Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
207. Bagaikan pepatah


__ADS_3

"Mungkin apa tidak kalau Arya itu suka sama Rani?” seloroh seorang karyawan pada teman lainnya di jam kerja.


Mereka yang kini berada di lantai empat, sedang bekerja sambil membicarakan tentang Arya dan Rani yang semakin hari memiliki kedekatan aneh.


Arya selalu membuat Rani marah dengan tingkah lakunya yang seperti anak kecil. Sangat suka menjahili teman dan seperti mencari perhatian. Hal itu membuat beberapa karyawan lain merasa bahwa Arya menyukai Rani.


Memang benar, tidak ada yang mengetahui alasan Arya berada di sana.


Bahkan, Arya tidak mengatakan jika dirinya sudah menikah dan akan memiliki seorang anak.


Akhirnya, berita simpang siur itu terdengar di telinga Rani. Wanita yang memiliki sikap tidak ingin tahu dan sangat biasa itu memilih untuk diam tidak berkomentar.


“Hei, ada banyak yang membicarakanmu di sana, tapi kenapa kamu biasa saja?”


“Memangnya aku harus bagaimana? Biarkan saja mulut mereka terus bergosip. Aku tidak peduli. Perasaanku, hanya aku yang tahu,” ujar Rani sembari mengelap kaca jendela yang ada di lantai tiga.


Sementara itu, Arya ada di lantai satu sedang melakukan hal lain yang diperintahkan oleh kepala cleaning service. Arya harus mengantarkan beberapa berkas ke karyawan yang bekerja di ruang khusus di perusahaan.


Berkas-berkas itu akan digunakan sebagai proposal untuk presentasi yang diadakan siang ini.


Arya mengetuk pintu, lalu masuk ke ruangan itu. Di sana, terlihat wajah-wajah yang sebelumnya dikenal. Di antara mereka, hanya satu yang menyapanya dengan biasa, yaitu pria yang sering meminta bantuan saat lembur. Bahkan memberikan senyum tulus seperti seorang rekan.


“Terima kasih, Tuan Arya.”


“Jangan panggil aku seperti itu. Saat ini, posisiku masih berada di bawah.”


“Apa salahnya? Sebuah panggilan tidak melihat posisi yang Anda pegang. Aku yakin, sebuah posisi juga akan memberikan pengalaman berbeda.”


“Terima kasih, aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan.”


“Ya, silakan.”


Arya kini menyursul Rani yang ada di lantai tiga. Pria itu mengambil alat kebersihan, lalu masuk lift untuk sampai di lantai yang dituju.


Saat sudah keluar dari lift, dari kejauhan terlihat Rani sedang asik berbicara dengan salah satu karyawan yang memang diketahui suka bergosip.


Arya mendekat dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Seketika membuat keduanya terkejut dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.


“Apa kamu tidak bisa membedakan antara jam kerja dan jam istirahat?”


“Kamu bertanya padaku? Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu datang terlambat, sehingga membiarkan rekanmu ini bekerja seorang diri?” rengut Rani dengan nada protes pada Arya yang selalu menyulut emosinya.


“Aku bekerja atas perintah kepala cleaning service. Apa kini kamu menjadi seorang yang ingin memerintah?”


Rani terdiam, ia memilih untuk menghindari pertengkaran dengan Arya.


Saat keduanya sedang bekerja bersama dan dalam posisi yang sangat dekat. Tiba-tiba saja ada karyawan yang mendekat, lalu ingin berbicara dengan Rani.


Tentu hal itu membuat Arya tidak nyaman dan membuat karyawan tersebut emosi.

__ADS_1


“Sudah, Pak. Nanti saja saat jam istirahat kita berbicara lagi. Saat ini, aku sedang bekerja.” Rani mencegah agar tidak terjadi keributan di sana.


Sampai jam istirahat berlangsung. Arya melihat ponselnya dan ada pesan dari ibunya.


Mama tunggu kamu di restoran yang ada di samping kantor!


Hingga saat jam makan siang, dengan berjalan malas, Arya menemui ibunya yang kini duduk dengan banyak makanan di atas meja.


Wanita itu menyuruh Arya untuk duduk dan menemaninya makan di sana.


“Ada apa, Ma?” tanya Arya dengan nada ingin tahu.


“Makan saja dulu. Nanti kita bicara setelah makan siang.”


Arya tidak melawan dan hanya menurut saja. Setelah makan siang selesai, kembali bertanya mengenai tujuan ibunya.


“Tinggalkan Putri dan kamu akan mendapatkan posisimu kembali di perusahaan."


Kini Arya berdecih malas karena merutuki kebodohannya saat tidak menyadari apa yang akan dibicarakan oleh sang ibu dengan tatapan tajam mengintimidasi tersebut.


“Mau sampai kapan Mama seperti ini? Mama sungguh tidak bisa menerima Putri hanya karena aku tidak memiliki posisi itu di perusahaan. Ma, aku yakin papa memiliki rencananya sendiri untukku.”


“Arya! Kamu sudah berani membantah Mama? Mama hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Mama tidak bisa melihat putra kebanggaan bekerja di perusahaan keluarga sebagai petugas kebersihan. Mau ditaruh mana muka Mama?"


"Bagaimana jika ada salah satu teman sosialita Mama yang tahu? Mama bisa malu sampai ubun-ubun, Arya.”


