
Beberapa saat yang lalu, Arya mengantarkan Putri pulang ke rumah setelah susah payah menenangkan perasaan sang kekasih. Ia berjanji akan memberikan jalan terbaik untuk mereka.
Satu jam kemudian, perasaannya sudah jauh lebih baik, sehingga menyalakan kembali mobilnya dan mengemudikan menuju ke rumah.
Ia tahu bahwa hari ini sang ayah pulang terlambat karena lembur. Arya saat ini berharap jika sang ayah belum tiba di rumah. Meskipun ia tahu bahwa ibunya pasti menghubungi dan sudah menceritakan semuanya.
Tentu saja Arya berharap jika semua yang ia takutkan, tidak pernah terjadi.
Mobil Arya masuk dan ia parkir di garasi seperti biasa. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Kini, ia berbelok menuju tangga yang mengarah ke kamarnya sambil terus waspada.
"Arya!" teriak seorang pria dengan kulit yang agak keriput, tapi tidak membuat pesonanya yang berwibawa luntur.
Baru saja dua anak tangga Arya pijak, ia harus rela berbalik dan bersiap untuk menelan pil pahit yang akan sang ayah ucapkan.
"Dari mana kamu?" tanya sang ayah yang tak lain adalah Ari Mahesa.
Arya yang saat ini tengah menatap wajah sang ayah yang menampilkan kemurkaan, memilih untuk berdehem sejenak menormalkan kegugupannya karena ia tahu bahwa sebentar lagi akan mendengar suara menggelegar dari pria yang sangat disayanginya tersebut.
"Ehm ... aku baru saja mengantarkan kekasihku, Pa." Arya melangkah menuruni anak tangga dan menghampiri sang ayah.
Sebenarnya Ari Mahesa mengerti tentang apa yang terjadi tadi di rumah karena sang istri yang bercerita. Ingin sekali ia langsung menampar putranya, tetapi berusaha menahan diri.
Kini, ia mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada putranya. "Kekasih? Oh ... wanita murahan yang mama kamu ceritakan itu?"
Ari kini terbahak saat menanggapi perkataan putranya yang menyebutkan kekasih. Tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya ia sudah mengangkat tangan ke atas dan tidak membuang waktu, sudah mendaratkan pukulan cukup keras pada wajah putranya hingga terdengar sangat keras.
Bahkan telapak tangannya pun terasa panas sekarang, tapi sama sekali tidak diperdulikan.
Sementara itu, Arya memegang pipi kanannya yang memerah dan juga terasa panas. Ia tahu bahwa kemurkaan itu sangatlah wajar jika ayahnya berbuat seperti ini.
Ari Mahesa merasa sangat pantas marah atas perbuatan putranya yang benar-benar sudah diluar batas. Menghamili istri orang dan mempermalukan nama baik keluarga.
"Sudah Mama bilang, Sayang. Ikuti cara yang Mama sarankan tadi, maka kamu akan kami maafkan," tutur Reni yang ikut datang di belakang sang suami.
Sebenarnya ia tidak tega melihat sang suami berlaku kasar pada putranya, tetapi tidak ada pilihan lain karena ingin menyadarkan satu-satunya harapannya dalam keluarga besar Mahesa.
Apalagi Arya adalah putra satu-satunya yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan bisnis Mahesa yang telah mendulang kesuksesan.
Bahkan saat ini Arya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena merasa percuma meladeni orang tuanya yang menentang keputusannya.
Bagai tikus yang sedang dipermainkan oleh kucing, Arya terdiam tak berkutik saat orang tuanya mengarahkan tatapan tajam. Tentu saja terus menekannya untuk meninggalkan wanita yang sangat dicintai.
"Papa tidak sudi punya menantu murahan seperti itu. Apalagi wanita itu sudah mempunyai suami dan berbuat hal liar saat masih berstatus sebagai seorang istri!" umpat Ari penuh kemurkaan.
"Papa juga bertindak seperti Mama? Papa mau menghilangkan kebahagiaanku?" keluh Arya untuk mengungkapkan pembelaan diri.
Ari tidak bergeming saat Arya terduduk memohon untuk mendapatkan izinnya. Putranya ini terlalu bodoh atau terlalu dibutakan oleh cinta? Ia bahkan tidak pernah mendidik anaknya menjadi laki-laki brengsek seperti ini.
"Aku akan menikahinya, Pa. Apapun yang terjadi! Meski itu harus menentang restu kalian berdua!" ancam Arya seraya bangkit dari duduknya.
