Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
145. Seperti seorang pengemis


__ADS_3

Akhirnya telepon itu dimatikan, menyisakan Bagus dalam keheningan panjang di dalam rumahnya hanya bersama adik perempuannya yang juga tengah menampilkan wajah muram karena mengkhawatirkan keadaan orang tua.


Biasanya akan merasa biasa saja dengan sunyi yang menyapanya tiap kali orang tuanya berangkat ke tempat sang kakek.


Bahkan ia sering berada di rumah sendirian saat adiknya diajak ke tempat kakeknya. Namun, sekarang entah mengapa pada hari itu rasanya sangat berbeda.


Sunyi yang datang seperti mengabarkan sebuah pesan buruk yang mulai memenuhi isi kepalanya.


Bagus mencoba menampilkan wajah tenang di depan adiknya. Ia sangat berusaha untuk terus berpikir positif, tapi sial, kepalanya tidak bisa diajak bekerja sama, yang mana malah bertolak belakang dengan keinginan di dalam hatinya saat ini.


“Ibu ... ayah ... kalian di mana sebenarnya? Tolong jangan buat kami menunggu dalam ketidakpastian seperti ini. Aku takut, Ibu, Ayah ....”


Tiga jam itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi tanpa sebuah kabar. Rasanya sangat tidak mungkin jika dalam tiga jam itu memang terjadi sebuah masalah kecil, tapi sama sekali tidak mendapatkan pesan dari orang tuanya.


Ibunya itu adalah seseorang yang paling tidak suka membuat anak-anak khawatir. Setiap perjalanan seperti ini, Bagus selalu berpesan kepada sang ibu untuk terus mengirimkan pesan, agar ia sendiri bisa memantau walaupun dari jauh.


Bahkan siang hari sebelum mereka berangkat tadi, masih sempat untuk mengingatkan sang ibu tentang memberi kabar.


Memang benar bahwa memberi kabar itu adalah suatu hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, tapi untuk mereka yang memiliki hubungan dekat, pasti hal tersebut sangat penting.


Memberi kabar itu bertujuan untuk memastikan bahwa seseorang yang kita sayangi sudah sampai dengan selamat dalam tujuan mereka.


Memberi kabar juga bermaksud untuk membuat seseorang di pihak lain merasa lega karena sudah tahu bahwa mereka baik-baik saja.


Sesederhana itu saja, tapi sangat besar maknanya. Bagus selalu mengingatkan orang tuanya untuk melakukan hal tersebut.


Tentu saja untuk menghindari kekhawatiran berlebihan yang mungkin saja bisa dirasakan olehnya sendiri.


Sebagai seorang anak sulung, ia takut ditinggalkan dan harus menjaga adik perempuannya yang masih kecil.


Jika sudah begini, lalu apa yang harus dilakukan sekarang?


Semakin lama, perasaannya justru menjadi makin tak tenang, membuatnya ingin bergerak sesegera mungkin mencari informasi.


Ia berniat untuk pergi ke agen travel agar bisa bertanya. Namun, saat akan mengambil kunci motor dan jaket, ia mendengar suara dering ponsel miliknya.

__ADS_1


Tanpa menunggu apapun lagi, segera mengangkatnya. Berharap bahwa ia akan mendapatkan kabar yang baik setelah ini.


“Halo, Yud? Sudah dapat kabar tentang ibu dan ayah?”


“Bagus."


Apa ini? Mengapa perasaannya jadi semakin tidak karuan ketika mendengar suara lemas dari sepupunya tersebut?


“Bagus, orang tuaku dapat kabar kalau ternyata kendaraan yang ditumpangi paman dan bibi mengalami kecelakaan hebat tadi sore."


Pada saat itu, Bagus langsung merasa bahwa dunianya runtuh. Ketakutan yang sejak awal menghantuinya nyatanya benar-benar telah terjadi. Kedua orang tuanya telah tiada karena kecelakaan.


Ia yang saat ini mencoba untuk menahan bola matanya agar tidak meloloskan bulir kesedihan, mengakhiri ceritanya pada Amira Tan dan menoleh pada saudara tiri istri sirinya tersebut.


"Tidak mempunyai orang tua saat aku masih sekolah dan harus menjaga adikku. Aku tidak ingin anak-anakku seperti itu. Jika kutukanku benar-benar terjadi hingga Putri mengalami hal buruk, aku ikut berdosa. Itulah yang membuatku menyesal karena terbawa emosi saat mengutuknya."


Kini, Amira Tan tidak bisa berkomentar apapun karena saat ini ia bisa mengerti bagaimana seorang anak hidup tanpa orang tua. Ingin sekali ia mengumpat saudara tirinya yang telah membuat hidup orang-orang di sekitarnya menderita.


