
Sosok pria yang saat ini baru keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual membersihkan diri, terlihat rambut menetes dan membasahi pipi putihnya dan juga dadanya yang telanjang.
Pria yang tak lain adalah Noah Martin tersebut baru selesai mandi setelah merasakan tubuhnya sakit semua karena semalaman tidur di sofa yang berada di salah satu kamar hotel.
Semalam ia sebenarnya ingin mengantarkan wanita yang mabuk itu ke rumah karena ada alamat pada kartu tanda pengenal yang ada di dalam dompet. Namun, ia berubah pikiran karena khawatir jika dituding sebagai pria berengsek yang membuat wanita itu mabuk.
Sudah pasti orang tua wanita itu akan bertanya siapa ia dan begitu menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah seorang bartender, akan langsung mendapatkan kemurkaan.
Kemudian ia berniat untuk membawa ke tempat kos, tetapi tidak bisa melakukannya karena dilarang membawa wanita. Akhirnya, jalan satu-satunya yang terpikirkan adalah membawa wanita itu ke hotel.
Tentu saja ia tidak mau membayar karena akan kehilangan banyak uang jika melakukannya. Jadi, ia memilih untuk menunggu hingga wanita itu bangun dari tidurnya.
Kini, ia merasakan perutnya yang sangat kelaparan, tetapi tidak berani memesan makanan pada staf hotel karena berpikir jika harganya akan mahal.
Noah memilih untuk berjaga-jaga, jika sampai nanti wanita yang ditolong tidak mau membayar, dengan terpaksa harus mengeluarkan uang dari dompet pribadi.
Kini, terlihat jika Noah tengah menatap ke arah sosok wanita di atas ranjang. "Betah sekali ia tidur. Astaga! Padahal ini sudah jam sebelas siang. Aku sangat lapar, tapi tidak mungkin pergi meninggalkannya."
"Jika aku pergi keluar untuk mencari makan, lalu ia bangun dan kabur, nanti aku akan kehilangan uangku. Mana gajiku tidak seberapa. Jika aku membayar hotel, berakhir tidak bisa makan, ini adalah sebuah kesialan bertemu dengan wanita ini."
Saat Noah baru saja selesai mengeluh dan mengumpat, kini melihat sebuah pergerakan dari atas ranjang. Ia masih diam mengamati di atas sofa tanpa berniat untuk beranjak dari tempatnya. Tentu saja ia ingin melihat respon dari wanita yang saat ini bergerak dengan menggeliat.
Amira Tan merasakan cahaya matahari menggangu tidurnya, sehingga membuatnya ingin menutup wajahnya dengan selimut. Namun, ia merasakan tubuhnya terasa kaku, sehingga menggeliat untuk melemaskan otot.
Hingga rasa kantuknya menghilang dan akhirnya memilih untuk membuka mata.
__ADS_1
Pertama kali menyesuaikan cahaya masuk ke kornea matanya, ia mengerjap beberapa kali saat menyadari sangat asing dengan ruangan kamar yang ditempati.
Bahwa itu bukanlah kamarnya dan membuatnya seketika langsung beranjak dari posisinya yang berbaring telentang dengan selimut tebal di tubuhnya.
"Di mana aku?" tanya Amira Tan yang memeriksa keadaan tubuhnya di bawah selimut.
Tentu saja degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal ketika bersitatap dengan iris tajam seorang pria tak jauh dari hadapannya begitu memastikan bahwa ia masih berpakaian lengkap.
Awalnya ia merasa sangat lega, tetapi begitu mengetahui ada seorang pria tidak dikenal duduk di sofa, membuatnya seketika berteriak, "Siapa kau? Kenapa kau ada di sini?"
"Lalu kenapa aku bisa berada di sini?" Amira Tan berniat untuk turun dari ranjang, tetapi hampir terhuyung karena merasakan kepala yang masih pusing.
Akhirnya ia memilih untuk tetap duduk di tepi ranjang dan masih menatap tajam sosok pria di hadapannya tersebut.
