Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
263. Sadar dari koma


__ADS_3

Sore tadi, Arya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu yang masih berada di ruang ICU.


Pulang dari kantor, ia terlebih dahulu pulang ke rumah untuk membersihkan badan dan beristirahat sebentar. Usai membersihkan diri, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang di kamarnya.


Ia kemudian meraih ponsel yang tadi diletakkan di sana. Ada beberapa pesan dari Putri yang belum ia baca. Bukan karena tidak sempat, tetapi memang tidak ingin.


"Ya. Terima kasih."


Dari sekian banyak pesan yang dikirim oleh Putri, ia hanya membalas singkat pesan sang istri.


Ada ucapan selamat pagi, pesan jangan lupa sarapan, makan siang, dan masih banyak lagi dari istrinya tersebut. Akan tetapi, Arya hanya memberikan tiga kata balasan.


Saat Putri menanyakan apakah Arya sedang sakit, ia mengatakan hanya sedang lelah, ingin istirahat dan berharap tidak diganggu.


Setelah mengirimkan pesan balasan tersebut pada Putri, tidak ada lagi pesan jawaban dari wanita itu.


Entah karena ia sedang sibuk dengan Xander atau marah karena mendapat pesan balasan seperti itu dari Arya.


Arya sendiri tidak mau ambil pusing.


Saat ini, ia hanya ingin fokus dengan kesembuhan sang ibu dan menebus kesalahannya pada wanita itu di masa lalu.


Setelah memberikan kabar pada sang ayah jika akan pergi menjenguk di rumah sakit satu jam lagi, ia meminta pria paruh baya itu agar istirahat saja di rumah. Arya kembali mematikan layar ponselnya. Ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh Putri.


Sembari menunggu waktu, ia memilih untuk memejamkan mata, tetapi ia malah terlelap. Hingga suara ketukan pada pintu kamarnya, membuat pria itu tersadar, segera bangkit dan duduk di sisi tempat tidur.


"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran?" Arya cukup terkejut saat ia melihat jam yang menempel di dinding kamar.


Segera ia pergi membukakan pintu yang masih diketuk.


"Maaf, Tuan karena saya menggangu. Hanya mengingatkan jika sudah waktunya Tuan ke rumah sakit untuk menjenguk nyonya," ucap sang pelayan dengan menunduk hormat.


"Terima kasih karena sudah mengingatkanku. Aku tadi ketiduran. Katakan saja pada supir untuk menyiapkan mobil. Aku akan bersiap," jawab Arya yang kini terlihat masih dengan wajah berantakan karena efek bangun tidur.


Ia kemudian berbalik badan dan kembali masuk ke dalam kamar.


Ia tadi sudah berpakaian rapi, tetapi ketiduran dan karena sudah memakai celana panjang, serta kaus putih, Arya tidak perlu berganti pakaian lagi.


Ia hanya mencuci muka dan mengambil jaket untuk membungkus tubuh kekarnya yang sudah terlindungi dengan kaos lengan pendek. Arya bersyukur karena pelayan mengetuk pintu kamar di waktu yang tepat.

__ADS_1


Mungkin ia masih tidur jika saja kepala pelayan itu tidak mengetuk pintu.


Arya merutuki dirinya sendiri yang sudah ketiduran.


"Hati-hati, Tuan Arya Walaupun sedang buru-buru, tetapi harus perhatikan kecepatan mobil dan berhati-hati." Mery memberikan pesan saat majikannya setengah berlari untuk memasuki mobil.


"Jangan mengebut dengan kecepatan tinggi, Tuan Arya," sambungnya lagi dengan penuh perhatian.


Sama sperti almarhum supir pribadi kelurganya. Mery juga sudah bekerja cukup lama pada keluarga Mahesa. Bahkan ia bisa menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi.


Mery memang memiki usia enam tahun lebih muda dari Rani. Wanita itu memiliki dua anak laki-laki yang sedang kuliah di sebuah universitas di kota kelahirannya.


Meskipun hanya seorang pelayan, Mery ingin anak-anknya memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Mery sendiri adalah seorang single parent sejak 15 tahun lalu. Suaminya meninggal karena kanker paru-paru yang di derita.


Semenjak saat itu, Mery tidak pernah menikah lagi setelah kepergian suami tercinta. Wanita itu memilih untuk membesarkan kedua buah hatinya sendiri.


