
Dengan langkah yang berat, Arya berjalan menuju ruang HRD. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria yang memiliki perut buncit dan kumis tipis.
Pria itu menerima lembaran yang Arya berikan, lalu berdiri untuk meraih beberapa lembar kertas yang baru saja dicetak.
“Ini, tanda tangan di sini. Itu adalah perjanjian kerja. Kamu bisa baca dulu sebelum tanda tangan," ucap pria yang berusia 35 tahunan tersebut pada sang putra mahkota.
Sebenarnya ia mengetahui siapa pria yang ada di hadapannya, tetapi karena tadi sudah mendapat pesan dari sang pemimpin perusahaan, bahwa semua staf harus bersikap biasa seperti pada staf lain dan tidak berlebihan pada Arya.
Arya membaca semua dengan seksama, tidak ada dari kalimat itu yang membuatnya senang. Justru, hatinya terasa terbakar dan tidak ada kata ingin melanjutkan saat ini.
“Gajinya hanya ini?” tanya Arya sambil menunjuk pada nominal gaji yang akan diterimanya setiap bulan.
Dengan anggukan kepala, tanda membenarkan pertanyaan yang sebenarnya dianggap sangat konyol karena semua sudah jelas tertera di sana, tetapi masih bertanya. Namun, ia memilih untuk menjelaskan dengan detail karena mengetahui pria di hadapannya tersebut sedang merasa shock.
“Ya, itu adalah gaji standart untuk seorang cleaning service. Apa kamu keberatan? Kamu tidak harus membubuhkan tanda tangan jika keberatan dengan semua ini."
"Tadi, kata pesdir seperti itu. Masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan di luar sana dan mereka pasti mau menerima tawaran di sini. Jadi, apa kamu tidak menerima pekerjaan ini? Jadi, kami bisa membuka lowongan pekerjaan untuk posisi ini."
Tanpa pikir panjang, Arya menandatangani kontrak kerja itu. Ia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk sekedar berpikir dan membuatnya merasa seperti orang bodoh. Namun, ia mengingat sedang membutuhkan uang untuk biaya kelahiran putranya, sehingga kini memilih untuk menerima pekerjaan rendahan itu.
Arya kini diarahkan untuk menuju ruang cleaning service dan bertemu dengan kepala yang bernama Jono.
Arya belum mendapatkan seragam cleaning service, sehingga ia harus melepaskan jasnya dan hanya mengenakan kemeja putih beserta celana kain hitam yang saat ini melekat di tubuhnya.
Ia kini menerima troley berisi alat-alat kebersihan dari pria itu yang mulai menjelaskan mengenai semua pekerjaan yang harus dilakukan.
Meskipun sebenarnya otaknya benar-benar blank ketika kepala cleaning service menjelaskan banyak hal padanya.
Kemudian Arya disuruh untuk mulai bekerja di bagian toilet yang ada di lantai tiga. Toilet staf perusahaan memang menjadi tempat biasa yang harus mendapat perhatian dari staf perusahaan seperti Arya.
__ADS_1
Dengan kesal, ia mulai mengepel dan menyeka kaca yang yang tampak buram. Tidak sedikit staf perusahaan yang berlaku sangat jorok dengan membasahi toilet yang seharusnya kering.
Seperti sengaja dan hal itu benar-benar membuatnya kesal. Selesai dengan toilet, kini harus membuat minuman untuk beberapa orang yang memiliki jabatan lebih tinggi dari seorang staf perusahaan di lantai tiga.
“Arya, tolong buatkan kopi untuk tiga orang, lalu dua teh hangat untuk lima orang. Antarkan ke ruangan manajer ya!”
Tanpa menjawab karena ia merasa sangat kesal dan marah, kini Arya berjalan menuju pantri.
Ia mulai menyiapkan cangkir dan juga bahan-bahan untuk membuat kopi dan teh. Satu persatu ia buat, hingga semua siap diantarkan. Tentu saja ia bisa membuatnya karena saat berada di kontrakan, membuat minuman sendiri tanpa dilayani oleh pelayan.
Bahkan saat Putri lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, membuatnya terbiasa membuat sendiri kopi atau teh.
Arya masuk pada ruangan tertutup, dan saat terbuka, ternyata ada rapat di sana. Wajah-wajah yang duduk di sana sangat dikenal olehnya. Rasa malu muncul, hingga membuatnya seperti ingin menggunakan topeng agar tidak dikenali.
Arya meletakkan satu persatu cangkir di meja yang ada di sudut ruangan. Lalu ia kembali keluar tanpa berpamitan pada semua orang di sana.