Ia tidak akan segan-segan untuk meminta apapun yang tidak bisa orang tuanya berikan demi restu tersebut. Apakah sebegitu susahnya untuk mengizinkan ia bersama wanita yang dicintai?
"Papa tidak pernah mengajarimu seperti ini, Arya. Kamu memilih menentang kedua orang tuamu demi wanita penggoda itu? Di mana kesadaran dan letak kehormatan? Apakah kamu sudah dibutakan oleh cinta gila?" tanya Arya tanpa ampun.
__ADS_1
Ari bahkan tidak akan segan-segan mengurung putranya agar menurut dan kembali menjadi penerus yang semestinya dan membanggakan.
"Dengarkan papamu, Sayang. Kamu akan menyesal jika tidak mendengarkannya!" seru Reni ikut menimpali.
Arya yang terlihat menggertakkan gigi, benar-benar sangat kesal karena kedua orang tuanya masih menganggapnya sebagai anak kecil yang harus dijaga dan diasuh layaknya seorang bayi.
"Aku sudah dewasa, Pa! Aku juga mempunyai keputusan dan keinginan sendiri. Aku lelah jika harus terus mendengarkan kalian. Hidupku akan berjalan sesuai keputusanku," ujar Arya yang masih tetap pada pendiriannya.
Ya, Arya bukanlah anak kecil dan juga tahu apa yang akan membawanya ke jalan yang lebih baik. Arya juga tahu kapan ia harus menolak dan meninggalkan semua kemauannya demi masa depan.
Namun, untuk sekarang, merelakan Putri bukanlah kemauannya dan tak akan pernah terjadi.
"Aku akan tetap menikahi kekasihku karena sangat mencintainya."
"Arya!" teriak Ari Mahesa yang kali ini kembali dibakar amarah begitu mendengar keputusan putranya yang memilih untuk melawannya.
Ruangan berukuran luas dan dilengkapi furniture mahal tersebut kembali hening, hanya terdengar deru napas gusar dari Arya yang telah meluapkan semua keluhannya. Dadanya seolah seperti sudah terasa sedikit lega setelah mengungkapkan apa yang menurutnya benar.
"Dengarkan Papa atau tinggalkan rumah ini!" teriak Ari dengan meninggikan nada bicaranya.
"Cobalah mengerti aku, Pa," lirih Arya dengan memasang wajah memelas.
Usahanya yang keras ternyata tidak membuahkan hasil. Ia terpaksa harus meninggalkan rumah sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas apa yang telah diperbuat.
Arya bahkan kali ini tidak membalas apapun selain berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Jika ini memang jalan menuju kebahagiaannya bersama wanita yang dicintai, maka baiklah. Ia berpikir lebih baik dilakukan.
Arya meraih koper yang ia taruh di atas lemari pakaian. Ia masukkan semua pakaian dan perlengkapannya ke dalam koper tersebut. Termasuk uang dan kartu kredit yang akan menunjang kehidupannya.
Tentu saja orang tuanya tidak akan tinggal diam jika melihat putranya hidup sengsara, begitu pikirnya. Tak lupa ia masukkan juga laptop yang biasa digunakan dan barang penting lainnya.
Di bawah, masih ada Ari dan Reni yang tengah santai dengan gelas teh masing-masing.
Sungguh cara bersantai yang elegan dan berkelas karena saat keadaan genting, kedua orang tuanya tetap terlihat tenang, seolah tidak mempedulikannya lagi.
Awalnya, Arya ingin berpamitan, tapi ia mengurungkan niatnya karena tidak mau membuang waktu.
Ia berjalan melewati keduanya tanpa suara. Hingga namanya terpanggil dan hal itu membuatnya berbalik dan menoleh ke sumber suara.
"Kamu mau kemana?" tanya Ari seraya meneguk tehnya.
Pria paruh baya tersebut masih terlihat sangat tenang, merasa sangat yakin jika putranya tidak akan pernah keluar dari rumah begitu ia mengeluarkan ancaman.
Sementara itu, Arya yang terpaksa berbalik badan dan melihat ke arah orang tuanya, kini menjelaskan apa yang akan dilakukannya.
"Papa menyuruh Arya untuk pergi, kan? Apa Papa berubah pikiran? Itu sangat lucu. Ataukah Papa kini sudah menyadari kesalahan?"
Arya terkekeh geli di hadapan sang ayah, sedangkan pria paruh baya itu hanya diam dan sama sekali tidak membalas candaan putranya.
"Sudah cukup bercandanya, Arya!" titah Ari yang kini bangkit berdiri dari posisinya.
