Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
128. Pecahan kaca


__ADS_3

Menyesal? Pertanyaan balik dari Arya kali ini membuat Putri benar-benar sangat kesal karena bukan malah mendapatkan sebuah jawaban atas ketakutannya, tapi kembali harus bersabar untuk menunggu.


Refleks ia menggelengkan kepala untuk menguraikan kesalahpahaman yang dirasakan oleh Arya atas nada bicara yang seolah seperti sangat meragukan perasaan yang dimiliki.


"Mana mungkin aku menyesal. Aku bahkan sudah sampai di jalan ini dan mengatakan semuanya pada Bagus. Mana mungkin aku menyesal atas keputusanku karena memilihmu. Aku hanya takut jika suatu saat nanti kamu pergi dariku. Sementara aku sudah memberikan segalanya padamu."


"Memberikan segalanya dan membuatku yakin bahwa aku akan bahagia hidup bersamamu, itu adalah satu-satunya harapan dan impianku."


Mengerti dan memahami apa yang saat ini ditakuti oleh sosok wanita dengan posisi masih berjongkok di lantai kamar mandi tersebut dengan wajah pucat, kini Arya memilih untuk meraup tubuh seksi itu ke dalam lengan kekarnya.


"Aku pasti akan memenuhi impianmu, Sayang. Kita akan hidup bahagia dan menunjukkan pada orang tuaku bahwa tanpa mereka, masih bisa hidup bersama. Mereka pasti akan sangat marah dan kesal jika nanti mengetahui bahwa kita sudah menikah. Apalagi jika mengetahui yang membantu dan mengurus adalah suamimu sendiri."


Arya menurunkan tubuh Putri di atas ranjang dan memberikan kode pada wanita itu agar segera berpakaian karena ia melihat bibir wanita itu sudah membiru, menandakan telah kedinginan.


"Sebentar, aku ambilkan pakaianmu."


Arya yang bisa melihat ada lemari kayu di sudut kanan ruangan, kini membuka dan mengambil asal pakaian untuk Putri karena tidak ingin melihat wanitanya kedinginan. Kemudian menyerahkannya pada wanita yang saat ini hanya memakai handuk sebatas dada.


"Kamu kedinginan. Padahal ini sudah siang. Jika aku belum *******, mungkin akan menghangatkanmu dan membuatmu berkeringat di bawahku, Sayang."


Tanpa berniat untuk menanggapi candaan vulgar Arya yang memang selalu mesum padanya, Putri kini sudah buru-buru memakai pakaian rumahan khas ibu-ibu yang selama ini dipakai saat di rumah.


Sebenarnya ia merasa tidak percaya diri berpenampilan seperti seorang ibu-ibu di depan Arya, tapi merasa apapun yang ditampilkannya akan disukai oleh pria yang mengatakan akan selalu mencintainya.

__ADS_1


"Kenapa pria tidak normal itu tak kunjung datang? Apa dia tadi berbohong pada kita? Atau dia berubah pikiran dan mengurungkan niat untuk membantu kita?"


Arya berbicara sambil mengambil pakaian miliknya di dalam koper, yaitu celana pendek dan kaos casual yang semakin menyempurnakan penampilannya.


Sementara Putri yang sudah berpakaian ala rumahan tersebut kini tidak berkedip menatap pria yang benar-benar telah membuatnya tergila-gila dan jatuh cinta.


Arya Mahesa yang membuatnya jatuh cinta hingga rela meninggalkan semuanya agar bisa bersama sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang mengenakan pakaian santai, tetapi terlihat sangat memesona, karena memiliki ketampanan yang berhasil membuat para wanita takluk di bawah kakinya.


Mata yang berkilat, serta tatapan menantang, seolah menegaskan bahwa wajah tampan itu adalah sebuah pahatan sempurna dan sanggup meluluhlantakkan kaum hawa yang menatapnya.


Lekukan pipi putih yang tajam, hidung mancung, bibir padat yang sensual dan lekukan kecil di dagunya yang sama sekali tidak ditumbuhi bulu-bulu halus sedikit pun.


