
Ari Mahesa menatap tajam ke arah sosok putranya yang baru saja mengacaukan jalannya meeting penting hari ini. Ia berpikir hari ini adalah saat yang tepat menunjukkan pada semua staf perusahaan serta para pemegang saham, bahwa ia adalah seorang pimpinan yang tegas dalam mendidik penerusnya.
Sebenarnya, niatnya adalah demi kebaikan Arya karena nanti semua staf perusahaan tidak akan pernah bergunjing di belakang. Bahwa putranya itu langsung mendapatkan posisi sebagai CEO perusahaan karena mengandalkan koneksi.
Hal itulah yang membuatnya memberikan pekerjaan di bagian paling rendah agar putranya itu bisa merasakan susahnya bekerja. Bahwa mencari uang itu sangat sulit dan membutuhkan keringat, serta otak untuk berpikir.
Jika semua karyawannya berpikir bahwa ia tidak pilih kasih dan tetap akan bersikap tegas pada semua orang tanpa berpikir siapapun orangnya, akan memudahkan jalan putranya nanti ketika memimpin perusahaan.
Semua orang akan menghormati Arya bukan sebagai putranya, tetapi seorang pemimpin perusahaan yang sangat bertanggungjawab. Itulah yang membuat ia mengetes Arya untuk bekerja sebagai seorang cleaning service dan beberapa minggu kemudian akan menaikkan posisinya sebagai staf marketing dan yang lainnya sesuai degan prestasi yang akan diraih putranya tersebut.
Kini, ia mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi dan mulai mengeluarkan umpatan pada Arya sebagai bentuk untuk melanjutkan sandiwaranya.
"Dasar, tidak tahu sopan santun! Apa seperti ini Papa mengajarimu? Apa kamu tahu kami sedang membahas hal penting di ruangan ini?"
Sementara Arya yang sama sekali tidak perduli, memilih untuk meledakkan segala amarah yang membuncah di dalam hati.
"Apa Papa pantas menyebut diri sendiri sebagai seorang ayah jika pada kenyataannya menyiksa putranya sendiri seperti ini? Aku adalah calon pemimpin perusahaan ini karena putramu satu-satunya. Apa pantas bekerja sebagai staf paling rendah di perusahaan ini?"
Arya kini memperlihatkan tangannya yang menurutnya langsung berubah kasar dan juga penampilan rapinya telah menjadi berantakan dan peluh masih mengalir di pelipisnya.
"Lihat ini, Pa! Penampilan seorang calon penerus perusahaan benar-benar sangat mengenaskan. Bukankah ini sangat memalukan? Apa Papa tidak malu jika semua staf di perusahaan ini menghujatmu di belakang?"
Arya kini sedikit merasa lega setelah mengungkapkan semua pernyataan yang dari tadi memenuhi otaknya. Ia ingin sang ayah menyadari kesalahan karena telah menyiksanya di kantor hari ini.
Bahkan ia serasa mau muntah saat membayangkan hal yang tadi dikerjakan, yaitu membersihkan toilet yang baru pertama kali dilakukan seumur hidupnya.
Namun, ia kali ini kembali merasa sangat kecewa begitu mendengar tanggapan serta ekspresi wajah tenang dari sang ayah, tetapi kalimatnya sangat menyakitkan hati dan membuatnya menelan ludah.
Ari Mahesa kini bangkit berdiri dari posisinya dan mengangkat tangan sebelum membuka mulut. Kemudian mulai menampar putranya dengan jawabannya.
“Pertama, kamu tidak pantas menjadi seorang pimpinan di perusahaan ini. Sikapmu yang seperti ini, membuat aku enggan memberikan posisi itu. Lagipula, apa salahnya merasakan apa yang dirasakan orang lain? "
"Kamu bisa melihat mereka yang bekerja dengan senang hati dan tidak mengajukan protes atas pekerjaan yang didapat. Kamu sangat beruntung karena memiliki aku di sini dan mempekerjakanmu tanpa harus mengikuti tes seperti lainnya. Untuk apa sebuah kepintaran jika tidak ada sopan santun?”
