
Putri yang mendengar perkataan Arya saat menceraikannya, merasa sangat shock dan memegangi pipi yang terasa sangat panas. Tamparan sang suami yang sangat kuat tadi berhasil menyisakan rasa nyeri.
Bahkan tidak berhenti sampai di situ saja rasa sakit yang diterima karena luka hati dirasakan oleh Putri ketika pria yang sangat dicintai dan dipercaya baru saja menceraikan dirinya.
Putri yang tadi sangat murka dan berapi-api saat merasa sangat marah pada wanita yang telah dianggap menggoda Arya, kini seperti kehilangan tumpuan hidup begitu pria yang merupakan suami tersebut lebih memilih orang lain daripada dirinya.
Bahkan tadi ia sempat mundur beberapa langkah ketika mendengar kalimat cerai dari suami yang sangat dicintai.
Kata-kata Arya saat ini bagaikan disambar petir di siang hari. Tidak pernah terpikirkan jika akan melihat kejadian seburuk ini.
Jika tadi Putri takut jika Arya kesal karena datang ke perusahaan, kini merasa sangat menyesal karena memilih untuk mengikuti kata hati. Berpikir bahwa jika tidak melakukan itu, mungkin tidak akan pernah terjadi hal buruk seperti ini.
Apalagi sekarang merasa bahwa dunianya hancur dan tidak tahu lagi harus melakukan apa setelah ini. Satu-satunya orang yang menjadi tempat bersandar telah memilih wanita lain dan menceraikannya.
Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan saat ini. Bahkan suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun, keberanian seketika muncul begitu melihat senyuman jahat dari wanita yang menjadi penyebab semua kemalangan yang terjadi hari ini.
Kemudian Putri beralih menatap ke arah sosok pria yang masih sangat dicintai. "Kamu tidak boleh melakukan ini padaku hanya demi wanita munafik dan licik seperti ini, Arya. Sadarlah! Kamu sudah masuk dalam akal licik ular ini."
"Jangan sia-siakan anak istri hanya demi seorang wanita murahan. Jadi, tarik kata-katamu dan kembalilah pada keluarga kecil kita. Apa kamu sama sekali tidak mengingat putramu? Xander akan menjadi korban dari sikap egoismu ini "
Kemudian Putri menguatkan hati untuk berjalan mendekati sosok pria yang berdiri di sebelah wanita yang sangat ingin dihancurkan.
Putri kini menyentuh lengan kekar di balik kemeja berwarna putih yang digulung sampai siku tersebut. "Kembalilah seperti Arya yang dulu. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah bisa hidup tanpamu, Arya."
__ADS_1
"Kita sudah berjanji akan hidup bersama dengan saling mencintai selamanya. Apa kamu tidak ingat akan hal itu? Bahkan Xander membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Jangan jadikan anak kita menjadi korban keegoisan para orang dewasa."
"Maafkan aku jika hari ini tidak bisa menahan amarah, tapi semua ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan suami yang sangat kucintai. Kembalilah seperti dulu, Arya."
Putri bahkan berbicara dengan suara yang menyayat hati dan terdengar serak. Bahkan bola mata tidak berhenti mengeluarkan bulir bening air mata. Berharap jika mata hati Arya bisa terbuka dan kembali bersamanya.
Namun, semua hanyalah angan semu saat tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah akibat perbuatan kasar Arya.
Arya tidak bisa mengendalikan amarah ketika melihat sikap Putri yang dianggap hanyalah sedang berakting untuk menipu. Apalagi saat mengatasnamakan Xander yang bahkan bukan merupakan darah dagingnya, tetapi adalah benih suami pertama.
Tidak ingin terlalu lama melihat wanita yang hanya menorehkan luka di hati ketika mengingat kebohongan Putri, seketika Arya mengempaskan tangan untuk menghindari wanita itu.
"Dasar wanita munafik yang tidak tahu malu! Bagiku, kau hanyalah seorang wanita murahan yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Bahkan kau menggunakan bayi yang tidak tahu apa-apa hanya demi sebuah ambisi."
Arya masih mengarahkan tatapan tajam menusuk tanpa memperdulikan wajah sembab Putri saat ini karena satu-satunya hal yang diinginkan hanyalah ingin segera melupakan semua masa lalu kelam di antara mereka.
Cinta Putri yang dianggap hanya penuh kepalsuan dan intrik demi bisa mendapatkan harta. Arya sangat muak ketika mengingat akan hal itu.
Sementara itu, Calista yang masih berdiri di sebelah Arya, kini beberapa kali mengusap lengan kekar pria itu. Berharap bisa meredam amarah yang seperti sebuah bom dan akan meledak.
"Sabar, Arya. Kamu harus bisa menahan emosi dan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin."
Arya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika Calista menenangkan karena memang saat ini amarah yang menyeruak di dalam hati karena Putri.
__ADS_1
Di sisi lain, Amira Tan yang sebenarnya sudah mengetahui hubungan antara Arya dan Calista dari Jack, merasa lega saat semua rencana yang disusun berhasil dan akhirnya Putri bisa melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Arya. Berpikir bahwa pria itu hanya akan menggantung status saudaranya dan itu malah lebih menyakitkan.
'Maafkan aku, Putri. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Setelah kamu bercerai dan bebas dari bayang-bayang Arya, akan hidup tenang dan memulai lembaran baru. Aku akan membantumu untuk mencari pekerjaan demi menopang kebutuhan dan juga membesarkan Xander.'
Sementara itu, Putri yang saat ini sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arya, masih bersimbah air mata dengan perasaan hancur.
Namun, berpikir harus menyelesaikan kesalahpahaman hari ini. Meskipun merasa tubuh seperti tidak bertenaga, tapi saat ini Putri mencoba untuk menguatkan hati dan kembali berjalan mendekat tanpa memperdulikan jika mungkin akan kembali mendapatkan kemurkaan Arya.
"Sebenarnya apa maksudmu, Arya? Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kamu berbicara seperti aku adalah seorang wanita hina? Jelaskan padaku, apa kesalahanku, hingga kamu berbicara hal sangat buruk seperti ini."
"Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri. Katakan padaku!" lirih Putri dengan suara serak karena bercampur dengan efek menangis.
Bahkan dari tadi tidak bisa menghentikan bulir air mata yang menganak sungai di wajah. Bahkan tubuh Putri seketika berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton dari Arya yang berteriak dengan tatapan penuh kebencian.
"Dasar wanita munafik tidak tahu diri! Aku sudah sangat muak melihatmu? Pergilah dari hadapanku sekarang juga!" sarkas Arya dengan wajah memerah penuh kilatan emosi.
"Aku tidak akan pernah pergi sebelum mengetahui apa kesalahanku, Arya!" teriak Putri yang tak kalah emosi dengan menahan perasaan yang sangat hancur.
Hingga beberapa saat kemudian, Putri mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Arya dan merasa jika semua yang terjadi adalah sebuah konspirasi.
"Kau menipuku dengan mengatakan bahwa Xander adalah darah dagingku. Padahal adalah benih Bagus. Jadi, jangan kau berpikir bahwa aku tidak tahu apapun atas kebohonganmu!" sarkas Arya yang kini merasa seperti pria bodoh karena ditipu oleh sosok wanita yang selama ini dipercaya.
To be continued...
__ADS_1