Namun, ia tahu jika pria di sebelah kanannya itu hanya akan merasa terluka. Ia kini memilih untuk menoleh dan menatap intens wajah penuh segala bentuk kemuraman itu.


"Bukan pria melow dan lemah, serta sebaik ini. Mungkin sebutan malaikat tak bersayap sangat cocok untukmu."


Baru saja Amira Tan menutup mulut, indra pendengarannya menangkap suara tawa, tetapi menyayat hati. Bahkan saat ini, ia bisa melihat ekspresi wajah penuh remeh dari Bagus, seolah menjelaskan bahwa pujian darinya itu hanyalah ejekan.


"Jangan mencoba untuk menghinaku. Aku bukan malaikat tak bersayap seperti katamu, tapi hanya pria bodoh yang tidak punya harga diri."


Amira Tan bukan tipe wanita yang pandai menghibur seseorang, sehingga begitu Bagus mengakui sendiri, ia kini hanya tersenyum smirk.


"Baguslah, kalau kamu sadar. Aku tidak perlu bersusah payah untuk membuang energi saat ingin menghinamu, tapi kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Aku akan mengikuti alur hidup yang sudah diciptakan oleh Tuhan untukku. Tentunya tetap tinggal di tempatku sendiri dan tidak ingin orang lain merasakan imbas dari kemalangan yang kuhadapi. Pulanglah karena sebentar lagi, aku akan kembali ke rumah. Kamu tidak perlu mencemaskan aku karena kami akan baik-baik saja."


"Namun, aku benar-benar sangat berterima kasih atas bantuanmu hari ini. Aku akan mengembalikan uangmu nanti setelah mendapatkan gaji. Meskipun akan mencicil, tapi paling tidak bisa membayar utangku padamu."


Bagus dari tadi berbicara tanpa menatap Amira karena lebih asyik mengarahkan pandangannya pada malaikat kecilnya yang sangat disayangi. Melihat senyuman manis dari putranya yang sangat bahagia karena memiliki banyak teman, membuatnya merasa sedikit terobati.

__ADS_1


Baginya, dua anaknya merupakan segalanya dan akan memberikan semua yang terbaik sesuai kemampuan karena menyadari tidak akan bisa memanjakan keturunannya dengan harta melimpah.


Ia berpikir ingin memberikan akhlak yang baik semenjak kecil agar mempunyai pegangan hidup saat dewasa nanti dan tidak akan berbuat kesalahan seperti sang ibu.


Ia sekilas melihat pergerakan wanita di sebelahnya tengah berdiri begitu memeriksa ponsel.


"Aku sudah menduga kamu akan mengatakan hal ini. Kamu memang seorang pria yang menyebalkan!" Amira menunduk menatap ke arah sosok pria yang masih duduk di bawahnya.


Bahkan ia kini sibuk membersihkan bagian belakang tubuhnya karena duduk di atas rumput. Ia tadi berdiri untuk mengambil pesanan makanan yang sudah diantarkan di depan taman.


"Aku akan mengambil makanannya." Amira yang tadinya melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah depan, kini berhenti dan kembali menoleh ke belakang.


Tentu saja ia bisa melihat siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut sudah kembali fokus mengamati interaksi putranya.


"Aku akan langsung pulang karena tidak ingin menjadi seorang pengemis di sini. Memintamu untuk menerima bantuanku, benar-benar membuatku terlihat seperti wanita tidak berguna saja."


Refleks Bagus menyesal karena telah membuat Amira berpikir seperti itu. Namun, ia tidak bisa mengubah keputusannya. Meskipun melihat kekesalan wanita yang selalu terlihat sangat rapi dan elegan tersebut.


"Maafkan aku, Kakak ipar."


Sementara Amira hanya diam karena masih sangat kesal, sehingga memilih untuk berbalik badan dan tidak menanggapi permohonan maaf Bagus.


Ia kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pria yang mengantarkan makanan serta minuman.


"Aku jadi tidak selera makan karena pria bodoh itu."


Kini, ia mengeluarkan uang dari dalam tas dan menyuruh pria dengan mengenakan jaket berwarna hijau yang menenteng kantung plastik tersebut memberikan pesanan pada Bagus setelah memberikan uang.


"Itu, pria dengan kemeja biru kotak-kotak yang duduk di atas rumput."


"Siap, Nona. Saya akan memberikan ini pada pria itu," sahut pria yang berprofesi sebagai kurir tersebut.


Sementara Amira yang tadinya sangat lapar, sudah kehilangan nafsu makannya karena melihat nasib nahas Bagus.


Ia berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir di seberang jalan dan ingin segera pulang ke rumah untuk berendam air hangat di bathtub demi menenangkan diri karena otaknya hari ini benar-benar telah terforsir gara-gara saudara tiri yang berbuat ulah.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2