Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
232. Kekhawatiran Putri


__ADS_3

“Sebaiknya kamu pulang saja.”


Kedatangan sang ayah berhasil membuat Arya yang tengah menyandarkan punggung di kursi tunggu di depan ruangan ICU. Ia menoleh ke arah sang ayah.


"Sudah cukup larut, sebaiknya kamu istirahat!"


Sebesar apapun rasa kecewa Ari Mahesa pada putranya, tetap saja ia tidak tega jika melihat Arya ikut sakit karena kelelahan. Ari Mahesa paham, putranya itu dua hari belakangan pasti kurang istirahat.


Selain harus menemani istrinya yang baru saja melahirkan, Arya juga mempunyai tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.


Kini, terlihat Arya menegakkan tubuhnya. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa," ucap Arya seraya menatap wajah sang ayah yang terlihat begitu lelah.


Pria paruh baya itu bahkan masih mengenakan jas meskipun dasi sudah terlepas dari kerah kemeja yang dikenakan.


"Tentang?" Ari Mahesa kini mengerutkan kening, membalas tatapan putranya.


"Istri dan anakku," jawab Arya singkat.


"Papa tidak ingin membahas apapun tentang wanita itu." Ari Mahesa bertambah murka begitu mengetahui apa yang dimaksud oleh putranya.


"Besok, aku akan membawa mereka pulang ke kediaman keluarga Mahesa."


Kalimat Arya berhasil membuat Ari Mahesa yang sudah membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah, mematung seketika.


"What?" Ia kembali membalikkan badan dan menatap tajam putranya yang dianggap sangat gila tersebut. "Apa kamu sudah gila, Arya?" hardik Ari Mahesa dengan tatapan tajam penuh kilatan amarah.


"Mama sudah menyetujui itu, Pa! Bahkan itu adalah keinginan dari mama sendiri." Arya memberikan pembelaan untuk mengungkapkan kebenaran. Meskipun tahu bahwa sang ayah akan bersikap seperti itu.


"Tidak! Mama kamu tidak mengatakan apapun pada Papa. Bagaimana mungkin Papa bisa percaya begitu saja padamu? Bisa saja kamu memanfaatkan situasi ini demi bisa menyusupkan wanita itu ke rumah keluarga besar Mahesa."


"Aku tidak sedang berbohong, Pa. Aku mendengar apa yang mama katakan saat di klinik. Mama mengatakan jika dia akan menerima istri dan putra kami."

__ADS_1


Arya masih berusaha untuk meyakinkan sang ayah yang terlihat masih menggeleng tidak percaya. Bahkan ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada sang ayah agar mau mempercayai semua kata-katanya.


"Tunggu sampai mama kamu sadar. Papa akan bicara dengannya. Untuk saat ini, kamu tidak bisa membawa wanita itu ke rumah keluarga Mahesa." Ari berucap tegas dan masih mengarahkan tatapan tajam pada putranya, agar tidak melanjutkan rencana yang dianggapnya gila.


"Papa anggap keputusan mamamu adalah sepihak dan tidak menyetujui itu jika tidak mendengar sendiri."


Ari meninggalkan Arya yang terlihat tidak puas dengan keputusannya. Ia tidak peduli dengan pembelaan atau pembenaran yang terlantar dari mulut putranya.


Ari Mahesa tidak ingin mendengar apapun jika itu menyangkut tentang Putri. Wanita yang sangat ia benci.


Ia yakin istrinya tidak mungkin mengambil keputusan besar seperti itu secara sepihak. Pasti ada sesuatu yang membuat istrinya mengatakan menerima Putri dan bayi wanita itu.


Mengingat bagaimana istrinya yang menelpon beberapa kali sebelum kecelakaan, ia yakin, pasti ada sesuatu yang ingin sang istri sampaikan padanya.


Namun, sayangnya ia tidak sempat mengangkat panggilan telpon dari sang istri karena saat itu sedang meeting dengan klien dan ponselnya dalam mode silent.


