
"Siapa yang mengatakan kebohongan itu, Arya? Xander adalah darah dagingmu, bukan Bagus. Aku berani bersumpah demi Tuhan!" Putri kini sudah tidak bisa lagi berdiam diri saat difitnah sekejam itu.
Otak Putri bahkan kini sudah bisa menebak jika itu adalah ulah dari wanita paruh baya yang tak lain adalah mertua karena memang dari dulu sangat membenci dan tidak pernah merestui hubungan mereka.
Tidak ingin nasib rumah tangga yang susah payah dibangun hancur karena sebuah fitnah, Putri ingin membuat Arya tidak mempercayai omong kosong yang hanya merupakan konspirasi tersebut.
Namun, kembali tubuh Putri bergetar dan kembali dihantam oleh sesuatu yang seolah semakin bagaikan debu di mata pria itu.
"Pergilah, wanita munafik! Aku sudah tidak sudi melihat wajahmu!" sarkas Arya dengan kilatan amarah terpancar dari tatapan tajam pada sosok wanita yang kini sangat ingin disingkirkan karena hanya meninggalkan bekas luka di dalam hati.
Arya ingin melupakan Putri dan membuka lembaran baru bersama wanita lain yang bisa mengobati luka di dalam hati, yaitu Calista. Bahkan kini menoleh pada wanita yang terlihat sangat berantakan karena rambut tadi ditarik sangar kuat oleh Putri.
Kemudian merapikan penampilan Calista dengan mengeluarkan suara, "Aku sangat mencintai Calista karena hanya wanita ini yang tidak pernah memakai topeng sepertimu. Jadi, pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi karena aku tidak ingin melihatmu."
Tanpa menatap ke arah Putri, Arya fokus pada Calista karena merasa iba pada wanita yang baru saja mendapatkan kemurkaan dan sama sekali tidak membalas, sehingga merasakan sakit teramat sangat ketika tadi rambut ditarik sangat kuat.
Putri merasa seperti kehilangan tumpuan hidup begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Arya sekarang. Bahkan sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan.
Ingin sekali Putri tidak menyerah dan berusaha menyakinkan Arya, tetapi dalam hati kecil berkata bahwa pria yang sangat dipercaya dan dicintai tersebut tidak akan pernah mau percaya meski sekuat apapun mencoba.
Namun, ada satu hal yang pasti dan menjadi keyakinan saat ini. Putri kini menoleh pada Amira Tan untuk membantu karena hanya memiliki saudara perempuan satu itu.
"Tolong bantu aku untuk melakukan tes DNA pada Xander. Aku ingin membuktikan pada Arya bahwa bayi tidak berdosa yang menjadi keegoisan dari para manusia tidak berperasaan itu adalah darah dagingnya."
Baru saja Putri menutup mulut, merasa semakin tidak punya kesempatan begitu Arya melarang dan menghentikan rencana yang bahkan merupakan satu-satunya harapan untuk membuktikan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu karena aku sudah melakukan itu. Jadi, jangan melakukan apapun untuk membuatku semakin muak dan jijik pada wanita licik sepertimu. Apa kamu tidak punya malu? Masih terus berada di hadapanku saat sudah diusir dan tidak diharapkan?"
"Ataukah karena kamu tidak rela karena akan kehilangan harapan dan mimpi untuk menguasai harta keluargaku?" Arya memandang sinis pada Putri karena saat ini mengingat ketika hasil tes DNA yang dulu membuat shock dan terluka.
Tidak ingin mengulangi rasa itu, akhirnya memilih untuk mengatakan hal tersebut, agar Putri menyadari bahwa saat ini berharap wanita itu segera pergi dari hadapannya.
"Pergilah sebelum aku memanggil security dan mempermalukanmu." Masih mengarahkan tatapan tajam penuh kebencian dan berharap semua yang terjadi hari ini segera selesai.
Sementara itu, Putri ingin sekali membuka mulut untuk bertanya kapan Arya melakukan tes DNA. Kenapa tidak tahu dan berkata bahwa pasti ada yang memalsukan hasilnya.
Namun, merasakan tangan ditarik oleh Amira Tan dan membuat Putri sangat lemas.
