
Tentu saja ia mengetahui siapa yang bangun dan bersiap untuk menyapa Bagus yang baru saja bangun tidur dan biasanya selalu langsung ke dapur untuk minum air hangat. Itulah rutinitas sehari-hari dari pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya karena setiap bangun tidur selalu minum air hangat.
Apalagi manfaat dari minum air hangat sangat bagus untuk kesehatan. Ia selalu mendapatkan petuah dari pria itu untuk membiasakan minum air putih hangat karena memiliki kemampuan untuk melancarkan pencernaan dan bisa melarutkan, serta memecah partikel makanan.
Tidak hanya itu saja, dengan minum air putih hangat juga bisa membuat pergerakan usus menjadi lancar. Manfaat minum air hangat malam hari dan pagi hari saat perut masih kosong, membuat pencernaan lebih lancar.
Namun, ia merasa sangat malas melakukannya karena terbiasa minum air dingin dari kulkas yang menurutnya jauh lebih segar. Meskipun ia mengetahui bahwa dampak dari minum air dingin menyebabkan gangguan pencernaan dan menghilangkan nutrisi.
Bahkan akan memperlambat proses pencernaan makanan karena air es akan menyempitkan pembuluh darah. Ketika tubuh membutuhkan waktu terlalu banyak untuk mencerna makanan, nutrisi akan habis dan hilang sebelum diserap oleh tubuh.
Pengetahuan itu ia dapatkan dari sahabat baiknya yang dulu melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan kesehatan karena merupakan siswa yang paling cerdas di kelas dan akhir-akhir ini mendengar kabar bahwa sahabatnya tersebut telah menjadi seorang spesialis di salah satu rumah sakit.
Namun, ia tidak tahu di mana tepatnya karena kehilangan kontak setelah ia menikah dan pergi merantau ke Jakarta bersama sang suami hingga bertahun-tahun berada di sini.
Meskipun tidak bisa merubah nasib karena hidupnya dari dulu hanya seperti itu saja, tapi Putri merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan sosok pria yang saat ini menjadi ayah dari janin yang ada di dalam kandungannya.
Melihat Bagus terlihat menggendong putranya yang baru saja bangun tidur dan langsung mengarahkan kedua tangan kepadanya.
"Ibu."
Putri yang saat ini memilih untuk duduk di kursi, menyambut uluran tangan dari putranya.
"Putraku sudah bangun rupanya. Kemarilah, Sayang."
Sementara itu, Bagus yang sebenarnya dari tadi sudah bangun, tetapi malas beranjak dari tempatnya karena hari ini berencana untuk libur dan pergi menemui Amira Tanyang merupakan saudara tiri dari sang istri.
__ADS_1
Ia semalaman memikirkan permohonan dari Putri yang menyuruhnya untuk meminjam uang pada saudara tiri istrinya tersebut. Awalnya, sama sekali tidak tertarik untuk menuruti permintaan dari wanita yang telah mengkhianati kepercayaannya.
Namun, saat ia berniat untuk beristirahat, selalu terbayang wajah pucat pasti dari sosok wanita yang sedang mengandung. Ia memikirkan bagaimana nasib dari sang istri nanti jika sama sekali tidak mempunyai uang.
Apalagi saat hamil, biasanya ingin sesuatu yang disebut dengan mengidam. Ia tidak ingin Putri menderita karena tidak bisa makan sesuatu yang diinginkan ketika hamil, sehingga berpikir ingin meminjam uang pada Amira Tan yang diketahuinya mempunyai banyak uang.
Rencananya hari ini ia akan libur kerja dan menemui di kantor. Tentu saja ia akan mengatakan bahwa dirinyalah yang akan meminjam uang. Bukan Putri karena ingin menutupi aib dari sang istri. Apalagi kedua kakak beradik itu terlihat sangat saling membenci.
Namun, Ia berpikir suatu saat akan menjalin hubungan baik karena di dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama dari gen sang ayah.
