak? Arya selalu memerintah Putri untuk melayani semua keinginannya.
Seperti pagi ini, Arya tengah duduk menonton televisi, sedangkan Putri tengah merapikan kamar.
“Sayang, ambilkan aku minum.”
Suara Arya berhasil membuat Putri menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tidak sampai di sana, Arya juga menginginkan makanan yang lezat setiap harinya.
“Ini.”
“Hari ini masak apa?” tanya Arya memastikan.
“Hanya masakan rumahan yang biasa aku masak. Uang belanja yang diberikan Bagus hanya cukup untuk membeli itu.”
“Kenapa tidak membeli daging? Aku bosan harus makan makanan itu!”
“Arya, tidak ada uang lagi untuk membeli daging atau makanan yang lebih mahal.”
“Dasar kalian ini tidak berguna! Seharusnya ada makanan lezat yang dihidangkan khusus untukku. Kamu tahu sendiri, aku ini tidak bisa terus menerus makan makanan itu. Bisa-bisa uangmu akan habis untuk ke rumah sakit karena aku sakit perut!”
“Maaf, Arya. Tidak ada makanan yang lebih mahal dari biasanya. Jika kamu mau makan seperti itu, sebaiknya mencari pekerjaan untuk menambah pemasukan kita.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Putri dengan wajah memerah karena dikuasai oleh kilatan amarah, berjalan ke dalam untuk kembali melanjutkan kegiatannya.
Ia merasa kesal dengan sikap Arya yang arogan dan juga masih dalam bayang-bayang kekayaan keluarganya.
Arya tidak bisa menerima keadaannya saat ini, hingga membuat Putri harus mengusap dada dan bersabar demi pernikahan yang menjadi impiannya.
Baru saja Putri selesai dengan kegiatan di kamar, kini ia harus mencuci pakaian milik seluruh penghuni rumah itu.
Meski Arya ada di sana dan melihat apa yang dilakukan wanita itu, tidak ada sedikit pun rasa ingin membantu dalam diri pria yang hanya bisa duduk dan menikmati camilan milik Putra.
Sudah satu bulan ini Putri menahan diri dan terus bersabar. Bahkan ia juga sering menahan Bagus untuk tidak mengamuk atas sikap Arya yang seenaknya.
“Sayang, aku keluar dulu. Ada urusan sebentar.” Tiba-tiba saja Arya berpamitan pergi.
Sontak suara itu membuat Putri menghampiri suaminya dan bertanya mengenai ke mana ia akan pergi. “Ada urusan.”
__ADS_1
“Urusan apa, Arya? Setidaknya kamu harus memberitahu aku.”
“Tidak perlu tahu, ini urusanku. Lagipula, kamu sendiri yang menyuruhku untuk mencari pekerjaan, bukan?”
Hati Putri terasa lega mendengar kalimat itu. Wanita itu tersenyum dan mengizinkan suaminya untuk pergi.
Setelah kepergian Arya, Putri kembali melanjutkan pekerjaannya. Sesekali ia mengintip anaknya yang masih terlelap di kamar, meski matahari sudah berada di atas kepala.
Ya, anak dari pernikahannya bersama Bagus sering merasa bingung dengan sang ayah yang mengizinkan pria lain untuk bersama sang ibu.
Kini, terlihat Putri tampak bersantai setelah pekerjaan rumahnya selesai. Duduk di ruang tamu dengan menghela napasnya beberapa kali, sembari mengusap perutnya yang kini terlihat ada tonjolan.
Ya, usia kandungan Putri sudah memasuki empat bulan dan sudah waktunya harus melakukan cek ke dokter mengenai perkembangan kehamilannya.
Sayang sekali Arya masih belum memberikan uang untuk pergi ke dokter maupun bidan.
“Semoga saja ayahmu mendapatkan uang banyak dan bisa kita buat ke dokter." Putri menundukkan kepala, tampak berbicara dengan janin yang ada di perutnya.
Tidak lama setelah itu, anaknya terbangun dan berjalan menghampiri Putri di ruang tamu.
“Eh, Putraku sudah bangun.”
“Ibu, lapar. Makan.”
“Iya, ayo ke dapur, Ibu akan menggoreng telur untuk lauk.”
Putri menggandeng tangan anaknya untuk berjalan ke dapur. Anak itu duduk di sebuah kursi sembari menunggu sang ibu menggoreng telur untuk lauk sarapan pagi.
“Ayo, makan yang banyak! Biar kakak cepat besar.”
“Kenapa aku dipanggil kakak?” tanya anak yang masih belum mengerti dengan panggilan itu.
