Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
158. Perubahan sikap Arya


__ADS_3

Sudah beberapa bulan, Putri masih bertahan dengan pekerjaannya. Beberapa kali ia mencoba untuk menyuruh Arya bekerja, tetapi selalu berujung pertengkaran.


Perut Putri yang terlihat membesar, tidak membuat Arya merasa kasihan. Pria itu justru menutup mata, dan selalu membuat Putri mencari semua yang dibutuhkan seorang diri.


Setiap harinya, Arya hanya berada di rumah dan bersantai. Sementara Putri tengah berjuang untuk dirinya dan rumah tangga yang semakin menyiksa.


Hari-hari Arya hanya memerintah dan menyiksa batin Putri. Pria itu hanya berguna saat berada di atas ranjang.


Bahkan hal itu sangat jarang mereka lakukan karena kondisi Putri yang selalu lelah setelah seharian bekerja.


Putri terlihat berkeringat saat merapikan pakaian yang baru saja selesai disetrika olehnya. Satu persatu ia rapikan di lemari yang ada di kamar pemilik rumah.


Setelah itu, masih ada pekerjaan lain yang sudah menunggunya di dapur. Ya, hari ini harus memasak untuk nyonya Brenda dan anak-anaknya. Keluarga itu sangat cocok dengan olahan masakan yang dibuatnya.


“Putri, lusa kamu bisa libur. Jangan khawatir, kamu bisa datang lagi keesokan harinya. Aku dan anak-anak akan pergi ke luar kota.”


“Baik, Nyonya.” Putri bernapas lega karena bisa merehatkan tubuhnya nanti saat tidak bekerja di rumah majikannya satu hari.


“Ini upahmu hari ini. Kamu bekerja dengan baik dan hasil masakanmu selalu nikmat. Aku beri kamu bonus hari ini dan ada sedikit makanan yang mungkin kamu suka. Bawalah itu untuk suamimu juga.”


“Terima kasih, Nyonya Brenda. Anda sangat baik hati. Suamiku pasti akan sangat senang mendapatkan ini.”


“Ya, kamu bisa pulang setelah selesai mencuci piring.”


Putri mengangguk perlahan, lalu kembali melanjutkan pekerjaan lainnya.


Menerima sejumlah uang, membuat Putri merasa sangat senang untuk melakukan pekerjaan itu lagi. Bagaimana tidak? Selama bersama Bagus, tidak sekali pun pria itu menyuruhnya untuk bekerja.


Ia hanya fokus pada rumah tangganya dan itu pun dulu selalu mengeluh capek. Berbeda dengan sekarang, harus bekerja dari rumah satu ke yang lainnya. Putri merasa seperti sedang terkena karma atas perbuatannya pada Bagus—suami pertamanya.


Tatapan mata Putri terlihat kosong, pikirannya menerawang dan mengingat kembali masa-masa bersama Bagus. Dua kali kehamilannya, pria itu tidak pernah mengizinkan melakukan pekerjaan rumah ketika hamil.


Bagus memperlakukannya seperti seorang ratu di rumah. Selama masa kehamilannya, ia selalu merasa bahagia karena semua kebutuhan tercukupi oleh suaminya.


Berbeda saat ia bersama dengan Arya karena seperti tidak merasa iba padanya, sehingga meragukan cinta suami keduanya itu.


Selesai dengan semua pekerjaan, ia berjalan kembali ke kontrakan.


Seperti biasa, Arya terlihat santai dengan kedatangan istrinya. Tidak ada sedikit pun rasa iba atau ingin menyambutnya dengan penuh kasih.


Justru, Arya bersikap kasar dan menyuruh Putri untuk segera membuatkannya makanan. “Aku sudah lapar! Cepat masak dan buatkan aku makanan yang lezat!”


“Tidak bisa! Hari ini aku tidak bekerja penuh karena lelah. Uang yang aku dapat tidak bisa digunakan untuk memasak makanan seperti yang kamu inginkan! Jika kamu mau, ada telur dan nasi saja di dapur.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Putri beranjak dari sana dan menuju kamar.


Satu persatu pakaian ditanggalkan, langkahnya kini menuju kamar mandi.


Guyuran air dari shower membuat tubuhnya merasa tenang. Meski air yang keluar dingin, Putri menikmatinya karena rasa lelahnya jauh lebih besar dari pada sekadar rasa dingin itu.

__ADS_1


Untuk sesaat, ia mencoba melupakan ocehan Arya yang tidak penting. Rasa-rasanya ia ingin sekali menyerah dan enggan bekerja lagi. Terbesit dalam pikirannya untuk kembali kepada Bagus, tetapi rasa malu itu terlalu tinggi.