“Cukup, Ma! Mama harus bisa menerima kenyataan. Bahkan aku bisa belajar dari apa yang pengalaman menjadi orang biasa selama ini. Sudahlah! Terima kasih untuk makan siangnya, aku harus kembali bekerja. Aku tidak mau mendapatkan masalah dengan terlambat datang.”


Selama perjalanan menuju ke kantor, ia tidak berhenti mengabsen seluruh isi kebun binatang untuk meluapkan emosi.


Hingga setengah jam kemudian, ia kembali ke ruang loker dan mengambil peralatan kebersihan untuk bekerja karena jam istirahat telah habis.


Sementara sang ibu yang kini ada di restoran merasa semakin kesal. Hingga ada banyak rencana buruk yang ingin dilakukan terhadap Putri.


Namun, baru saja ia akan berdiri dari posisinya. Seorang pria menyapanya dengan menatap tajam.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Pa, Mama hanya makan siang saja dan mau mampir ke kantor.”


“Banyak sekali porsi makan hari ini?”


“Iya, tadi makan dengan teman.”


Ari Mahesa menatap tajam pada istrinya dan kembali melanjutkan langkah untuk duduk di meja khusus yang sudah ada tulisan ‘reserved’. Ia ada janji dengan klien bisnis yang akan membantu rencana yang diatur.


Rani memilih untuk pergi dari sana dan melanjutkan kegiatan selanjutnya, yaitu berbelanja.


Kembali ke perusahaan, Arya sedang menyapu lantai di ruang karyawan yang ada di lantai tiga.

__ADS_1


Seorang diri tanpa tahu di mana Rani sekarang berada. Ya, sejak jam istirahat selesai, ia tidak melihat Rani di manapun.


Sempat kesal, tetapi tidak mengambil pusing masalah itu. Ia bisa saja merencanakan hal lain untuk membuat Rani jera dengan sikapnya saat ini.


“Sepertinya wanita itu masih belum tahu siapa aku.”


Arya kini membersihkan satu meja kosong dengan lembaran kertas yang sudah tidak terpakai. Akan tetapi, bukan membuang, Arya membacanya dengan duduk di kursi itu.


Kertas-kertas itu adalah laporan yang salah cetak. Arya memperhatikan kembali angka dan penjelasan di sana. Lalu, meraih pena yang tersemat di saku pakaian.


Kini, ia membenarkan laporan itu. Ia tahu siapa pemilik laporan tersebut dan meletakkannya di meja sang pemilik.


Arya kembali bekerja dan setelah menyapu, mulai membersihkan debu di sela-sela tempat yang ada di sana.


“Arya, ini kamu yang kerjakan?” tanya seorang karyawan yang kini melihat laporan terbuang itu.


"Iya, tadi menemukannya di sana, lalu aku benahi dan itu sudah jauh lebih baik.”


“Wah, terima kasih, ya. Aku sudah mengerjakan ini dari pagi, tapi tetap saja salah kata bos. Nanti, bisa temani aku lembur?”


“Aku belum tahu karena sedang banyak pikiran," sahut Arya malas dan sudah tidak bersemangat untuk lembur setelah kesal pada perkataan sang ibu.


“Tidak sampai malam, hanya sampai jam delapan, tetapi jika selesai jam tujuh, bisa pulang lebih cepat.”


Setelah mempertimbangkan hal itu, kini Arya membuka mulut. “Baiklah.”


Setelah menerima pekerjaan tambahan, Arya kembali fokus pada hal yang dilakukan saat ini.


Dari pintu masuk, terlihat Rani yang sedang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arya.


Tiba-tiba saja langkah wanita itu mendekat dan bertanya, “Kenapa tidak memberitahu jika ada di sini?”


“Apakah pekerjaan ini perlu pemberitahuan untuk sesama rekan? Setidaknya kamu tahu jadwal yang sudah tertera di papan pengumuman.”


Rani terdiam dan memilih untuk bekerja di ruangan tersebut. Namun, saat Rani akan melakukannya, seluruh ruangan sudah terlihat bersih dan ia tidak bisa melakukan apapun di sana.


“Ternyata kamu sudah mengerjakan semua. Apa aku perlu traktir kamu dengan membelikan minuman di mesin minuman kaleng?”


“Terserah. Lebih cepat lebih baik. Aku akan menganggap sebagai pengganti lelahku yang sudah mengambil bagianmu.” Arya bahkan menjawab dengan mengibaskan tangan.


Rani tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan itu untuk membelikan Arya minuman.


'Sebenarnya putra pemilik perusahaan ini adalah seorang pria yang baik setelah lama mengenalnya. Apalagi ia memiliki paras rupawan yang pastinya akan membuat para wanita mengantri di belakang hanya dengan mengganti seragam cleaning service berwarna hitam dengan setelan jas lengkap.'


Sementara ia merasa tidak masuk dalam kategori dan hanya akan menjadi penonton saja.


'Aku ingin terus bekerja di perusahaan ini, agar mengetahui seperti apa wanita beruntung yang memilikinya. Tentunya bukan aku karena itu tidak mungkin terjadi. Aneh sekali gosip yang beredar di perusahaan ini mengenai aku dan Arya.'


'Bahkan aku dan dia bagaikan bumi dan langit yang tidak akan pernah bisa disatukan,' lirih Rani di dalam hati saat menyadari jika gosip itu bagaikan pepatah 'pungguk merindukan bulan'.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2