Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
119. Menunggu keputusan


__ADS_3

Tanpa berniat untuk mengurungkan niatnya ketika mendapat sebuah ancaman dari wanita yang masih menampilkan wajah terkejut dengan pengakuannya, kini Bagus hanya ingin Amira Tan membantunya untuk mencarikan orang yang bisa menikahkan Putri dengan pria itu.


Satu-satunya hal yang membebaninya adalah menanggung dosa besar sang istri jika membiarkan Putri berbuat hal terlarang saat masih berstatus sebagai istrinya.


"Aku tahu itu, tapi lebih takut pada kemurkaan Tuhan dari pada kekuasaan manusia biasa seperti Ari Mahesa itu. Dosaku sudah banyak dan tidak ingin menambahnya dengan membiarkan istriku berbuat hal-hal terlarang di rumah yang juga menjadi tempat tinggal putraku."


Bagus berbicara sambil melirik ke arah putranya yang sama sekali tidak rewel ketika pergi bersamanya. Seolah mengerti dengan keadaan sang ayah yang sedang terluka.


Kebanyakan orang mengatakan bahwa anak kecil tidak akan tahu apa-apa, tetapi menurutnya itu tidaklah benar.


Menurutnya, anak kecil jauh lebih peka instingnya dan mudah mengingat apapun. Bahkan mengajarkan sesuatu yang baik harus dimulai sejak kecil.


Ibaratnya, otak anak kecil seperti kertas putih yang masih bersih dan belum tercemar dengan hal-hal buruk. Seperti hal yang didengarnya dan mengatakan bahwa mengajari anak saat kecil seperti mengukir di atas batu. Sementara mengajari orang dewasa seperti mengukir di atas air.


"Aku tidak akan mati karena Ari Mahesa. Jadi, kamu tenang saja. Aku berbicara padamu bukan menganggap bahwa kamu adalah seorang pengacara. Namun, aku berharap kamu memakai hati nurani sebagai seorang kakak pada adiknya."


"Rahasiakan ini dari klienmu karena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu, bukan? Kamu sudah menjalankan tugas dengan baik, yaitu membatalkan gugatan cerai Putri padaku. Bukankah itu sudah selesai karena Ari Mahesa tidak memerintahkan untuk kamu menghentikan pernikahan diam-diam ini."


Tentu saja respon Amira Tan kali ini sangat luar biasa karena ia melihat sosok pria yang ada di hadapannya tersebut terlihat sangat tenang. Meskipun mengetahui bahwa jauh di dalam hati benar-benar sangat terluka. Namun, sangat pandai menyimpan semuanya di dalam hati.


Bahkan kini ia sudah berkacak pinggang ketika berdiri menjulang di hadapan pria yang dianggapnya merupakan pria langka dan mungkin hanya ada satu di dunia ini.


Sialnya, ia kini malah merasa sangat iri dengan nasib Putri yang dicintai oleh seorang pria sebaik itu. Ingin sekali ia dicintai sebesar itu dan pria yang mencintainya rela berkorban apapun untuknya.


Karena sampai usianya yang terbilang matang tersebut, belum ada yang mencintainya sebesar itu. Apalagi ia yang merupakan seorang wanita karir dan memiliki banyak uang, seringnya membuat para pria insecure berdekatan dengannya.

__ADS_1


Para pria seringnya tidak percaya diri jika berdekatan dengannya karena takut jika dibandingkan dengan kesuksesannya.


Hal itulah yang membuat ia sampai saat ini belum menemukan satu pun pria yang mencintainya sebesar Bagus ketika mencintai adik tirinya tersebut.


Namun, satu hal yang pasti adalah kemungkinan besar sosok pria di hadapannya tersebut akan berada dalam bahaya jika sampai Ari Mahesa mengetahui bahwa yang mendukung Arya merupakan suami sah Putri.


Kini, ia mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada netra dengan iris tajam tersebut. Ingin sekali ia menyadarkan pria yang menurutnya sangat nekad tersebut.


"Aku ingin kamu sadar bahwa perbuatanmu ini akan memancing kemurkaan pria itu karena dia saat ini sedang gencar-gencarnya menyudutkan posisi putranya agar segera kembali ke rumah.


Jika kamu malah melindungi Arya dan sampai berbuat gila seperti ini, aku khawatir, nanti anak buah pria itu akan membuatmu babak belur."