Sementara itu, Arya mengacak rambut dengan frustrasi karena ternyata sang ayah tidak setuju jika ia membawa Putri ke rumah keluarga besarnya besok.


Ia hanya berharap, semoga sang istri akan memahami situasi saat ini karena bagaimana pun, mamanya itu belum mengatakan rencana mereka pada sang ayah.


Arya seketika mendaratkan tubuhnya yang lemas pada sofa karena merasa tenaganya seperti tidak tersisa.


Ia merasa seperti tenaganya dikuras habis hari ini dan juga pikirannya pun dipenuhi banyak beban yang membuatnya merasa sangat lelah.


Hanya embusan napas panjang yang mewakili perasaannya saat ini ketika melihat keadaan sang ibu terlihat tidak berdaya dengan banyak alat kesehatan yang menopang kehidupan.


Bahkan dengan suara yang seperti membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.


Sementara itu, di tempat berbeda, yaitu klinik bersalin, terlihat Putri tengah bersandar di atas brankar dengan kesal.


Bagaimana tidak, Arya pergi begitu saja beberapa jam lalu. Meninggalkan ia dan bayi mereka saat mendapat telpon yang mengabarkan jika mama Arya mengalami kecelakaan mobil.

__ADS_1


Ia terus saja menggerutu dan mengumpat sendiri karena berpikir itu adalah salah satu bagian dari rencana Rani untuk menghalangi Arya agar tidak membawanya ke rumah keluarga besar Mahesa. Putri mendesah berat saat suaminya tak kunjung kembali.


Sementara di luar sana, hari sudah gelap. Ponsel pria itu juga tidak bisa dihubungi. Perasaan Putri semakin tidak karuan saja.


Putri melirik ke dalam box bayi saat melihat bayinya beberapa kali menggeliat, seperti tidak nyaman.


Putri baru ingat jika ia belum mengganti popok putranya. Kemudian ia turun dari atas ranjang dan melangkah perlahan, hendak mengganti popok bayinya. Namun, rupanya stok popok sudah tidak ada.


Putri melangkah keluar dari ruangan, hendak meminta popok pada petugas yang berjaga.


Namun, langkahnya terhenti di depan televisi yang saat itu sedang menyiarkan sebuah berita tentang kecelakaan mobil.


Ia menajamkan mata dan pendengaran, menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh reporter pembawa berita tersebut.


"Kecelakaan terjadi akibat truk mengalami rem blong dan menabrak beberapa pengendara lain yang ada di depannya.


Saat ini, polisi sedang melakukan penyelidikan lebih dalam setelah sopir truk tersebut menyerahkan diri ke kantor polisi usai kecelakaan.


Korban dari kecelakaan ada enam orang. Lima diantaranya mengalami luka dan langsung dilarikan menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Satu korban meninggal dunia saat perjalanan menuju rumah sakit. Salah satu korban dari kecelakaan tersebut adalah istri dari pengusaha sukses Ari Mahesa.


Sampai saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak keluarga, maupun rumah sakit mengenai kondisi istri Ari Mahesa tersebut, sedangkan korban meninggal sendiri merupakan sopir pribadi keluarga Mahesa bernama Pram yang berusia 45 tahun."


Kini, Putri termangu di tempatnya. "Jadi, kecelakaan itu benar-benar terjadi?" lirihnya yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


Setelah mendapat popok dari petugas klinik, ia segera kembali ke kamarnya. Ada rasa bersalah yang terselip di hati Putri karena ia sudah berpikir buruk pada mertuanya tentang kecelakaan itu.


Putri mencoba menghubungi suaminya kembali. Namun, nomor pria itu masih belum bisa dihubungi. Ditengah kegelisahan yang membuat mata sangat sulit terpejam.


Hingga tiba-tiba saja, pintu ruangan tempatnya dirawat terbuka.

__ADS_1


Putri segera bangkit dari posisinya saat tahu siapa yang datang.


To be continued...


__ADS_2