
Kini, Arya mengerti apa yang menjadi alasan Putri selalu menyebutkan kata hemat setiap hari. Ia tidak ingin mempermasalahkan apa yang dilakukan sang istri dan akan membebaskannya karena memang nanti akan mendapatkan gaji besar setelah bekerja di perusahaan.
“Baiklah, aku rasa meskipun ini terlalu berlebihan, sangat yakin dan percaya padamu. Bahwa kamu bisa mengatur keuangan kita nanti. Bukankah kamu selalu bilang harus menyimpan uang untuk anak kita?"
Putri yang kini tersenyum simpul, kembali mengangguk untuk mengiyakan semua yang dikatakannya oleh Arya.
"Iya. Aku pasti akan menyimpan uang untuk biaya persalinan yang tinggal dua bulan lagi."
Arya kini mengingat tentang perkataan dari sang ayah dan lupa memberitahu Putri, sehingga ia kini memilih untuk mengatakannya.
"Sebenarnya papa kemarin bilang akan menanggung biaya rumah sakit saat kamu melahirkan, tapi aku tidak ingin terlalu berharap. Jika nanti tiba-tiba dia berubah pikiran, kita yang susah. Jadi, tetap harus menabung untuk anak kita, oke."
"Iya, kamu benar. Aku akan menabung dan berhemat. Jadi, saat kamu mendapatkan gaji pertama, akan lebih menyisihkan untuk kelahiran putra kita nanti. Sekarang kamu siap-siap sana! Aku akan membereskan ini. Jangan sampai kamu terlambat saat hari pertama bekerja."
Putri kini bangkit berdiri dari posisinya dan membereskan bekas makanan.
Sementara Arya yang melihat jam dinding mulai bergerak, membuatnya memilih segera bersiap untuk pergi mandi.
Setengah jam kemudian, akhirnya tiba di mana Arya akan berangkat bekerja.
Kali ini, Putri mengantarkan sampai pintu gerbang depan dan mencium punggung tangan sang suami dan mengatakan agar hati-hati di jalan serta berdoa semoga sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Arya yang sebelumnya mencium kening Putri dan membungkukkan badan untuk mencium perut buncit yang di dalamnya ada buah hatinya, kini melambaikan tangan begitu mulai berjalan untuk berangkat bekerja.
Setelah suaminya berangkat, Putri kembali berjalan menuju rumah majikan. Ya, ia sudah memohon dengan sangat pada janda kaya tersebut untuk bisa bekerja sampai akhir minggu ini.
Hal itu membuat pemasukannya masih bertahan. Ia bisa saja menggunakan uang tersebut untuk belanja kebutuhan sehari-hari hingga Arya menerima gaji pertama.
Tentu saja ia tahu jika bekerja di perusahaan akan menerima gaji satu bulan sekali, berbeda dengan ia yang bisa langsung menerima uang begitu selesai bekerja, sehingga bisa langsung membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan mereka.
Sampai di rumah nyonya Brenda, napas Putri tersengal. Ia hampir tidak bisa bertahan karena berjalan terlalu jauh pagi ini. Semua itu karena efek kakinya yang bengkak.
Ia tahu bahwa kaki yang bengkak saat hamil adalah masalah yang umum terjadi dan biasanya menyerang bagian tungkai, pergelangan kaki, kaki, hingga jari.
__ADS_1
Menurut dokter yang menanganinya, pembengkakan pada kaki ini disebut juga dengan edema. Gangguan ini terjadi akibat adanya penumpukan cairan di dalam jaringan tubuh dan ia sudah melakukan cara yang disarankan oleh dokter, tapi tidak kunjung membaik.
Melihat keadaan Putri, nyonya Brenda menyuruh Putri untuk beristirahat terlebih dahulu karena benar-benar merasa iba pada wanita yang selama ini meringankan pekerjaan rumahnya.
“Jika sudah merasa lebih baik, kamu bisa kembali bekerja.”
“Baik, Nyonya. Maafkan aku karena malah menyusahkan di sini saat tidak langsung bekerja," ucap Putri yang merasa bersalah."
"Tidak apa-apa. Aku tidak mempermasalahkan itu. Lebih baik kamu beristirahat dulu." Brenda kini berjalan ke belakang dan meninggalkan Putri.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya Putri bisa kembali bekerja seperti biasa. Mencuci, memasak untuk makan siang, dan juga menyetrika pakaian. Semua pekerjaan dilakukan dengan hati yang bahagia, hingga menarik perhatian nyonya Brenda.
“Putri, aku lihat kamu sedang bahagia. Apa kamu baru saja mendapatkan lotre?”