Ada juga pikirannya yang berkata, bagaimana jika Arya justru kembali ke rumah orang tuanya saat dirinya bersama Bagus? Arya pasti akan melepaskannya dan enggan hidup dalam kesulitan.


Pikiran-pikiran itu membuat Putri menggeleng keras. Tidak! Ia tidak ingin pria yang sudah menghamilinya hidup senang tanpanya.


Cukup lama Putri berada di kamar mandi, saat tubuhnya masih terbalut handuk, terdengar suara berisik dari luar kamar.


Sepertinya Arya sedang berulah. Entah apa lagi yang dilakukan pria itu di sana. Putri segera mengenakan pakaiannya, menutup kembali tubuh polos dengan perut buncit itu.


“Ada apa?” tanya Putri yang kini sudah berada di dapur.


Putri membulatkan mata begitu melihat kekacauan yang dibuat suaminya. Pria itu sedang menguji kesabarannya dengan membuat satu-satunya bahan makanan di sana hangus dan tidak bisa dikonsumsi lagi.


“Apa-apaan ini? Kamu sudah buang-buang makanan dan ini itu bahan makanan terakhir yang kita punya!” rengut Putri sembari bersandar di dinding untuk menahan tubuhnya yang terasa tidak bertenaga lagi.


“Kamu sendiri yang mengatakan ada telur dan nasi di dapur, tetapi tidak memberitahu aku jika semua ini belum dimasak! Kamu pikir aku bisa melakukan semua ini? Cepat bereskan dan buatkan aku makanan! Aku sudah lapar! Asal kamu tahu, selama ini aku selalu dilayani dan tidak pernah pergi ke dapur!"


Arya meluapkan kekesalannya karena tadi benar-benar kelaparan, tapi tidak ada apapun yang bisa dimakan, sehingga memilih untuk mencoba menggoreng telur. Namun, yang terjadi, ia terlambat membaliknya, sehingga hangus dan berwarna hitam.


Tidak perduli dengan rasa lelah yang dirasakan istrinya, Arya melenggang begitu saja dari dapur dan masuk ke kamar.


Hati Putri terasa diiris, bahkan rasa sakitnya lebih dalam, hingga ada sesuatu yang terasa menghilang dari dirinya.


Apakah ini yang dinamakan karma? Pikir Putri sembari mengingat ucapan Bagus dulu.


Tangan Putri kembali bekerja dengan membersihkan lantai dapur dari makanan yang tumpah.


Belum selesai kegiatan itu, Arya kembali keluar dari kamar, lalu berjalan keluar rumah.


Melihat hal itu, Putri kembali memanggilnya dan bertanya mengenai kepergian suaminya kali ini.


“Mau ke mana? Sudah salah, tidak mau membantu. Bisanya pergi begitu saja! Kamu pikir aku asisten rumah di sini?”


“Bukannya selama ini kamu memang asisten rumah? Cepat bersihkan! Oh ya, tidak perlu memasak untukku, aku akan pergi makan di luar saja.”


“Apa? Lalu bagaimana dengan aku?”


“Kenapa denganmu? Bukankah kamu sudah makan enak di rumah majikanmu?”


“Kau ini! Semakin hari semakin tidak perduli padaku dan anak ini. Memangnya siapa yang akan memberikan makan padamu?"


Arya tampak kesal, ia tidak menjawab dan berlalu begitu saja dari sana. Langkahnya semakin jauh dan akhirnya menghilang di tikungan jalan.


Putri menangis meratapi keadaannya saat ini. Memiliki seorang suami yang tampan dan dulunya seorang kaya raya, bukanlah hal yang menyenangkan. Saat urusan dapur selesai, ia kembali ke kamar.


Wanita hamil itu sedang menghitung satu persatu uang yang sudah dikumpulkan untuk persalinannya kelak. Semua uang yang didapatkan, memang tidak seluruhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan.


Putri sengaja menyimpan uang itu dan tidak memberitahukannya pada Arya karena ada banyak alasan yang muncul di kepalanya.

__ADS_1


“Syukurlah, uangnya masih aman dan tidak ada yang hilang. Aku akan tetap menabung untuk biaya persalinan.”


Putri kembali meletakkan uang itu di tempat biasa. Pandangannya mengarah ke jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam, tetapi suaminya belum kembali. Ia memutuskan untuk memejamkan mata dan beristirahat karena besok harus kembali bekerja.