Bagus kini mengerutkan kening karena merasa sangat aneh melihat sikap manis yang ditunjukkan oleh Putri pagi ini. Padahal biasanya yang sering terjadi adalah selalu marah-marah setiap pagi karena efek morning sickness yang dialami.
Bahkan bocah berusia 3 tahun tersebut sering menjadi sasaran kemurkaan dan membuatnya memarahi Putri agar tidak bersikap buruk pada putranya yang tidak tahu apa-apa.
'Kenapa aku merasa sikapnya hari ini sangat aneh? Apa yang terjadi semalam? Apa ia baru saja mendapatkan kabar baik, sehingga terlihat sangat bahagia?' gumam Bagus yang saat ini sudah menurunkan putranya pada kursi di sebelah kanan Putri.
Meskipun di dalam pikirannya saat ini menari-nari berbagai macam pertanyaan mengenai sikap Putri yang berubah seperti dulu lagi.
'Sepertinya hari ini dia sangat bahagia. Bahkan sudah memasak seperti biasanya sebelum hamil. Padahal sebelumnya aku yang memasak semenjak Putri hamil.'
Bagus kini berbalik badan dan melihat interaksi dari ibu dan anak tersebut tak jauh dari hadapannya.
"Tumben kamu hari ini terlihat rajin karena sudah menyiapkan sarapan. Apakah kamu tidak lemah seperti biasanya setelah muntah-muntah di pagi hari?"
Sebenarnya ia merasa sangat konyol memikirkan sikapnya dan pertanyaan yang baru saja diucapkan.
__ADS_1
'Bisa-bisanya aku bersikap santai seperti ini dengan menanyakan mengenai perihal kehamilan istriku yang merupakan benih dari pria lain? Di mana harga dirimu yang sebenarnya, Bagus?' gumam Bagus yang saat ini merasa bahwa ia benar-benar sangat bodoh karena masih saja merasa kasihan pada wanita yang tak jauh dari hadapannya.
Sementara itu, Putri yang saat ini tengah mengusap rambut hitam berkilat putranya saat bermanja-manja padanya, mengalihkan pandangan untuk menatap wajah dengan rambut berantakan sang suami yang masih memegang gelas di tangan kanan.
"Hari ini aku tidak seperti biasanya yang lemas dan muntah-muntah. Jadi, aku langsung memasak karena merasa lapar," ujar Putri yang kali ini memilih untuk berbohong karena tidak mungkin ia mengatakan sengaja memasak untuk pria yang masih menatap intens padanya karena itu akan menimbulkan rasa curiga.
Ia memang bukanlah seorang wanita yang terpelajar seperti saudara tirinya, tetapi menyadari bahwa ada potensi darinya yang bisa membuat semua orang mempercayai apapun yang dikatakan.
Tentu saja ia akan memanfaatkan kelemahan dari pria yang selalu tidak pernah tega padanya dengan memakai alasan kehamilan.
"Apa kamu tidak pergi bekerja? Tumben sekali jam segini baru bangun."
Refleks Bagus menaruh gelas di tangannya pada meja dapur dan menggelengkan kepalanya.
"Buat apa aku bekerja karena sudah tidak ada lagi yang kunafkahi. Hanya memberikan makan pada Putra, tidak perlu membuatku harus bekerja keras."
Putri hanya tersenyum masam mendengar perkataan dari sang suami yang seolah menyindirnya. Namun, ia kali ini memilih untuk tidak membuang waktu atau bertele-tele mengatakan ide dari Arya.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
Bagus yang kali ini membuang pandangannya ketika melihat sikap serius Putri.
"Kali ini apa lagi yang kamu inginkan dariku?" Bagus kali paham kenapa Putri memasak karena ingin meminta sesuatu darinya dan ia merasakan sebuah firasat buruk.
"Izinkan aku dan Arya tinggal di sini karena kami tidak punya uang dan juga tidak mungkin akan mengontrak rumah," ucap Putri yang saat ini sudah memusatkan keberaniannya pada sosok pria yang terlihat berdiri menjulang tak jauh dari hadapannya.
__ADS_1
To be continued...