Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
47. Pikiran buruk


__ADS_3

Putri yang saat ini menatap intens wajah wanita berbadan gemuk yang menjaga putranya dengan perasaan berkecamuk karena benar-benar khawatir jika putranya mengalami hal yang buruk akibat perbuatannya yang pergi semalaman.


Ia bahkan bisa melihat wajah penuh kekhawatiran dari wanita tersebut. "Cepat katakan padaku dan jangan membuatku semakin bertambah khawatir memikirkan tentang hal-hal buruk."


'Jika sampai terjadi hal yang buruk pada putraku, aku tidak akan pernah memaafkan diriku,' gumam Putri yang saat ini mulai mendengarkan penjelasan dari sosok wanita paruh baya tersebut.


"Sebenarnya putramu mengalami demam yang melebihi 37,2°C yang sudah kuukur dari ketiaknya. Sementara suhu melebihi 37,8°C saat diukur dari mulut. Karena itulah aku bertanya padamu tentang obat apa yang biasa diberikan saat demam, tapi kamu tidak membalas pesan dan saat kutelepon pun tidak aktif."


"Tadi dokter sudah menjelaskan padaku, bahwa demam pada anakmu dipicu oleh virus, seperti virus penyebab influenza. Meskipun tadi aku sudah melakukan penanganan darurat untuk mengatasi demam yang dialami anakmu dengan mengompres dahi mengunakan air hangat, tapi tidak kunjung turun demamnya."


"Saran dari dokter tadi memberikan asupan berupa makanan dan minuman hangat dan menghangatkan tubuhnya dengan selimut dan memberikan obat. Namun, tidak semua obat boleh diberikan pada anak yang sedang demam karena harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, agar anakmu bisa diobati dengan tepat dan sekarang sudah turun demamnya."


Wanita berbadan gemuk tersebut sudah menjelaskan panjang lebar tentang perkataan dari dokter yang semalam menangani karena tidak ingin disalahkan. Jujur saja ia benar-benar takut jika sampai terjadi hal buruk pada anak yang dijaganya dan membuatnya harus bertanggungjawab.


Jadi, ia berusaha untuk menjelaskan tentang semuanya pada ibu dari anak tersebut. Meskipun sebenarnya, ia ingin sekali mengumpat karena wanita itu menonaktifkan ponsel dan menghilang semalaman.


Sementara itu, Putri yang saat ini tengah duduk di kursi sebelah ranjang putranya sambil menggenggam erat telapak tangan mungil itu.


"Maafkan Ibu, Putraku."


Putri kini mengambil uang pemberian Arya yang tadi ditaruh di dalam dompet. Kemudian memberikan pada wanita yang telah menjaga putranya dengan baik dan membawa ke klinik.


"Terima kasih telah menjaga putraku dengan baik. Kamu bisa pulang sekarang dan beristirahat. Sekarang aku yang akan menjaga putraku."


"Terima kasih, Putri." Membulatkan kedua mata begitu melihat uang yang diberikan. "Ini terlalu banyak."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai bonus untukmu karena semalaman menjaga putraku. Pulanglah sekarang karena aku yang akan berada di sini," ucap Putri yang saat ini mengusir secara halus wanita gemuk itu karena tidak ingin suaminya bertemu dan mengetahui bahwa ia menitipkan putranya.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas uangnya dan aku pamit pulang dulu karena suamiku tadi sedang pergi ke kantin bersama putraku."


Berjalan keluar dari ruangan begitu melihat Putri menganggukkan kepala untuk mengiyakan perkataannya.


Di saat bersamaan, ia melihat seorang pria yang berjalan cepat menuju ke arahnya dan melewatinya. Kemudian masuk ke dalam ruangan perawatan anak laki-laki yang dirawatnya.


"Siapa pria itu? Apa pria itu adalah ayah dari Putra? Sepertinya benar dia adalah ayah dari Putra. Apa aku perlu menyapanya?"


