Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
99. Kenyataan menyakitkan


__ADS_3

Sementara itu, Bagus yang kini ingin menghentikan kesalahpahaman dengan membuka mulut, dilarang oleh Amira Tan karena sudah memberi kode mata tajam sebelum berbalik badan menatap ke arah Putri yang merupakan saudara tirinya.


'Astaga! Putri salah paham. Bagaimana bisa ia sangat bodoh dengan mengira aku memiliki hubungan dengan Amira Tan yang bar-bar ini. Bahkan ia saja meninggalkanku dengan berselingkuh, mana mungkin wanita berpendidikan dan memiliki jenjang karir seperti Amira Tan melirik pada pria rendahan sepertiku?'


Saat Bagus sedang sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, berbeda dengan sikap tenang dari sosok wanita yang tak lain adalah Amira Tan.


Ia yang awalnya ingin memperkenalkan diri sebagai seorang pengacara dari keluarga Mahesa, kini berubah pikiran setelah mendengar tuduhan tidak berdasar yang menurutnya sangat konyol.


Tentu saja ia kali ini tersenyum simpul dengan gayanya yang sangat elegan sebagai seorang wanita berpendidikan.


'Sepertinya permainan ini akan semakin menarik karena Putri menganggapku adalah kekasih Bagus.'


'Baiklah, aku akan ikuti alurnya,' gumam Amira Tan yang saat ini langsung mengulurkan tangan, tapi sama sekali tidak mendapatkan sambutan cukup lama, sehingga membuatnya langsung menurunkan tangan yang beberapa detik menggantung di udara.


"Amira Tan. Maaf mengganggu waktumu saat beristirahat. Aku tadi mengantarkan Bagus pulang karena kami sejalan. Mengenai tuduhanmu tadi, maaf karena itu memang benar. Bukankah Bagus tidak salah jika membalas perselingkuhan istrinya dengan mencari sosok wanita yang lebih baik?"


"Amira, hentikan kebohonganmu!" teriak Bagus Setiawan yang merasa aura ketegangan mulai tercipta di antara dua wanita yang masih sedarah tersebut.


Bahkan ia merasa sangat berdosa karena membuat dua bersaudara tersebut bersitegang karena kesalahpahaman konyol.


Masih dengan wajah datarnya, Amira Tan yang refleks langsung mengarahkan jari telunjuk pada bibir Bagus agar diam dan tidak ikut campur dengan pertarungannya kali ini.


"Diamlah, Sayang karena aku ingin membuat istrimu tidak berkomentar pada hubungan kita."


Sementara itu, Putri yang merasa seperti sedang melihat film, kini tertawa terbahak-bahak menanggapinya. Bahkan ia sampai memegangi perutnya yang kaku melihat kemesraan dari Bagus yang masih berstatus sebagai suaminya dan wanita di hadapan yang terlihat seperti bukan orang sembarangan.

__ADS_1


"Astaga! Kalian berdua benar-benar luar biasa. Aku bukan ingin berkomentar apapun, tapi tadi sedang bertanya pada suamiku. Kenapa kamu yang menjawabnya? Jika kalian ingin bermesraan di kamar, silakan saja! Aku tidak akan melarang kalian."


Putri yang sama sekali tidak merasa cemburu karena sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Bagus, kini berbalik badan dan berniat untuk masuk ke dalam rumah karena putranya sudah berlari pada sang ayah.


Padahal niatnya tadi adalah ingin meminjam uang pada Bagus setelah pulang kerja, tetapi pemandangan yang terlihat malah membuat moodnya buruk seketika.


'Sial! Jika Bagus berhubungan dengan wanita itu, mana mungkin aku bisa meminjam uang padanya? Apa yang harus kulakukan sekarang? Pada siapa lagi aku meminjam uang?'


Saat Putri memikirkan tentang bagaimana caranya mencari pinjaman uang untuk biaya pernikahannya dengan Arya, ia mendengar suara wanita yang membuatnya merasa sangat muak.


"Tunggu, Putri! Aku ada berita baik untukmu."


