Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
237. Tahu diri


__ADS_3

Pukul setengah sebelas siang, klien yang sudah ditunggu Arya dan Calista tiba di sana.


Ketiga orang itu berbincang sebentar sebelum mereka pergi ke lokasi apartemen yang ditawarkan. Beruntung hujan sudah sedikit reda saat mereka pergi.


Ketiga orang itu pergi menggunakan dua mobil. Arya sendiri ikut bersama mobil Calista.


Begitu tiba di lokasi, Gilbert semakin tertarik untuk membeli apartemen tersebut. Selain letaknya yang strategis, fasilitas dan keamanan tempat itu pun sudah tidak diragukan lagi.


Apartemen yang memiliki ruangan cukup luas tersebut memang terasa begitu nyaman untuk ditempati oleh pasangan suami istri.


Arya juga sempat berpikir ingin memberikan satu unit di apartemen tersebut untuk Putri suatu saat nanti. Pasti istrinya itu akan sangat senang.


Namun, mengingat harganya yang sangat mahal, Arya seketika ragu apakah ia mampu membelikan untuk sang istri.


Setiap ruangan pribadi apartemen tersebut memiliki dua kamar tidur di lantai atas. Di mana setiap kamar tidur memiliki masing-masing kamar mandi, sedangkan di lantai bawahnya, memiliki satu ruang tamu, dapur yang lumayan luas dan satu lagi yang bisa digunakan untuk ruang makan.


Ada satu kamar mandi di bagian depan jika ada tamu yang berkunjung dan ingin pergi ke sana.


"Sepertinya istriku akan sangat suka dengan apartemen ini. Aku sudah yakin dengan pilihan ini." Gilbert berucap dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Aku akan meminta asisten untuk mengurus semua yang dibutuhkan atas proses pembelian unit apartemen ini."


Setelah sepakat untuk membeli satu unit apartemen yang Arya tawarkan, Gilbert langsung kembali ke kantornya.


Arya sangat bahagia mendengar keputusan kliennya. Ia kemudian menatap Calista yang juga tengah tersenyum padanya.


Wanita itu mengangguk sembari menaikkan dua ibu jari. Membuat Arya mengembangkan senyum serupa.


"Sekali lagi terima kasih, Calista," ucap Arya dengan penuh semangat.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Calista yang sedang dikendarai oleh Arya.


"Sama-sama, Arya. Aku ikut bahagia untuk keberhasilanmu," balas Calista dengan tulus. Raut bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya.


"Aku harus segera memberitahu istriku

__ADS_1


kabar bahagia ini," imbuh Arya dengan wajah berbinar.


Seketika senyum di wajah Calista menghilang dan berganti menjadi wajah muram yang berbanding terbalik dengan langit yang tampak mulai bersinar cerah kembali.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Calista hanya diam menahan kesal.


Ia kesal setiap kali Arya mengingat dan menyebut istrinya saat mereka tengah bersama. Apakah Arya sangat bodoh? Hingga tidak peka sama sekali dengan perasaan Calista?


Atau memang wanita itu yang sudah tidak tahu malu karena masih saja mengharapkan pria yang sudah beristri?


Mungkin juga Arya ingin Calista tahu jika ada dinding pembatas kokoh yang begitu tinggi di antara mereka dan tidak akan bisa dengan mudah dihancurkan oleh wanita itu.


Semakin Arya menunjukkan sebesar apa cintanya pada sang istri, entah mengapa malah semakin besar pula keinginan Calista untuk menghancurkan hubungan pasangan tersebut.


'Akulah satu-satunya wanita yang berhak memilikimu, Arya. Bukan wanita tidak tahu diri itu,' gumam Calista yang saat ini hanya bisa mengumpat di dalam hati.


Berbanding terbalik dengan suasana hati Calista yang berubah buruk seketika, Arya justru merasa sangat bahagia.


Hari itu juga asisten Gilbert datang ke kantor pemasaran tempat Arya bekerja. Mereka melakukan proses jual beli sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan.


