
Rani baru saja selesai bekerja dan mengembalikan troli berisi alat kebersihan itu ke dalam tempat biasa.
Sebelum kembali ke ruangan yang menjadi tempat menyimpan beberapa barang miliknya. Tentu saja di area loker, ia tampak kebingungan mencari kuncinya.
"Astaga, di mana kunciku tadi?" Rani menepuk jidatnya berkali-kali karena merasa sangat kebingungan ketika kehilangan kunci.
Ia sangat ingat di mana meletakkan benda kecil itu. Sialnya ia tidak bisa menemukannya dan pastinya bingung, harus bagaimana. Bahkan semua barang seperti dompet berisi uang dan beberapa dokumen penting ada di sana.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara dari pintu masuk. Arya berjalan sampai loker dan membuka pintu loker miliknya sendiri.
'Rasakan pembalasanku ini, Rani. Aku akan membuatmu menyesal karena telah berusaha menghindar dariku saat aku belum mengizinkannya,' lirih Arya yang hanya bisa tersenyum smirk.
Arya tidak peduli dengan Rani yang kebingungan mencari kunci di sana. Kemudian berjalan begitu saja menjauh dari Rani. Ia kembali ke rumah dengan kunci loker milik Rani yang masih ada di saku celananya.
'Semoga saja dia sadar melakukan kesalahan padaku. Jika tidak, aku akan melakukan hal yang lebih buruk lagi dari ini.'
***
Sementara itu di rumah kontrakan, sosok wanita yang tak lain adalah Putri sudah sangat kesulitan untuk bergerak. Bahkan, untuk bangkit dari ranjang saja ia kesulitan. Hingga meminta bantuan Arya untuk bisa bangun.
Melihat istrinya yang sudah hampir di titik tidak bisa melakukan apapun lagi, Arya ingin sekali berada di rumah dan menemani.
“Bagaimana jika aku mengambil cuti? Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”
“Hei, tidak apa-apa. Ini bukan kali pertamanya aku hamil. Kamu ingat? Anakku sudah dua dan ini yang ketiga.”
“Ya, aku tahu itu. Hanya saja, aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu saat aku bekerja.”
“Bekerjalah dengan tenang. Jangan memikirkan aku. Anak kita dan aku akan baik-baik saja.”
“Aku tahu. Baiklah, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”
“Aku ingin sekali bertemu Putra, tapi jika kamu mengizinkannya.”
__ADS_1
“Baiklah, aku mau Bagus yang mengantarkannya kemari. Bukan kamu yang pergi ke sana.”
“Itu bisa diatur, Sayang. Aku akan menghubunginya setelah ini. Kamu akan terlambat. Aku akan menyiapkan makan pagi dan bekal.”
“Tidak perlu, aku akan makan di kantin. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Sekarang duduk dan nikmati hari ini.”
Putri mengulas senyum. Suaminya terlalu manis, dan membuatnya tenang.
Hari ini Arya pergi tanpa membawa bekal dan makan pagi. Meski perutnya terus mengajukan protes, ia masih bisa menahan semua hingga sampai di halte yang sudah dekat dari kantor tempatnya bekerja.
Saat ini ia melihat ada penjual makanan dan memutuskan untuk membeli satu porsi demi mengganjal perutnya yang sudah tidak bisa diajak berkompromi.
Sembari memakan makanan yang ia beli, Arya masuk ke gedung yang menjulang tinggi itu. Teringat dengan kunci loker milik Rani, kini mengeluarkannya dari saku celana dan membuka loker yang sejak kemarin tertutup itu.
Setelah membuka loker milik Rani, ia tidak merasa ingin tahu sama sekali dengan isi di dalamnya. Arya hanya bergegas meraih seragam kerja dan alat kebersihan untuk segera memulai pekerjaan hari ini.
Kemudian beberapa saat kemudian, di tengah pekerjaan, Rani berjalan menghampiri Arya, lalu bertanya mengenai kunci loker yang tiba-tiba saja ada pada tempatnya.
