Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
181. Lembur di rumah


__ADS_3

Arya berdiri di ambang pintu. Bahkan kini ia terlihat dengan berkacak pinggang, berjalan mendekati Rani yang sama sekali tidak mengetahui keberadaannya.


“Kau memang membuat aku kesal! Jika tidak bekerja denganmu, mereka akan melaporkan aku agar dipecat. Apa ini semua rencanamu?”


Rani memicingkan mata dan mengarahkan tatapan penuh selidik. Bisa-bisanya pria itu mencurigai tentang laporan yang didengar kepala cleaning service di sana. Rani menghentikan kegiatan, lalu menghela napas kasar saat ia kembali difitnah.


Setelah itu, kembali mengelap cermin yang ada di dinding sisi kanan tempat ia berdiri.


“Terserah kamu saja. Mau bekerja denganku atau tidak, silakan. Aku bahkan tidak pernah memaksa siapa pun untuk mau bekerja denganku."


"Jika kepala cleaning service berkata seperti itu, hingga memberikan ancaman, mungkin saja ia sudah merasa lelah karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau menjadi rekan kerjamu.” Rani mengatakan semuanya dengan santai, seakan membenarkan bahwa tidak ada yang menyukai keberadaan Arya di sana.


“Apa maksudmu sebenarnya?” Arya kini merasa semakin aneh dan berpikir jika ada sesuatu yang tidak beres.


Namun, saat ia ingin mengetahui hal itu, merasa sangat kesal ketika kembali diperintah oleh wanita yang sudah mengeluarkan peluh di kanan kiri wajah.


“Jika kamu tidak mengerti apa yang aku katakan, lebih baik mulai menggosok bagian dalam. Aku sudah lelah karena membersihkan area yang ada di sudut itu. Aku melihatmu masih terlihat segar dan seperti belum bekerja lagi setelah istirahat.”


Rani yang bernapas berat karena lelah, masih mengamati penampilan Arya. Mulai dari ujung kaki hingga kepala, sehingga berpikir jika pria itu bisa membantu.


Arya tidak menjawab dan berjalan menuju bilik yang dimaksud oleh Rani. Perlahan, tangannya mulai menggosokkan sikat yang dibawa ke lantai.


Meski aroma di sana sangat mengganggu pernapasan Arya, tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain bekerja dan tidak mengeluh.


Arya yakin, keluhannya hanya akan menjadi bahan perbincangan oleh mereka yang ada di sana. Tangannya mulai terasa nyeri karena benerapa kali terbentur dinding dan sela-sela bilik toilet.


“Jika nanti sudah selesai, kamu bisa menyusulku ke kantin bagian depan. Sepertinya ada makanan tumpah di beberapa tempat dan kita harus membersihkannya.” Rani sengaja berteriak dari dekat pintu keluar agar Arya mendengar perkataannya.


Tidak menjawab, Arya hanya terdiam dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan. Meskipun di dalam hati langsung mengumpat.


'Dasar wanita cerewet yang sangat berisik!'


Satu jam telah berlalu dan waktu kerja hampir selesai, tetapi Rani dan Arya masih setia di kantin untuk membersihkan setiap sudut di sana. Hingga kepala cleaning service melihat keduanya dan menyuruh untuk menyudahi pekerjaan itu.

__ADS_1


“Apa kalian tidak ingin kembali ke rumah? Atau kalian akan menunggu matahari terbit dan tidur di sini?”


“Tentu saja tidak. Kami hanya terlalu bersemangat. Hingga tidak melihat jam sudah berakhir.” Rani beralasan karena berpikir tersisa sedikit lagi dan berniat untuk menyelesaikan.


Namun, tidak jadi melakukan itu saat melihat Arya seperti buru-buru.


Arya sudah membereskan alat-alat kebersihan miliknya, lalu membawa semua itu kembali ke ruang loker.


Satu persatu pakaiannya diganti dengan jas dan perlengkapan karyawan biasa. Semua dilihat dengan jelas oleh Rani.


"Apa kamu sedang berpura-pura?” Rani mengerutkan kening saat melihat pakaian rapi Arya dan memakai jas.


Tidak seperti pegawai cleaning service, tapi penampilan Arya seperti seorang staf penting di perusahaan.


Arya tidak menjawab, kembali meraih tas dan berjalan ke luar dari ruangan itu.


Dari belakang, Rani terlihat mengekor dengan sesekali bertanya pada Arya. Bahkan beberapa kali mencerca dengan berbagai macam pertanyaan.


