
Beberapa saat lalu, Arya dan Putri yang saling bersitatap begitu mendengar keputusan dari Bagus untuk membantu mengurus pernikahan mereka, hanya diam karena masih sama-sama terkejut dan juga tidak percaya.
Mereka melihat siluet pria yang sudah berjalan keluar dari pintu utama dan lama-kelamaan menghilang di telan bangunan rumah-rumah yang berdempetan itu.
Kemudian Putri yang saat ini memilih untuk mencubit tangannya sendiri demi memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Bahkan ia sengaja mencubit cukup keras karena ingin menyadarkan diri sendiri bahwa ini bukanlah mimpi.
"Aargh ...."
Sudut bibirnya yang seketika tertarik ke atas saat meringis menahan rasa nyeri akibat perbuatannya sendiri, membuatnya malah merasa sangat lega, senang sekaligus bahagia.
Tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Bagus ketika sangat hancur mengetahui perselingkuhan yang dilakukan olehnya.
"Ternyata ini bukan mimpi," ucap Putri yang kini beralih menatap ke arah sosok pria tampan dengan rahang tegas di sebelahnya.
"Kamu dengar itu, Arya? Bagus bahkan akan membantu kita untuk menikah. Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika dia akan melakukan ini untuk kita."
Sementara itu, Arya yang juga sama heran sekaligus terkejut seperti Putri karena ia merasa sangat aneh melihat sikap pria itu. Pria yang berstatus sebagai suami Putri dan seperti sangat tidak asing untuknya, benar-benar mau membantu untuk menikahkan mereka.
Arya yang kini merasa kakinya mau patah karena dari tadi berdiri, memilih untuk mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di sebelah kiri ia berdiri.
"Sepertinya kamu benar, Sayang."
Putri yang saat ini tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Arya, sudah ikut duduk di sebelah kanan pria yang sangat sebentar lagi akan menikahinya tersebut.
"Benar tentang apa?"
"Benar bahwa pria itu tidak normal. Dia tidak normal di atas ranjang, juga tidak normal otaknya. Jika dipikir secara logika, mana mungkin di dunia ada seorang suami mengurus pernikahan istrinya dengan pria lain."
Arya kini menatap ekspresi wajah Putri untuk mencari sebuah dukungan dan pembenaran dari apa yang saat ini tengah dipikirkan olehnya.
__ADS_1
"Bahkan jika aku berada di posisinya, mungkin sudah membunuh pria yang berselingkuh denganmu."
Bahkan saat ini Arya mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi untuk menelisik sosok wanita di sebelahnya.
"Ingat itu baik-baik, Sayang. Jika sampai kamu berani selingkuh, aku benar-benar akan membunuh pria itu. Bahkan mungkin bisa membunuhmu juga saat merasa murka."
Meskipun di benak Putri sama sekali tidak pernah terbersit pikiran buruk seperti itu karena sangat mencintai Arya, tetapi entah mengapa ia merasa sangat takut jika kejadian buruk menimpanya.
Namun, ia berusaha untuk menormalkan perasaannya dan meyakinkan diri sendiri bahwa cinta mereka sangat kuat dan tidak akan terpisahkan.
"Setelah perjuanganku seperti ini, mana mungkin aku akan berselingkuh dengan pria lain. Astaga! Kamu adalah pria terakhir untukku. Jadi, jangan pernah meragukan cintaku karena aku rela meninggalkan semuanya hanya demi kamu."
"Begitu juga aku," sahut Arya yang kini tersenyum menyeringai dan mendekati sosok wanita yang ada di sebelahnya.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke dekat daun telinga Putri, lalu berbisik di sana. "Aku sangat merindukanmu, Sayang. Bagaimana kalau kita main kuda-kudaan sebelum pria itu kembali membawa orang untuk menikahkan kita?"
Setelah mengungkapkan keinginannya, Arya sudah melabuhkan bibirnya pada leher jenjang nan putih Putri dan berniat untuk menyesapnya agar meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Jangan dulu, karena aku ingin mematuhi perintah terakhir Bagus yang tadi melarang kita bercinta di rumah ini. Nanti saja setelah kita menikah. Ia sudah terlalu baik pada kita. Jadi, paling tidak, kita penuhi satu perintahnya hari ini demi membalas kebaikannya."
