
Semenjak Arya melakukan perjalanan bisnis, sikap Putri pada Arya cukup berubah drastis. Jika biasanya ia selalu perhatian pada pria yang berstatus sebagai suami tersebut dengan cara menyiapkan apapun keperluan dan kebutuhan Arya, tetapi hal berbeda tampak jelas terjadi pada kehidupan rumah tangga mereka.
Ia semakin terlihat cuek karena berharap sang suami mengerti perubahan sikapnya terjadi atas dasar kecurigaan. Putri merasa bahwa hal yang berbeda tampak dari sikap sang suami yang sudah lagi tidak bersikap romantis padanya.
Hal itu membuat ia merasa curiga jika Arya memiliki selingkuhan di belakangnya. Jika biasanya setiap malam ia selalu menunggu sang suami di depan rumah, tetapi berbeda dengan yang saat ini dilakukan karena berpura-pura tidur dan tidak bangun saat Arya sudah pulang.
Bahkan setiap pagi, ia pun melakukan hal yang sama, yaitu tidak menyiapkan semua kebutuhan saat suami hendak berangkat bekerja, seperti pakaian maupun sarapan serta bekal.
Sudah satu minggu ini ia melakukannya dan sama sekali tidak mendapatkan respon dari Arya. Padahal berharap jika sang suami kesal dan marah padanya karena tidak menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab atas tugas ibu rumah tangga.
Namun, semua tidak seperti yang dipikirkan karena sang suami sama sekali tidak bertanya ataupun marah. Seolah tidak ingin berbicara dengannya dan membuatnya semakin merasa murka.
Tidak kuat lagi menahan semua perasaan yang membuncah di dalam hati, akhirnya pagi ini ia memilih untuk menyelesaikan masalah yang menimpa rumah tangga mereka.
Ia sengaja bangun pagi karena ingin bertanya pada Arya mengenai sikap yang terlihat berubah dan sudah tidak seperti dulu lagi. Saat melihat Arya sudah terlihat bersiap untuk berangkat ke kantor, kini mulai membuka suara untuk membahas tentang nasib rumah tangga mereka.
"Apa kamu akan diam tanpa berbicara apapun setiap hari? Apa kamu sekarang menikmati pekerjaanmu dan juga karena ada seorang wanita yang menjadi selingkuhan di sana?"
Sementara itu, Arya yang awalnya ingin berangkat bekerja, merasa terkejut dengan perkataan dari sang istri yang terlihat memerah wajah karena dikuasai oleh emosi. Selama ini ia berpikir jika wanita yang telah mengandung benihnya tersebut hanya kelelahan dan mengalami perubahan hormon.
Ia sama sekali tidak pernah berpikir jika sang istri ternyata marah dan menganggapnya memiliki seorang selingkuhan.
"Apa maksudmu, Sayang! Aku sama sekali tidak paham kamu sedang berbicara apa."
Refleks Putri langsung tertawa terbahak-bahak karena mendengar tanggapan dari sang suami yang terlihat sangat santai dan malah seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura bersikap bodoh. Setelah kamu pulang dari perjalanan bisnis, sikapmu jauh lebih dingin dan tidak romantis seperti biasanya. Aku sangat yakin jika kamu memiliki seorang selingkuhan dan bisa saja itu adalah rekan kerja di kantor."
"Aku selama ini hanya diam dan ingin memberikan kesempatan padamu agar menjelaskan sendiri padaku bahwa itu semua tidak benar. Namun, kamu malah lebih banyak diam dan seperti tidak ingin berbicara denganku. Apa kamu sudah bosan padaku karena memiliki wanita lain?"
Kini, Arya terlihat memijat pelipis karena apa yang diungkapkan oleh sang istri. Apalagi tuduhan tidak berdasar itu membuat dia seperti seorang pria yang gemar berselingkuh.
Ingin sekali ia menaikkan suara karena merasa sangat marah atas tuduhan konyol yang dikatakan oleh Putri yang dianggap sangat kekanak-kanakan. Namun, ia tidak bisa melakukannya saat melihat wanita dengan perut membuncit tersebut baru saja menampilkan wajah dengan meringis seperti sedang menahan sakit.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? Aku sama sekali tidak memiliki selingkuhan seperti tuduhanmu. Jadi, jangan pernah berpikir aku akan berselingkuh karena sangat mencintaimu dan menunggu anak kita lahir ke dunia ini."
