
Beberapa menit Rani berdiam diri di kamar mandi khusus itu. Hingga terdengar ada seorang pekerja lain yang masuk dan sedang melakukan rutinitas di sana.
“Siapa di luar?” tanya Rani yang saat ini memasang indra pendengarannya.
“Milen. Siapa, ya?”
“Aku Rani, apa kamu bisa membantuku?” ujar Rani yang merasa sangat lega karena ada orang yang bisa dimintai bantuan.
“Bantuan apa?”
“Pakaianku tertinggal di depan loker. Bisakah kau menolongku untuk mengambilnya? Tolong, aku sudah kedinginan saat ini karena belum mengenakan pakaian.”
“Astaga, kenapa bisa begitu? Sebentar, aku ke loker dulu.”
Lega rasanya ada yang mau membantu dirinya dan beberapa saat kemudian menerima pakaian miliknya. Rani mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong. Setelah mendapatkan pakaian, Rani kembali bekerja.
Sementara itu di sisi lain, kali ini wajah Arya sudah memerah karena bekerja seorang diri sejak beberapa menit lalu. Ia dari tadi yang tidak dibantu oleh Rani dan harus mengerjakan semua sendirian, merasa sangat kesal.
“Enak sekali, sejak kapan seorang cleaning service bisa bekerja dengan waktu yang bebas sepertimu? Memangnya ini perusahaan nenekmu?” sindir Arya dengan menatap tajam ke arah sosok wanita yang baru saja terlihat oleh matanya.
Arya kali ini tidak bisa mentolerir lagi apa yang dilakukan Rani karena seperti bekerja sesuka hati dengan terlambat beberapa menit. Ia merasa bahwa wanita itu tidak disiplin seperti dirinya yang sudah kembali bekerja sesuai jadwal, meski merupakan putra pemilik perusahaan.
Tidak peduli dengan ucapan pria yang sedang membersihkan jendela, Rani kini menyapu dan membersihkan tempat sampah yang mulai penuh dengan kertas.
Ia sebenarnya ingin menanggapi, tetapi tidak melakukan itu karena mengetahui hanyalah seorang wanita rendahan yang tidak pantas membuka suara di depan penerus pemimpin perusahaan tersebut.
'Sabar. Kau adalah wanita hebat yang bisa menjaga emosi dengan baik. Jangan sampai satu kesalahan malah membuat dipecat," gumam Rani mencoba untuk membesarkan hati agar tidak terpancing emosi dengan sikap arogan seorang pimpinan perusahaan.
Namun, Rani kembali mengembuskan napas panjang dan berat begitu melihat kesengajaan Arya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Arya melintas dan membuat tempat sampah jatuh. Sampah di dalamnya pun berserakan di lantai, membuat pekerjaan Rani bertambah.
Merasa kesabaran telah habis dan juga karena sangat kesal dengan perbuatan yang seolah selalu sengaja padanya, Rani menarik pakaian Arya dari belakang.
Hal itu membuat Arya merasa murka karena langkah kaki dihalangi oleh wanita yang masih menarik pakaian bagian atas yang kenakan.
“Shit! Cari mati, kamu!” umpat Arya kesal dengan wajah memerah.
“Kita impas! Gara-gara kamu, beberapa kali pekerjaanku tidak selesai dengan benar. Kamu selalu membuat aku bekerja dua kali lipat. Sekarang, aku hanya membalas dengan ringan. Tidak sepatutnya kamu marah seperti ini.”
Entah apa yang membuat Rani sangat berani hari ini, hingga tidak memperdulikan apapun ketika meluapkan emosi pada pria tersebut saat selalu memancing amarah.
Setelah mengomel, Rani tidak membantu Arya. Langkahnya justru dipercepat dan pergi ke ruangan lainnya.
Sementara Arya yang tadi berniat untuk membalas mengumpat, tidak jadi melakukan karena Rani langsung pergi setelah marah.
