
Pagi ini, Putri terbangun lebih dulu. Seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kali ini ia sangat bersemangat. Ia menyiapkan pakaian Arya untuk bekerja.
Mulai dari pakaian, hingga sepatu dan beberapa barang penting yang biasa dibawa suami.
Setelah selesai, ia berjalan ke dapur untuk memasak dan juga menyiapkan bekal seperti hari sebelumnya. Putri meraih kotak nasi yang sudah kosong, senang melihat suaminya menghabiskan semua makanan yang ia masak. Kali ini, ia akan kembali menyiapkan menu spesial untuk Arya.
“Arya pasti suka sama bekal hari ini," gumamnya sambil memasukkan beras yang siap untuk dimasak dengan alat penanak nasi.
Setelah itu, ia juga menyiapkan bahan-bahan untuk memasak, seperti sayuran, daging ayam, dan beberapa pelengkap lainnya.
Dengan lincah tangannya meracik bumbu, memotong sayuran dan lainnya. Putri sudah terbiasa karena dari dulu merupakan ibu rumah tangga yang baik dan juga di rumah nyonya Brenda, memasak dan selalu dipuji bahwa masakannya sangat lezat.
Kecepatan tangannya pun sudah seperti seorang ahli. Saat semua telah selesai dan siap untuk dihidangkan. Putri juga melihat ada piring kosong di atas meja. Pesan singkat yang ia tulis di secarik kertas mendapat balasan ‘terima kasih, Sayang’.
Senyumnya merekah seperti mendapatkan sebuah perhatian. Padahal itu hanya sebuah ucapan terima kasih yang sederhana.
Putri kembali menghidangkan makanan baru di atas meja makan. Bekal makan siang suami juga sudah ada di sana dan siap untuk dibawa.
Wanita yang tengah hamil itu berjalan ke kamar. Ia melihat Arya masih berada di atas ranjang dengan mata tertutup. Putri mendekat, perlahan diusapnya wajah Arya dengan lembut.
Hingga akhirnya pria itu membuka mata dan menarik napas panjang, lalu diembuskan.
“Arya, sudah jam setengah tujuh. Nanti kamu terlambat kalau tidak segera bangun.”
Arya menggeliat begitu membuka mata dan rutinitas pagi ia awali dengan mencium perut sang istri. “Iya. Aku akan segera bangun, Sayang. Putraku pasti sudah bangun dari tadi."
Arya mengusap lembut perut buncit itu untuk menyapa putranya karena ingin mendapat suntikan semangat dari pergerakan kuat bayi di dalam perut itu.
Hingga sudut bibirnya melengkung ke atas begitu mendapatkan apa yang diinginkan. Ya, pergerakan dari perut itu jelas terlihat.
"Jagoanku benar-benar sangat hebat." Masih mengusap lembut perut buncit itu untuk menikmati sensasi saat melihat pertunjukan putranya.
Putri yang juga ikut tersenyum merekah melihat interaksi antara bayi di dalam perut dan sang suami, merasa bahagia. Bahkan ia kini sudah mengusap lembut rambut berantakan Arya yang masih sibuk dengan perutnya.
__ADS_1
“Aku sudah menyiapkan pakaian, makanan, dan bekal untuk di kantor. Pekerjaan pada hari pertama pasti menumpuk, hingga kamu lembur. Andai tidak hamil besar, aku ingin sekali berkunjung ke sana dan memberikan semangat padamu.”
Refleks Arya menggelengkan kepala tanda tidak setuju karena khawatir jika Putri melihat pekerjaan kasar sebagai cleaning service. Selain malu karena dari dulu tidak pernah mau bekerja rendahan, juga takut jika Putri malah merasa bersalah.
“Tidak perlu, kamu di rumah saja. Aku hanya staf biasa, bukan seorang CEO. Aku tidak ingin kamu merasa kecil di sana. Sudahlah! Aku akan mandi dan bersiap.” Bangkit berdiri dari posisinya dan mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar karena tidak ingin istrinya bertanya lagi.
“Ya, tidak masalah. Aku akan menunggumu di ruang makan.” Putri menutup mulut dan mengerutkan kening karena merasa sedikit aneh dengan sikap Arya.
Namun, ia berpikir jika itu hanya perasaannya saja dan tidak akan mengambil pusing. Ia beranjak dari kamar, meninggalkan Arya yang bersiap untuk mandi.