Amira Tan yang merasa telah gagal membuat Putri kesal dengan menciptakan kebohongan bahwa ia adalah kekasih dari Bagus, kini menahan pundak saudara tirinya tersebut.


Di sisi lain, Bagus yang beberapa saat lalu langsung menyingkirkan tangan Amira Tan dari bibirnya dan mengarahkan tatapan tajam.


Kekesalannya bertambah besar begitu melihat respon dari wanita yang masih sangat dicintainya sama sekali tidak peduli jika ia memiliki selingkuhan.


'Putri, tidakkah tersisa sedikit saja rasa cinta untukku. Apakah kamu saat ini benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padaku?'


Bagus yang kini sudah menggendong putranya yang menghambur ke arahnya, menyembunyikan perasaan yang hancur. Bahkan ia hanya melihat saja apa yang akan dikatakan oleh Amira Tan pada Putri.


Sementara itu, Putri yang saat ini tengah mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang tidak disukainya.


"Apa maksudmu? Berita baik apa? Aku bahkan tidak mengenalmu. Memangnya ingin mengatakan kabar baik tentang apa?"

__ADS_1


Tidak ingin bertele-tele, akhirnya Amira Tan kembali mengulurkan tangannya. Kali ini ia berharap Putri mau menjabat tangannya.


"Amira Tan— pengacara keluarga Ari Mahesa yang merupakan ayah dari Arya Mahesa— pria selingkuhanmu," seru Amira yang kini tersenyum smirk melihat respon wajah Putri yang berubah pucat.


'Tadi aku memang gagal mengerjaimu, tapi sekarang berhasil. Bahkan wajahmu sangat pucat seperti ini,' gumam Amira Tan yang merasa puas karena berhasil membuat Putri tidak bersikap sombong lagi di depannya.


Putri yang langsung meremang kulitnya begitu mengerti ke mana arah pembicaraan dari sang pengacara. Bahkan jantungnya saat ini berdetak kencang melebihi batas normal karena memikirkan hal-hal yang buruk di pikirannya mengenai ayah dari sang kekasih.


Ia tahu bahwa ayah Arya memiliki kekuasaan yang bisa saja menyingkirkannya dengan mudah dan hal itu membuatnya merasa sangat takut sekarang.


"Apa ... apa tujuanmu datang ke sini sebenarnya? Memangnya apa yang diinginkan oleh ayah dari kekasihku?"


"Astaga! Bisa-bisanya kau menyebut nama kekasihmu dengan sangat santai di hadapan pria yang masih berstatus sebagai suamimu. Putri ... Putri, kau memang wanita yang sangat luar biasa. Semoga Tuhan tidak mengutukmu."


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa Arya Mahesa membayar mahal aku untuk menghentikan gugatan cerai yang kau ajukan. Bukankah kau dibantu oleh putra dari klienku? Sekarang aku hanya ingin memberitahu bahwa kau tidak akan bercerai dengan Bagus karena Arya Mahesa tidak sudi mempunyai seorang menantu sepertimu."


Putri yang kini merasa sangat terluka, terhina dan tersinggung, tetapi tidak bisa melakukan apapun untuk melawan atau pun membantah. Jantungnya seperti dihunus sebilah pedang yang tajam dan membuatnya terluka di sana.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku takut jika orang tua Arya merayunya untuk pulang dan meninggalkanku. Apalagi kekuasaan dari orang-orang kaya tidak mungkin bisa aku lawan karena hanya manusia dari kasta rendahan.'


Belum selesai Putri berkeluh kesah di dalam hati, ia semakin merasa sangat shock begitu mendengar suara bariton dari Bagus yang mengungkapkan sebuah kebenaran dan sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Amira, tolong jaga perasaan Putri karena biar bagaimanapun, dia adalah adikmu," teriak Bagus Setiawan yang saat ini tidak bisa menahan diri lagi untuk membiarkan hati sang istri terluka.


"Apa? Adik?" lirih Putri dengan suara bergetar hebat dan menatap ke arah Bagus dan wanita di hadapannya secara bergantian. Berharap apa yang dipikirkan saat ini tidaklah benar.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2