***


Pagi ini, sudah ada nasi goreng dan telur di atas meja makan. Putri memasaknya khusus untuk Arya. Bahkan bentuk telur itu seperti hati karena dicetak dengan penggorengan yang berbentuk serupa. Berharap suaminya tidak akan lagi marah dan kembali bersikap biasa.


Kenyataan memang tidak seindah angan. Putri mendapat makian atas masakan itu. Bahkan Arya melempar piring hingga pecah. Nasi goreng penuh cinta itu berserakan di lantai. Lagi dan lagi, hati Putri seperti dicabik-cabik.


"Makanan apa ini? Aku bosan setiap hari harus sarapan nasi goreng dan telur," umpat Arya yang kini menggebrak meja.


“Aku membuatnya untukmu. Berharap ada ucapan terima kasih dan satu kecupan di kening, tapi sepertinya semua itu hanya mimpi untukku. Kamu berubah, Arya! Kamu sudah tidak seperti dulu lagi. Ke mana Arya yang mencintaiku dan memilih menikah denganku?”


“Jangan banyak bicara, cepat bersihkan! Aku akan pergi sekarang karena sudah ada urusan lain yang menungguku.” Arya sama sekali tidak memperdulikan apapun karena beberapa hari ini kepalanya serasa mau pecah karena bosan menghadapi Putri yang sama sekali tidak bisa melayaninya dengan baik.


“Apa? Semudah itu kamu mengatakannya? Bahkan tidak ada kata maaf yang terucap dari bibirmu. Kamu ini menganggapku apa?”


“Pasti hormon wanita hamil yang membuatmu seperti ini. Sekarang cepat bersihkan dan berangkatlah bekerja. Kamu tidak ingin upahmu kembali sedikit, bukan? Aku pun tidak ingin seperti itu. Hari ini, aku ingin ada makanan enak di atas meja!”


“Tidak! Tidak akan ada makanan itu. Aku membutuhkan uang untuk pergi ke rumah sakit! Kamu pasti lupa, sudah waktunya untuk kembali ke sana. Aku dan bayi ini membutuhkan perhatian darimu dan juga dokter!”


“Kamu membuat aku kesal! Berangkat saja sendiri!” Arya berjalan ke luar dari rumah itu, langkahnya berhenti di depan pagar dan terlihat sebuah mobil datang menjemputnya.


Putri ingin mengetahui siapa yang sudah mengajak pria itu pergi, hanya saja pandangannya terbatas hingga mobil itu melaju cepat.


“Siapa yang menjemput, Arya?”


Putri harus segera membersihkan sisa makanan yang ada di lantai. Setelah itu, ia akan berangkat ke rumah nyonya Maria. Ya, hari ini adalah giliran rumah milik wanita kaya itu.


Sampai di rumah nyonya Maria, Putri langsung menuju ruang laundry. Satu persatu potongan pakaian dimasukkannya ke dalam mesin cuci, lalu mesin itu bekerja secara otomatis untuk membersihkan kain-kain yang sudah berada di dalamnya.


“Kenapa wajahmu terlihat pucat, Putri?” tanya asisten rumah nyonya Maria.


“Tidak apa-apa. Pagi ini aku belum sempat makan apapun. Mungkin karena itu wajahku terlihat pucat.”


"Kamu ini! Bukankah kamu sedang hamil? Kenapa tidak makan pagi? Sini! Ada sedikit makanan, kamu bisa meninggalkan pakaian kotor itu dan mengisi perutmu.”


Wanita paruh baya itu menarik tangan Putri perlahan, lalu menuju dapur untuk menghidangkan sepiring makanan.


“Ini, makan saja! Nyonya memberikannya padaku, tetapi aku sudah makan pagi ini. Tidak apa-apa, jangan khawatir, aku sudah makan.”


“Tidak, aku tidak mau nyonya marah karena ini.”


“Hei, ini makananku, kamu tidak akan dimarahi olehnya. Cepat habiskan sebelum pekerjaan lain menantikanmu.”


Akhirnya Putri tersenyum dan mengangguk perlahan. Tangannya mulai bergerak memasukkan makanan ke mulutnya. Rasa-rasanya, air mata yang sudah ditahan sejak berada di rumah akan pecah.


Ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita baik hati itu.

__ADS_1


Selesai dengan makanannya, Putri kembali melanjutkan pekerjaan di ruang laundry. Kali ini, semangatnya kembali karena dukungan dari orang-orang baik yang ada di rumah itu, termasuk pemilik rumah.


To be continued...


__ADS_2