Arya berpura-pura tidak mengetahui apa yang dimaksud Rani dan memilih membuang muka darinya.
“Jangan menuduh sembarangan! Kamu pikir aku tahu? Lagipula, tidak ada apapun di lokermu. Jadi, untuk apa kamu khawatir seperti ini?”
“Apa? Kamu melihat isi loker milikku?” tanya Rani dengan tatapan penuh dengan sorot mata pertanyaan."
“Tidak, aku hanya mengintip sedikit, lalu tidak lagi tertarik.”
Arya kembali meraih alat pembersihnya, lalu berlalu meninggalkan Rani yang masih dalam keadaan kesal. Ia benar-benar membuat Rani tidak bisa berpikir lagi, sebenarnya apa yang ingin Arya dapatkan darinya?
Arya berada di lantai tiga dengan kegiatan biasa. Menyapu adalah hal pertama yang dilakukannya di sana. Lalu ada seorang rekannya yang datang dan mendekat pada Arya.
“Aku melihat semuanya. Kamu mengambil kunci loker milik Rani, lalu menyembunyikannya. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari wanita itu?”
“Tidak ada, itu bukan urusanmu!”
__ADS_1
Arya berpaling dan pergi dari sana. Merasa malas bekerja, ia berkeliling dengan mendorong alat kebersihannya hingga sampai di lantai satu dan bertemu dengan pemilik perusahaan di pintu lobi.
Pandangan mata keduanya saling tatap, tapi hanya seperti itu saja karena langkah mereka berlanjut tanpa adanya percakapan.
'Raja tega, tapi masih beruntung bisa ada di sini,' gumam Arya sembari menuju jendela yang ada di sudut kanan lobi.
Dari kejauhan, kepala cleaning service menatap Arya penuh tanya. 'Kenapa Arya ada di sana?'
Pria itu berjalan mendekat, lalu menegur Arya mengenai posisinya saat ini.
“Bukannya kamu ada di lantai tiga, kenapa sekarang ada di sini?”
“Males di sana ada manusia jadi-jadian,” celetuk Arya begitu saja.
“Apa? Kamu lihat hantu di sana? Di mana? toilet, ya?”
“Di mana-mana ada. Bahkan barusan saja aku melihatnya,” tambah Arya semakin membuat bergidik pria di hadapannya.
Arya tidak ingin melanjutkan percakapan itu dan memilih untuk fokus pada jendela yang saat ini ada di depannya. Sampai semua selesai, ia baru kembali ke ruang loker.
"Lupa, bukannya aku tidak bawa bekal hari ini?” gumam Arya yang lupa jika tidak membawa makanan hari ini.
Arya berjalan ke kantin, berharap ada makanan yang pas dengan uangnya saat ini. Namun, sial untuk Arya karena saat ini kantin sedang penuh dengan karyawan kantor. Tentu saja ia tidak ingin tatapan mata semua orang terasa aneh
Arya memilih untuk berjalan ke tangga darurat dan berdiam diri di sana.
Sengaja untuk menahan rasa laparnya. Memilih memejamkan mata dan beristirahat hingga jam istirahat selesai.
Tiba-tiba, dua puluh menit setelah memejamkan mata, ada sebungkus makanan di sampingnya. Entah dari mana datangnya makanan itu, Arya membuka dan memakannya dengan rasa acuh.
Setelah selesai, Arya kembali ke ruang loker dan mengambil perlengkapannya untuk kembali membersihkan lantai tiga.
Sampai di pintu, Arya berpapasan dengan Rani. Dengan sengaja ia menabrak bahu wanita itu hingga terjatuh dan tidak perduli dengan rintihan Rani.
__ADS_1
Entah mengapa Arya merasa sangat kesal setiap melihat Rani. Seolah ingin selalu membuat wanita itu menderita. 'Aku butuh pelampiasan untuk meluapkan emosi saat papa tidak juga menaikkan posisiku sebagai staf perusahaan.'
To be continued...