Arya berteriak dalam hati untuk meluapkan rasa senangnya.
Sebentar lagi, ia akan mendapatkan restu kedua orang tuanya. Tidak sia-sia sandiwaranya ini.
__ADS_1
Sejak dulu, kedua orang tuanya memang mudah tertipu, sekali saja Arya berbuat nekat, maka Reni dan Ari akan menuruti kemauannya. Begitu juga dengan sekarang. Ia akan dengan mudah mendapat restu itu.
"Apa maksud, Papa? memangnya Papa ingin aku bagaimana? Berhenti melakukan ini!" ujar Arya jengkel.
Arya berharap dalam hati jika Ari dengan cepat berkata akan memberikannya restu dan tidak perlu bertele-tele seperti ini.
"Kemarilah," titah Reni.
Arya menurut, tidak membuang waktu, ia sudah mendekat dan langsung diberikan pelukan hangat oleh sosok wanita yang telah melahirkannya. Hatinya menghangat, ia terharu karena ibunya masih mencemaskannya.
"Jaga diri baik-baik."
Arya sedikit terkejut. Ia kira sang ibu akan berkata 'mama memaafkanmu, sayang.'
Namun, itu hanya harapan belaka yang sudah hilang beberapa detik lalu.
Sementara itu, kini Ari menatapnya dengan lekat.
Arya sedikit merasa takut saat mendapat tatapan seperti itu, tapi ia juga sangat tahu bahwa tatapan yang Reni tunjukkan kepada Arya adalah yang paling buruk.
"Berikan kartu kredit itu," ucap Ari sambil menyodorkan tangannya.
Di sisi lain, Arya ternganga. Bagaimana bisa ia hidup tanpa kartu kreditnya? Ia sedikit terbatuk untuk menetralkan kembali suaranya.
"A-apa?"
Tidak ada pilihan lain, akhirnya ia mengeluarkan jurus ampuh pada putranya.
"Iya, berikan kartu kredit itu. Itu milik Papa. Kamu tidak bisa memilikinya. Saat kamu keluar dari rumah ini, berarti tidak akan pernah ada fasilitas yang akan kamu nikmati seperti sebelumnya," ujar Ari Mahesa santai.
Reni menepuk bahu Arya yang sepertinya sudah akan menyusut.
Arya menoleh ke arah Reni yang tersenyum kepadanya. "Kamu yakin akan pergi, Sayang? Tanpa kartu kredit, kamu bukanlah apa-apa," bujuk Reni.
Merasa dirinya kuat dan ingin membuktikan bisa hidup tanpa keluarga, Arya mengeluarkan kartu kredit tersebut dengan kasar dan ia hempaskan ke arah sang ayah. Ia berbalik dan kembali menyambar kasar koper hitam yang tadi ditinggalkan.
Ia membuka pintu utama dan berniat untuk membawa mobilnya saat pergi.
Arya menghentikan gerakannya dengan memegang tangan Arya hingga membuatnya berbalik.
"Papa bahkan belum selesai bicara, Putraku. Saat kamu keluar dari rumah ini, semua fasilitas akan kembali menjadi milik Papa. Jadi, kamu tidak mendapatkan apa-apa karena membantah semua perkataan kami," tutur Ari Mahesa tanpa beban.
Arya sama sekali tidak percaya dan membeliakkan mata. Tentu saja ia sangat terkejut luar biasa. Tidak habis pikir pada pola pikir sang ayah. Ia benar-benar akan hidup sendirian tanpa uang. Setega itukah orang tuanya hingga membiarkan sang putra berkelana tanpa tujuan.
"Kamu bilang sudah dewasa, bukan?"
"Buktikan!" lanjut Ari Mahesa dengan tersenyum puas.
Sementara itu, Arya masih termenung di sana dan sangat kesal. Mamanya benar. Ia bukanlah apa-apa tanpa semua fasilitas yang papanya berikan. Seingatnya, ia hanya membawa beberapa lembar uang dan sisanya ada di kartu kredit yang barusan kembalikan.
Arya terdiam sejenak, ia merogoh saku dan menyalakan layar ponsel. Ia berniat untuk menghubungi salah satu sahabatnya yang bisa meminjamkannya uang.
Namun, apa sahabatnya akan percaya? Arya dikenal sebagai anak pengusaha yang tidak membutuhkan bantuan orang lain dalam hal keuangan. Apakah ia akan mendapatkan uang pinjaman itu? Bahkan ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu.
__ADS_1
To be continued...