Masih tidak mengalihkan pandangannya dari sosok putranya yang berdiri mematung di dekat meja, Ari Mahesa kali ini hanya tersenyum smirk begitu melihat wajah putranya yang semakin memerah. Menandakan bahwa putranya sangat marah, tapi tidak bisa berbuat apapun saat menyadari kesalahan.
__ADS_1
Kalimat-kalimat yang dilontarkan sang ayah sungguh menampar Arya. Memang benar, sikapnya tidak mencerminkan seorang pemimpin. Arya merasa malu setelah mendapat tamparan yang nyata seperti itu.
Namun, ia masih belum beranjak dari tempatnya atau pun membuka mulut untuk sekedar membantah. Tentu saja ia saat ini merasa bingung harus apa karena semua yang dikatakan olah sang ayah memang benar adanya.
Apalagi suara bariton tersebut menggema memenuhi ruangan yang luas dengan semua orang yang masih duduk diam di kursi telah menutup rapat mulut dan seolah hanya ingin menjadi penonton saja saat ia dan sang ayah berdebat untuk mencari pembenaran masing-masing.
Ari Mahesa kali ini memilih untuk bersikap lebih tegas agar putranya tidak lagi menganggapnya lemah dan tidak tega. Ia berharap jika nanti Arya menjadi pemimpin perusahaan, juga bersikap sepertinya dan tidak memandang status seseorang yang melakukan kesalahan.
“Kalau kamu keberatan untuk bekerja sebagai seorang cleaning service di sini, pintu keluar ada di sana dan jangan berani lagi datang kemari!”
Seketika Arya menelan ludahnya kasar. Tubuhnya terasa kaku dengan tatapan mata dari semua orang di sana. Arya terpaksa harus bertahan dan memikirkan Putri yang akan melahirkan dalam waktu dekat.
Meskipun jauh di lubuk hati, saat ini ingin mengumpat, tetapi tidak bisa melakukannya, sehingga hanya bisa melakukannya di dalam hati.
'Sial! Kenapa nasibku hari ini sangat buruk? Rasanya sekarang aku ingin menenggelamkan diri di laut agar semua orang yang berada di sini tidak melihatku. Mereka pasti sedang tertawa dan mengumpatku. Berengsek!' umpat Arya di dalam hati dan membuatnya tidak membuang waktu untuk segera pergi dari sana.
“Maafkan aku, Pa. Sikapku memang kurang ajar saat ini. Aku minta maaf sudah mengganggu rapat ini. Aku akan kembali bekerja.” Setelah berkata seperti itu, Arya berjalan keluar dan kembali untuk membersihkan toilet.
Namun, sebelumnya, ia mempersiapkan diri dulu dengan duduk dan mengambil napas beberapa kali. Memantapkan dirinya agar bisa bertahan dengan berbagai macam pikiran buruk dari staf di dalam sana.
Bahwa suatu saat nanti sang ayah mau mengakui rasa tanggungjawab yang ia miliki saat ini.
***
Satu jam kemudian, di ruangan kerja sang penguasa, terlihat dua pria yang sedang membahas tentang kejadian di dalam ruang meeting tadi dan tentu saja menjadi perbincangan hangat dari semua staf perusahaan.
Ari sedang bersama seorang asisten kepercayaannya yang sangat ia percaya dan sudah dianggap seperti saudara sendiri.
Pria dengan memakai setelan jas lengkap berwarna itu itu sedang duduk di seberang dengan membaca beberapa berkas yang kali ini mereka periksa. Namun, ia sedikit menyela dengan membahas putra satu-satunya yang akan menjadi pemimpin perusahaan tersebut.
“Jadi … kamu sungguh-sungguh melakukannya. Menghukum putramu dengan cara seperti ini?”
Ari yang kali ini mengangkat wajahnya dari dokumen di tangan, beralih pada pria di hadapannya.
“Aku hanya mengajarkan padanya, bahwa semua berawal dari sebuah usaha keras dan tidak mudah mendapatkan segala sesuatunya seorang diri. Selama ini, istriku sangat memanjakannya. Hingga ia tidak bisa berpikir mandiri."