Sebenarnya tadi Putri ingin membantah perkataan Arya yang menyebutkan bahwa suaminya merupakan pria tidak normal. Sekarang ia baru menyadari bahwa Bagus bukanlah pria yang tidak normal, tetapi merupakan seorang pria berhati emas.
Bahkan ia hari ini merasa bahwa suaminya itu seperti jelmaan malaikat dan membuatnya merasa sangat bersalah sekaligus berdosa karena telah menjadi seorang istri yang egois dan durhaka.
'Maafkan aku. Aku benar-benar sangat berdosa padamu, tapi aku ingin mengejar kebahagiaanku sendiri bersama Arya. Aku berharap suatu saat nanti kamu menemukan wanita penggantiku dan bisa menggantikan posisiku di hatimu.'
Saat Putri sibuk menyalahkan diri sendiri di dalam hati, ia merasakan sentuhan nakal Arya yang membuatnya bergelinjang hebat dan langsung membuatnya mendesah dan merintih karena perbuatan pria di hadapannya berhasil menerobos masuk dinding pertahanannya.
"Aaarhh ... Arya ... jangan menyiksaku seperti ini," lirih Putri dengan suara parau penuh hasrat.
__ADS_1
Sebenarnya beberapa saat yang lalu, Arya yang merasa sangat bergairah begitu merasakan kulit putih Putri ketika berbisik, berniat untuk memberikan kiss mark, tapi merasa kesal begitu wanita itu menolaknya.
Arya yang mengetahui tentang kelemahan Putri, hanya tersenyum smirk dan tidak membuang waktu untuk menyerang titik sensitif wanita yang menurutnya baru saja mengatakan omong kosong di hadapannya.
"Persetan dengan semua perintah itu," sarkas Arya yang sudah berjongkok di bawah kursi dan membuka lebar-lebar kedua kaki sang kekasih.
Tentu saja saat ini ia merasa di atas angin karena melihat wanita yang duduk di kursi tersebut memakai dress selutut berukuran besar yang sangat memudahkannya untuk langsung menyingkap ke atas, hingga terlihat segitiga yang selama ini membuatnya meledak di sana.
Bahkan dengan sekali gerakan kasar yang menandakan bahwa saat ini ia benar-benar bergairah, sudah berhasil merobek pelindung yang menjadi penghalang untuknya meraih puncak kenikmatan seperti biasanya.
"Kau merindukanku, Sayang."
Arya tersenyum menyeringai begitu berhasil sibuk di sana dan menemukan bukti gairah wanitanya karena perbuatannya.
Bahkan ia menunjukkan bukti itu pada wanita di atasnya tersebut. "Kamu sudah seperti ini saat baru sedikit kusentuh, Sayang."
Putri yang saat ini memerah pipinya karena seluruh tubuhnya seketika menegang dan menghangat akibat perbuatan sosok pria yang tersenyum smirk karena berhasil mengintimidasinya.
Bahkan ia menelan salivanya begitu melihat ekspresi nakal Arya ketika menghisap jari yang tadi ada bukti gairahnya.
"Arya, jangan seperti ini. Aku mohon. Kamu selalu membuatku lemah. Sekali ini saja jangan menyiksaku," lirih Putri yang ingin menghentikan kegilaan pria itu.
Saat otaknya menyuruhnya untuk berhenti, agar menghargai sang suami, tetapi respon tubuhnya menjerit, menyuruh Arya agar segera membawanya meledak bersama dalam puncak kenikmatan untuk merasakan definisi orgasme yang spektakuler.
Baru saja ia menutup mulut, Putri melihat respon Arya yang menggelengkan kepala dan tentu saja mengetahui apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi. Meskipun ia merasa sangat senang karena sang kekasih tidak menuruti keinginannya, sekaligus rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya.
Namun, ia menyadari bahwa nafsu mengalahkan segalanya dan kini hanya ingin kembali merasakan kekuatan Arya di atas ranjang dan membuatnya kembali mendesah dan meneriakkan nama pria yang sangat dipujanya tersebut.
Pada akhirnya, bibirnya sudah meloloskan kalimat yang dari tadi ditahannya. "Cium aku."
__ADS_1
To be continued...