"Katakan padaku sekarang! Jangan hanya diam saja! Aku tidak mengenalmu, tapi kenapa kau membawaku ke sini? Aku akan menuntutmu dengan pasal berlapis dan mendapatkan hukuman yang setimpal karena membawa seorang wanita yang tidak sadar ke hotel."
Saat kalimat panjang lebar sama sekali tidak ditanggapi oleh pria tidak dikenal tersebut, kini Amira Tan sudah meraih bantal dan melemparkan ke arah depan.
Memang tidak mengenai sasaran karena jarak yang cukup jauh, tapi ia ingin melampiaskan amarah saat mendapati diri berada di dalam sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
"Cepat jawab aku, pria berengsek! Jangan diam saja!" sarkas Amira Tan yang saat ini tidak bisa lagi bersabar dan memilih untuk melupakan kepalanya yang masih terasa pusing.
Bahkan kini ia sudah berjalan mendekati pria tidak dikenal yang dianggapnya telah berbuat macam-macam padanya. "Aku akan membuatmu menyesal karena berani berurusan denganku. Kau tidak tahu siapa aku, kan?"
"Pengacara. Aku tahu itu, jadi kamu tidak perlu menyombongkan diri di depanku?" Noah Martin kini bangkit berdiri dan sudah berhadapan dengan wanita tanpa ia ketahui namanya tersebut. "Jika kau sudah selesai, sekarang giliran aku yang berbicara."
__ADS_1
"Aku belum selesai karena ada banyak pertanyaan yang dari tadi belum kau jawab, berengsek!" Tanpa memperdulikan penampilan berantakan saat bangun tidur, Amira Tan bahkan kini sudah mengarahkan tatapan tajam menusuk.
"Cepat ceritakan apa yang kau lakukan padaku? Jika tidak, hari ini juga polisi akan datang menangkapmu."
Noah saat ini terlihat memijat pelipisnya karena berpikir masalahnya akan selesai setelah wanita itu bangun.
Ia berpikir jika wanita itu akan berterima kasih padanya saat mau menyelamatkan dari para pria bajingan dan membayar hotel. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Hanya sebuah hinaan dan membuatnya merasa kesal.
"Pulang dari sini, kau pergi saja ke rumah sakit."
Amira Tan saat ini memicingkan mata karena tidak paham kalimat ambigu pria yang perlahan diingatnya adalah seorang bartender yang kemarin tidak mau memberikan minuman untuknya.
"Apa maksudmu? Kenapa menyuruhku ke rumah sakit? Aku tidak sakit. Sekarang aku baru ingat jika kau adalah bartender yang semalam ada di club, kan?"
"Baguslah kalau sudah ingat. Jika begitu, kau pasti juga mengingat kejadian setelah aku menolongmu dari para pria berengsek itu, kan?" Noah kini mencoba untuk mengurai ingatan wanita yang mabuk dan jatuh di pelukannya.
Sedangkan Amira Tan saat ini mencoba mengingat tentang kejadian semalam dan membuatnya membenarkan perkataan pria itu.
"Aku ingat saat tiba-tiba kepalaku sangat pusing dan jatuh terhuyung ke lantai."
"Bukan ke lantai, tapi pelukanku. Jadi, jangan bertingkah atau memfitnah jika aku adalah seorang pria berengsek yang mencoba mengambil keuntungan darimu."
"Jika kau berpikir aku telah memperkosamu, periksakan diri ke rumah sakit. Dokter yang akan menentukan hasilnya. Apakah semalam aku bercinta denganmu atau tidak." Noah kini meraih jaket miliknya di sofa dan sebelum keluar, ia memilih untuk mengingatkan wanita itu.
"Jangan lupa bayar hotel ini karena aku tidak punya uang. Aku tidak mengantarkanmu pulang karena berpikir orang tuamu bisa murka padaku. Hanya hotel ini yang kupikirkan karena tidak mungkin membawamu ke tempatku."
__ADS_1
To be continued...