Amira Tan yang saat ini sedang memutar otak untuk mencari cara agar Bagus tidak melibatkan diri dengan urusan keluarga konglomerat yang memiliki kekuasaan tersebut, kini mendapat sebuah ide di otaknya.


"Bukankah kamu pernah bilang akan kembali ke desa bersama putramu? Lebih baik aku meminjamkan uang padamu untuk biaya pulang ke kampung dan juga uang untuk biaya hidup satu bulan. Jadi, kamu bisa bekerja dengan tema di kampung nanti."


Tentu saja tawaran dari Amira Tan terdengar sangat menarik dan menggiurkan di telinga Bagus. Namun, ia tidak mungkin akan menceritakan telah mempunyai utang pada bosnya.


Hal itu malah membuatnya merasa seperti tidak mempunyai harga diri diri di depan iparnya tersebut.


"Kamu tahu bukan itu yang kuinginkan. Seperti yang kukatakan tadi, bahwa aku lebih takut pada Tuhan dari pada kekuasaan manusia. Kamu tidak perlu meminjamkanku uang jika berat bagimu. Hanya saja, apa kamu bisa memberitahu orang yang biasa menikahkan pasangan?"


Sikap keras kepala dari Bagus membuat Amira Tan kali ini benar-benar dibakar emosi yang luar biasa. Namun, kali ini ia seperti ikut-ikutan menjadi bodoh karena tidak bisa marah pada pria di hadapannya.


Jujur saja ia saat ini ingin menampar wajah Bagus agar menyadari kebodohan, tetapi rasa iba mengalahkan segalanya. Nasib buruk dari rumah tangga pria itu, membuatnya tidak tega untuk semakin menambah beban berat pria itu.

__ADS_1


'Kenapa Engkau menciptakan pria sebodoh ini, Tuhan? Sebenarnya terbuat dari apa hati Bagus? Seharusnya Putri merasa bangga memiliki seorang suami sebaik ini, tapi dia sangat bodoh karena telah berselingkuh dengan Arya yang berusia lebih muda dan menurutku masih labil.'


'Meskipun Arya merupakan pria yang jauh lebih tampan dari pria ini, tapi aku tidak bisa menjamin apakah Putri ke depannya bahagia karena mengutamakan ketampanan dari pada hati.'


Amira Tan yang saat ini masih terdiam membisu di tempatnya, tidak mengalihkan pandangan dari sosok pria yang terlihat penuh pengharapan padanya.


Ia kali ini memilih untuk menyuruh Bagus menceritakan kronologi dari apa yang terjadi sambil menimbang-nimbang keputusannya. Apakah ia akan membantu atau tidak mau ikut campur.


Akhirnya Bagus menceritakan semuanya. Di mulai dari semalam Putri meminjam uang, menyuruhnya untuk mencari pinjaman uang dan terakhir hari ini memohon agar mengizinkan Arya tinggal sementara di kontrakan dan terakhir, kedatangan pria yang sudah tidak punya tempat tujuan tersebut.


"Jadi, menurutmu bagaimana? Apakah kamu akan membantuku untuk melepaskan adikmu dari jeratan dosa dan siksa api neraka?"


Kalimat terakhir itu berhasil membuat Amira Tan seketika mengangkat pandangannya pada sosok pria di hadapannya tersebut.


Entah mengapa malah ia merasa seperti mendapat sindiran dari sosok pria itu. "Aku benar-benar tidak suka kamu menyebutkan siksa api neraka dengan menatapku. Seolah-olah akulah yang sedang berbuat dosa."


"Semua orang punya dosa masing-masing, Amira. Hanya saja, dalam versi berbeda. Bahkan di dunia ini tidak ada manusia sempurna yang suci dari dosa. Jadi, rasanya tidak salah jika aku mengatakan bahwa lebih baik membuat pahala sebanyak-banyaknya dari pada berbuat dosa."


Wahyu yang dulu pernah menjadi siswa pandai di sekolah, hingga sering berpidato di sekolah. Namun, tidak pernah menyangka jika nasibnya malah membuatnya merasa seperti sedang ditertawakan oleh dunia.


Pandai menasihati orang, tapi tidak bisa mendidik istri sendiri. Mungkin semua orang akan mengejeknya seperti itu jika mengetahui nasib rumah tangganya.


Apalagi saat ini, yang terjadi adalah istrinya sedang berduaan dengan selingkuhan di rumah. Ia yang tidak ingin membuang waktu karena sedang mengejar waktu, kini ingin mengetahui keputusan dari Amira Tan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2