__ADS_1
"Bahkan, bekerja seperti ini saja ia memaki-maki banyak orang. Memalukan dan rasa-rasanya aku tidak sanggup untuk menahan rasa ini. Suruh semua orang diam jika tidak ingin dipecat. Aku yakin jika semua staf sedang membahas kejadian di ruang meeting tadi."
Ari melemparkan dokumen di tangannya dan beralih bersandar di punggung sofa. Kemudian memijat pelipisnya karena kejadian hari ini berhasil membuatnya merasa sangat pusing.
Sebenarnya, melihat itu, pria yang tak lain bernama Putra Wijaya tersebut ingin mengingatkan pada bos sekaligus sahabat baiknya tersebut agar tidak terlalu bersikap keras pads Arya.
Ia yang dari dulu tidak menyukai kekerasan, ingin menyadarkan sahabatnya jika itu akan berakibat buruk karena malah akan tercipta sebuah dendam di hati Arya pada sang ayah. Tentu saja ia khawatir jika itu sampai terjadi.
“Ya, sesekali memang tidak masalah untuk membuatnya jera. Jadi, mau sampai kapan kamu menghukum Arya? Jika dilihat dari kinerjanya selama membantumu menyelesaikan pekerjaan, aku harus mengakui kepintaran putramu itu memang menurun darimu.
"Akan tetapi, aku tidak ingin kamu terlalu keras padanya. Mungkin sesekali tidak masalah. Meskipun untuk sikap kasar dan keras kepala Arya, aku pikir sepertinya hanya istrimu yang tahu karena ia yang selama ini membesarkan dan mendidik. Sementara kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor setiap hari."
Tidak langsung menjawab karena terlihat Ari masih sibuk dengan kegiatannya yang memijat pelipisnya. Meskipun tadi ia sangat tegas pada putranya, sebenarnya di dalam hati juga terluka.
Ayah mana yang tega melihat keturunannya menderita, tapi ia berpikir harus melakukannya karena semua juga demi kebaikan Arya. Ia tidak menginginkan apapun, hanya berharap suatu saat putranya itu akan mengatakan terima kasih padanya setelah memahami maksudnya melakukan semua itu.
“Ya, entah sampai kapan. Mungkin nanti, setelah ia benar-benar jera dan memiliki sikap seperti yang aku harapkan. Setidaknya, ada kata ingin berjuang dalam dirinya untuk orang lain.”
“Aku mengerti. Memang tidak mudah saat ini bagimu karena melihat satu-satunya penerus malah terjerat dengan wanita yang tidak sepadan dan berstatus sebagai istri orang. Semoga ada hikmah dibalik semua kejadian ini."
Putra Wijaya sebenarnya ikut prihatin dengan apa yang dialami oleh keluarga sahabatnya tersebut karena Ari telah memberitahunya tentang apa yang dilakukan oleh Arya dulu. Hingga ia berpikir, apa yang istimewa dari wanita itu, hingga membuat seorang Arya yang jarang dekat dengan seorang wanita bisa tergila-gila.
Cinta, hal itulah yang membuat pertanyaan di kepalanya terjawab dan memang jika berhubungan dengan itu, tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat. Putra hanya mengangguk perlahan saat sahabatnya kini mengucapkan terima kasih padanya.
“Terima kasih, kamu sudah berusaha untuk mengingatkan Arya dulu, tapi memang anak itu perlu satu pukulan keras agar mau lebih berusaha untuk meraih sesuatu.”
Percakapan mereka membuat Ari menghela napas. Tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya menderita.
Akan tetapi, semua harus dilakukannya demi kebaikan Arya sendiri karena ia tidak tahu kapan akan pergi dari dunia ini dan akan meninggalkan putranya yang tanpa memiliki saudara itu untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan badai prahara.
Tentu saja kemungkinan besar, suatu saat akan menghantam putranya dan ia ingin Arya kuat dalam menghadapi masalah yang datang dan mampu menyelesaikannya.
'Saat papa mati nanti, akan tahu bahwa semua yang kamu alami hari ini adalah demi kebaikanmu, putraku,' gumam Ari yang kini mengembuskan napas panjang saat mengingat apa yang tadi dilakukannya di ruang meeting.
To be continued....
__ADS_1