“Sebentar lagi, Putra akan mendapatkan seorang adik. Jadi, mulai sekarang, kamu dipanggil kakak.”
“Oh, tapi Ibu tetap sayang sama Putra, ‘kan?” ujar bocah laki-laki itu dengan suaranya yang terdengar masih belum terlalu jelas dan malah lucu jika didengarkan.
“Tentu saja masih sayang.”
Sedikit demi sedikit makanan masuk ke mulut anak itu, hingga hanya menyisakan piring dan sendok saja.
Putri sengaja mengajarkan pada anak laki-laki yang masih balita itu untuk mandiri karena ia tahu bahwa suatu saat nanti tidak mungkin selamanya bersama putranya yang merupakan buah cinta dengan Bagus.
Meski awalnya ia merasa kesulitan. Namun, akhirnya anak itu mulai terbiasa dan hampir tidak merepotkan dirinya lagi saat ingin makan.
“Sudah habis,” ucap anak laki-laki itu sembari menyodorkan piring kosong kepada sang ibu
“Wah, pintar sekali anak Ibu. Lain kali harus seperti ini, ya?”
“Iya.” Putra menjawab sambil menganggukkan kepala dan seperti tadi, suara terdengar sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Putri lalu berjalan ke dapur untuk membersihkan piring itu, lalu kembali lagi dan menemani anaknya bermain di depan rumah.
Duduk di teras dengan disaksikan beberapa tetangga, membuat Putri sedikit terganggu. Pasalnya, pernikahan sirinya bersama Arya menjadi buah bibir yang sangat menarik untuk tetangga di sekitar rumah itu.
“Dasar ibu-ibu kurang kerjaan. Masih jam segini, mulutnya sudah bergosip tidak jelas,” gerutu Putri yang merasa menjadi bahan perbincangan di sana.
Walaupun tidak mendengar dengan jelas apa saja yang dibicarakan oleh tetangganya, Putri tahu betul bahwa dirinya menjadi topik utama hari ini.
Tidak ingin berlama-lama di sana, Putri memanggil anaknya untuk kembali masuk. Pintu rumah kembali tertutup rapat dan tidak sedikit pun celah di sana untuk melihat keluar.
“Ibu, kenapa masuk? Aku mau main di sana!” rengek balita yang sejak tadi bermain bersama temannya.
“Ibu pusing! Mau tiduran di kamar. Kamu main di sini saja. Jangan keluar dari rumah.”
“Iya, Ibu." Anak itu hanya menurut dengan ucapan ibunya.
Sementara Putri berjalan ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk dan membuatnya nyaman.
Kegiatannya sejak pagi memang menguras tenaga, apalagi Arya tidak membantunya sama sekali sejak pagi.
Tepat pukul satu siang, terdengar suara pintu terbuka. Bagus datang dengan membawa bungkusan makanan. Pria itu melihat anaknya sedang bermain di ruang tamu seorang diri.
Melihat sang ayah datang, anak itu pun berhamburan memeluk dan meminta digendong.
“Ibu mana?”
“Ibu pusing. Ada di kamar,” ujar anak laki-laki yang kini berada di gendongan ayahnya.
Bagus kini berjalan ke kamar dan melihat Putri sedang di atas ranjang dengan berkutat pada ponselnya. Pria yang sangat mencintai istrinya itu memanggil dan mengajaknya untuk menikmati makanan yang sudah dibeli.
“Kita makan siang sama-sama. Aku beli nasi padang untukmu.”
“Wah, terima kasih. Kebetulan aku sangat lapar.”
“Ke mana pria itu?”
“Entah, ia mengatakan mau cari kerja.”
“Baguslah kalau ia sadar dengan tanggung jawab sebagai suami.”
Bagus yang sudah terbiasa hidup dengan sang istri dan Arya dalam satu rumah, kini seperti telah mati perasaannya.
Ia memilih untuk berdamai dengan hatinya, sehingga memilih untuk bersikap biasa pada wanita di hadapannya tersebut. Meskipun ada luka tak berdarah di sana, tapi selalu berusaha untuk bersikap seperti baik-baik saja dan tidak terluka.
Akhirnya mereka mulai menikmati makanan bersama di meja makan.
Kemudian setelah itu, Putri kembali bersantai di kamar untuk beristirahat. Semua itu karena Bagus membereskan bekas makanan karena tidak ingin ia terlalu letih.
Sifat Bagus yang selalu baik meskipun telah disakiti, selalu memantik rasa bersalah dan berdosa, sehingga Putri merasa sangat malu dan seperti tidak mempunyai muka di hadapan pria berhati malaikat itu.
__ADS_1
To be continued...