Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
44. Mengantar pulang


__ADS_3

"Tapi sepertinya kau akan mencari mangsa lain jika sampai Arya meninggalkanmu. Bukankah kau dengan mudah menggaet para pria seperti yang tadi berbicara denganmu?"


"Oh ya, ngomong-ngomong berapa tarifmu sekali main? Aku ingin tahu, siapa tahu nanti ada kenalanku yang membutuhkan jasamu!" ucap Eny yang tidak kalah berkomentar untuk membuat wanita perebut pria yang ada di hadapannya dari sahabatnya.


Refleks Putri mengepalkan kedua tangan di bawah meja. Ia benar-benar sangat geram dengan penghinaan dari para wanita di hadapannya.


Ia bahkan lebih merasa geram lagi saat melihat pria di depannya yang masih diam tanpa ekspresi dan sama sekali tidak marah saat melihatnya dihina habis-habisan.


Refleks ia bangkit dari meja dan ingin menampar satu persatu wanita yang telah menghinanya. Namun, saat ia melirik ke arah Arya, pria tersebut terlihat menggelengkan kepala. Seolah memberi kode untuk melarangnya meluapkan kemarahan dan semakin membuatnya merasa frustasi.


"Duduklah, Sayang! Kamu harus merilekskan pikiranmu dan jangan sampai masuk dalam jebakan para wanita murahan ini. Biar aku yang menyelesaikan semuanya karena mereka semua berhubungan denganku."


Sambil masih mengerucutkan bibir, mau tidak mau, Putri menuruti perintah dari pria dengan sikap sangat tenang dan merasa takut jika Arya kembali tertarik pada Early setelah wanita itu menyatakan perasaan.


'Bagaimana jika Arya kembali pada wanita itu? Bagaimana dengan nasibku? Aku tidak ingin kehilangan Arya karena sangat mencintainya,' lirih Putri di dalam hati dengan perasaan berkecamuk dan membuncah.


Terpaksa Putri kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi sambil mengamati apa yang akan dilakukan oleh Arya.


'Jika sampai ia kembali pada Early, aku tidak akan pernah bertemu dengan Arya lagi.'


Keputusan Putri sudah bulat. Ia yang saat ini merasa sangat khawatir pada sosok pria dengan wajah tenang di hadapannya, kini terpaksa menurut pada Arya yang baru saja memberikan perintah.


Sementara itu, Arya beralih menatap ke arah beberapa wanita yang bahkan tidak tahu siapa namanya. Ia hanya mengingat bahwa salah satu dari wanita yang pernah dicintai dan meninggalkan luka menganga di hatinya.


"Apakah kalian semua sudah puas mengoceh? Jika sudah, kalian boleh pergi! Kalau kalian tidak cepat pergi, maka para security yang akan mengusir kalian dari Mall ini. Seharusnya kau sadar, Early. Aku sama sekali tidak tertarik padamu lagi."


"Jadi, jangan terlalu percaya diri. Bahwa aku akan langsung memelukmu begitu kamu menyatakan cinta padaku. Jelas sekali kamu sedang berencana untuk mempermainkan aku. Justru kalianlah para wanita murahan dan harusnya sadar akan posisi kalian!"

__ADS_1


"Kalian bagaikan seekor semut yang ingin melawan sang gajah. Apa kalian merasa yakin bisa menang melawanku? Aku masih bersabar pada kalian, jangan buat aku kehilangan kesabaranku."


Early yang merasa sangat terkejut, kini bersitatap dengan tiga sahabat dan merasa sangat malu karena Arya sama sekali tidak terbujuk rayuannya dan malah menghinanya.


Bahkan empat wanita tersebut saling bersitatap dan mereka sama-sama mengeluarkan kalimat umpatannya.


"Dasar pria brengsek!"


Dengan kompak, keempat wanita tersebut mengumpat.


Sementara itu, Arya seketika tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kompak dari Early dan tiga yang lain.


Mendengar perkataan dari Arya, tentu saja membuat binar kebahagiaan terlihat sangat jelas dari wajah Putri. "Terima kasih, Arya. Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu. Sepertinya ini saat yang tepat untuk membuka mata batin mereka agar sadar, insyaf dan segera kembali ke jalan yang benar "


Arya menghentikan perkataannya begitu melihat orang-orang yang sudah ditunggunya dari tadi telah datang.