Sementara di dalam kamar mandi, perasaan Arya sungguh berkecamuk. Bagaimana jika istrinya tahu bahwa ia hanya menjadi seorang cleaning service saja? Arya belum siap melihat wajah kecewa Putri.
Arya mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa dingin saat menyentuh kulitnya. Pria itu segera menyelesaikan kegiatan itu agar bisa melanjutkan aktivitas lainnya.
Setelah selesai bersiap, beberapa menit kemudian Arya menyusul langkah istrinya ke ruang makan dan melihat Putri masih duduk menunggu di sana.
“Kenapa tidak makan dulu?” tanya Arya yang kini mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Putri.
“Iya. Terima kasih, Sayang." Arya tersenyum simpul dan melihat Putri melayani dengan baik.
“Aku antar lagi, ya?” Putri yang baru saja selesai mengambilkan makanan, mencoba untuk membuka percakapan lagi.
“Tidak perlu! Halte jauh dari tempatmu kerja Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan anak kita. Sebaiknya kamu berangkat saja ke rumah nyonya Maria. Aku akan berjalan sendiri ke halte hari ini.”
Setelah mengungkapkan kalimat penolakan, Arya kini langsung menyuapkan satu sendok makanan ke mulut dan mengunyah perlahan.
Tidak ingin membuat sang suami kesal pagi-pagi, akhirnya Putri hanya menganggukkan kepala perlahan dan tidak datang lagi membantah.
“Baiklah, semangat untuk bekerja! Anak kita pasti bangga dengan perjuanganmu.”
Setelah semua selesai dilakukan, Arya berpamitan untuk berangkat. Pria itu kembali berjalan kaki menuju halte.
Sementara Putri juga berjalan menuju rumah nyonya Maria untuk bekerja.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Arya baru saja sampai di kantor. Hampir saja ia terlambat karena macet saat di jalan. Ia segera mengganti pakaian dengan seragam cleaning service yang sudah ada di loker karena tadi diberitahu telah mendapatkan seragam.
Kemudian segera meraih alat kebersihan dan berjalan menuju ruangan penyimpanan alat-alat kebersihan.
“Baru datang?” sapa seorang pria tinggi dengan bulu halus di sekitar wajahnya.
“Iya, Pak.”
“Oh, ya. Hari ini aku ada urusan yang tidak bisa ditunda. Kamu bisa gantikan saya buat lembur? Sepertinya ada karyawan yang lembur hari ini.”
"Masalahnya … saya tidak ada kendaraan untuk pulang jika terlalu malam.” Arya mengungkap apa yang dikhawatirkannya karena tidak ingin berakhir seperti semalam dengan mendapatkan belas kasihan Bagus.
"Begitu rupanya. Ya sudah, tidak masalah. Aku akan coba meminta teman lainnya yang bersedia.”
“Baiklah. Saya saja, tidak masalah jika pulang berjalan kaki,” ujar Arya yang mendadak berubah pikiran saat mengingat mendapatkan uang tambahan.
Ia meraih ponsel di saku celana, lalu mengirim sebuah pesan pada seseorang yang bisa membantunya untuk malam ini.
Setelah itu, langkahnya kembali menuju papan pengumuman yang ada di ruang cleaning service. Ya, di sana sudah tertulis apa yang harus dilakukannya hari ini.
“Arya, kamu ke lantai empat, ya! Hebat sekali kamu bisa membersihkan semua itu dengan baik. Hari ini ada petugas yang akan memperbaiki closet rusak itu. Kamu bisa bantu mereka atau awasi saja. Siapa tahu ada yang membutuhkan bantuanmu.”
“Baiklah."
Arya berjalan menuju lift, ia menekan tombol ke atas, lalu menunggu pintu terbuka. Saat menunggu, ada sosok yang dikenalnya berdiri tepat di samping kirinya dan mengatakan kalimat bernada semangat dan hanya ditanggapi dengan wajah masam.
“Sepertinya kamu mulai menerima semua ini, baguslah! Selamat bekerja.” Ari Mahesa tersenyum simpul saat bertemu putranya.
Setelah berkata seperti itu, ia langsung masuk ke lift dan membiarkan putranya untuk menunggu lift selanjutnya.
'Papa bangga padamu, Arya karena bisa bertahan atas ujian ini, tapi meskipun begitu, akan memisahkanmu dari wanita ****** itu dan sebentar lagi kau akan kembali ke rumah tanpanya.'
To be continued...
__ADS_1