Meski ia tahu akan ada perbincangan tidak sedap mengenai dirinya, tetapi tidak perduli. Ia memilih untuk diam dan kembali melanjutkan pekerjaan dengan menyapu ruang kerja staf perusahaan di lantai tiga.
'Ini sangat gila! Aku bahkan tidak pernah bermimpi atau berpikir akan bekerja kasar seperti ini. Bahkan aku selalu beralasan pada Putri karena akan bekerja di kantor dan memimpin perusahaan, tapi semuanya kacau hari ini,' umpat Arya saat masih sibuk bekerja dan membuatnya merasa sangat kesal dan marah pada sang ayah.
Tempat sampah kecil di setiap bilik kerja staf perusahaan penuh dengan kertas dan beberapa bungkus makanan yang mereka konsumsi saat bekerja. Itu membuat Arya kesal karena tidak ada yang boleh makan pada saat jam kerja.
Teguran yang ia layangkan tidak dihiraukan oleh beberapa staf perusahaan, hingga hampir saja emosinya membuatnya memukul salah satu staf perusahaan di sana.
Pria yang saat ini tengah sibuk memeriksa laporan di layar komputer, merasa terganggu dengan suara cleaning service yang dianggapnya mengganggu konsentrasinya dan membuatnya mengumpat.
“Kamu itu harus tahu diri! Semua pekerjaan di perusahaan ini, jika tidak ada kami yang bekerja seperti ini, tidak akan bisa berkembang. Seharusnya kami pantas mendapatkan perlakuan yang lebih layak. Kamu masih seorang cleaning service baru. Jadi, jangan bersikap tidak sopan seperti itu!"
Arya mengeratkan giginya, hingga terdengar suara gesekan di antara rahang. Tidak ingin bermasalah dengan pekerjaan hari ini, ia memutuskan untuk melanjutkan saja pekerjaan di sana.
__ADS_1
Lalu, seorang cleaning service lain memanggilnya. Ia menyuruh Arya kembali membersihkan toilet, tetapi kali ini di lantai empat.
Arya memilih pergi dan tidak lagi menghiraukan staf perusahaan yang memberikan tatapan tajam padanya.
Sampai di depan pintu toilet, ia terlihat kesal, bagaimana tidak? Toilet itu bahkan jauh lebih kotor dari yang ada di lantai tiga. Aroma tidak sedap membuatnya kesal. Bahkan sampai mengumpat.
Tidak ada pilihan lain selain membersihkan semua itu. Arya menutup hidungnya sambil menggosok permukaan closet yang tampak banyak noda kotoran.
“Sial! Mereka sangat menjijikkan. Apa mereka tidak punya mata? Kenapa bisa mereka melakukan ini?” gerutu Arya yang kini masih menggosok area yang sama.
Selesai dengan satu ruangan, melanjutkan ke tempat lainnya. Kali ini ternyata lebih parah dari sebelumnya. Arya memuntahkan sesuatu dari mulutnya hingga tubuhnya lemas.
Tidak sanggup untuk melanjutkan, Arya ingin mengajukan protes pada ayahnya. Ya, itu dilakukan dengan langkah yang cepat sampai di ruangan pertama yang disinggahi pagi ini.
Sang ayah tidak ada di tempatnya, itu membuat Arya kesal dan bertanya pada sekretaris yang ada di ruang depan.
“Tuan Ari sedang rapat di lantai atas bersama beberapa pemegang saham dan kepala cabang," jawab Jesy yang kali ini melihat penampilan berantakan dari sosok pria dengan peluh membasahi pelipis tersebut.
Tidak menunggu waktu lama, Arya melangkah pergi dari sana menuju ruang meeting. Ruangan yang tertutup rapat, hingga membuat Tomy menunggu beberapa menit untuk bisa masuk ke sana.
Dengan kasar ia membuka pintu dan memanggil ayahnya tanpa peduli tatapan para pemegang saham dan kepala cabang.
“Papa! Aku mau bekerja sebagai staf perusahaan biasa yang ada di lantai tiga. Aku tidak seharusnya bekerja kasar seperti cleaning service."
"Aku memiliki kepandaian dalam mengurus perusahaan. Kenapa Papa membuatku bekerja sebagai cleaning service seperti ini?”
Seluruh mata menatap Arya. Ucapannya hanya disambut santai oleh Ari Mahesa yang kini berkacak pinggang.
“Kau benar-benar tidak memiliki sopan santun karena masuk tanpa permisi.”
__ADS_1
Tubuh Arya menegang saat mendengar kalimat pertama yang dilontarkan sang ayah. Kalimat selanjutnya sungguh membuatnya membulatkan kedua mata dan tidak berkutik.
To be continued...