“Hei, apa kamu sudah memiliki kekasih? Atau kamu sudah menikah? Kenapa terlihat sangat membenciku? Apa ada alasan yang bisa kamu berikan padaku?”


Arya sengaja berkata kasar, agar Rani tidak selalu menempel seperti itu. Apalagi ia sudah menikah dan khawatir jika Putri akan mendengar bekerja sebagai cleaning service, serta ditemani oleh seorang wanita.


Mungkin Putri akan marah dan kesal karena cemburu. Ia tidak ingin itu terjadi karena berharap kehidupan rumah tangga mereka aman, damai dan sentosa.


Rani seolah sudah terbiasa mendapatkan kalimat buruk, sehingga sudah tidak terkejut lagi dan masih bersikap seperti biasa.


“Arya, kamu naik apa?”


Arya masih terus berjalan hingga sampai di halte. Setelah berada di halte, tanpa ia sadari Rani berada di sampingnya, berdiri menunggu kedatangan angkutan umum.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Aku? Tentu saja aku ingin pulang. Memangnya apa lagi?" jawab Rani dengan sesekali melihat ke arah pria di sebelahnya.

__ADS_1


Arya merasa sangat aneh dan bertambah curiga jika Rani ternyata ingin naik bus yang sama. “Kamu tidak biasanya ada di sini karena aku tidak pernah melihat."


“Ya, itu karena memang ... sudahlah! Kendaraanku datang menjemput, sampai jumpa besok.” Rani melambaikan tangan dan mulai berjalan menuju ke arah bus yang berhenti, lalu naik ke atas dan merasa lega karena mendapatkan tempat duduk.


Sementara itu, Arya hanya menggeleng melihat Rani masuk ke kendaraan umum yang datang.


Tidak lama setelah itu, gilirannya yang kembali ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar melihat wajah sang istri yang menyambut dengan penuh kasih.


Selama perjalanan, Arya berencana untuk mampir ke sebuah toko roti dan ingin membelikan beberapa varian untuk istrinya.


Benar saja, setelah turun dari angkutan umum, Arya menuju toko roti yang ada di seberang halte. Ia berjalan menyeberang, lalu masuk begitu saja untuk melihat apa saja yang bisa dipesan di sana.


“Silakan, Tuan. Ada rasa terbaru dari toko ini. Campuran roti yang lembut, dengan sosis yang besar dan juga keju yang meleleh di sekitarnya.”


“Baiklah, berikan itu. Lalu beberapa varian lagi sepertinya lezat.” Arya berbicara sambil mengedarkan pandangan ke area yang dipenuhi oleh berbagai macam jenis kue itu.


Karyawan itu hanya mengangguk dan memberikan apa yang diinginkan Arya.


Hingga akhirnya, semua sudah dibayar. Arya berjalan ke rumah yang letaknya tak jauh dan melihat Putri sedang berada di teras depan untuk melakukan beberapa gerakan ringan.


“Sayang.” Arya melambaikan tangan sambil tersenyum dan langsung mengecup lembut kening sang istri.


“Sudah pulang rupanya. Syukurlah kamu tidak lembur hari ini." Putri berbicara sambil menatap tangan sang suami sedang menenteng kantong plastik berisi kue.


“Aku membawa ini untukmu. Kamu pasti menyukainya.” Arya tersenyum simpul saat mengerti arah tatapan dari Putri dan langsung menyerahkan makanan itu pada sang istri.


"Aroma roti yang aku suka. Terima kasih, Sayang.” Putri terlihat berbinar dan kali ini ia tidak lagi kesepian saat berada di rumah ketika senja berganti malam.


Selain takut berada di rumah sendiri, ia juga iba saat suami kelelahan karena setiap hari lembur. "Aku lega karena kamu tidak lembur, Sayang. Malam ini lembur bersamaku saja."


Putri mengedipkan mata menggoda dan mengarahkan satu kecupan mendarat di pipi Arya. Lalu beralih ke bibir yang membuat sang suami membalas dengan ******* lembut.


Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Arya yang membawa bungkusan roti itu mengajak sang istri untuk masuk ke kamar dan ingin menuruti permintaan tersebut.

__ADS_1


"Baiklah. Tidak di kantor, tapi akan lembur denganmu, Sayang," ucap Arya yang kini mulai mencium bibir sensual yang sudah menjadi candu tersebut sambil tangan sudah bergerilya di setiap sudut tubuh berisi sang istri yang mulai dilucuti tersebut.


To be continued


__ADS_2