"Maaf, Tuan." Salah satu security menjawab untuk mewakili tiga rekan lainnya.


Ya, saat Early menggoda dan temannya-temannya menghina Putri, Arya langsung menghubungi security untuk mempermalukan para wanita yang dianggapnya tidak tahu diri dan membuatnya serasa mau muntah melihat tingkah mereka semua.


"Cepat bawa para perusuh yang menggangu ketenanganku ini pergi!" Arya mengibaskan tangan dan kembali menikmati makanannya seolah tidak terjadi apapun pada mereka.


Sedangkan Putri yang merasa paham dengan situasi dan kondisi tersebut, hanya menatap pria tampan yang terlihat tengah tersenyum menyeringai.


"Lebih baik menyingkirkan parasit dari kita. Kamu sangat luar bisa, Sayang. Aku jadi semakin mencintaimu, kan jadinya."

__ADS_1


"Harus karena itu adalah sebuah titah mutlak," jawab Arya yang ini langsung mengedipkan mata pada sosok wanita yang menurutnya terlihat semakin cantik.


Para security kini berniat untuk mengusir para wanita yang meresahkan pengunjung. Namun, tiga wanita itu mengarahkan tatapan tajam menusuk. Hingga mereka mendengar suara dari sosok wanita yang mewakili teman-temannya.


"Kami bisa berjalan sendiri dan akan segera pergi dari tempat yang memuakkan ini!" umpat Early yang saat ini tengah menatap tajam para pria berbadan tinggi besar di hadapannya.


Akhirnya karena merasa sangat malu, ia bersama tiga wanita lain buru-buru pergi meninggalkan food court. Seolah mereka berempat benar-benar sudah tidak mempunyai muka untuk menampakkan batang hidungnya di depan Arya.


Sementara itu, Arya tersenyum smirk begitu melihat empat wanita yang terlihat berjalan terburu-buru meninggalkan food court.


"Aku sudah berhasil membalas perbuatan mereka padamu. Sekarang kamu merasa senang, bukan?"


Refleks Putri langsung tersenyum lebar dan untuk mengungkapkan kebahagiaannya. "Kamu benar-benar sangat luar biasa, Sayang. Aku semakin mencintaimu. Oh ya, aku tadi ingin bertanya mengenai siapa yang menelponmu. Kenapa berbicara di telepon sangat lama?"


Arya yang tadinya hendak melanjutkan makannya, kini tidak jadi melakukannya dan memilih menjawab Putri.


"Tadi sepupuku. Aku sudah bertanya padanya mengenai menaruh semua barang-barangmu di apartemennya selama dia tidak ada. Dia sudah mengizinkan dan memberitahu passcode apartemen. Apa kita sekarang ke sana saja?"


Sebenarnya Putri ingin mengiyakan ajakan dari Arya, tetapi tidak bisa melakukannya karena sudah sehari meninggalkan putranya dan mematikan sambungan telepon.


"Aku harus pulang. Kasihan putraku. Dia pasti mencariku. Mungkin kamu ke sana sendiri saja untuk menaruh semua ini. Lain kali kita ke sana."


Putri yang kini mengusap lembut punggung tangan Arya, berharap pria itu tidak marah padanya.


Mood Arya seketika berubah buruk karena merasa kesal saat harus berpisah dari sosok wanita yang sangat dicintai. Namun, ia tahu bahwa semua itu sudah menjadi risikonya karena mencintai wanita bersuami.


"Baiklah, aku akan mengantarmu untuk menjemput putramu, sekaligus mengantarkan pulang. Tenang saja, hanya sampai di depan gang kontrakan. Bukan menurunkanmu di depan kontrakan."

__ADS_1


"Baiklah, antarkan aku pulang setelah selesai makan." Putri kini melanjutkan makan seafood dan mencoba aneka seafood yang sudah memanjakan lidahnya sambil sesekali mengobrol macam-macam dengan Arya.


To be continued...


__ADS_2