Para wanita yang menyadari iris mata yang dimilikinya sangat berkilat. Rambut hitam berkilat dengan kepala yang elok, wajah keras, tampan, dan sangat indah selalu membuatnya digilai oleh para wanita.


Dari tadi sudut bibir Putri melengkung ke atas, seolah menegaskan bahwa suasana hatinya sedang baik hari ini karena sekarang ia merasa menjadi wanita penting di hati pria yang telah berhasil merebut hatinya dan menjadi ayah dari janin yang ada di dalam rahimnya.


Berharap jika jenis kelamin dari janin di rahimnya adalah laki-laki dan kelak akan menjadi kebanggaan oleh Arya dan keluarga besar Mahesa karena akan menjadi pewaris tahta keluarga besar konglomerat.


Putri Wardhani selamanya hanyalah milik Arya Mahesa.


Hal itulah yang saat ini menegaskan perasaan Putri saat ia bersama dengan pria yang dianggap sebagai dewa cinta untuknya karena seolah membuatnya menjadi seorang wanita yang terlahir kembali karena menjadi wanita yang dicintai.


Putri saat ini masih tidak berkedip menatap wajah penuh dengan sekitar pesona di hadapannya tersebut yang terlihat baru saja mendaratkan tubuh di sebelah tempat ia duduk.

__ADS_1


"Bagus tidak pernah mengingkari janjinya. Aku yakin dia akan datang sebentar lagi. Mungkin susah untuk mengadakan pernikahan mendadak, meskipun hanya sebuah pernikahan siri, tetap saja membutuhkan persiapan. Jika tidak hari ini, mungkin besok kita menikah."


Sebenarnya saat ini juga merasa ragu dan khawatir. Sama seperti yang dirasakan oleh Arya. Hanya saja, ia tidak ingin semakin bimbang dan khawatir, sehingga memilih untuk berpikir positif dan bangkit dari posisinya.


"Aku lapar dan kamu pasti juga belum makan dari tadi? Ayo, kita makan bersama karena tadi aku masak makanan khas kotaku. Aku harap lidah pria kaya sepertimu menyukainya."


Putri memberikan tangannya agar Arya ikut berdiri dan menerima telapak tangan agar digenggam erat, seolah ingin menegaskan tidak akan pernah terpisahkan lagi setelah hari ini.


Arya yang kini menunduk menatap jemari lentik Putri, refleks langsung menggenggam erat telapak tangan yang diarahkan padanya dan bangkit berdiri dari posisinya.


"Kebetulan sekali aku memang lapar, Sayang karena tadi benar-benar tidak mood setelah mendengar percakapan Rendi dan ayahnya. Astaga, mengingat hal itu, benar-benar membuatku merasa sangat emosi."


Arya berjalan mengikuti langkah kaki Putri menuju ke meja makan, tetapi ia yang baru saja tiba di sana, merasakan ada sesuatu yang membuat kakinya terasa nyeri dan sudut bibir tertarik ke atas karena sedang menahan kesakitan.


"Sial! Apa ini?" Menunduk menatap ke arah kaki kanan untuk memeriksa dan melihat cairan berwarna merah dengan bau anyir sudah menetes dari sana.


"Astaga!"


Arya yang merasakan ada sesuatu yang tertancap di telapak kakinya, kini mengambil dan menunjukkan pada Putri. "Pecahan kaca? Bagaimana bisa ada di bawah meja? Apa kamu mau membunuhku?"


Kalimat bernada tegas penuh penekanan yang terdengar sangat mengintimidasi seolah sedang sekuat tenaga menahan kemurkaan agar tidak mengumpat pada wanitanya, Arya kali masih merasakan perih pada kaki yang mengeluarkan darah tersebut.


Seketika Putri yang terlihat membulatkan mata begitu ia menatap ke arah sosok pria di sebelahnya menunjukkan telapak kaki yang sudah mengeluarkan darah hingga menetes di lantai dan juga pecahan gelas akibat perbuatan Bagus tadi saat merasa murka.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2