"Sepertinya wanita itu bisa diajak berteman. Aku senang menyiksanya. Padahal sebenarnya aku dulu berpikir jika ia bisa diandalkan sebagai seorang teman, tapi ternyata salah. Dia hanyalah seorang wanita menyebalkan dan membuatku merasa emosi."
Arya menghisap benda yang mengandung nikotin itu selama beberapa menit dan menghiasi udara sekitar dengan kepulan asap yang membumbung tinggi.
Hingga beberapa saat kemudian, kini tinggal tersisa puntungnya saja. Merasa sudah cukup lama ia berada di sana ketika jam kerja, kini bangkit dari posisinya dan kembali ke tempat yang harus dibersihkan.
Langkah kaki Arya kini kembali ke lantai tiga. Di sana, ia melihat Rani sedang berbicara dengan salah satu karyawan yang dianggap sepertinya menaruh perhatian.
Apalagi ia sebagai seorang pria mengetahui bagaimana tatapan seorang pria yang pada wanita ketika memiliki sebuah ketertarikan.
“Ini kantor, bukan tempatnya orang cari perhatian. Kamu mau aku laporkan kepada atasan?” Setelah mengatakan kalimat itu sambil menatap tajam Rani dan salah satu staf perusahaan lain, Arya berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Rani menatap tajam pada Arya, tetapi sama sekali tidak membuka mulut, lalu berbalik badan dan kembali bekerja setelah mengatakan pada salah satu staf di perusahaan yang tak bertanya tentang masalah pekerjaan.
__ADS_1
'Arya seperti orang yang kurang perhatian saja, sehingga selalu saja menghinaku. Menyebalkan sekali dia!' umpat Rani dengan wajah memerah.
Di sisi lain, Arya tidak menyukai ada yang mengambil wanita itu untuk dijadikan kekasih. Pria itu berpikir akan membuat Rani tersiksa dan menjadi mainan barunya agar tidak bosan saat bekerja.
Begitu melihat Rani berjalan ke arahnya, ia mengarahkan jari telunjuk pada sebelah kanan.
“Di sisi sana masih kotor. Kamu mau aku laporkan soal kinerjamu yang kurang maksimal dan hanya berpacaran di perusahaan saat masih jam kerja?”
Sementara Rani masih terus diam dan tidak berniat untuk membuka suara karena otak saat ini tengah berpikir jika yang terjadi pada Arya jauh lebih buruk.
Jika ia dimarahi oleh putra pemilik perusahaan, sementara Arya mendapatkan sebuah hukuman oleh ayah sendiri dan jauh lebih menyesakkan. Hal itulah yang membuat ia sedikit bisa bersabar akan sikap jahat Arya padanya.
Melihat apa yang terjadi tadi, Arya bersemangat untuk kembali membuat Rani mendapatkan hal yang akan selalu diingat.
Arya sedang mengepel area lantai tiga, ia sengaja membuat basah lantai yang akan dilewati oleh Rani.
Benar saja, Rani baru saja melangkah ke area itu tanpa melihat ke bawah. Ia pun terpeleset hingga terjatuh dan meringis menahan rasa sakit ketika terjatuh. Kaki Rani terkilir dan tidak bisa berjalan dengan baik saat ini.
"Kakiku," lirih Rani yang masih mencoba untuk meluruskan kaki agar tidak semakin nyeri.
Arya kini sudah berdiri di hadapan wanita yang terjatuh itu, lalu mengulurkan tangan. "Makanya, kalau kerja yang hati-hati dan jangan ceroboh!"
Dengan terpaksa Rani meraih tangan itu. Namun, tidak bisa berdiri maupun berjalan. Kakinya terasa sangat sakit saat ini karena terkilir.
Tidak ingin banyak berbicara, ia kini membungkuk dan tanpa membuang waktu langsung meraup tubuh Rani ke dalam gendongannya.
Rani kali ini benar-benar sangat shock melihat Arya yang yang saat ini tengah menggendongnya.
To be continued...
__ADS_1