“Tidak, Nyonya. Bukan lotre yang membuat saya bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya suami bekerja kembali," sahut Putri yang kini terlihat berbinar saat menjawab pertanyaan majikannya.
“Ah ... syukurlah. Senang mendengar kabar ini darimu. Aku yakin, setelah ini, kamu tidak perlu melakukan pekerjaan kasar ini lagi.” Brenda yang ikut merasa senang mendengar kabar baik dari seorang istri malang yang selama ini harus banting tulang karena suami tidak mau bekerja.
Putri yang masih diliputi kebahagiaan, tidak berhenti mengulas senyuman pada wanita yang jauh lebih muda darinya tersebut.
Kini, Brenda terkekeh dan kembali menggoda Putri yang terlihat sangat bahagia di hadapannya. "Tentu saja, aku bisa saja menghubungimu dan memintamu hanya memasak di sini. Apa aku bisa melakukannya?”
Tanpa pikir panjang, Putri langsung menjawab karena sama sekali tidak keberatan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Apalagi ia merasa sangat berhutang budi pada wanita itu karena bisa menopang kebutuhan hidup saat bekerja di sana.
“Tentu saja, selama saya bisa melakukannya, akan dengan senang hati memasak untuk Anda, Nyonya.”
“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak ingin mengganggu.” Brenda yang kini ingin memeriksa pekerjaannya, kini mengusap lembut pundak Putri sebelum berjalan pergi dari sana.
Putri tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya hari ini hingga semua selesai.
Tanpa terasa, waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kasar pun berakhir.
Ia berpamitan dan pulang dengan langkah yang ringan.
__ADS_1
Sebelum pulang, majikannya memberikan bonus padanya. Beberapa lembar uang membuat Putri semakin bersemangat.
Rencana untuk bertemu doketr akan ia bicarakan dengan Arya. Sudah waktunya ia memeriksakan kehamilannya dan mengambil vitamin untuk kesehatan bayi yang ada dalam perutnya.
“Kamu memberikan banyak kebahagiaan beberapa hari ini. Mama akan memberikan makanan yang lezat agar kamu juga bisa merasakannya." Sambil mengusap perutnya yang besar, Putri berjalan hingga sampai di rumah. Tentu saja Arya belum kembali dari kantor karena ia tahu akan pulang sore hari.
Tentu saja pria itu membutuhkan waktu untuk bisa sampai di rumah. Pesan singkat Putri kirim agar suaminya bersemangat saat bekerja di hari pertama.
Aku memasak masakan kesukaanmu, Sayang. Aku akan menunggumu pulang.
Setelah menunggu selama beberapa menit, masih tidak ada balasan. Putri memilih untuk menyibukkan diri dengan bahan makanan yang sudah berjajar rapi di meja dapur. Ia berpikir jika Arya kini sangat sibuk, sehingga tidak sempat membalas pesannya.
Satu persatu dari bahan makanan itu dikupas dan dipotong. Tidak hanya daging, ada sayuran yang sangat disuka Putri, hingga beberapa makanan penutup yang akan memanjakan lidahnya dan sang suami.
“Aku yakin, Arya akan menyukai semua ini.”
Semua makanan dihidangkan di meja makan. Putri duduk sembari mengambil gambar semua makanan di meja. Dengan bahagia ia mengirim foto itu kepada sang suami.
“Aku yakin, ia pasti akan segera pulang setelah melihat makanan ini.”
Putri tidak sabar menyambut kedatangan sang suami dan memilih menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sofa dan sesekali melihat ponsel. Berharap Arya membaca pesannya.
Namun, harapannya sirna saat tidak demikian.
Sudah beberapa jam berlalu, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Perut Putri sangat lapar, dan semua makanan di atas meja sudah dingin. Ia bahkan tadi sampai berjalan keluar masuk rumah untuk memeriksa apakah Arya sudah terlihat.
Namun, lagi-lagi hanya kekecewaan yang ia dapatkan karena Arya belum juga menampakkan diri.
Arya yang tidak kunjung pulang dan tidak ada kabar darinya hingga saat ini. Hal itu membuatnya cemas. Hingga akhirnya melakukan panggilan telpon.
Namun, sama sekali tidak ada jawaban dari panggilan telpon itu. Tentu saja hal itu membuat hatinya gelisah. Pikirannya menerawang dan ketakutan jika terjadi sesuatu pada suaminya.
'Apa ada sesuatu yang terjadi pada Arya? Kenapa malam begini belum pulang juga?' lirih Putri dengan perasaan sangat cemas.
__ADS_1
To be continued...