"Aku antar kamu pulang, ya Arya." Calista menawarkan diri seraya mengemas beberapa brosur di atas meja.


"Terima kasih, tapi aku mau singgah ke supermarket sebentar. Aku ingin membeli stok buah dan sayur di rumah." Arya memasukkan brosur dan beberapa berkas yang sudah ia kemas sebelumnya ke dalam tas ransel yang dibawa.


"Aku duluan, ya." Arya melambaikan tangan dan melangkah meninggalkan Calista.


"Arya, tunggu!" Calista sedikit berlari untuk menyusul. "Aku ikut." Calista mengimbangi langkah pria pujaan hati.


"Untuk apa? Aku mau ke supermarket, bukan ke butik." Arya mengangkat alisnya, menatap Calista sebentar sebelum kembali fokus melangkah ke depan.


"Ada yang mau aku beli juga. Sekalian aku bisa bantu kamu, kan? Jadi kamu bisa pulang lebih cepat." Calista memberikan alasan.


Arya menghentikan langkahnya sebentar, membuat Calista melakukan hal yang sama. Terlihat tengah berpikir dan menimbang apakah ia akan menerima tawaran temannya tersebut.


"Baiklah." Arya memberi jawaban yang diharapkan Calista.

__ADS_1


Sepertinya menerima tawaran wanita itu bukan hal yang buruk. Selain bisa menghemat ongkos yang harus ia keluarkan untuk naik kendaraan umum dengan Calista membantunya, belanja di supermarket, maka tugasnya akan cepat selesai dan ia akan segera pulang untuk bertemu dengan istri dan anaknya.


Sesampainya di supermarket, Arya mengambil dua troli dorong yang disediakan oleh pihak pusat perbelanjaan itu.


"Bawa ini saja biar lebih mudah." mendorong satu troli ke hadapan Calissa.


Hal itu membuat wanita tersebut mengerutkan kening.


"Kok, dua?" tanya Calista.


"Ya, kita harus berpencar untuk mencari barang yang dibutuhkan. Kamu cari belanjaan saja dulu, setelah itu baru bantu mencari belanjaan milikku. Aku sudah mengirimkan daftarnya lewat pesan chat," imbuh Arya.


Calista membelalakkan mata. Ia pikir mereka akan berjalan bersama layaknya pasangan suami istri yang sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga.


"Kenapa tidak bawa satu keranjang saja dan kita mencari barangnya bersama?"


"Kalau seperti itu, akan lama. Kalau kamu keberatan, aku akan mencarinya sendiri saja. Kamu cari barang yang kamu butuhkan saja." Arya mulai mendorong troly di tangannya memasuki pintu supermarket.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Kita bertemu di dekat kasir saja, ya." Calista berjalan di belakang Arya.


Sepertinya hari ini kesabaran Calista benar-benar diuji. Ia seakan dijatuhkan oleh harapan yang telah membuatnya melayang tinggi dan kemudian diempaskan dengan tiba-tiba.


Awalnya ia memang bahagia karena berhasil menjalankan niatnya, tetapi pada akhirnya ia dijatuhkan oleh ekspektasinya sendiri.


Memang bukan salah Arya, pria itu hanya menerima tawaran Calista yang ingin membantunya dan berpikir cara seperti itu akan jauh lebih cepat.


Hanya saja, Calista yang terlalu berharap dan asyik menyulam khayalan manisnya sendiri.


Dengan perasaan kesal, Calista tetap mencari daftar belanjaan yang dikirim oleh Arya padanya. Sebenarnya tidak ada barang yang ingin wanita itu beli.


Ia memberikan alasan agar Arya menerima tawarannya. Siapa sangka, Calista justru belanja kebutuhan wanita yang menjadi saingannya.


Daftar belanjaan yang diberikan oleh Arya bukanlah barang-barang yang sulit untuk Calista temukan. Ia rasa Arya sengaja melakukan itu karena tidak ingin mempersulitnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2