
Sementara itu, bocah berusia 3 tahun tersebut seolah sangat mengerti apa yang akan diberikan oleh sang ayah, sehingga langsung diam dan mengatakan tiga hal itu dengan suaranya yang masih belum terlalu jelas.
Namun, Bagus yang sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putranya yang masih belum jelas bicaranya, kini hanya menganggukkan kepala dan mengusap lembut punggungnya.
Berharap putranya bisa lebih tenang dan tidak menangis lagi. "Tapi kita sekarang mandi dulu, oke? Nanti kita pergi beli mainan dan es krim, sama coklat."
Bagus berbicara dengan logat seperti anak-anak dan terdengar sangat lucu, agar putranya tidak takut lagi padanya, sehingga ia dengan mudah bisa menenangkannya.
Kini, ia telah berhasil membuat putranya diam dan berubah senang karena menginginkan sesuatu yang ditawarkan olehnya.
Tentu saja ia menyadari bahwa caranya untuk menenangkan putranya sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh sang istri. Para ayah biasanya selalu tidak mau ambil pusing mendengar suara tangisan dari anak dengan cara menawarkan sesuatu yang disukai.
Berbeda dengan para ibu yang lebih bisa menenangkan putranya dengan cara merayu sampai lama sekali. Meskipun terkadang sang istri mengunakan cara kekerasan dengan mencubit paha putranya saat disuruh diam, tapi tidak kunjung diam juga.
'Apa yang harus kulakukan? Aku tidak punya cukup uang untuk kembali ke kampung. Aku tidak mungkin menyewa kontrakan baru karena di sini sangat mahal. Aku belum mempunyai uang karena tadi sudah kuberikan pada Putri semua.'
Wahyu terlihat memandikan putranya sambil sibuk berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah yang semakin rumit dihadapi olehnya. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat sang istri yang sangat nekad.
'Bisa saja Putri nekad membawa bajingan itu tinggal di sini meskipun aku tidak mengizinkan. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak bisa berpikir kali ini.'
Kepala Bagus rasanya seperti mau pecah saja karena ia kali ini benar-benar tidak bisa berpikir untuk menyelesaikan masalah yang dialami.
Ia terus melakukan kegiatan membersihkan diri bersama putranya dan ingin segera pergi menjauh dari Putri untuk sementara waktu.
Sementara itu di luar ruangan kamar, Putri yang dari tadi hanya diam saja melihat kemurkaan dari Bagus, kini hanya menatap bekas perbuatan dari suaminya tersebut.
Hal yang membuatnya merasa sangat bersalah hari ini adalah membangkitkan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh sang suami, yaitu kemurkaan ketika menampilkan wajah menakutkan di depan putranya.
__ADS_1
Selama ini Bagus tidak pernah marah di depan anak dan selalu memarahinya jika marah pada putranya. Ia selalu saja berpikir bahwa sang suami tidak pernah mengerti bahwa terkadang memarahi anak merupakan hal yang wajar.
Apalagi ia tidak pernah memanjakan putranya agar menjadi anak yang kuat dan mandiri suatu saat nanti.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Dia sangat marah padaku. Jika sampai hari ini belum mendapatkan jawaban dari Bagus, apa yang harus kukatakan pada Arya?"
Entah sudah berapa lama Putri memutar otak untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi olehnya. Ia kali ini benar-benar tidak bisa berpikir lagi lebih jauh.
Apalagi kepalanya seperti mau meledak saja karena berbagai masalah menghantamnya saat ia dalam keadaan hamil.
"Harusnya aku sekarang memanjakan tubuhku saat hamil muda seperti ini, tapi yang terjadi malah harus memforsir tenaga dan otak seperti ini."
Putri kini menunduk menatap ke arah perutnya yang masih datar dan mengusapnya perlahan.
"Kenapa aku harus hamil sebelum menikah dengan Arya? Semuanya jadi berantakan dan aku gagal mendapatkan restu dari orang tuanya. Apalagi mama Arya yang sangat jahat itu sama sekali tidak pernah berubah. Dia tetap sama seperti yang pertama kali kutemui di salon kala itu."
"Wanita itu tidak pernah berubah. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak wanita itu? Apa ia selalu menilai sesuatu dari materi? Apakah jika aku merupakan keturunan konglomerat, ia akan merestui hubunganku dengan putranya?"
"Tapi aku masih sedikit beruntung saat wanita itu melupakan aku karena sama sekali tidak mengingat pertemuan pertamanya di salon. Jika ia ingat, pasti akan semakin bertambah besar kebenciannya padaku."
Suara embusan napas panjang nan berat dari Putri yang saat ini tengah menatap pecahan gelas di lantai dan membuatnya merasa sangat bersalah.
Kini, ia bangkit berdiri dari posisinya dan langsung mengambil sapu dan membersihkannya karena tidak ingin ada yang terkena pecahan gelas tersebut dan terluka.
'Mungkin aku harus menunggu hingga Bagus keluar dari kamar dan memohon lagi padanya. Aku tahu ia sedang marah, tetapi yakin akan berubah setelah emosinya berkurang.'
'Bahkan batu karang yang sangat kuat, lama-kelamaan akan terkikis oleh gerusan air. Aku yakin bahwa hati Bagus akan tersentuh jika aku terus memohon dengan menangis, tapi sepertinya harus memberikan waktu untuk ia menenangkan diri.'
__ADS_1
Putri yang baru saja membersihkan lantai dapur, kini menatap ke arah meja makan.
"Masakanku tidak akan disentuh oleh Bagus dan anakku karena sedang marah. Percuma aku masak hari ini. Seharusnya aku berbicara setelah mereka sudah makan. Bukan malah saat perut kosong dan akhirnya semakin membuatnya bertambah besar kemurkaan."
"Dasar bodoh!" umpat Putri yang saat ini tengah berpikir untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya lagi.
"Cukup sekali ini aku melakukan kesalahan dan membuatku sangat tersiksa dan dibebani banyak pikiran seperti ini."
Putri yang kini berjalan keluar dari ruangan dapur, sekilas melihat ke arah pintu ruangan kamar yang tadi dibanting oleh sang suami.
"Kenapa lama sekali? Apa yang mereka lakukan di dalam?"
Putri kini masih melihat pintu yang tertutup tersebut dan membuatnya merasa sangat bersalah, tapi ia sadar tidak ada pilihan lain.
"Maafkan aku," lirih Putri yang kini berjalan menuju ke arah depan.
Ia saat ini ingin menenangkan pikiran dengan mencari udara segar di teras rumah. Namun, baru saja ia berniat untuk mendaratkan tubuhnya di atas kursi, mendengar suara bariton seorang pria yang sangat dihafalnya.
"Hai, Sayang."
Putri yang saat ini mengerjapkan mata begitu melihat pemandangan di depannya ada sosok pria yang sangat dicintainya tengah mendorong koper dan berjalan mendekat.
"Arya? Apa ... apa yang kamu lakukan di sini? Aku belum memberikan kabar padamu, tapi kenapa kamu datang ke sini?"
"Aku diusir oleh Rendi karena papanya mengancam akan mencabut segala fasilitas yang diberikan jika tetap membiarkan aku tinggal di apartemennya."
"Aku tidak punya tempat untuk tinggal karena papaku semakin gencar menyiksaku agar pulang ke rumah. Atau kamu mau aku pulang ke rumah saja?" ujar Arya yang kini menatap kesal pada Putri ketika berekspresi seperti tidak mau menerimanya.
__ADS_1
To be continued...