Arya berbicara dengan berjalan cepat menghampiri sang istri yang duduk di meja makan karena melihat seperti sedang kesakitan.
Sementara Putri yang masih tidak mempercayai perkataan dari sang suami, kini tidak bisa membantah ataupun menyela untuk mengungkapkan pendapat karena saat ini perutnya merasakan kontraksi.
"Ini sakit sekali. Sepertinya aku akan melahirkan. Padahal dokter mengatakan masih satu minggu lagi. Bawa aku ke rumah sakit sekarang agar dokter segera memeriksa apakah benar-benar akan melahirkan."
"Baiklah, ayo kita berangkat ke rumah sakit."
"Bawakan tas yang ada di bawah lemari karena aku sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk proses persalinan," sahut Putri yang beberapa kali terlihat menarik napas dan mengeluarkan perlahan serta mengusap perut yang buncit.
Sementara itu, Arya yang terlihat sangat panik, kini menganggukkan kepala dan memilih untuk segera berjalan ke dalam kamar. Ia mengambil tas yang dimaksud oleh sang istri dengan perasaan berkecamuk dan juga khawatir.
Pertama kali melihat dan akan mendampingi seorang wanita yang melahirkan putranya, tentu saja merupakan pengalaman pertama dan membuatnya merasa khawatir serta kebingungan harus berbuat apa.
Namun, ia menyadari bahwa wanita yang saat ini hamil anaknya tersebut lebih berpengalaman dan bersikap tenang, sehingga membuatnya sedikit lebih baik.
__ADS_1
Arya hanya patuh pada perintah Putri karena mengetahui bahwa wanita itu jauh lebih berpengalaman. Apalagi sudah melahirkan dua anak dan ini adalah yang ketiga kalinya.
Setelah mempersiapkan semua dan juga menunggu taksi datang, kini pasangan suami istri tersebut sedang menunggu di depan rumah dan tak lama kemudian mobil yang ditunggu sudah datang.
"Hati-hati, Sayang." Arus kini membantu Putri untuk masuk ke dalam mobil yang akan menuju ke rumah sakit.
Putri masih sibuk menormalkan perasaannya saat merasakan rasa sakit pada perut yang mengalami kontraksi lebih kuat.
Hingga beberapa saat kemudian menghilang rasa sakit itu dan membuatnya sedikit lega saat bersandar di punggung jok mobil yang mulai melaju meninggalkan area kontrakan menuju ke rumah sakit.
Ia kini melihat wajah sang suami yang terlihat sangat mengkhawatirkannya dan juga berusaha menenangkan serta menggenggam erat tangannya.
"Tenanglah, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja dan putra kita lahir dengan selamat. Begitu pun dengan sang ibu yang sangat kuat. Aku akan selalu ada di sampingmu. Jadi, jangan khawatir."
Arya kali ini merasa sangat khawatir pada keadaan sang istri yang terlihat semakin pucat dengan penuh membasahi pelipis. Namun, ia berusaha untuk tidak menampakkan apa yang dirasakan karena ingin menjadi suami yang siaga dan bisa diandalkan oleh seorang istri.
Putri saat ini tidak bisa berkata apapun karena merasa terharu melihat sikap Arya yang sangat perhatian. Hingga ia berpikir bahwa tuduhannya tidak benar setelah melihat wajah penuh kekhawatiran dari pria yang duduk di sebelahnya.
"Maafkan aku. Aku ingin kamu memaafkan semua kesalahanku, agar nanti lebih mudah dalam melahirkan karena maaf seorang suami akan memudahkan proses persalinan."
"Iya, Sayang. Aku sudah memaafkanmu dan semoga persalinan hari ini lancar, sehingga ibu dan anak bisa selamat tanpa kurang suatu apapun."
Arya langsung merengkuh tubuh sang istri kepelukan untuk menenangkan perasaan. "Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah berselingkuh seperti yang kamu tuduhkan tadi."
"Terima kasih. Aku percaya padamu," sahut Putri dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.
__ADS_1
To be continued...