"Belum tentu saya menemukan laki-laki yang sebaik suami, Nyonya. Saya lebih bahagia hidup seperti ini. Saya tidak ingin mengkhianati cinta suami."


Itu adalah jawaban Mery saat majikan pernah bertanya kenapa wanita itu, tentang apa alasan tidak mau menikah lagi.


"Baik. Terima kasih." Arya tersenyum dan pada wanita paruh baya yang berdiri di samping mobilnya. "Aku pergi dulu."


***


Suara yang terdengar menakutkan dari peralatan yang ada di ruang ICU tempat sang ibu dirawat, terdengar begitu jelas di telinga Arya.


Seperti biasa, Arya duduk di kursi yang ada di samping ranjang sang ibu.


"Bagaimana keadaan Mama saat ini? Maafkan aku, Ma kemarin aku tidak datang," ucap Arya saat menatap lekat wajah pucat sang ibu yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Terlalu banyak luka yang kutorehkan di hati Mama." Arya menunduk semakin dalam. Rasanya semakin ia menatap wajah sang ibu, rasa bersalah itu bertambah besar dan menguar begitu saja.


"Andaikan waktu bisa aku ulang kembali, Ma," lirihnya kemudian. Setetes air mata jatuh dari sudut mata Arya.


Pikiran Arya berputar saat bagaimana ia meninggalkan ibu dan ayahnya. Ia hanya berpikir bisa hidup dengan wanita yang dicintai. Bahkan ia rela kehilangan semuanya demi mempertahankan hubungan yang berakhir dengan sebuah pengkhianatan.


Berpikir bahwa ia sudah melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan Putri, tetapi nyatanya masih belum puas dan mencari kesempurnaan di luar sana.


Arya berjanji akan menebus kesalahannya selama ini pada orang tuanya dan akan mengikuti apa yang kedua orang tuanya inginkan dan tidak akan meninggalkan mereka lagi.

__ADS_1


Cukup sekali ia tertipu karena cinta seorang wanita. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


"Cepat sadar, Ma. Mama harus segera sembuh. Rasa bersalah ini semakin besar saat aku melihat Mama hanya bisa terbaring tak berdaya seperti ini. Aku rindu Mama."


Aku ingin makan masakan Mama."


"Aku rindu pergi bersama Mama."


"Aku juga rindu tidur di pangkuan Mama, juga bercerita banyak hal. Bangunlah, Ma." Arya masih terus bergumam. Ia meraih tangan sang ibu dan menggenggamnya. Tentu saja tidak terlalu erat karena takut jika nanti menyakiti wanita yang sangat disayangi olehnya.


"Bangunlah, Ma. Aku mohon." Arya kembali berbicara lirih. Ia menundukkan wajah, menenggelamkannya di atas pembaringan.


Air mata mulai kembali berjatuhan satu persatu.


Beberapa menit berada pada posisi tersebut. Hingga sebuah pergerakan dari jari yang tengah ia genggam, membuatnya terkejut dan mendongak.


Arya melepaskan genggaman tangannya dan menatap jemari tersebut. Ia tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi, itu nyatanya.


Saat ini, sang ibu menggerakkan jari tangannya. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali dan membuka mata serta suara sangat lirih.


"Arya ...."


Arya langsung beralih menatap wajah sang ibu. Wanita paruh baya itu bicara dengan suara yang sangat lirih


"Mama!" teriak Arya yang langsung mendekat ke arah sang ibu yang masih memejamkan mata, tetapi berusaha menggerakkan bibirnya untuk bicara. "Aku di sini, Ma."


Kemudian ia segera menekan tombol Nurse Call System yang ada di ruangan tersebut untuk memanggil perawat.


Tidak lama kemudian, dua orang perawat masuk ke dalam ruangan tersebut dan menanyakan pada Arya apa yang terjadi.


Arya menjelaskan jika sang ibu sempat menggerakkan jari dan bicara.


"Kami akan memeriksa pasien. Mohon agar Anda menunggu di luar." Salah satu perawat meminta Arya untuk menunggu di luar dan pria itu pun mengangguk.


Tidak berselang lama, seorang dokter yang menangani sang ibu masuk ke dalam ruang ICU.


Arya hanya bisa melihat dari luar ruangan saat para petugas medis itu memeriksa sang ibu di dalam sana. Tiba-tiba saja teringat pada sang ayah.


Saat ini, ia berpikir harus segera menghubungi sang ayah dan memberitahu tentang keadaan sang ibu

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2