Masih terdiam dan menimbang-nimbang keputusannya, wanita paruh baya tersebut memilih untuk berbalik badan dan berjalan menuju ke ruangan untuk menyapa suami Putri dan mengungkapkan permohonan maaf.


Namun, saat tangannya hendak membuka pintu di hadapannya, ia mendengar suara bariton dari dalam dan membuatnya diam di sana untuk menguping.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi pada putra kita? Jika Putra dirawat di sini semalam, kenapa tidak mengabarkan padaku? Aku semalaman tidak bisa tidur karena menunggu kalian pulang ke kontrakan. Sebenarnya kamu pergi ke mana kemarin?"


Putri yang masih fokus mengamati anaknya yang tidur pulas karena efek obat, kini memilih bangkit dari kursi dan bersitatap dengan pria di hadapannya.


"Apa aku harus selalu terpenjara di kontrakan dan tidak boleh keluar? Selama ini, aku tidak pernah keluar rumah. Aku selalu sibuk mengurus rumah dan anak, serta semua kebutuhanmu. Jangan membuatku bertambah stres!"


Puas melampiaskan amarah serta kekesalannya, Putri memalingkan wajah dan kembali mendaratkan tubuhnya di kursi. Ia benar-benar sangat kesal karena memikirkan Arya yang tadi tiba-tiba berubah masam padanya.


Belum lagi, ia mengkhawatirkan keadaan dari putranya yang sakit dan ditambah lagi di bombardir pertanyaan oleh pria yang di anggapnya sangat tidak berguna tersebut.


Wahyu Pramono yang saat ini merasa bersalah karena tidak mencoba mengerti tentang keadaan sang istri yang sibuk menjaga putranya saat sakit, kini berjalan mendekati sosok wanita yang masih terlihat masam dan marah padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Lupakan pertanyaanku tadi. Bagaimana dengan keadaan Putra? Apa demamnya sudah turun?"


Mengarahkan tangannya pada kening putranya dan merasa lega karena sudah tidak terasa panas. "Syukurlah demamnya sudah turun. Aku akan bertanya dulu pada perawat mengenai Putra."


Mengerti ada warning saat mendengar suara dari sang suami, refleks Putri langsung bangkit dari posisinya dan menatap Bagus dengan wajah masam.


"Biar aku saja! Kamu yang gantian menjaga Putra. Sekalian aku mau keluar sebentar untuk mencari makanan dan minuman di kantin."


Tanpa menunggu jawaban dari Bagus, Putri kini memilih untuk melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu.


'Aku harus berbicara dengan Arya untuk memastikan sesuatu. Kenapa tadi sikapnya berubah drastis begitu mengetahui putraku sakit. Aku harus tahu apa yang menyebabkan sikapnya tiba-tiba berubah. Apa ia sudah membuangku karena bosan?'


Saat Putri menemukan tempat yang sepi, ia langsung meraih ponsel dan menghubungi nomor Arya.


Menunggu hingga beberapa lama, tapi tidak kunjung diangkat juga. Tubuhnya lemas lunglai saat memikirkan bahwa Arya sudah tidak menginginkannya lagi.


"Apa Arya sudah tidak ingin bertemu denganku lagi? Apa ia sudah bosan dengan tubuhku dan tidak menginginkanku?"


Berbagai macam pertanyaan kini menari-nari di otak Putri saat merasa takut jika pria yang dipuja sudah membuangnya.


Selama beberapa saat, ia diam dan memilih untuk berjalan menuju ke arah ruang perawat untuk bertanya mengenai keadaan putranya dan berharap bisa membawa pulang hari ini karena berpikir biaya rawat inap akan menguras isi dompet dan tentu saja membuatnya bingung.


"Semoga biaya perawatan tidak banyak karena bisa-bisa nanti kami tidak bisa makan," ucap Putri yang saat ini tengah merasa khawatir jika biaya perawatan putranya mengeluarkan banyak uang.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2