"Jangan merendahkan dirimu di depan pria yang bahkan sama sekali tidak mempercayaimu, Putri. Lebih baik kita pulang sekarang. Ada Xander yang sudah menunggumu. Jika Arya sudah tidak menginginkanmu, kamu bisa mencari pria lain yang jauh lebih baik dari bajingan ini."
Berharap jika setelah mendapatkan badai dalam kehidupan, akan ada secercah harapan suatu saat nanti. Dengan tatapan penuh kasih sayang dari seorang saudara perempuan, Amira Tan kini memilih untuk segera mengajak Putri segera pergi dari sana.
Jujur saja saat ini Amira Tan merasa sangat tidak tega pada Putri begitu melihat wajah sembab mengenaskan itu.
Namun, semua hancur berantakan begitu mendengar suara sinis dari Arya yang baru saja mengungkapkan kalimat ejekan.
Arya yang merasa sangat muak melihat sang pengacara bersikap seperti sangat perhatian pada Putri. Padahal dulu sempat menemuinya untuk meminta agar segera menceraikan Putri dan menganggap jika itu adalah hal yang salah karena mencampuri urusan rumah tangga mereka.
"Dasar dua bersaudara yang sama-sama munafik dan memakai topeng penuh kepalsuan. Kau memang sangat pandai berakting, Pengacara. Sepertinya sekarang kau senang karena aku telah memenuhi keinginanmu untuk menceraikan Putri."
Sementara itu, Putri kini kembali merasa shock dengan apa yang dimaksud oleh Arya. Degup jantung tidak beraturan karena sekarang seperti hendak melompat dari tempat dan merasa sangat hancur lebur setelah mendengar kenyataan pahit itu.
__ADS_1
Putri menatap ke arah Amira Tan dan Arya secara bergantian karena merasa bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini merasa otak sangat tumpul dan tidak bisa berpikir jernih.
"Tolong jelaskan padaku sekarang!" teriak Putri dengan histeris karena kali ini benar-benar merasa shock.
Putri merasa seperti dihantam tombak tajam berkali-kali dan membuatnya sekarat sekarang. Dikhianati oleh dua orang yang selama ini dipercayai, tentu saja seolah mendapat beban berat yang tidak sanggup dipikul.
Sementara itu, Amira Tan kini berusaha untuk memeluk Putri yang terlihat sangat histeris. "Aku akan menjelaskan semuanya padamu, Putri."
Refleks Putri mendorong tubuh Amira Tan karena tidak ingin terlihat sangat menyedihkan di depan saudara perempuan tiri yang ternyata menginginkan kehancuran rumah tangga bersama Arya.
"Jangan pernah menyentuhku! Jelaskan saja padaku sekarang."
"Cepat keluar sekarang! Aku tidak ingin melihat atau pun mendengar pertengkaran kalian karena hanya membuang-buang waktu berhargaku!" sarkas Arya yang kali ini mulai tidak bisa berpikir jernih lagi karena merasa sangat membenci perasaan tidak tega pada Putri yang sebenarnya ingin sekali dipeluk dan ditenangkan.
Namun, ego jauh lebih tinggi dan tidak bisa melupakan perbuatan Putri yang telah menipu. 'Aku sebenarnya masih sangat mencintai Putri, tapi tidak bisa memaafkan perbuatan wanita ini yang telah menipuku.'
Saat Arya sibuk bergumam sendiri di dalam hati, sedangkan di sisi lain, Putri yang saat ini merasa sangat hancur karena merasa sudah tidak ada harapan.
Apalagi melihat kemurkaan Arya yang seolah tidak ingin melihat kehadiran Putri lagi. Tidak ingin terlihat sangat mengenaskan, Putri pun berjalan cepat menuju pintu keluar dan membanting pintu tanpa memikirkan apapun lagi.
Ingin segera pergi dari ruangan yang bahkan bagaikan sebuah neraka karena telah membakar habis diri sampai hancur lebur dan tidak tersisa. Dengan disertai bulir air mata yang sudah menganak sungai di pipi putihnya, ia tidak memperdulikan jika ada banyak orang yang melihat penampilan mengenaskan hari ini.
"Tuhan, apakah ini adalah karma dari istri durhaka sepertiku," lirih Putri yang sudah berada di dalam lift dan membawa menuju ke loby perusahaan.
To be continued...
__ADS_1